“Woy, lima belas menit lagi count down!” seru Gilang sambil memandangi jam tangannya.
Namun teriakan Gilang barusan tidak dihiraukan oleh teman-temannya. Tasyi dan Ilham duduk dipinggir kolam renang, dengan tubuh nyaris menempel karena sejak tadi mereka asyik berciuman semenit sekali. Begitu juga dengan Selin dan Ry yang duduk di sofa yang menghadap kearah proyektor.
Sementara Alvin dan Rachel masih duduk berdampingan di sofa pojok halaman yang remang-remang dengan mulut yang sama-sama membisu. Daging dan whiskey yang dibawa Rachel sudah habis sejak tadi.
Tadinya, ketika Alvin mengungkapkan perasaannya, Rachel hanya diam tidak mengatakan apapun. Pandangannya tetap lurus kedepan, berusaha mengabaikan tatapan Alvin yang menusuk pada kedua bola mata Rachel.
“Itu belum tentu cinta, Vin. Bisa aja itu cuma obsesi lo aja.” akhirnya Rachel berhasil membuka suara. Sejak tadi ia sibuk mencerna dan menerjemahkan perasaannya. Jantungnya berdegup kencang. Apalagi jarak duduk keduanya cukup dekat, sampai bahu mereka berdempetan, membuat keinginan Rachel untuk mencium dan memeluk laki-laki ini semakin besar. Juga kemeja slim fit berwarna putih yang dipakai Alvin malam ini, membuat laki-laki itu tampak lebih menawan dalam keadaan cahaya remang-remang begini.
“Gue bisa tahu jelas perbedaan obsesi sama cinta, Rach. Dan semua yang gue rasain sekarang terasa semakin nyata karena ini,” Alvin mengambil tangan Rachel dan menempelkan pada d**a sebelah kirinya, tepat dibagian jantungnya.
Bola mata Rachel kian melebar kita ia bisa merasakan detak jantung Alvin yang berdegup kencang seiring dengan irama jantungnya sekarang yang sama kencangnya. Seandainya orang lain bisa mendengar suara degup jantung keduanya, mungkin itu akan menjadi kolaborasi paling keren yang berirama merdu.
“Wajar kalo lo kaget dengan ini semua. Gue akui ini memang kecepetan. Mungkin sebenernya perasaan kita itu sama dan saling membalas. Cuma lo belum sadar aja sama keberadaan rasa itu.” Tutur Alvin yang kini menggenggam erat tangan Rachel diatas pangkuannya. Sesekali ibu jarinya mengelus punggung tangan Rachel dengan lembut.
Tanpa Alvin sadari, kelembutannya ini berhasil menggoyahkan tembok tinggi yang sudah Rachel bangun sejak awal. Membuat cewek itu sibuk bertanya-tanya dengan hatinya.
“Gue akan membantu lo untuk menyadari keberadaan rasa itu di hati lo. Asal lo mau menerima bantuan gue, maka semuanya akan berjalan dengan lebih mudah.” Lanjut Alvin.
“Nggak semudah itu, Vin.” Tenggorokannya tercekat. Bahkan suaranya terdengar serak. “Gu-gue… Nggak bisa.”
Bukannya protes dan marah, Alvin malah menegakkan punggungnya untuk mendalami bola mata Rachel lebih dalam. Kali ini jarak keduanya hanya terpisah kurang dari satu jengkal.
Demi aphrodite, malam ini Rachel cantik banget! Alvin tidak tahu harus mengatakan pujian ini berapa ribu kali lagi. Tapi, ia sungguhan ketika mengucapkannya. Gaunnya yang agak terbuka dibagian atasnya, sehingga memamerkan bahu mulusnya, membuat Alvin agak khawatir perempuan ini akan kedinginan. Tapi, Alvin enggan masuk kedalam rumah Tasyi dan mengambilkan jaket kulit miliknya yang ia tinggal di ruang tamu. Ia lebih ingin menghangatkan Rachel dengan pelukannya dan… beberapa ciuman.
Oh s**t! Efek Whiskey yang diminumnya tadi membuat kinerja otaknya mulai memburuk. Di tambah tatapan Rachel kearahnya, semakin memabukkannya. Juga lokasi tempat keduanya duduk seperti mendukung Alvin untuk berfikiran yang iya-iya.
“Kenapa nggak bisa?”
“Apa menurut lo semudah itu bagi gue untuk langsung percaya semua omongan lo?”
“Apa yang harus gue lakuin biar lo percaya, Rach?”
Bukannya menyahuti ucapan Alvin, Rachel malah menghabiskan whiskey-nya yang tinggal satu tegukan.
“Rach,”
Rachel menoleh pada laki-laki disebelahnya, menunggu kalimat yang akan dilontarkan Alvin setelah ini.
“Darimana lo bisa yakin kalo omongan gue ini nggak bisa dipercaya? Apa salahnya lo kasih kesempatan untuk kita?” Alvin bersuara lirih, bahkan nyaris berbisik.
Pertanyaan Alvin membuat seluruh saraf Rachel membeku. Dadanya terasa sesak entah kenapa. Berkali-kali ia meyakinkan dirinya sendiri dengan apa yang baru saja didengar oleh pendengarannya.
“Bullshit, Vin! Bullshit!”
“Tampang gue sebrengsek itu ya, Rach?” tanya Alvin dengan muka memelas.
Rachel menggeleng. Lalu mengendikkan bahunya. “Gue sama sekali nggak ngerti, Vin...”
“Lima”
“Empat.”
“Tiga.”
“Dua.”
“Satu.”
“HAPPY NEW YEAR!” teriak seluruh manusia yang berada di halaman belakang. Kembang api yang sudah diikat di tiang, langsung menyala dan berletupan di langit. Selin dan Ry langsung melakukan new year kiss seperti biasanya. Juga dengan Ilham dan Tasyi.
Gilang langsung menarik Keara kedalam dekapannya dan melumat bibir gadis itu cepat. Disebelah mereka ada Fabian berpelukan dengan Alisa. Juga Rafa berangkulan erat dengan Keara.
Rachel dan Alvin hanya mematung dan memperhatikan semuanya dari kejauhan.
“Gilang sama Keara itu udah deket sejak awal Ospek. Tahun yang lalu, mereka bikin perjanjian, kalo pas tahun baru mereka berdua masih sama-sama jomblo, maka mereka bakal jadi partner new year kiss. Dan sekarang, mereka berdua masih jomblo. Lebih tepatnya, jomblo terus, karena sejak ciuman pertama mereka tahun lalu, Gilang kepikiran Keara terus dan kayaknya mulai jatuh cinta sama tuh cewek. Cuma Gilangnya aja yang cupu. Selalu denial sama perasaannya, dan takut buat melangkah.” Alvin bercerita dengan pandangan lurus kedepan. Berharap dengan ceritanya ini bisa membunuh keheningan diantara mereka.
Rachel hanya diam. Tidak merespon. Lebih tepatnya, tidak tahu ingin merespon bagaimana.
“Rach,”
“Kalo gue nggak b******k, terus apa? Apa gue nggak sepantas itu buat dapet kepercayaan lo ya?”
Merasakan pandangan Alvin yang mengintimidasinya, Rachel menggeleng pelan. Keduanya sama-sama diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Gue ganteng nggak, Rach?” Alvin bertanya tiba-tiba.
Kedua bola mata Rachel melotot. Bagaimana bisa, obrolan mereka bisa merambat sampai kesini? Dan, kenapa ia bisa menemui laki-laki senarsis ini?
“Ganteng nggak, Rach?” Alvin kembali mengulangi kalimatnya dengan kepala yang semakin mendekat kearah Rachel. Memberi kesempatan pada Rachel kalau saja cewek itu mau menolak atau menamparnya.
Bodohnya, Rachel malah mengangguk beberapa kali. Mending cepat diiyain aja, daripada berisik terus kan?
Untuk beberapa menit, Alvin membelalakkan matanya, melihat jawaban Rachel. Baru kali ini Alvin merasa sebahagia ini ketika mendengar orang lain memujinya.
“Apa Rach, gue nggak denger!” desak Alvin jahil. “GUE-GANTENG-ENGGAK?” laki-laki itu benar-benar menekankan setiap kata yang ia ucapkan, meminta jawaban sama tegasnya.
Rachel mendengus. Kini jarak mukanya dengan Alvin hanya sebatas lembaran tisu. Bahkan, mukanya ikut menghangat merasakan hembusan nafas Alvin didepannya.
“I-YA.” Jawab Rachel sama tegasnya, berharap laki-laki itu cepat puas dengan jawabannya, dan segera menjauhkan tubuhnya. Dengan jarak sedekat ini, Rachel sudah membeku dan tidak bisa menggerakkan tubuhnya barang seinchi pun.
Entah sejak kapan, Rachel baru sadar kalau tangan laki-laki itu sudah berada ditengkuk Rachel dan menekan kepalanya agar tidak menjauh. Detik berikutnya, kedua bibir mereka sudah bersatu. Awalnya Alvin hanya mengecup bibir Rachel. Semakin lama, kecupannya semakin menuntut dan berubah menjadi lumatan.
Tatapan Alvin sempurna membius otaknya untuk menyingkirkan akal sehatnya. Begitu akal sehatnya pamit pergi, Rachel malah menggantungkan kedua tangannya pada leher Alvin, untuk memperdalam ciumannya.
Setelah sama-sama kehabisan nafas, gantian kening keduanya yang saling menempel. Keduanya masih sibuk mencerna dengan kejadian yang barusan mereka alami. Rasanya seperti mimpi bagi Alvin. dan terasa seperti halusinasi bagi Rachel.
Baru satu kali ia menarik nafas, Alvin sudah menempelkan bibirnya pada milik Rachel lagi, dan melesakkan lidahnya untuk mengeksplorasi setiap sudut mulut Rachel. Kali ini tanpa ragu, Rachel langsung membalas lumatan itu mengikuti irama gerakan lidah Alvin.
Alvin mengakhiri ciumannya untuk memberikan jeda bernafas untuk Rachel. Cengkeraman tangan Rachel pada belakang kepala Alvin mengendor. Nafasnya memburu, seperti baru saja lari marathon puluhan kilo meter.
Sialnya, ciuman Alvin malah mengingatkannya pada Ale. Seumur hidupnya, hanya Ale yang pernah berciuman dengannya. Dan Alvin adalah orang keduanya.
Otak Rachel masih perlu mencerna semuanya dengan baik. Ia masih belum bisa membedakan, apakah debaran jantung yang ia rasakan ketika bersama Alvin ini murni karena Alvin, atau karena bola mata Alvin yang mengingatkannya pada Ale.
Dengan gerakan cepat Rachel beranjak dari duduknya, melepaskan tangan Alvin. Ia tidak berani menatap muka laki-laki itu, dan memilih untuk bergabung dengan Laura dan Alisa yang tengah debat memilih film yang akan mereka tonton.
Alvin tahu kalau ini terlalu cepat, dan reaksi Rachel barusan itu wajar. Tapi ia puas. Setidaknya, barusan adalah the best kiss that he was ever did!
“Nggak papa, Chel, kalo lo masih ragu sama gue. Yang penting gue ganteng kan?” itulah kalimat terakhir yang Rachel dengar dari mulut Alvin, sebelum Rachel benar-benar masuk ke rumah Tasyi untuk ke toilet.
***
Hari-hari ujian Rachel dan kelima temannya berlalu dengan cepat. Selama ujian yang hanya berjalan satu minggu itu, Rachel sama sekali tidak bertemu dengan Alvin. Meskipun separuh hatinya kangen dengan kecerewetan laki-laki itu. Tapi disisi lain, ia juga tidak tahu harus berbuat apa jika bertemu laki-laki itu lagi. Apalagi saat tempo hari Alvin melihatnya dalam keadaan sangat kumal dan berantakan karena belum mandi tiga hari. Sempurna sudah alasan Rachel tidak mau bertemu dengan laki-laki itu.
Jadwal ujian Alvin berbeda dengan Rachel, membuat kemungkinan pertemuan mereka berkurang. Kata Selin, Alvin juga sedang sibuk mengurus organisasi yang diikutinya.
Hari ini hari terakhir ujian. Walaupun mulutnya berkata tegas kalau ia belum siap bertemu dengan Alvin lagi, sebagian hatinya malah berteriak sebaliknya. Disisi lain, ia kesal dengan laki-laki itu. Apa segini saja perjuangan Alvin untuknya yang katanya kemarin meminta kesempatan?
Begitu keluar dari ruang ujian, Selin dan Tasyi sudah langsung mengajak ke Grand Indonesia dengan penuh paksaan seperti biasanya. Kata Tasyi, sekalian cuci mata dan cari sale sisa tahun baru. Akhirnya Rachel mengiyakan ajakan itu karena ia juga ingin membeli ‘donat galaunya’, karena Alvin lagi-lagi menghilang tanpa kabar dan tidak berusaha sedikit pun untuk mencari atau berusaha menemuinya lagi seperti kemarin.
Sial. Sejak kapan Rachel jadi selebay ini?
Hanya dengan satu kalimat Selin, mendadak Rachel langsung bersemangat. Barusan Selin mengatakan kalau nanti Rysaka akan menyusulnya, bersama Ilham. Tentu saja ia juga berharap kalau Alvin ikut menyusul, mengingat mereka adalah satu geng. Ia tidak berharap muluk-muluk dengan bisa mengobrol atau menghabiskan banyak waktu dengan laki-laki itu. Hanya dengan bertatapan dengan sepasang mata teduhnya itu saja, Rachel sudah merasa cukup.
Begitu sampai ditempat tujuan, mereka langsung mulai menjelajahi satu persatu store langganan mereka dengan berbagai obrolan yang tidak berhenti, sejak melangkahkan kaki di pintu masuk. Tentu saja seperti biasa Rachel hanya diam menyimak, dan menanggapi seperlunya.
Senyum Rachel mengembang semakin lebar ketika Keara juga mengatakan kalau Gilang akan menyusulnya. Katanya, Gilang akan mentraktir mereka semua nonton film horror. Harapannya kalau Alvin akan ikut menyusul jadi semakin besar. Karena menurut Rachel, Alvin, Gilang, Fabian dan Rafa itu adalah paket komplit yang sulit dipisahkan.
Sayangnya, harapan Rachel langsung pupus begitu Gilang menampakkan batang hidungnya dengan cengiran lebar seorang diri tanpa ditemani siapapun. Kedatangannya ini memang sengaja dikhususkan untuk Keara.
Tak lama kemudian, Ilham muncul bersama Ryshaka. Sudah. Hanya dua orang itu yang muncul. Sepasang bahu Rachel langsung melemas. Keduanya terlihat ceria dengan pacar masing-masing dan langsung asyik bergabung dengan obrolan yang tengah berlangsung, tanpa membawa nama Alvin kedalam obrolan mereka sama sekali. Seolah benar-benar mematahkan harapan Rachel kalau Alvin akan muncul belakangan.
Otak Rachel melayang entah kemana. Dia semakin sibuk menerka-nerka apa yang dilakukan Alvin saat ini, juga apa yang dipikirkan Alvin sekarang, tentang dirinya. Sementara teman-temannya mulai terlibat obrolan asyik dengan tawa terbahak sesekali.
“Lo kenapa sih, Chel? Sakit? Kok kayak lesu gitu, banyak pikiran?” Selin yang sejak tadi duduk disebelahnya seperti menyadari ada sesuatu yang berbeda dari Rachel. Meskipun biasanya Rachel memang hanya diam, dan jarang ikut terlibat dalam obrolan teman-temannya, Selin tetap bisa membedakan dengan baik mana Rachel yang memang ingin diam, dan mana Rachel yang diam karena sedang berpikir keras.
Sebagai jawabannya, Rachel menggeleng kecil. Dia tahu kalau Selin pasti sangat memahami arti dari gelengan kata Rachel barusan. Itu bukan berarti ‘Tidak apa-apa’ tapi artinya, Rachel sedang tidak ingin menceritakan apa-apa. Dan Selin selalu paham dengan setiap kode yang Rachel tunjukan.
Beruntung pertanyaan Selin pada Rachel tadi pelan, sehingga teman-temannya tetap asyik dengan obrolan mereka yang semakin seru. Sejak tadi mereka sibuk meledek Keara dan Gilang yang kini duduk sebelahan, dengan tangan yang saling menggenggam. Rachel tidak tahu apakah mereka sudah resmi jadian atau bagaimana. Obrolan teman-temannya, tidak masuk ke otaknya sama sekali. Tapi melihat pipi Keara yang memerah karena terus-terusan menjadi objek utama ledekan teman-temannya, Rachel jadi yakin kalau tebakannya itu sepertinya benar. Keara dan Gilang akhirnya jadian.
Cerita Alvin saat malam tahun baru kemarin, tentang Keara dan Gilang kembali terbayang dalam ingatan Rachel. Kalau Alvin ada disini, pasti Alvin tidak akan seheboh teman-temannya, karena menurut cerita Alvin kemarin, dia sudah tahu kalau dua temannya ini memang memiliki rasa yang sama.
Oke, sepertinya Rachel harus berhenti sekarang. Dia tidak boleh keterusan mengingat-ngingat bagaimana momen ketika Alvin bercerita soal Keara dan Gilang. Karena lama-kelamaan, momen itu malah membawanya pada memori malam tahun baru yang cukup bersejarah baginya.
Lamunan Rachel langsung buyar ketika teman-temannya kini mengajak menonton bioskop. Karena sedang tidak mood berbicara banyak, Rachel mengiyakan saja semua ajakan teman-temannya. Selama film berputar hingga selesai yang langsung dilanjutkan dengan makan sushi, Rachel masih tetap diam.
Sejak tadi Gilang dan Keara terus-menerus menjadi pusat perhatian dengan berbagai tingkah yang menyita perhatian teman-temannya. Sehingga mereka tidak menyadari kalau Rachel sedang melamun.
“Lo beneran nggak papa, Chel? Maksud gue, kalo lo nggak nyaman sama sesuatu, just let me know ya!” bisik Selin lagi, yang rupanya memperhatikan Rachel sejak tadi.
Kepala Rachel terangkat. Lalu menggeleng kecil. Kali makna gelengannya adalah kebingungannya ingin menjawab bagaimana. Mana mungkin Rachel mengatakan pada teman-temannya kalau ia kangen Alvin, dan sudah dua minggu tidak mendengar kabarnya. Yang ada, Laura langsung menusuk kedua bola matanya dengan sumpit.
Pikiran Rachel semakin kacau ketika teringat satu fakta, bahwa Laura cinta banget sama Alvin. Semisal nantinya ia jadian dengan Alvin, bagaimana hubungan pertemanan mereka nanti? Kalau begini ceritanya, Rachel tidak bisa disebut sebagai penikung kan?
Sial. Kenapa Rachel jadi cemas dan memikirkan aneh-aneh begini sih? Padahal, perasaannya sendiri pada Alvin saja masih terasa abu-abu. Dan belum tentu juga mereka akan jadian seperti imajinasinya selama ini.
“Liburan semester ini mau kemana kita?” tanya Tasyi memecah keheningan. Sebenarnya, ketika Selin bertanya pada Rachel tadi, seisi meja memandang kearah Rachel. menunggu jawaban dari gadis itu. Bodohnya, Rachel tidak juga menjawab pertanyaan Selin, bahkan tidak menyadari kalau jawabannya ditunggu banyak orang.
Bukan hanya Selin yang khawatir dengan Rachel. Tapi yang lainnya juga.
“Iya yuk, main dulu kemana gitu dua minggu. Sebelum gue balik ke rumah nih!”
“Ke Pulau Seribu aja!”
“Iya, tuh! Gue malah belom pernah ke Pulau Seribu. Padahal Pulau Seribu kan lebih deket dari pada Bali kan?”
Selanjutnya obrolan mereka berlanjut pada diskusi mengenai destinasi liburan untuk mengisi liburan semester mereka yang sudah didepan mata sampai dua bulan kedepan. Rachel tidak terlalu menyimak. Ikut atau tidak saja, ia malas.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan malam ketika makanan di meja mereka ludes tak bersisa. Dan Rachel tidak juga mencium bau-bau Alvin akan muncul dihadapannya. Bahkan sampai detik terakhir mereka hangout, dia masih berharap Alvin tiba-tiba muncul dihadapannya.
Sialnya lagi, Budi sudah nongol di lobi ketika mereka mau pulang. Sehingga Rachel tidak bisa beralasan pulang bareng Laura yang siapa tahu saja mau dijemput Alvin lagi. Tapi Laura memang tidak bilang akan dijemput oleh Alvin sih, cewek itu sejak tadi sibuk tertawa dengan celotehan Gilang, tampak tidak kepikiran Alvin sama sekali. Bahkan, menyebut namanya saja tidak.
Rachel jelas tidak mungkin langsung menanyakan keberadaan Alvin pada Laura atau pada siapapun kan? Begini ya, sesaknya menahan rindu yang meluber tanpa kepastian?
Tbc~