“Kok endingnya gitu sih? Gantung banget! Kesel deh, kalo nonton film endingnya masih bikin mikir keras begini!” Alvin ngomel-ngomel sendiri ketika layar televisi didepan mereka sudah menampilkan credit film.
Jujur sebenarnya Rachel tidak terlalu suka menonton film action. Ah, lebih tepatnya dia memang tidak terlalu suka menonton film bergenre apapun. Apalagi film tadi bercampur dengan genre thriller juga, yang mana banyak adegan pembunuhan didalamnya. Membuat Rachel bergidik ngeri, dan lebih banyak menutupi mukanya dengan bantal sofa, atau memalingkan wajahnya dari televisi kearah lain. Tentu saja kearah Alvin yang tangannya ia jadikan sandaran, dan mendekapnya erat. Melihat muka Alvin yang serius menonton dari angle bawah begini, membuat Rachel jadi semakin gemas saja.
Bahkan sampai filmnya selesai, Rachel tidak tahu apa judulnya, dan bagaimana ceritanya. Karena sepanjang film diputar, dia sibuk menahan tawanya, juga menahan gemasnya pada Alvin yang terus berceloteh mengomentari segala sesuatu yang dia tonton. Mulai dari pemainnya, pakaian yang dipakai, tempatnya, benda elektronik canggih yang dipakai, mobil, rumah, apartemen, make di pemeran cewek, dan segala macam hal detail yang seharusnya tidak perlu terlalu diperhatikan, dia komentari habis-habisan.
“Mau minum?” tawar Alvin.
Setelah waktu-waktu yang dihabiskan bersama, perlahan Rachel jadi mulai memahami Alvin dan segala kode-kode yang dia lontarkan. Kalau Alvin menawari sesuatu, itu artinya dia sendiri yang sebenarnya menginginkan hal itu.
“Lo mau minum apa?” Rachel bertanya balik, dan menegakkan duduknya. Sejak tadi dia memang bersandar pada d**a Alvin.
Senyuman Alvin langsung merekah. Merasa sangat senang karena Rachel sudah mulai paham dengan setiap kata yang dia ucapkan.
“Ngapain sok nanya? Paling kalo aku jawab minta jus, kamu tetep ngambilin air putih dingin aja kan?” Rachel hanya tertawa mendengar ucapan Alvin, kemudian langsung bangkit dari duduknya, menuju dapur.
Sejak Rachel sering main ke apartemen Alvin, dengan senang hati Alvin mengijinkan Rachel melakukan apapun di apartemennya. Termasuk menjadikan apartemennya seperti miliknya sendiri. Dan sialnya, ini malah membuat Alvin jadi seperti raja, yang apa-apa minta dilayani.
Saat Rachel protes mengenai hal ini, Alvin berdalih dengan santai, “Latian jadi istri idaman, Sayang!” dan Rachel tidak protes lagi, takut Alvin semakin membahas hal yang lebih jauh, dan membuatnya geli sendiri.
“Lo emang bisa masak?” tanya Rachel yang sudah kembali dari dapur dengan segelas air putih dingin yang diambilnya dari lemari es. Saat dia membuka lemari es Alvin, dia melihat lemari es tersebut penuh dengan bahan masakan, mulai dari sayuran, telur, sampai daging. Seingatnya, beberapa hari lalu saat dia kesini, lemari es Alvin hanya berisi makanan instant saja deh.
“Biasa, kalo Mama habis kesini, pasti belanja dulu buat ngisi kulkas. Gue bisa masak, tapi yang gampang-gampang aja sih,” Jawab Alvin sambil menerima gelas yang disodorkan Rachel.
“Mau aku masakin?” pertanyaan Alvin yang tiba-tiba langsung membuat sekujur tubuh Rachel bergidik geli.
Sepertinya ini memang bukan pertama kalinya Alvin memakai kata ganti aku-kamu saat memanggilnya. Tapi entah kenapa Rachel masih suka geli, dan merasa nggak cocok memakai kata ganti tersebut. Padahal dulu pas pacaran dengan Ale juga mereka memakai kata ganti aku-kamu untuk berkomunikasi setiap harinya.
“Kenapa ngeliat gue jadi horror gitu sih?” Alvin meraba-raba wajahnya, khawatir kalau ada sesuatu yang aneh di wajahnya, sehingga Rachel jadi menatapnya begitu.
“Nggak perlu pake aku-kamu banget lah, manggilnya!”
Mendengar jawaban Rachel, Alvin tertawa. “Loh, harusnya malah manggilnya pake sayang-sayang gitu tau!”
Rachel langsung menggeleng keras. “Plis, nggak usah aneh-aneh!”
“Emang kamu dulu sama mantan kamu kalo manggil nggak sayang-sayang gitu?” pertanyaan Alvin sontak membuat Rachel yang semula tersenyum lebar, langsung berubah cemberut. Tentu saja dia tidak suka mantannya dibawa-bawa.
“Pake.”
“Terus kenapa sama aku nggak mau?”
“Lo nggak cocok ih,” jawab Rachel akhirnya.
“Kenapa nggak cocok?”
“Ya nggak cocok aja.”
“Emang bedanya aku sama mantan kamu apa? Kenapa dia bisa cocok kamu panggil sayang, tapi aku nggak cocok?” Rachel sungguhan tidak menyangka Alvin menanyakan ini. Dia pikir, ini adalah hal sepele yang seharusnya tidak perlu dibahas lebih dari lima menit.
“Lo beneran nanya ini?”
Melihat tatapan Rachel yang keberatan, akhirnya Alvin mendengus pasrah. “Yaudah iya, terserah kamu aja! Tapi aku bakal biasain pake aku-kamu ya. Terserah kamu mau panggil aku apa juga.”
Rachel tahu kalau Alvin kecewa. Tapi dia sendiri juga tidak tahu kenapa begini. Seingatnya dulu dengan Ale dia malah memakai panggilan kesayangan yang sekarang membuatnya mual kalau diingat-ingat lagi. Mungkin, sebagian hatinya masih sedikit trauma dengan masa lalunya itu. Dia belum bisa sepenuhnya menyerahkan hatinya pada Alvin.
“Lo laper?” tanya Rachel berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Kamu mau aku masakin?” Alvin malah bertanya balik.
“Ngesok banget sih dari tadi! Emang Dedek bisa masak apa coba?”
“Jangan ngeremehin! Bentar lagi aku mau daftar ikutan Master Chef.” Alvin bangkit dari duduknya, dan langsung berjalan menuju dapur. Sementara Rachel mengikuti dibelakangnya.
Dengan gayanya yang jumawa, Alvin membuka lemari es dan mengeluarkan berbagai macam bahan masakan. “Kamu mau makan apa?”
“Ada garansinya dijamin enak?” tantang Rachel.
“Kalo nggak enak nggak usah bayar.”
“Kalo enak, bayar?”
Alvin mengangguk. Dia berjalan mendekat pada Rachel yang duduk di depan kitchen island, lalu menunjuk pipinya sambil menyengir. “Bayarnya pake ini.”
Seketika senyum Rachel merekah. Ini pertama kalinya Alvin terlihat manja dengannya. Mukanya yang cengar-cengir daritadi membuatnya semakin gemas. Jangankan cium dipipi, cium di bibir juga Rachel mau-mau aja. Malah dia yang takut ketagihan dan nggak bisa stop.
Ingatannya otomatis melayang pada kejadian malam tahun baru kemarin, yang sampai saat ini masih suka membuatnya senyum-senyum sendiri kalau teringat tentang momen itu.
“Kenapa malah senyum-senyum?” goda Alvin, yang jadi ikutan senyum-senyum juga.
“Lo ngapain ikutan senyum-senyum juga?”
“Ngeliat kamu senyum, jadi nular, Yang!” entah kenapa kalimat lembut Alvin kali ini terdengar teduh ditelinganya, bukan menggelikan seperti yang sebelumnya. Mungkin ini juga efek tatapan Alvin padanya yang sama-sama meneduhkan, seperti terpal pecel lele.
Senyum Rachel jadi semakin melebar. Entah sejak kapan, kini dia sudah berdiri didepan Alvin. keduanya hanya berjarak sejengkal, dan tubuh Alvin masih saja mendekat kearah Rachel, sampai tubuh Rachel menempel pada meja pantry dibelakangnya.
“Vin—“ pekikan Rachel tertahan oleh bibir Alvin yang kini sudah menempel pada miliknya.
Perlahan kecupan bibir Alvin berubah menjadi lumatan lembut yang semakin dalam. Tangan Rachel refleks melingkar pada leher Alvin. Hanya dengan sekali gerakan, Alvin mengangkat p****t Rachel, dan menaikkan Rachel diatas meja. Kedua kaki Rachel terbuka lebar, dan Alvin merapat diantara kedua kaki Rachel.
Kedua bola mata Rachel mengerjap beberapa kali saat ciuman mereka sudah terlepas. Dia tidak menyangka baru saja ciuman di dapur, dengan dirinya yang duduk di meja pantry. Biasanya, hal semacam ini hanya ada di film atau novel-novel. Bahkan selama ini Rachel menganggap kalau hal semacam ini terkesan berlebihan banget. Seumur-umur Rachel nggak pernah membayangkan akan berciuman di dapur seperti sinetron banget begini.
Ah, sepertinya setelah ini Rachel perlu meralat pemikirannya soal itu. Mau dimanapun tempatnya, dia yakin kalau itu pasti akan selalu menyenangkan kalau dilakukan dengan Alvin.
“Wah bahaya nih, Rach kayaknya!” ucap Alvin pelan, dengan kedua hidung mereka yang hanya berjarak beberapa senti, nyaris menempel.
Rachel mengerutkan keningnya bingung. Tapi kemudian dia menyunggingkan senyuman tipisnya. Perlahan dia mulai bisa memahami maksud ucapan Alvin barusan. ‘Bahaya kenapa? Bahaya karena makin ketagihan cium gue? Kalo itu sih, gue jugaaaa!’ batin Rachel berteriak keras. Lidahnya masih terasa kelu untuk mengucapkan itu secara gamblang. Tapi dari senyumannya yang semakin manis, seharusnya Alvin sudah tahu maksudnya.
“Bahaya, Rach! Makin lama cinta aku ke kamu udah meluap-luap ini, nggak bisa diberhentiin.”
Kedua bibir Rachel terbuka. Namun tidak menghasilkan suara apapun. Dia speechless. Perkataan Alvin barusan jelas tidak terbesit diotaknya sama sekali. Makanya sekarang Rachel malah linglung. Antara bahagia, kegelian dengan ribuan kupu-kupu yang memenuhi perutnya, dan juga karena bingung harus merespon seperti apa.
Untung saja tadi Rachel tidak mengungkapkan secara gamblang kalau dia ketagihan dengan ciuman Alvin. Bisa-bisa cowok itu malah kegeeran dan menganggap Rachel m***m banget karena pengennya dicium terus. Eh, sebenarnya Rachel memang m***m sih. Buktinya, sekarang dia tidak hanya membayangkan bibir Alvin mencium bibirnya. Tapi juga anggota tubuh Rachel yang lain, yang kini berhasil membuat tubuhnya langsung panas dingin, hanya dengan membayangkannya.
“Kamu juga gitu nggak, Rach?” tanya Alvin dengan muka bodohnya.
“Gitu apa?” suara Rachel tercekat.
“Ya gitu…”
“Enggak.”
“Masa kamu nggak ngerasa gitu juga sih?”
Kedua alis tebal Alvin bertaut, antara bingung dan kesal mendengar jawaban Rachel barusan. “Enggak. Gue tapi ngerasa pengen dicium lagi.” namun kalimat selanjutnya yang keluar dari bibir Rachel sempurna mengundang senyuman lebar Alvin.
Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, dengan senang hati Alvin langsung melaksanakan keinginan Rachel, dan keduanya saling mendekap erat, seolah tidak ingin siapapun menghentikan keduanya.
****
“Enak kan?” tanya Alvin dengan nada penuh kebanggaan.
Kini di meja makan sudah terhidang dua piring pasta buatan Alvin. Rachel benar-beran tidak diijinkan Alvin untuk membantu sama sekali. Katanya, dia sengaja agar Rachel tahu bagaimana rasa masakan Alvin aslinya, tanpa bantuan siapapun.
Jangan tanya bagaimana sombongnya Alvin ketika dia berhasil memanggang salmon dengan sukses dan menghasilkan warna daging salmon yang sempurna. Sepanjang memasak, mulutnya tidak berhenti untuk mencorocos mengenai apa saja yang ada. Mulai dari membicarakan Maminya yang jago membuat pasta salmon, sampai membicarakan teman-temannya yang suka nggak percaya kalau dia bisa memasak.
Yang membuat Rachel semakin kaget dan tidak percaya adalah, Alvin bercerita kalau dia pernah bekerja part time disebuah kafe selama tiga bulan.
“Beneran, Rach. Aku jadi cooking helper. Ya emang nggak terlalu keren sih. Tapi waktu itu aku mikirnya, lebih mending ini daripada jadi waitress. Kalo jadi waitress kan harus ketemu banyak pengunjung. Aku malu kalo ada temenku yang dateng di kafe itu. Makanya, ogah jadi waitress.” Cerita Alvin berusaha meyakinkan.
“Jadi lo bisa masak itu terpaksa?”
Alvin mengangguk. “Tadinya, Mama emang selalu nyuruh anak-anaknya buat bantuin bikin sarapan di dapur setiap pagi. Jadi yang basic-basic kayak goreng atau ngerebus pasta gitu gue bisa. Tapi nggak pernah masak yang dari awal sampe akhir aku yang ngolah sendiri gitu.”
“Terus gara-gara kerja di kafe, jadi maksain harus bisa masak?”
“Iya. Kan disana juga diajarin sama chef-nya. Jadi yaudah. Lama-lama jadi bisa juga.”
“Kapan kerja di kafenya?”
Bola mata Alvin terlihat menerawang sebentar. “Pas SMA pokoknya. Berapa tahun yang lalu tuh? Males ngitungin deh! Pokoknya waktu itu selesai ujian nasional. Terus kan libur panjang, sambil mikir mau kuliah dimana, Papa nyuruh aku kerja di kafe punya temennya. Biar aku nggak nganggur katanya.”
Kedua bola mata Rachel membulat, tampak sangat tertarik dengan cerita Alvin. dilihat dari besarnya tipe unit apartemen Alvin dan mobilnya, tentu laki-laki ini bukan dari keluarga biasa yang isi rekeningnya pas-pasan.”Nyuruh kerja di kafe beneran?”
Sebagai jawabannya Alvin mengangguk mantap. “Dari dulu Papa emang agak keras kalo ngedidik. Kakak-kakak gue juga selalu disuruh kayak gitu kok. Katanya belajar itu nggak Cuma dari sekolah. Tapi juga dari pengalaman. Makanya Papa suka nyariin ke temen-temennya lowongan kerja buat anak-anaknya kerja part time pas lagi libur.”
Mendengar penuturan Alvin soal keluarganya, Rachel malah berkaca-kaca ingin menangis. Antara iri dengan keluarga Alvin yang super harmonis, dan punya prinsip pendidikan yang sangat bagus, juga malah kembali teringat pada Maminya.
“Yeee… Markonah malah ngelamun! Enak apa enggak?”
Baiklah, kembali lagi pada obrolan Rachel dengan Alvin saat ini.
“Lumayan.” Jawab Rachel berusaha memasang mukanya sedatar mungkin, setelah menyuapkan sepotong kecil salmon beserta pastanya kedalam mulut.
“Dih, susah banget ya, bilang enak? Sok-sokan bilang lumayan! Emang kamu bisa masak kayak gini?” selorohan Alvin yang super sombong itu malah menyentil perasaan Rachel tanpa disengaja.
Seketika air muka Rachel berubah murung. “Gue nggak bisa masak sama sekali lho, Vin. Lo suruh gue bikin mie instant aja gue nggak bisa.”
Menyadari bahwa ucapannya ada yang salah, Alvin langsung gelagepan kalang kabut. Dia sama sekali tidak kepikiran kalau ucapannya diartikan lain oleh Rachel.
“Nggak masalah, Rach. Aduh, maksudnya tuh bukan gitu. Gimana ya, aku nggak bermaksud buat—“
“Iya, gue ngerti. Tapi gue Cuma mau ngasih tahu lo aja. Lo jangan too much expectation ke gue. Takutnya lo malah kecewa, karna gue nggak seperfect itu.”
Alvin tersenyum lebar. “Nggak papa, Rach. Gue seriusan nggak masalah kalo lo nggak bisa masak. Gue kan cinta sama lo buat mau hidup bareng elo. Bukannya mau makan doang setiap hari. Kalo Cuma urusan makan mah, gampang. Jaman sekarang udah canggih. Tinggal pesen ojol, makanan juga bisa langsung nyampe.”
Karena muka Rachel nggak kunjung cerah dengan kalimat penghiburan Alvin, dia kembali mencerocos, “Kalo kamu masih nggak ngerti gimana cara make aplikasi ojek online juga nggak papa, Sayang! Nanti aku ajarin. Kalo kamu tetep males make itu, nggak papa juga! Nanti aku yang pesenin terus! Kalo kamu bosen, kan aku bisa masakin sekali-kali.”
Sekarang kalimat yang dimaksudkan Alvin untuk menghibur Rachel malah membuat Rachel jadi kesal karena itu mengingatkannya pada pertemuan mereka kurang lebih dua bulan lalu. Atau dua bulan lebih? Entahlah Rachel lupa hari pastinya.
Bahkan sampai detik ini, Rachel masih belum mendownload aplikasi tersebut dan belum juga belajar memakainya. Padahal dia sudah sempat memiliki tekad yang sangat kuat untuk belajar memakai aplikasi tersebut. Dan kalimat Alvin barusan benar-benar terdengar seperti sindiran yang langsung pas sampai ke hatinya.
“Gue nggak bisa apa-apa ya, Vin ternyata.”
“Yaelah, Rach! Bercanda doang juga!”
Alvin merengkuh tubuh Rachel kedalam pelukannya. Sebelah tangan Alvin digunakan untuk mengelusi punggung Rachel, dengan gerakan konstan. “Nggak papa , Rach. Aku tetep sayang sama kamu. Dan kamu harus sayang balik sama aku. Kalo enggak, kebangetan sih!”
Rachel langsung mendorong tubuh Alvin agar melepaskan pelukan mereka. Dia menatap Alvin tajam. “Maksa banget sih!”
“Kebangetan deh, Rach, kalo kamu nggak sayang aku! Padahal aku nih ya, udah ganteng, jago main gitar, bisa nyanyi, bisa masak, lucu, baik, banyak lah segudang kelebihan yang aku punya. Pokoknya tuh nggak ada alasan kamu nggak bisa sayang sama aku, Rach!” seloroh Alvin dengan menaik-turunkan kedua alisnya dengan kepercayaan diri diatas rata-rata seperti biasanya.
Dalam hati, Rachel mengiyakan ucapan Alvin tersebut. Memang benar, sosok Alvin itu sangat mudah dicintai. Bahkan, ketika pertama kali Rachel bertemu Alvin di lobby kampus untuk yang pertama kalinya, dia langsung tertarik. Memang belum langsung cinta. Tapi, detik pertama Alvin mengajaknya ke apartemennya beberapa hari yang lalu, Rachel langsung resmi jatuh cinta pada Alvin, sejatuh-jatuhnya, dan mulai khawatir cowok ini akan meninggalkannya.
“Kenapa sih, ngeliatnya gitu banget?” Alvin menatap Rachel heran. Pandangan Rachel saat ini benar-benar menusuk kearahnya, seperti sedang menuduh. Entah menuduh bagaimana, Alvin sedikit kesulitan memahami maksanya.
“Lo nggak akan pergi kan?”
Senyum Alvin merekah. “Aku nggak akan pergi kemana-mana.”
Tbc~