Chapter 11.2

1900 Words
        Sesuai janjinya, jam 8 tepat Rachel sudah siap dengan crop-tee hitam berbahan rajut yang menempal ketat ditubuhnya, dan celana jeans Zara yang hanya menutupi setengah pahanya. Penampilan Rachel kali ini benar-benar membuat Ferris semakin melongo dan tidak kepikiran apapun yang sedang Rachel rencanakan.         Selama ini, Rachel jarang memakai pakaian seksi seperti ini. Oh, salah. Lebih tepatnya, Ferris yang tidak pernah melihat Rachel berpakaian begini. Sehingga laki-laki itu tampak terperangah.         Persis seperti Alvin ketika pertama kali melihat Rachel hanya memakai tank top dan shorts super pendek. Tapi sekarang, Alvin sudah cukup terbiasa dengan penampilan Rachel yang itu. Karena setelah pertama kalinya Alvin melihat Rachel hanya memakai tank top, dia tidak segan-segan lagi dan malah lebih sering memakai tank top ketat ketika menemui Alvin. Laki-laki itu tidak pernah protes. Meskipun ini sangat tidak baik untuk kesehatan adik Alvin.         “Mau kemana sih? Gue salah kostum nggak nih?” tanya Ferris berusaha memancing Rachel agar perempuan itu menyebutkan tujuannya.         Rachel tertawa kecil. Alih-alih mrnyahuti pertanyaan Ferris, ia malah mengalihkan pandangannya pada penampilan Ferris malam ini.         Laki-laki itu memakai kaos oblong putih polos, dibalut dengan jaket denim, dan celana pendek selutut, senada dengan jaketnya. Tampak kasual. Tapi jujur saja, Rachel lebih suka dengan laki-laki yang memakai jaket kulit, atau jaket bomber yang biasa dipakai Alvin hampir setiap hari. Sampai Rachel curiga kalau jaket itu sudah lama tidak dicuci.         Tadi, Rachel sudah memperingatkan Ferris agar tidak perlu membawa mobil. Jadi, Ferris jalan kaki menuju tower apartemen Rachel yang sebenarnya tinggal menyebrang saja.         “Mau kemana sih?” Ferris agak kesal kenapa Rachel mendadak jadi sok misterius begini. Padahal kalau cuma dinner kan, Rachel tinggal menyebutkan nama tempatnya, dan Ferris akan menyetir untuknya. Tidak perlu dengan Budi begini. Ferris jadi dongkol banget nggak bisa berduaan dengan Rachel karena bola mata Budi selalu memperhatikan mereka melalui kaca tengah mobil.         Tak lama kemudian, mobil yang disupiri oleh Budi itu memasuki salah satu mall besar di Jakarta yang membuat bola mata Ferris terbelalak.         “Jadi cuma mau ke Plaza Indonesia doang?” Tadinya Ferris sudah berekspektasi terlalu tinggi mengenai tempat-tempat romantis untuk dinner atau dating. Ternyata, hanya Plaza Indonesia.          “Diem deh! Kenapa tiba-tiba lo jadi bawel sih?” sungut Rachel. Setelah itu, keduanya hanya diam sampai mobil Budi berhenti di lobi mall.         Keduanya berjalan beriringan dengan Ferris yang menggandeng tangan Rachel. Awalnya Rachel ingin melepaskan pegangan itu. Tapi setelah melihat raut wajah Ferris yang kayaknya kesal banget karena cuma diajak ke mall, jadi mengurungkannya.         Rachel membawa Ferris ke restoran didalam mall tersebut yang membuat tubuh Ferris langsung menegang. Ia tahu persis kalau didalam restoran ini juga terdapat club yang selalu ramai setiap malam jum’at begini. Club tersebut adalah salah satu club langganan Ferris dan teman-temannya dulu sebelum Mama dan Papanya meninggal. Ketika clubbing adalah kegiatan wajibnya setiap harinya yang tidak pernah membuatnya bosan berkelana dari satu club ke club lain di Jakarta.         “Makan di tempat lain aja sih!” desis Ferris berusaha menghentikan langkah Rachel.         “Gue maunya makan disini. Kalo lo nggak mau, balik aja sendiri!” balas Rachel yang kini dengan santainya melangkah terlebih dulu, melepaskan genggamannya dengan Ferris, dan mencari tempat duduk.         Dengan berat hati, Ferris mengikuti langkah Rachel. Saking nervous-nya berada ditempat ini, tubuhnya mulai dibasahi dengan keringat dingin. Ia yakin mukanya saat ini pasti memucat.         “Lo mau pesen apa?” Rachel bertanya dengan senyuman lebarnya. Saking manisnya senyuman tersebut, membuat perasaan Ferris sedikit membaik.         “Apa aja terserah lo.”         Setelah memesan, keduanya sama-sama diam. Ferris sibuk membujuk perasaannya untuk melenyapkan seluruh kenangannya dengan Mama-Papanya di tempat ini. Sialnya, semua itu malah tergambar jelas dikepala Ferris, seolah kejadian itu baru terjadi kemarin lusa. Padahal sudah bertahun-tahun yang lalu.         “It’s okay, Ris. Gue tahu pasti lo nggak nyaman. Tapi, kalo nggak begini, lo nggak akan sembuh dari segala trauma lo itu.” Entah mendapat dorongan dari mana, Rachel memberanikan diri menyentuh punggung tangan Ferris yang tergeletak diatas meja, dan mengelusnya perlahan.         Hanya dengan sentuhan sederhana tersebut, perasaan Ferris sempurna membaik. Bahkan ia merasakan dadanya menghangat. Apalagi ditambah senyuman lebar Rachel yang rasanya ingin selalu Ferris lihat disepanjang sisa hidupnya.         “Ini adalah tempat favorit gue nongkrong sama temen-temen gue. Kalo Mama-Papa lebih suka di Skye. Dulu, kalo gue lagi disini, dan udah capek, gue selalu nyamperin Mama sama Papa yang lagi pacaran disana. Biasanya mereka udah mabuk parah dan selalu gue yang bawa mobilnya, atau kalo gue juga udah mabuk, gue yang telpon supir untuk jemput kita.” Dengan pandangan menerawang entah kemana, Ferris mulai menceritakan potongan kejadian yang melekat kuat di kepalanya.         Memang itu tujuan utama Rachel. Mengajak Ferris berdamai dengan masa lalunya. Bagaimana bisa, seorang Ferris yang katanya sejak SMP sudah sering diajak orang tuanya ke club sampai pagi hari, mendadak berubah menjadi laki-laki ansos yang tidak mau menginjakkan kakinya di tempat itu sama sekali.         “Dulu, nyokap sama bokap gue pertama kali ketemu juga di club. Sampe akhirnya pacaran, dan punya gue.” Tanpa diminta Feris mulai bercerita. “Nyokap gue hamil gue duluan. Baru pas umur kandungannya udah lima bulan, mereka nikah.”         Rachel menyimak dengan baik sambil mengelap mulutnya. Kepiting telur asin favoritnya sudah habis.         “Gue masih belum terbiasa sama tempat beginian karena selalu ngingetin gue sama almarhum Mama dan Papa. Lo jangan pernah kepikiran buat ngajak gue clubbing diatas ya Chel!” kata Ferris sembari meneguk Vodka yang dipesannya.         Di dalam restoran ini memang terdapat luxury club yang masih satu kepemilikan dengan restorannya. Biasanya, kebanyakan pengunjung memang makan dulu disini, kemudian naik keatas untuk bersenang-senang. Seperti niat Rachel malam ini.         “Yuk,” ajak Rachel setelah Wine yang dipesannya habis. Keduanya beranjak dari duduknya setelah Rachel memaksa untuk membayar semua tagihannya, karena ia yang mengajak.         “Chel, gue kan udah bilang!” seru Ferris menghentikan langkahnya ketika Rachel menarik tangannya menuju club disebelah restoran.         “Gue masih pengen minum.” Tatapan Rachel tidak kalah tajam, membuat Ferris harus berpikir dua kali kalau ingin menolak permintaannya.         “Yaudah, balik ke restoran aja. Pesen minum lagi yang banyak.” seru Ferris yang tampaknya sudah jengkel.         “Di restoran nggak ada dance floor-nya!” bantah Rachel menantang. “Perasaan lo bakal terus sesak kalo lo nggak mau berdamai sama masa lalu lo, Ris!”         Sesaat, mereka berdua hanya diam, dengan saling bertukar pandangan tajam. Rachel berusaha menguatkan Feris melalui saluran energy positif yang ia pancarkan dari tatapan matanya. Sementara Feris, berusaha menerjemahkan makna dari perasaannya saat ini yang terasa menghangat oleh tatapan Rachel sekarang.         “Mau seberapa kenceng lo teriak di laut, pasti masih ada yang mengganjal perasaan lo, karena lo masih belum berdamai dengan tempat ini.” Lanjut Rachel. “Kata lo, club tempat nyokap sama bokap lo dipertemukan. Nggak menutup kemungkinan, jodoh lo juga ada didalem dan lo bisa nemuin cewek yang bisa mencintai lo kayak nyokap lo mencintai bokap lo kan?”         Mendengar itu, Ferris terkesiap. Selama ini, ia tidak pernah kepikiran kalau jodohnya bisa saja ia temukan di club. Karena yang ada dipikiran Ferris sejak detik pertama ia bertemu Rachel, jodohnya sudah ada didepan matanya. Tanpa harus mencarinya dimanapun.         “Udah deh. Lo tinggal ikut gue. Duduk, minum. Terus pulang.” Tanpa menunggu respon Ferris, perempuan itu sudah menariknya paksa memasuki club yang mulai ramai dengan pengunjung yang juga baru berdatangan.         Ferris sudah lupa kapan terakhir kali ia menginjakkan kakinya ke tempat seperti ini. Yang jelas, itu sudah lama sekali. Ingatan tentang masa lalunya itu kembali muncul dan sempurna membuka seluruh luka di dalam hatinya kembali. Bayangan kebersamaannya dengan Mama dan Papanya yang suka berjoget heboh di dance floor, berkeliaran diotak Ferris. Juga ketika Mamanya mulai frustasi karena Papanya meninggal, dan selalu pulang dalam keadaan mabuk parah, lalu berteriak keras memanggil-manggil Papanya dengan air mata yang terus mengalir deras.         Karena sudah terlanjur masuk, juga pegangan tangan Rachel yang cukup kencang dipergelangan tangannya, terpaksa Ferris ikut duduk didepan bartender, dan memesan Vodka lagi. Sementara Rachel, memesan Tequilla. Kedua bahu dan kepala Rachel bergerak mengikuti irama musik yang terdengar. Ia tampak sangat menikmati music yang berdentum terlalu keras ini.         Berkali-kali Ferris menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Berusaha menahan sesak yang ada di dadanya. Bahkan, matanya terasa berkabut dengan air mata yang sudah berkumpul dipelupuk matanya ketika teringat dengan alur kehidupannya sampai detik ini. Bagaimana ia merindukan kedua orang tuanya, dan tidak punya siapa-siapa lagi untuk menjadi pegangan.         Perlahan, sesak di dadanya mulai menghilang begitu melihat senyum Rachel yang mengembang setelah memesan beberapa shot minuman lagi. Binar matanya seolah membius Ferris dengan aura positif, sehingga tanpa sadar Ferris menjadi ikut bahagia dan menyunggingkan senyumnya.         “Gue juga udah lama nggak clubbing.” Kata Rachel, menyesap Tequilla-nya.         “Terakhir gue clubbing, pas gue setres banget putus sama mantan gue.” Rachel melanjutkan ceritanya. “Gara-gara mantan gue itu juga, gue jadi agak muak sama semua orang dan jadi nggak suka ada di tengah keramaian gitu. Tapi, gue juga lumayan sering ke  private pool club gitu di Bali.”         “Sendirian?”         Rachel mengangguk samar.         “Temen-temen cewek lo nggak ada yang bisa diajakin clubbing?” tanya Ferris.         Rachel enggan menjawab. Ia malah menghabiskan Tequilla-nya dalam sekali teguk.         “Kalo si Tasyi, Laura, sama yang lain, mereka punya jadwal gitu. Jadi siapa yang minggu ini bayarin, siapa yang minggu ini boleh mabuk sampe teler, dan siapa yang siap siaga jagain dan bawa mereka pulang, semuanya udah mereka jadwal bergilir.” Ferris bercerita. “Kadang kalo semuanya teler dan nggak berani nyetir, gue, Alvin, Ilham, dan Ry sering banget ditelponin buat jemput mereka.”         “Kebanyakan temen gue fake. Agak susah cari temen yang bener kayak begitu.” Ucap Rachel pelan, kemudian meraih botol Vodka yang barusan dipesan Feris, dan meneguknya langsung dari botolnya.         Ferris mengangguk paham. Rachel memang punya segalanya yang ingin dimiliki hampir semua perempuan di dunia ini. Paras yang cantik, badan seksi, juga harta yang melimpah. Tapi justru itu semua yang membuat Rachel jadi sulit mencari teman, juga pacar.         Tanpa sadar, keduanya mengobrol banyak hal sambil terus minum tanpa henti. Ferris yang merasa badannya sudah sangat ringan dan mulai mabuk mengajak Rachel turun ke dance floor. Niatnya, agar ia berhenti minum. Karena kalau masih teru didepan bartender-nya begini, ia tidak akan bisa berhenti.         Keduanya sama-sama berjoget dengan riang dengan tubuh yang berhadapan. Ferris siap siaga didepan Rachel, menjaga perempuan yang sudah mulai mabuk itu dari tangan-tangan jahil lelaki hidung belang disekitarnya.         “Lo cantik banget, Chel.” Bisik Ferris ketika perempuan itu meliuk-liukkan badannya disela-sela jogetnya.         “Udah banyak yang bilang!”         “Tapi gue serius!”         “Semua orang juga serius, pas bilang gue cantik!”         Perlahan, tangan Ferris melingkari pinggang Rachel. Perempuan itu tampak terkejut sejenak, kemudian melanjutkan jogetnya, tanpa melepaskan tangan Ferris.         “Makasih ya, Chel, udah ajak gue kesini.” Kata Ferris lagi, dengan suara agak serak karena sekarang, jarak muka keduanya hanya satu jengkal. “Jujur perasaan gue lega banget setelah bisa kesini lagi.”         Rachel mengangguk kecil dengan senyuman tipis.         “Kalo besok-besok gue ajak lo kesini lagi nggak papa kan?” tanya Ferris pelan. “Dari pada lo clubbing sendirian.”         “Anytime you want, just call me.” Entah dapat dorongan dari mana, Rachel mengucapkannya dengan tegas dan mantap.         “Kalo gue sayang lo, boleh nggak, Chel?”         Tanpa Ferris duga, Rachel malah mengalungkan kedua tangannya pada leher Ferris. Bibir Rachel menyunggingkan senyum lebar.         “Iya. Kemaren kan gue udah bilang kalo gue juga sayang sama lo, Vin.” Tanpa menunggu respon lawan bicaranya, Rachel sudah menempelkan bibirnya pada bibir laki-laki itu.   Tbc~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD