bc

Diaku Imamku

book_age12+
2.8K
FOLLOW
32.8K
READ
love after marriage
arranged marriage
arrogant
badgirl
CEO
drama
comedy
sweet
like
intro-logo
Blurb

Kedatangan guru killer di SMA Bakti menjadi mainan baru bagi teman-teman Aisya.

Aisya ditantang menakhlukan hati guru itu.

Lalu akankah Aisya berhasil menakhlukan hati pria dingin yang terlalu lama beku itu?

Dia tidak sadar, lama bermain-main dengan perasaan sama saja menyediakan hatinya terluka lalu jatuh ke dalam palung kekecewaan.

Hidup Aisya semakin rumit ketika masuk penjara suci, melawan diri untuk memerbaiki tali dengan Sang Illahi

[BUKAN SEKUEL DEAR, IMAMKU]

Cover by @imyhera

***

Diaku Imam ku, menurut saya novel yang isinya syarat akan makna. Banyak.pelajaran yg dapat dipetik dari kisah ketegaran Aisyah. Diaku Imamku juga mengajarkan pelajaran penting, bahwa sedekat apapun, jika belum jodoh, tetap tidak akan bersatu. Bacaan yang asyik dan sarat ilmu, u buat. V k kalangan remaja. Psst! Saya sampai ikutan menangis saat adegan Aisyah ditinggal nikah oleh Alif. Sukses dan berkah buat Penulisnya. (Chanty penulis Cinta Suci Ilyana)

Well, just one word can descript this story. Baper, sumpah. Terutama sama kelakuan Gus Alif sama muridnya yang gemesin, Aisya. Dari sudut cerita, Mellyana berhasil membungkus cerita dengan epic, ngalir aja gitu alurnya. Dari segi diksi juga padet banget, jadi pengen baca terus sampe ending. Over all, aku pengen punya imam kayak Gus Alif, killernya membuat pesona tersendiri dari sosoknya. (Diana Febi, penulis Dear, Allah)

chap-preview
Free preview
Guru Killer

Muslimat memiliki kehormatan tinggi jika ia mampu menjaganya dengan baik.

 

***

 

Allah berbahagia dengan orang-orang yang bertobat serta membersihkan diri, bahkan kebahagiaan-Nya melebihi seorang hamba kala mendapatkan hal yang paling diinginkannya. Dia bahkan dapat menghapus dosa sebesar Gunung Uhud serta merontokkannya dengan mudah bagai dedaunan yang berjatuhan di musim gugur. Dia juga tidak hanya memberi kesempatan kedua untuk hambanya bertobat, melainkan berjuta-juta. Itu bukti nyata bahwa Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Kehidupan berjalan seperti roda berputar. Yang di bawah akan di atas, yang di atas akan di bawah, yang buruk bisa menjadi terbaik, dan begitu pula sebaliknya. Allah punya kuasa untuk membolak-balikkan takdir hamba-Nya, termasuk memberi hidayah pada gadis yang sejak tadi enggan bangun untuk salat Subuh meski sudah dibangunkan tujuh kali oleh sang Mama.

 "Masyaallah, Kakak! Sudah setengah enam, nggak bangun juga? Kakak belum salat Subuh juga, kan? Ayo, bangun! Adikmu saja sudah mau berangkat sekolah."

Lengkingan Alysa—mamanya Aisya Ayyana—berdengung di telinga Aisya. Dengan malas ia beranjak. "Iya, Ma."

"Udah, biar Mama aja yang lipat selimut. Kakak buruan salat Subuh! Masa kalah sama Hafis?" Ya, ketepatan waktu salat adik Aisya itu memang tidak dapat diragukan lagi.

Setengah sadar, Aisya berjalan menuju kamar mandi yang berada di antara kamarnya dan kamar Maghza Hafis Rizaka alias Hafis, adik satu-satunya yang selalu dibandingkan Alysa dengan dirinya. Lalu sepuluh menit kemudian, Aisya sudah berdiri di dekat meja makan.

"Ini bekalmu. Pak Ilham sudah nungguin di depan."

"Pake mobil, Ma?"

"Nggak. Pake motor, biar cepet."

Aisya mengangkat jempol. "Oke, Bu Bos."

Alysa memandang anak sulungnya sambil geleng-geleng kepala. Entah menurun dari siapa sifat Aisya itu. Dulu saat masih muda, Alysa juga tidak seperti itu. Aisya itu tomboi dan susah dinasihati, membuat Alysa cepat keriput saking pusingnya. Berbeda dengan Hafis yang tidak banyak bicara, penyayang, pengertian, dan penurut.

 

***

 

"Kenapa, Pak?" Aisya mengeraskan suara ketika motor Pak Ilham tiba-tiba berhenti. Dengan posisi badan masih nengkreng di atas motor, kaki Pak Ilham mendorong motor agar menepi. Ia kemudian turun sembari melepas helm. "Mogok, ya?"

"Iya, kayaknya ada yang rusak. Maklumlah, motor tua. Saya belinya tahun 1999. Mau dijual, kok, ya, sayang. Soalnya, ini motor punya banyak kenangan dengan mantan pacar saya alias istri saya, Mbak, " ujar Pak Ilham diselipi curhat colongan.

Gadis berdagu runcing itu melihat jam di layar ponsel yang menunjukkan pukul 06.55. "Mampus, deh! Gue bakal telat," desahnya.

"Gimana, Mbak Aisya?" Tampak nada bersalah dari Pak Ilham yang kini mencoba membenarkan mesin motor.

"Di sekitar sini nggak ada ojek, Pak?" tanya Aisya dengan gusar. Sebenarnya banyak angkot lalu lalang, tapi naik angkot akan memperumit kejadian pagi ini. Selain sesak, angkot juga suka ngetem sembarangan.

"Kurang tahu saya, Mbak."

"Ya udah, Aisya pesan ojek aja, ya?"

"Iya, Mbak."

Aisya membuka aplikasi untuk memesan ojek online. Tidak perlu waktu lama, abang ojek pun datang. Pukul tujuh tepat, ojek Aisya melejit menuju sekolah. Lebih baik datang terlambat daripada tidak berangkat sama sekali, kan?

Tapi sialnya, walau abang ojek sudah ngebut seperti di arena balap, gerbang sekolah sudah tertutup. Ini hari Senin, pasti guru dan staf mengikuti upacara bendera dan itu artinya gerbang sekolah akan dibuka setelah upacara selesai. Ia pasti akan disidang oleh Bu Lina dari tim Satuan Tugas Pelaksana Pembinaan Kesiswaan yang mulutnya gatal tiap kali melihat murid yang melanggar tata tertib.

Usai disidang, Aisya harus melaksanakan upacara bendera dengan siswa lain yang terlambat atau melanggar tata tertib; tidak memakai ikat pinggang, dasi, topi, dan sebagainya. Penderitaannya akan bertambah dengan kehilangan jam pertama yang merupakan pelajaran favoritnya, Fisika.

Tin, tiiiin...

Suara klakson mobil itu membawa tubuh Aisya menepi ke sisi jalan. Pemilik mobil BMW putih itu keluar untuk membuka gerbang. Wajah tampan dengan tubuh yang mendukung membuat langkahnya lebih terlihat cool. Saat lelaki itu berbalik hendak menuju mobil, Aisya memblokir jalannya. Tangannya ia bentangkan agar lelaki itu tidak menerobos badannya yang terlihat lebih mungil.

"Om, gue nebeng sampai dalam, dong?"

Tanpa menanggapi permohonan Aisya, lelaki itu berjalan menuju mobil. Tidak mau kalah begitu saja, Aisya berdiri di depan mobil BMW putih itu supaya tidak bisa masuk.

"Woi, minggir!"

"Gue nggak akan minggir kalau nggak diizinin masuk!"

"Masuk, ya, masuk aja. Orang gerbangnya juga udah kebuka, kok."

Aisya menolehkan kepalanya ke belakang, ke arah gerbang sekolah yang memang sudah terbuka. Matanya terpejam sepersekian detik karena menyadari kebodohannya yang sudah membiarkan gerbang terbuka lebar tanpa dosa. Harusnya ia langsung masuk saja, bukannya  menyia-nyiakan kesempatan seperti ini.

Baru saja hendak berlari, seorang guru berjalan menuju gerbang sekolah bersama dua orang satpam. Aisya berlari ke pintu kemudi mobil yang sudah tertutup rapat dan tangannya mengetuk-ngetuk kaca pintu. "Om, bukain, dong. Please, gue nggak mau dihukum."

Bukan tidak ingin dihukum. Lebih tepatnya, Aisya tidak mau mendapat surat panggilan yang membuat mamanya mengomel.

Lelaki yang dipanggil ‘Om’ itu diam tak berkutik.

"Om, tolongin gue. Om, bukain." Tangan Aisya mengetuk sekuat tenaga sementara kepalanya menoleh ke arah tiga orang yang semakin mendekat itu.

Tubuh Aisya tersentak ketika sebuah tangan menariknya. Dan entah bagaimana, tubuhnya sudah menindih lelaki yang dipanggilnya ‘Om’ itu. Aisya mati kutu. Matanya saling bertatapan dengan dewa penyelamatnya, sebut saja begitu. Tanpa bantuannya, mungkin Aisya sudah tertangkap basah oleh Bu Lina.

Lelaki itu dengan mudahnya membalik tubuh Aisya menjadi ditindihnya. Jantung gadis itu berdetak lebih cepat. Ia sampai tak mampu berkedip dan tubuhnya menegang. Posisi ini terlalu intim baginya.

"Tetap di posisimu," tandas lelaki itu supaya guru dan satpam tidak melihat keberadaan Aisya.

Sejurus kemudian, lelaki itu bangkit dari posisinya. Aisya bisa bernapas lega sembari membenarkan hijabnya yang acak-acakan. Lelaki itu mengendarai mobil hingga area parkir sekolah. Begitu mobil berhenti, Aisya keluar dari mobil. "Makasih, ya, Om?"

Tanpa menunggu jawaban lelaki berwajah datar itu, Aisya lari menuju kelas.

Beruntung kelas belum ada guru, jadi ia tak perlu minta izin atau minta surat BK.

"Lo telat?" tanya Fira.

"Ya."

Teman sebangku Aisya itu kembali memainkan ponsel. "Eh, katanya Bu Wiwin lagi cuti hamil. Jadi tiga bulan ke depan kita bakalan diajar sama guru pengganti."

"Seriusan?"

"Iya."

"Yah, padahal gue suka fisika itu gara-gara—"

Fira memotong perkataan Aisya. "Eh, itu gurunya! Kok ganteng, sih?"

"Duh, mampus," keluh Aisya lantas bersembunyi di bawah meja.

Berhubung Aisya duduk di depan baris kedua dari pintu, guru pengganti itu pun langsung menangkap kelakuannya. "Apa yang kamu lakukan?"

Perlahan gadis itu kembali duduk di bangku. "Anu, Om. Eh, maksudnya, Bapak. Saya ngejar tikus yang lewat."

Seisi kelas tertawa mendengar alibi Aisya, kecuali guru pengganti. Wajahnya masih datar, tak menampilkan ekspresi apa pun.

"Oh, kamu yang tadi pagi." Wajah lelaki itu terlihat menyeramkan bagi Aisya.

Aisya kemudian menyengir kuda, sedangkan teman-temannya keheranan. Apa yang dimaksud ‘tadi pagi’ oleh guru baru yang langsung menjadi idola satu sekolah itu?

Fira menatap Aisya penuh curiga. Apa yang sahabatnya lakukan dengan guru baru itu? Bisa-bisanya dia tak bercerita apa pun padanya.

Sementara jauh di lubuk hati Aisya sedang terjadi guncangan yang cukup dahsyat. Bahkan jantungnya berdetak tidak konstan hingga ia mampu merasakan betapa jelas detakannya. Pasti itu karena efek ketakutan.

"Sepulang sekolah, kamu temui saya," tegas guru pengganti itu kepada Aisya.

"Iya." Suara Aisya bergetar. Ini suatu yang tidak bisa. Bagaimana sejarahnya Aisya gemetaran saat berurusan dengan guru?

"Perkenalkan nama saya Alif. Saya yang akan mengganti Bu Wiwin selama beliau cuti. Selama pelajaran saya, kalian harus datang tepat waktu termasuk juga tepat waktu dalam mengerjakan tugas. Jika tidak melaksanakan dengan baik, akan ada konsekuensinya untuk kalian." Mata tajam Alif itu meneliti semua orang di kelas hingga ke sudut ruangan. "Jika ada dari kalian yang tidak setuju, silakan tidak mengikuti pelajaran saya. Saya juga tidak keberatan. Karena kalau kalian melaksanakan kewajiban sebagai siswa saja tidak becus, lantas bagaimana kalian bisa bertanggung jawab pada pekerjaan kalian kelak?"

Semua tidak berani menyuarakan pendapatnya walau kesal dengan peraturan si guru pengganti tersebut. "Baiklah, buka buku paket halaman dua puluh enam. Kumpulkan lima menit sebelum bel istirahat berbunyi."

Selama pelajaran Fisika, Aisya benar-benar merasakan tekanan batin. Tidak ada materi yang masuk di otaknya, seakan semuanya berlalu begitu saja. Dua jam pelajaran pun terasa dua minggu lamanya.

Fira mengetahui keanehan dari sikap Aisya. "Lo kenapa, sih, Sya?"

"Nggak apa-apa."

"Lo suka, ya, sama dia?" Tidak heran jika Fira menuduh Aisya begitu, toh guru itu memang tampan. Sayangnya, galak.

Brak! Lelaki itu menggebrak meja. "Silakan keluar jika tidak suka pelajaran saya!" Jari telunjuknya menunjuk ke arah pintu kelas dan seruan itu membuat kedua gadis tadi terdiam.

Meski begitu, sebenarnya Aisya tengah memandang Alif dengan kesal seraya menggengam pensil erat. Pensil itu ia tekan dengan keras ke meja hingga ujungnya tumpul.

Dasar guru nyebelin! Pekiknya dalam hati.

Dara melihat ekspresi aneh Aisya. Ia merasa ingin mengganggunya. “Sst!”

“Apaan, sih, lo!” jawab Aisya ketus.

"Gue tantang lo buat bisa naklukin hati dia. Berani, nggak?" tantang Dara tanpa basa-basi. Dia memang gadis paling sewot atas prestasi Aisya, tepatnya suka iri atas keberhasilan Aisya.

Aisya mengabaikan tantangan Dara. Ia tahu kalau Dara sengaja mempermainkannya.

"Hm, kok lo diem? Lo nggak berani, ya? Ngaku aja, lah," bisik Dara. “Luarnya aja pemberani kayak preman. Aslinya culun.”

Entah mendapat keberanian dari mana, Aisya menjawab dengan seruan mantap. "Gue bisa, kok!"

Alif menatap Aisya tajam. "Kamu keluar!"

Sungguh demi apa pun, Aisya ingin sekali menggigit Alif.

Huft, sabar, Aisya. Lo harus baikin dia buat ngebuktiin pada si mak lampir Dara!

"Baiklah kalau itu keputusan Bapak, saya terima. Maaf, Pak, saya permisi." Anggap saja tadi itu satu langkah Aisya untuk mendapatkan hati Alif.

 

***

 

Gadis berumur delapan belas tahun itu mendapat pandangan aneh dari seisi penghuni kantor guru. Benar saja, catatan hitamnya di sekolah selama tiga bulan belakangan ini sudah menumpuk setinggi Gunung Everest. Dua puluh poin didapatkan dari ketahuan cabut jam pelajaran, terlambat, bolos sekolah, menaiki pagar sekolah, bolos upacara, tidak mengenakan atribut lengkap, bermain ponsel saat jam pelajaran berlangsung, sampai yang terparah melawan guru.

Dan pagi ini, ia sudah berdiri di tengah-tengah ruang guru untuk mempertanggungjawabkan ulahnya; meninju pipi Alif hingga memar kebiruan. Kejadian itu terjadi saat si guru pengganti killer itu menyeret Aisya ke ruang BK. Begitu sampai di tempat sepi, tanpa pikir panjang Aisya meninju guru itu. Alhasil sekarang dia berdiri di depan guru-guru.[V1] 

"Bajumu terlalu kecil. Kamu pakai baju adekmu, ya?" Tangan Bu Lina menyilang di depan d**a.

"Adek gue cowok, Bu."

"Sama guru kalau bicara yang sopan! Gue-gue, pakai ‘Saya’!"

"Kamu kalau sama guru yang sopan. Sudah kamu apakan Pak Alif sampai babak belur begitu, huh?" Itu suara Bu Ratna, selaku Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan.

Aisya malah melihat sekeliling ruangan. Ia tidak memedulikan perkataan Bu Lina dan Bu Ratna.

"Ini surat untuk orang tuamu," kata Bu Lina saking bingungnya mengatasi kenakalan gadis berkulit kuning langsat itu.

Tanpa permisi, Aisya meninggalkan ruang guru sembari mengambil amplop cokelat yang sudah dianggapnya seperti makanan sehari-hari. Amplop cokelat itu sudah seperti makanan sehari-hari baginya. Ia memutar bola mata dengan bosan ketika dihadiahi tatapan tidak suka dari para guru yang seakan memvonisnya karena tidak punya etika.

Di kelas, guru pengampu mata pelajaran kedua mempersilakan Aisya duduk setelah gadis bermata cokelat itu menyerahkan lembar kecil dari BK, sebuah kertas izin masuk kelas. Aisya duduk malas seraya menatap keluar jendela lalu menyumpal telinganya dengan earphone. Berhubung memakai hijab, gurunya pasti tidak tahu kalau Aisya menyumpal telinga dengan barang yang menjadi incaran para guru tersebut.

Dari kejauhan, Aisya merayapi lapangan basket yang merupakan tempat favorit Radit, kapten basket yang juga cinta pertamanya. Dan sepasang matanya lalu berbinar begitu berhasil menemukan sosok yang ia cari. Lelaki itu tersenyum ke arahnya dengan senyuman memabukkan yang selalu membuat hati Aisya berbunga-bunga.

Seantero sekolah sudah tahu bagaimana hubungan kedua insan itu. Ya, keduanya memang menjadi pasangan yang paling diidamkan para remaja SMA karena mereka begitu harmonis selama dua tahun ini, walau keduanya bagaikan hitam dan putih.

Sudah menjadi rahasia umum jika Radit adalah anak yang baik, berbalik 180˚ dengan sifat Aisya. Jabatannya sebagai Ketua OSIS menambah kesan kece pada lelaki itu. Tidak hanya supel, Radit juga pandai. Terbukti ia menyabet gelar juara di Olimpiade Sains Internasional di Australia tahun lalu. Sangat jauh bedanya dengan Aisya yang selalu mendapatkan nilai merah di rapot.

"Pak, gue mau izin ketemu Radit di lapangan basket." Aisya yang mulai melangkah meninggalkan kelas tanpa menunggu jawaban Pak Ridwan, guru Seni Budaya.

"Saya tidak mengizinkan kamu keluar."

Aisya membalikkan badan. "Gue nggak peduli, Pak, yang penting gue udah izin. Soal ngizinin atau nggak, itu hak Bapak. Eits, tapi jangan ditulis alpa, ya, di buku absen? Kan gue udah izin. Sekali lagi, udah izin!" ucap Aisya seraya memberi penekanan pada akhir kalimatnya.

Pak Ridwan naik pitam. "Duduk, Aisya!"

"Gini, lho, Pak. Ibarat maaf, yang dimintai maaf itu mau memaafkan atau nggak, itu urusan dia. Yang terpenting, pihak satunya sudah menggugurkan kewajiban untuk meminta maaf. Nah, gue juga gitu, Pak. Gue udah menunaikan kewajiban untuk izin kepada guru ketika ingin pergi dari kelas. Soal ngizinin atau nggak, sih, bodo, deh!" jelas Aisya yang sekarang benar-benar pergi dari kelas.

Kali ini, ia berlari kecil menuju kantin sekolah yang letaknya tak jauh dari lapangan basket.

"Keluar dari kelas lagi?" tanya Mbak Pipit, pemilik kantin l*******n Aisya, saat mengetahui Aisya kabur saat jam pelajaran. Mbak Pipit paling hafal sifat Aisya. Walau begitu, ia tidak pernah menyerah menasihati Aisya. Mbak Pipit kasihan kalau Aisya dipanggil guru-guru. Pernah Aisya diseret Bu Lina dari kantin hingga ruang Wakil Kepala Sekolah karena ketahuan makan soto di kantin Mbak Pipit saat pelajaran Seni Rupa.

Aisya tidak menjawab. Dia hanya menyengir kuda tanpa dosa.

"Balik ke kelas aja, Mbak. Nanti dimarahi Bu Lina lagi,” saran Mbak Pipit.

“Ah, males. Enakan di sini, bisa makan soto sama gorengan,” jawab Aisya.

Mbak Pipit tersenyum. “Ada-ada aja. Emangnya pelajarannya siapa tadi?"

"Pak Ridwan, Mbak." Aisya mengambil begitu saja sebuah mendoan. Kalau di rumah pasti dia sudah diomeli Alysa karena makan sambil berdiri.

Mbak Pipit geleng-geleng kepala. "Duh, makannya sambil duduk."

"Terlanjur, Mbak. Udah habis ini,” jelas Aisya. “Oh, iya, semuanya berapa?"

"Lima ribu."

Aisya membayar dengan selembar uang sepuluh ribuan. Ia melepas jilbab di depan cermin untuk membenarkan tali rambut. Begitulah Aisya, ia belum bisa istikamah mengenakan hijab, walau mulut Alysa sudah berbusa karena terus menasihatinya.

"Kalau make hijab itu jangan dilepas pake, Mbak. Nanti disebutnya orang kerdus, kerudung dusta."

"Haha... Makasih, ya, Mbak?" Aisya tidak menangapi banyak nasihat Mbak Pipit. Tangannya memasukkan uang kembalian ke saku.

Usai membeli dua botol air mineral, Aisya menghampiri Radit yang masih sparing basket. Ia tersenyum ketika melihat Radit memasukkan benda bulat berwarna jingga itu ke ring dengan indah.

"Radit!" Aisya memanggil.

Wajah lelah Radit berangsur semringah setelah mengetahui kehadiran sang kekasih, ia berlari ke arah Aisya.

"Nih, buatmu."

"Thanks, Sayang." Radit mengambil air mineral yang diberikan Aisya kemudian mengarahkan ke bibir merah nan tipisnya. Radit menyugar rambutnya yang basah akan keringat, kesan cool semakin terpancar dari wajah tampannya. Aisya terkekeh melihat tingkah sok cool Radit.

Radit lantas duduk di samping Aisya."Kok bisa di sini?"

"Gue kabur," kekeh Aisya.

"Kebiasaan," keluh Radit. "Jangan kabur terus, udah kelas dua belas juga. Ingat, bentar lagi mau Ujian Nasional. Emang nggak takut soal esai?"

"Nggak perlu takut. Takut itu sama Allah, bukan sama soal esai."         

"Iya-in aja, yang penting kamu bahagia."

"Ciyeee! Radit romantis banget, sih!"

"Kabur kelas siapa emangnya?"

"Pak Ridwan."

"Aduh, kamu ini nekat banget!" ujar Radit sambil menggeleng. "Ya sudah, aku harus olahraga lagi. Nanti dimarahi Pak Yuri."

“Bentar dulu, dong. Aku, kan, masih kangen sama kamu,” tahan Aisya.

Pak Yuri adalah guru olahraga kelas dua belas. Sebenarnya Pak Yuri bukan tipe guru galak, tetapi selaku murid kesayangan, Radit tidak enak berlaku seenak hati.

"Ciyeee... Radit sama Aisya!" ejek Pak Yuri sambil terkekeh. Dari kejauhan teman cewek yang sekelas dengan Radit memandang keduanya tidak suka.

"Apa, sih, Pak?" Pipi Aisya memerah.

Pak Yuri kemudian beralih ke Radit. "Dit, itu temanmu yang cewek tolong diajari, ya?"

"Baik, Pak. Siap."

Pak Yuri hanya mengangguk lalu pergi menuju tengah lapangan.

"Sayang, aku pergi dulu, ya?" pamit Radit sambil tersenyum. “Kapan-kapan lagi kita lanjut ngobrolnya.”

"Oke, deh. Dadah!" Tangan Aisya melampai sambil tersenyum cerah. Setelah rindunya terobati, gadis itu melenggang lagi menuju kantin untuk menikmati semangkuk soto buatan Mbak Pipit. Mendengarnya saja sudah sukses membuat cacing di perutnya berdemo.

Ketika baru saja berbalik, si guru killer menatapnya dingin. "Berjilbab, kok, pacaran!"

Aisya menatap kesal lelaki itu. "Hidup juga hidup gue! Nggak usah banyak ngatur lo!" serunya yang kemudian pergi meninggalkan Alif yang masih menatap punggung gadis itu hingga hilang ditelan pintu kantin. Wajahnya tetap datar.

"Pak Alif!" sapa g********n siswa yang kegenitan melihat ketampanan Alif. Ia menjawab singkat sapaan itu lantas memasukkan tangan ke saku sambil berjalan menuju ruang guru.

 [V1]Karena sudah dijelaskan di awal paragraf kalau Aisya berdiri di tengah ruang guru.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Maaf, Aku Memilih Dia!

read
189.9K
bc

My Husband is My Boss

read
116.7K
bc

Cinta Sendiri

read
137.1K
bc

Dear Pak Dosen

read
379.4K
bc

Suami Halalku, DOSEN

read
273.4K
bc

Rise of Love

read
321.4K
bc

Pernikahan Kontrak (TAMAT)

read
3.3M