Chapter 11.1

2153 Words
          Jam 6 pagi, Rachel sudah siap dengan tanktop putih yang dibalut jaket sporty abu-abu dan celana legging hitam selutut. Pagi ini ia akan nge-gym di lantai bawah apartemennya. Menyadari bahwa belakangan ini lemak ditubuhnya semakin banyak, karena pola makan dan tidurnya tidak teratur, Rachel memaksakan diri untuk mulai rajin nge-gym lagi seperti dulu.         Dulu ketika ia masih di Bali, Rachel selalu rutin nge-gym bersama Ale seminggu sekali. Semenjak putus, kegiatan olahraga ini hanya ia lakukan semaunya saja, tidak teratur. Tergantung mood.         Tadinya, Rachel ingin mengajak Alvin. Namun, ketika ia mengirim pesan pada laki-laki itu, tidak juga mendapat balasan. Malah, Rachel mendapat pesan dari Ferris. Belakangan—entah mendapat id Line Rachel dari mana—Ferris memang lumayan sering mengirimi Rachel pesan. Mulai dari sekadar basa-basi tidak penting, sampai beberapa kali ajakan makan siang bareng yang lebih sering Rachel tolak.         Daripada menunggu Alvin kelamaan, akhirnya Rachel mengiyakan ajakan Ferris nge-gym bareng, karena merasa tidak enak pada cowok itu yang sudah berkali-kali ia tolak. Sebenarnya Ferris mengajaknya sarapan bareng. Tapi, Rachel memintanya untuk menemaninya nge-gym dulu, baru sarapan setelahnya.         Tidak lama setelah Rachel sampai di tempat gym yang masih sepi, Ferris menampakkan wajahnya. Rachel tidak tahu dimana apartemen Ferris, kenapa bisa sampai ditempatnya secepat itu. Keduanya hanya bertukar sapa singkat, dan mulai gym dengan alat masing-masing.         “Abis ini lo ada acara nggak?” tanya Ferris setelah lima belas menit Rachel berlari diatas treadmill dan meneguk minumannya.         Mendengar pertanyaan itu, Rachel menghentikan gerakan tangannya yang sedang menutup botol minumnya, untuk berfikir sejenak.         Rachel menggeleng.         “Jalan yuk!”         “Kemana?”         “Udah ntar ikut aja deh, pokoknya!”         Ferris tersenyum tipis melihat Rachel yang kini mengerucutkan bibirnya dan mendengus kesal. Baginya, tidak ada hal lain yang lebih imut, selain ekspresi Rachel yang ini.         “Kemana dulu? Kalo lo nggak ngasih tau, gue ogah ah!” ancam Rachel.         “Nggak akan ke tempat yang aneh-aneh, sumpah! Gue janji lo nggak akan nyesel.” Laki-laki itu mengacungkan dua jarinya untuk bersumpah untuk meyakinkan Rachel.         “Sok misterius banget sih! Kan biar gue ganti baju dan nggak salah kostum!”          Ferris tertawa kecil. “Nggak perlu ganti baju. Abis ini langsung kesana aja. Sekalian kita cari sarapan.”         Lagi-lagi karena tidak enak hati kalau menolak Ferris untuk yang kesekian kalinya, akhirnya Rachel mengiyakan. Lagipula, Rachel juga belum tahu hari ini mau ngapain aja, selain nonton Netflix sampai ketiduran.         Kurang lebih satu setengah jam mereka berkutat dengan berbagai peralatan fitness. Rachel duduk selonjoran menghadap pada dinding cermin, dan Ferris ikut duduk disebelahnya. Keduanya hanya diam dengan saling melempar pandangan melalui cermin sambil beristirahat sejenak.         Setelah keringatnya mulai mengering, Ferris bangkit dari duduknya, dan mengulurkan tangannya pada Rachel yang masih duduk. “Sekarang aja yuk! Laper gue.”         Spontan Rachel menerima uluran tangan Ferris untuk membantunya berdiri. “Mandi dulu dong, bau nih!”         “Nggak perlu! Gue yakin sebau apapun ketek lo, tetep nggak bisa bikin orang yang nyium ketek lo meninggal.” Balas Ferris santai. “Paling dia cuma sesak nafas.”         “Sialan lo!”         “Udah ayo!” tanpa mengucapkan apapun lagi, Ferris menggandeng tangan Rachel untuk dibawanya menuju lift.         Meskipun merasa agak aneh dengan sikap Ferris, Rachel tetap diam saja dan membiarkannya. Lagi pula, Rachel sudah menganggap Ferris seperti teman-temannya yang lain. Bukankah teman sudah biasa bergandengan tangan begini? Bahkan Keara dan Gilang yang mengaku hanya teman sudah beberapa kali ciuman setiap new year.         “Apartemen lo dimana sih?” tanya Rachel ketika mereka sudah sampai di basement.         “Tower yang north.” Jawab Ferris santai sambil menekan tombol remote mobilnya dan terdengar suara kunci terbuka.         Sebenarnya pertanyaan tadi hanyalah basa-basi belaka. Rachel sudah pernah mendengar kalau Ferris dan beberapa teman Alvin yang lain juga tinggal di apartemen yang sama dengannya.         Sepanjang perjalanan, keduanya sama-sama diam. Rachel sibuk memperhatikan jalanan, entah memikirkan apa. Sementara Ferris fokus melihat kedepan, dengan sesekali melirik kearah cewek disebelahnya. Sejak tadi ia bersikeras memikirkan topik obrolan apa yang cocok untuk memecah keheningan ini. Namun, otaknya mendadak blank.         Berhubung tidak kepikiran topik obrolan apapun yang menyenangkan, satu-satunya yang Ferris lakukan untuk memecah keheningan adalah dengan menyalakan radio yang memutar lagu-lagu western andalannya. Sesekali ia ikut bernyanyi pelan, dan membuat Rachel agak terkejut.         “Lo bisa nyanyi juga?” tanya Rachel.         “Juga?” kening Ferris berlipat kecil-kecil.         “Ehm… maksud gue, kemaren gue abis ketemu Alvin, dan dia juga jago nyanyi.”         Ferris mengangguk-nganggukkan kepalanya. “Alvin mah jangan ditanya lagi. Dia vokalis band beneran. Jangan bandingin sama gue, nggak ada apa-apanya!”         “Iya. Gue udah beberapa kali dengerin Alvin nyanyi, dan suaranya emang oke.” Rachel mengangguk setuju.         “Lo akrab sama Alvin?” tanya Ferris tiba-tiba.         “Lumayan.” Rachel bisa saja bilang ‘tidak’ pada Ferris sesuai dengan permintaannya pada Alvin untuk merahasiakan hubungan mereka. Tapi, ia sengaja mengatakan itu untuk mencari tahu, kira-kira apa respon dari teman-teman terdekat Alvin kalau mengetahui kedekatan dirinya dengan Alvin. Seandainya respon Ferris buruk, mungkin Rachel akan menegaskan kalau dirinya dengan Alvin tidak ada hubungan spesial, hanya sebatas teman biasa.         “Seakrab apa?” desak Ferris.         Bukannya langsung menjawab, Rachel malah diam. Tadinya ia berusaha meneliti bagaimana reaksi Ferris. Tapi, muka cowok itu datar-datar saja, sehingga sulit bagi Rachel meneliti apakah Ferris akan pro atau kontra.          Hubungan Rachel dengan Alvin sudah dibilang resmi pacaran sejak hari pertama Rachel main ke apartemen Alvin. Laki-laki itu juga sudah mulai memanggil Rachel dengan sebutan ‘Sayang’. Sementara Rachel memanggil Alvin dengan sebutan ‘Dedek’ dengan gaya penuh ledekan yang membuat telinga Alvin memerah. Inilah bagian yang paling Rachel sukai. Setiap kali Alvin sedang salah tingkah, bukannya muka yang memerah, tapi malah kedua telinganya yang agak caplang. Kata Alvin, itu bentuk telinga kebanyakan orang betawi.         Rachel menahan senyumnya ketika mengingat bagaimana lucunya Alvin ketika sedang salah tingkah dengan panggilan itu. Ia langsung akan menutup kedua telinganya agar tidak terlihat kalau sedang salah tingkah.         “Sedeket itu ya, Chel?” tanya Ferris lagi.         Kepala Rachel menoleh untuk memperhatikan ekspresi Ferris. “Hah?”         “Lo sampe senyum-senyum sendiri gitu, pas gue tanyain soal Alvin.” gumam Ferris tanpa berusaha menutupi nada tidak sukanya.         “Emang kenapa kalo gue sama Alvin sedeket itu?”         Ferris menggelengkan kepalanya. Pada detik ini, Rachel menyadari kalau Ferris tidak menyukai kedekatannya dengan Alvin. Tapi Rachel memilih diam. Mendadak otaknya blank saat memikirkan kata yang tepat untuk menjelaskan bagaimana hubungannya dengan Alvin yang sebenarnya.         Keheningan menguasai keduanya, sampai Ferris menghentikan mobilnya ditempat tujuan.         “Pantai?!” pekik Rachel ketika ia keluar dari mobil dan mendapati pemandangan biru laut terpapar didepannya. Bahkan dari tempatnya berdiri, Rachel bisa mendengar deburan ombaknya.         Laki-laki itu mengajak Rachel ke Pantai Marina Ancol pada pagi hari ini. Karena selain tempat ini masih sepi pengunjung, Ferris juga yakin kalau Rachel belum pernah kesini sebelumnya.         “Yuk!” kedua tangan mereka sudah bertautan. Ferris menggenggam tangan Rachel erat, membawa Rachel pada Jembatan Pantai Ancol yang masih sepi.         “Gue tau di Bali pasti lo udah sering banget ya, ke pantai?” tanya Ferris ketika keduanya sudah sampai di jembatan, dan memandangi pemandangan sekitar dengan kedua tangan yang masih bertautan. Ferris benar-benar enggan melepaskannya, takut Rachel jatuh kebawah dan terbawa ombak.         “Tapi belom pernah kan, ke pantai sama gue?” lanjut Ferris tanpa menunggu jawaban Rachel.         Rachel tersenyum. “Itu kalo kita nyebrang kesana, bakal nyampe ke Pulau Seribu ya?”         Ferris menoleh dan mengikuti arah pandang Rachel yang menatap lurus kedepan. “Iya, Selin, Tasyi, sama yang lainnya lagi liburan kesana kan?”         “Kenapa lo nggak ikut?”         “Soalnya lo nggak ikut juga.” Jawab Ferris datar.         Otomatis Rachel menolehkan kepalanya untuk menatap Ferris. Menyadari kalau Rachel memperhatikannya, Ferris ikut menoleh dan membalas tatapan Rachel.         “Emang kenapa kalo gue nggak ikut?”         Sebelah bibir Ferris terangkat. Ia tersenyum. Jenis senyum asimetris yang agak sinis. “Yakin lo nanya itu?”         Kedua bahu Rachel terangkat. “Yaudahlah kalo nggak mau jawab.”         “Gue ngajak lo kesini tuh, karena gue pengen lo bisa ngeluapin semuanya, Chel.” Kata Ferris, kembali memandangi gulungan ombak yang terhampar.         “Ngeluapin apa?” tubuh Rachel membeku. Tatapan Ferris yang menusuk bola matanya, membuat pikirannya melayang jauh entah kemana. Rachel bukannya bodoh tidak menyadari bagaimana jenis tatapan Ferris itu padanya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau Ferris juga punya perasaan lebih padanya.         Tidak. Rachel jelas tidak punya perasaan apapun pada siapapun selain Alvin. Tapi akan terasa aneh, kalau Ferris dan Alvin yang bersahabat cukup dekat terjebak dalam cinta yang sama.         Awalnya Rachel lumayan curiga dengan semua kode-kode yang Ferris ungkapkan lewat berbagai chatnya setiap hari. Semuanya benar-benar mengindikasikan kalau cowok itu sedang berusaha pdkt padanya. Tapi Rachel berusaha menepis pikiran itu, dan menanamkan pada dirinya sendiri, kalau perhatian Ferris padanya itu sempurna hanya sebatas teman biasa.         “Perasaan lo.” Jawab Ferris santai. “Gue tahu, selama ini lo tuh memendam banyak hal kan? Makanya d**a lo jadi sesak dan nggak kuat lagi buat hidup.”         “Gue tau, mungkin lo emang nggak akan cerita secara detail apa masalah hidup lo ke gue. Tapi dari sorot mata lo, gue bisa menebak kalo sesuatu yang terjadi pada hidup lo ini cukup serius. Bahkan dalam sekali lihat aja, gue bisa langsung paham kenapa selama ini lo menutup diri dari lingkungan lo dan memilih diam, daripada berinteraksi sama temen-temen lo yang cerewet semua.”         Ini kedua kalinya Rachel mendengar seseorang mengatakan hal ini padanya. Kemarin, Alvin yang mengatakannya, dan sekarang Ferris. Apa raut muka Rachel memang semenyedihkan itu sehingga orang-orang disekitarnya jadi mudah menebak apa yang dia rasakan?         Rachel jadi curiga, jangan-jangan Selin, Tasyi, Laura, Keara, dan Alisa juga menyadari hal ini dan ikut membicarakannya. Bedanya, mungkin perempuan lebih cenderung suka membicarakan dibelakang daripada langsung dihadapan orangnya. Sedangkan laki-laki biasa lebih frontal dan gentleman untuk mengungkapkan apapun langsung.         “Tapi gue nggak minta lo buat ceritain semuanya kok. Gue sadar posisi gue disini nggak mungkin bisa langsung lo percaya gitu aja untuk dibagi permasalahan hidup lo. Gue cuma pengen membantu lo supaya permasalahan hidup lo bisa sedikit lebih ringan.” Lanjut Ferris.          “Coba deh, lo teriak sekenceng-kencengnya! Luapin emosi lo. Biar perasaan lo jadi lebih lega.” Cowok itu meluruskan punggungnya dan menghadap kearah pantai. Kemudian berteriak sekuat tenaga. “AAAAAAAAARGH!”         “Pokoknya, lo luapin semua emosi lo disini. Meskipun ini lo anggep sepele, percaya deh, it’s works! Walaupun enggak berpengaruh secara signifikan.”         Mau tidak mau, Rachel mengikuti intruksi Ferris untuk berteriak keras. Ia memang sudah mendengar banyak soal ini. Di film-film juga sudah sering menceritakan sepasang kekasih dengan berbagai masalah pelik yang mengahabiskan waktu di pantai untuk melihat sunset, lalu berteriak-teriak begini. Tapi Rachel tidak percaya hal ini bisa berpengaruh.         Rupanya dugaan Rachel selama ini salah. Setelah teriak tadi, d**a Rachel yang semula terasa sesak karena banyak beban yang memenuhinya, kini terasa sedikit lega dan ringan. Disebelahnya, Ferris menatap Rachel dengan senyuman lebar, menunggu komentar Rachel.         “Lumayan.” Jawab Rachel. “Tapi tenggerokan gue jadi kering nih. Cari minum yuk!”         Ferris tersenyum lebar. Meskipun jawaban Rachel tidak terlalu memuaskan, setidaknya itu tidak terlalu buruk. Kemudian, ia mengajak Rachel untuk berjalan ke kios-kios yang menjual minuman.          “Oh iya, gue mau ngasih tahu lo satu hal lagi.” Ferris mengambil jeda sejenak.“Selain gue suka teriak kenceng kayak tadi di pantai, gue juga suka sama ombak. Menurut filosofi, ombak di lautan ini mengajarkan kita satu hal, bahwa setiap masalah apapun yang menimpa kita, atau sebesar apapun masalahnya, itu nggak akan bertahan lama. Setiap masalah pasti akan ada solusi dan penyelesaiannya. Kayak ombak. Mau sebesar apapun ombak memasuki daratan, pasti dia bakal surut, dan kembali lagi keasalnya. Sama seperti ombak yang datang dan pergi tanpa henti. Masalah juga gitu. Selama kita masih hidup di dunia ini, masalah nggak akan berhenti bermunculan. Yang harus lo lakuin hanya percaya, kalau semuanya akan kembali seperti semula, dan lo akan jadi manusia yang lebih kuat setelah berhasil melewati ombak itu.”         Rachel mendengarkan ucapan Ferris dengan seksama, ikut memperhatikan gulungan ombak disana. Pikirannya berusaha mencerna semua perkataan Ferris.         “Kayaknya lo kesurupan setan laut deh! Omongannya suka bener gini.” komentar Rachel.         Ferris tersenyum lebar. “Gue emang sebenernya keren. Selama ini gue diem aja karena males sombong.”         “Jadi yang tahu betapa kerennya elo ini cuma orang-orang tertentu ya?” goda Rachel.         “Iya. Ada seleksi ketatnya dulu, buat tahu kalau gue ini maha keren dan tidak terkalahkan.”         “Seleksi, kayak mau masuk PTN aja.” cibir Rachel.         “Nggak cuma PTN kok. PNS juga seleksinya ketat.”         Keduanya tertawa bersama. Jenis tawa lepas yang sangat melegakan hati Rachel. Sampai kedua matanya ikut menyipit seiring kedua pipinya tertarik keatas.         “Ntar malem gantian dong.” Kata Rachel begitu tawanya berhenti.         Kedua alis tebal Ferris menyatu ditengah.         “Gantian. Tadi kan gue udah ngikutin kemauan lo buat ke pantai ini. Jadi sekarang, lo yang ngikutin kemauan gue.” Jelas Rachel.         “Jam 8 ya, gue jemput.” Lanjutnya mengabaikan muka Ferris yang masih bengong. Tbc~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD