Chapter 8

2937 Words
        Besok udah libur kuliah ya, Non?” tanya Budi ketika mobilnya sudah berhenti di lobi apartemen Rachel.         “Iya, Pak. Besok kirim sarapannya agak siangan nggak papa. Rachel mau tidur sampe siang aja.” jawab Rachel, sebelum keluar dari mobilnya.         Dia melangkah gontai memasuki apartemennya. Rachel tidak tahu apa yang dirasakannya. Seperti ingin marah, tapi bingung ingin marah pada siapa, dan karena apa. Mungkin ia perlu memarahi dirinya sendiri yang tidak mau menyingkirkan gengsinya untuk menanyakan keberadaan Alvin pada Selin yang pasti mau membantu banyak. Apalagi Selin dan Tasyi tidak terlalu suka dengan hubungan Alvin dengan Laura. Seharusnya, ia bisa meminta dukungan pada Selin dan Tasyi mengenai perasaannya pada Alvin.         Mamam tuh gengsi!         “Iya, Ma. Iyaaa…”         “Besok pagi Mama langsung balik ke Bekasi, dijemput sama Papa. Mama tahu kamu males nganter Mama kan?”         “Siapa bilang nggak mau?”         “Mau, tapi maunya siang kan? Sama aja, mending Mama dijemput Papa! Udah ah, sana kamu naik keatas! Langsung tidur lho, Dek! Nggak usah kelayapan terus! Kamu jaga kesehatan ya, Dek! Jangan soft drink sama junk food terus!”         “Iya, Mama sayang! I love you!”         Tanpa sengaja Rachel mendengarkan percakapan antara ibu dan anak itu dengan baik. Saat ini Rachel sedang menunggu lift untuk naik ke lantai unitnya. Meskipun percakapan itu berada di belakangnya, Rachel masih bisa mendengarnya dengan jelas.         d**a Rachel sesak. Sudah lama sekali ia tidak bercakap-cakap seperti itu dengan Maminya. Dulu Maminya juga selalu memanggilnya dengan sebutan Dek. Karena Rachel memang anak tunggal. Tapi ia selalu protes dengan panggilan itu. Saat itu ia masih kelas 4 SD, namun Rachel merasa kalau dirinya sudah besar dan sudah pantas menjadi kakak. Rachel iri dengan teman-teman sebayanya yang sudah punya adik lagi, dan dipanggil kakak oleh orang tuanya.         Waktu itu Rachel sering ngambek dengan Maminya, karena sudah puluhan kali Rachel minta adik lagi, dan Maminya tidak pernah menyahutinya dengan baik. Maminya selalu punya puluhan cara untuk mengalihkan pembicaraannya.         Saat kelas 2 SD, Rachel juga sudah pernah meminta adik pada kedua orang tuanya. Tapi tidak dikabulkan dengan alasan Rachel masih suka ngedot dan belum berani tidur sendiri. Susah payah Rachel berusaha membiasakan diri minum dengan gelas, dan tidur dikamar princess-nya sendiri, tapi orang tuanya tidak juga mengabulkan keinginannya itu. Entah Maminya atau Papinya selalu berhasil mengalihkan pembicaraan kalau sudah menyangkut tentang adik baru Rachel.         Ketika sudah dewasa, Rachel baru sadar kalau ternyata Maminya memang sudah tidak bisa memberikan Rachel adik lagi, karena Papinya sudah lama selingkuh. Juga penyakit rahim yang diderita oleh Maminya sejak bertahun-tahun yang lalu. Sekarang Rachel baru tahu bagaimana hancurnya perasaan Maminya ketika dulu ia merengek meminta adik baru, sementara penyakit rahimnya terus menggerogoti, sampai akhirnya Mami menyerah untuk berjuang. Dan meninggalkan Rachel untuk selamanya.         Sekarang, Papinya memang sudah bisa memberikan adik untuk Rachel. Bahkan memberikan satu kakak juga. Tapi, bukan dari rahim Maminya. Membuat Rachel semakin marah dengan keadaan hidupnya. Seandainya ia boleh menarik ulang ucapannya, jelas ia akan membatalkan keinginannya untuk punya adik, asalkan Maminya masih hidup dan keluarga mereka masih sehangat dulu.         “Rachel?”         Perempuan itu terkesiap ketika namanya disebut. Refleks, ia menoleh pada sumber suara. Beberapa kali ia mengerjapkan matanya, mencegah selaput bening yang melapisi bola matanya pecah menjadi butiran air mata.         Rachel kangen Maminya. Yang tanpa Rachel sadari membuatnya nyaris menangis. Seadainya Maminya masih hidup sampai sekarang, mungkin dia tidak akan berada disini. Melainkan dimanapun, tempat Maminya sekarang berada. Entah di Singapura, atau di Bali. Kalaupun ternyata Rachel harus berpisah dari Maminya, dia yakin obrolan yang barusan dia dengar itu, pasti akan terjadi juga padanya, mengingat bagaimana Maminya yang cukup posesif.         “Lo mau kemana sih? Lift yang lo tunggu udah lewat dua kali.” Laki-laki yang berdiri didepannya itu mengibaskan tangannya beberapa kali didepan muka Rachel, berusaha memecah lamunan Rachel.         Bukannya menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya, sepasang bola mata Rachel terbelalak menatap sosok yang berdiri didepannya. Ia masih sulit percaya dengan sosok yang tengah berdiri didepannya, dan sedang menatapnya heran.         Alvin!         Kalau saja Rachel lupa bahwa ia masih punya harga diri dan gengsi yang tinggi, mungkin ia sudah akan melemparkan tubuhnya pada laki-laki ini dan memeluknya erat. Namun mengingat apa yang dia lakukan pada pertemuan terakhirnya dengan Alvin kemarin, membuatnya sebisa mungkin untuk menahan diri agar tidak melakukan hal bodoh lagi, dan membuatnya menyesal di kemudian hari.         “Lo sakit ya?” Alvin memajukan langkahnya mendekati Rachel. Tangannya terulur dan menyentuh kening Rachel dengan punggung tangannya.         “Enggak.” dengan sekali gerakan, Rachel menyingkirkan tangan Alvin dari keningnya.         “Kenapa sih, ngeliatin gue-nya gitu banget? Gue tambah ganteng ya abis cukur rambut?” tanya Alvin sambil memegang rambutnya, dan menyisir dengan jarinya.         Mendengar pertanyaan Alvin barusan, membuat Rachel baru sadar penampilan Alvin yang berbeda dari biasanya. Tadi saat berjalan menuju lift, dia memang sempat melirik kearah laki-laki itu, tapi tidak terlalu memperhatikan, karena dia melihatnya dari belakang, dan potongan rambutnya sangat berbeda dengan Alvin yang terakhir kali dia lihat. Makanya dia cukup terkejut ketika menyadari kalau sosok yang tadi ngobrol dengan ibunya itu adalah Alvin.         “Tuh kan, malah semakin terpesona.” Alvin tertawa kecil. “Kata Nyokap sih, gue tambah ganteng. Kalo kata lo gimana? Ganteng nggak?”         Tentu saja Rachel hanya bergeming. Tidak kepikiran kalimat apapun yang bisa dia ucapkan sebagai jawabannya. Mana mungkin dia mengiyakan pertanyaan itu begitu saja. Tanpa perlu dipuji saja Alvin sudah besar kepala sebegininya. Tidak terbayang dibenak Rachel bagaimana narsisnya Alvin nanti kalau dia benar-benar memujinya dengan kalimat yang gamblang.         Tapi omong-omong, kalau Alvin sampai menanyakan hal barusan padanya, apa itu artinya Rachel kelihatan banget kalau sedang mengagumi salah satu ciptaan Tuhan yang indah didepannya ini? Sial. Rachel jadi malu sendiri, kalau Alvin benar-benar sadar kalau sedang dipandangi dengan penuh kekaguman seperti barusan.         Belum juga Rachel menjawab, lift dihadapan mereka akhirnya terbuka juga. Membuat perhatian keduanya teralihkan.         “Masih mau ngelamun disini, apa masuk?” tanya Alvin menyelipkan nada penuh ejekan.         Rachel menjawab ucapan Alvin dengan gerakannya masuk kedalam lift. Alvin ikut masuk, dan akhirnya berdiri didepan Rachel.         Sialnya lagi, begitu mereka memasuki lift, ternyata didalam lift tersebut hanya ada 3 orang yang mana teman-teman Alvin sendiri. Kalau Rachel tidak salah, mereka adalah Fabian, Rafa, dan satu lagi ia tidak mengenalnya. Mereka langsung saling menyapa satu sama lain dengan heboh.         “Lantai berapa?” tanya Alvin ketika lift mulai menutup. Posisi Alvin saat ini memang berada di sisi yang paling dekat dengan tombol, sementara Rachel berada di pojok terjauh dari tombol.         “27.” Jawab Rachel, yang membuat Alvin langsung menekan tombol tersebut.         Setelahnya, Alvin asyik mengobrol dengan teman-temannya. Mereka membicarakan banyak hal dan saling melempar lelucon. Dari percakapan yang Rachel dengar, sepertinya mereka juga teman Alvin satu kelas. Karena mereka membicarakan soal UAS kemarin, juga tentang beberapa organisasi di kampus. Rachel baru ingat kalau Alvin adalah cowok popular di kampus yang ikut banyak organisasi.         “Kenapa lo nggak mau nge-MC di seminarnya anak Manajemen sih, Vin?” “Males! Isinya Maba semua. Stres gue tiap hari ada aja nomer w******p asing masuk, modus-modus tanya matkul, apalah anjir! Dikira gue mentor les-lesan apa!”         Terdengar mereka tertawa keras.         “Aturan mah, ladenin aja, Vin. Kalo belajar ama lo, kasih tarif, sejam sejuta. Mayan tuh, buat nyicil beli saham Unilever!”         “Itu mah elo kampret!”         “Gue sih ogah! Rewel semua anjrit! Pusing gue yang ada!”         “Alah, elo tuh ogah jadi mentor mereka, karena lo sendiri juga nggak paham ama matkul yang mereka tanyain kan? Takut ketahuan kalo bego kan lo?”         Lagi-lagi mereka tertawa.         “Ntar takut salah satu dari para penggemar lo koar-koar, ‘Eh Kak Alvin yang ganteng itu ternyata otaknya jongkok guys! Soal yang gue tanyain nggak bisa semua dia! Sayang ya, ganteng-ganteng tapi tolol.’”         “Anjrit! Lo pada lupa, yang ngasih kalian contekan pas matkul Pak Erik siapa? Siapa juga yang dapet nilai A di matkul Bu Sania? Lo mau ngajakin gede-gedean IP ama gue?”          “Belagu banget, anjing! Padahal lumayan kali, Vin. Aturan mah terima aja, Nge-MC-nya! Buat nambah-nambahin followers i********:!”         “Followers gue udah banyak, tanpa gue harus repot-repot jadi MC buat acara mereka!”         “Iya, Vin. Sekalian nambahin jajaran mantan lo yang jumlahnya udah kayak personil JKT 48 itu!”         “Masa mantan lo cuma 48 sih? Nggak percaya gue!”         “Kan anak JKT48 nggak Cuma 48, Yan! Banyak yang udah graduate juga!”         “Itu aja belum termasuk cewek-cewek yang kena PHP dia, cuy! Bejibun dah pokoknya!”         “Ampe dianya sendiri aja males ngitunginnya tuh!”         “Sialan! Masih banyakan mantan lo anjir!”         “Oh, tadi ngajak gede-gedean IP, sekarang ngajak banyak-banyakan mantan?”         “Kalo gede-gedean IP sih, gue mundur ya. Tapi kalo banyak-banyakan mantan, ya Fabian-lah juaranya!”         “Iya, Fabian juara satu. Yang kedua tetep elo, Vin!”         “Nggak apa sih. Daripada jomblo ngenes merana. Lo terakhir putus sama ari-ari lo kan?”         Tawa mereka kembali terbahak.         “Hari ini disamperin Mama tersayang ya?”         “Iya. Maksa-maksa gue pulang. Males banget, gue balik ke rumah cuma buat jadi supir sama dikenalin ke temen-temennya rempong gitu, you know lah!”         “Ya Allah, Dedek! Umur lo udah 21, anjing! Segala masih disamperin. Kayak anak SD kalo lagi camping anjir! Disamperin Mama, dibawain bekal hahahaha…”         “HAHAHA b*****t! Pasti tadi nyokap lo bilang, ‘Langsung tidur, Dek! Nggak usah kelayapan! Jaga kesehatan ya, Dek!’ Iya kan HAHAHA”         “Diem lo monyet! Jangan ngatain nyokap gue!”         “Dedek, sama kakak senior harus sopan dong, ngomongnya!”         “Kampret, lo kampret!!”         Karena didalam lift tersebut hanya ada keempat cowok itu dan Rachel, mau tidak mau Rachel ikut menyimak obrolan mereka. Susah payah ia berusaha menahan tawanya agar tidak terdengar oleh keempat laki-laki dibelakangnya. Kalau dibayangkan lagi, memang lucu sih, mengingat bagaimana macho-nya Alvin, dan lumayan disegani oleh banyak orang karena kata Selin, dia punya jabatan lumayan penting di organisasinya, masih dipanggil ‘Dedek’ oleh Mamanya, dan lumayan manja begini. Sial. Tawa Rachel jadi semakin sulit untuk ditahan lagi.         Beruntung, tidak lama setelahnya, lift terbuka di lantai unit Rachel. Membuatnya langsung menarik nafas dalam-dalam dengan leluasa, dan tertawa kecil tanpa suara.         Sambil melangkah menuju unitnya, Rachel merogoh tasnya dan mencari keycard unitnya. Langkah Rachel terhenti ketika ia fokus pada tangannya yang mengaduk-ngaduk isi tasnya untuk menemukan keycard-nya yang baru beberapa menit yang lalu ia keluarkan dari tasnya.         “ADUH!”         Teriakan barusan itu bukan berasal dari mulut Rachel yang ditabrak, melainkan dari mulut seseorang yang menabraknya dari belakang.         “Kalo mau berhenti kasih aba-aba dong, Rach!” sungut sosok yang kini berdiri disebelahnya.         Kening Rachel mengernyit. “Lo ngapain ngikutin gue?”         Bukannya menjawab, Alvin malah cengengesan.         “Apaan sih, cengar-cengir?! Narsis lo!” omel Rachel. Entah kenapa rasanya Rachel ingin mengomeli laki-laki ini sepuasnya.         “Narsis apaan sih? Perasaan emang gue ganteng deh! Udah banyak yang bilang kok. Pas malem tahun baru kemaren aja, ada cewek cantik yang bilang ke gue kalo gue ganteng.” Alvin menaikkan sebelah alisnya, dengan senyum asimetris, mengejek. “Tanya aja ke orangnya kalo nggak percaya.”         “Orangnya yang ngomong lagi mabuk kali waktu bilang gitu.” Sahut Rachel.         “Nggak mungkin ih. Tadi aja pas masih didepan lift, orangnya ngeliatin gue mulu gitu, sampe lupa kedip. Kayaknya sih, dia terkesima sama rambut gue yang baru ini. Sayangnya masih suka gengsi anaknya, buat bilang langsung kalo gue ganteng.” Sahut Alvin sambil menaik-turunkan sepasang alisnya, gaya narsis andalannya.         “Siapa sih, anaknya? Mana coba kenalin ke gue! Mata dia sliwer kali!”         Alih-alih menjawab, Alvin malah tersenyum lebar dan mendekatkan wajahnya pada Rachel, membuat cewek itu terlihat agak tegang dan berusaha menahan nafas.         “Nih, kenalin. Cewek cantik yang kemarin bilang gue ganteng.” Alvin menunjuk matanya sambil mempertahankan jarak mukanya dengan Rachel yang kurang dari satu jengkal.         Dengan debaran jantungnya yang tidak karuan, Rachel berusaha tetap mewaraskan otaknya. “Mana?!”         “Ini, liat aja dipantulan bayangan yang ada di mata gue. Cantik banget kan dia?”         Untungnya, pipi Rachel sudah memakai blush on, sehingga ketika sedang blushing seperti sekarang, tidak terlalu terlihat. Tapi sepertinya Alvin menyadari hal itu, karena cowok itu langsung tertawa lebar.         “Kalo mau tau namanya, bedah aja hati sama pikiran gue. Disana, tertulis gede banget nama dia. Karna selama dua bulan terakhir ini, cuma nama dia doang yang menuh-menuhin pikiran sama hati gue.” lanjutnya santai.         b******k! Rachel tidak tahu apakah gombalan ini hanya dilontarkan Alvin untuknya, atau dia adalah cewek pertama yang menjadi objek percobaan gombalan ini. Yang jelas, kedua kakinya sudah berubah menjadi jelly, dan sebentar lagi akan roboh saking lemasnya. Seandainya ada kuliah tentang ilmu pergombalan, mungkin Alvin langsung lulus cumlaude dengan nilai sempurna, dan mendapat gelar master dalam hitungan bulan.         Eh, atau memang Rachel saja yang jarang digombalin, sampai ia merasa kalau gombalan receh ini langsung membuat tubuhnya panas dingin? Setelah diingat-ingat lagi, selama pacaran dengan Ale, cowok itu nggak pernah mengatakan hal lain selain, ‘Kamu cantik banget!’ atau ‘You’re so beautiful as always’ dan kalimat sederhana sejenis itu yang berujung pada ciuman dalam Ale dan berlanjut sampai ke ranjang.         Jadi wajarkan, kalau Rachel langsung melayang tinggi dan merasakan butterfly effect hanya dengan gombalan receh itu. Gombalan yang tanpa sadar membuat Rachel ketagihan dan ingin mendengar versi lain lagi.         Setelah beberapa kali menarik nafas panjang untuk memperbaiki ritme jantungnya, Rachel berusaha menjauhkan mukanya dari Alvin, dan memilih untuk kembali menundukkan kepalanya dan melanjutkan mencari keycard.         “Nyari apaan sih?” Alvin ikut melongokkan kepalanya pada tas Rachel. “Dibuka pake password kan bisa, nggak perlu pake keycard banget!”         Rachel mendengus. “Mau ngapain sih lo?”         “Udah ketemu keycard-nya?” Alvin malah menanyakan hal lain yang tidak nyambung.         “Kenapa sih jutek banget sama cowok ganteng?” Karena pertanyaannya yang tadi tidak dijawab, Alvin bertanya lagi.         Lagi-lagi Rachel tidak menyahuti ucapan Alvin dan melanjutkan langkahnya menuju unitnya, ketika keycard apartemennya sudah ia temukan. Dan Alvin tetap mengekorinya.         “Minggu lalu, kenapa pas gue samperin, kok lo malah langsung nutup pintu gitu aja sih?” tanya Alvin menyuarakan kekesalan hatinya.         Mulut Rachel masih terkatup, tidak tahu ingin membalas apa. Yakali Rachel akan menjawab, ‘Malu gue, ketemu lo. Gue belom mandi tiga hari. Belom keramas juga. Rambut gue gimbal dan bau asem.’         Ketika Rachel masih berfikir keras untuk mencari jawaban paling masuk akal untuk menjawab pertanyaan Alvin, laki-laki itu malah tertawa. “Iya, nggak usah dijawab deh, nggak papa. Soalnya lebih susah dari soal UN ya?” tangan Alvin terulur untuk mengacak-ngacak rambut Rachel gemas, dengan kerutan dikening Rachel yang menandakan kalau cewek itu tengah berfikir keras untuk mejawab pertanyaannya.         Selama berpacaran dengan Ale, mantannya itu memang suka melakukan adegan semacam ini pada Rachel. Tapi yang Ale lakukan padanya adalah mengacak-ngacak puncak kepalanya penuh kasih sayang dan kelembutan. Tidak seperti kelakuan Alvin saat ini, yang mengacak-ngacak puncak kepalanya asal, seolah sengaja ingin memberantakan rambutnya yang tersisir rapi.         Rachel mendengus dan menoleh kearah Alvin. Ketika ia sudah bersiap membuka mulutnya untuk mengomel dan mengusirnya, Alvin lebih dahulu berkata, “See you on Saturday night at 7. You don’t need any make up. I’ll pick you up here.”         Setelah mengucapkan itu, seolah tidak peduli dengan tubuh Rachel yang menegang, Alvin mendekatkan kepalanya pada telinga Rachel untuk berbisik, “Nggak usah dandan cantik-cantik. Begini aja gue udah kerepotan ngontrol rasa cinta gue yang nggak habis-habis ke elo!”         Jarak bibir Alvin dengan telinganya benar-benar sangat dekat, sampai Rachel bisa merasakan hangat nafas Alvin yang berhembus. Bahkan Alvin juga sengaja menahan kepalanya agak lama untuk menghirup aroma shampoo Rachel.         Karena takut terbawa suasana dan kepikiran yang iya-iya, Alvin langsung menjauhkan kepalanya dan mengulas senyum lebar pada cewek yang terpaku didepannya ini. Ia menatap Rachel sekali lagi, memastikan kalau tidak ada penolakan yang terpancar di mata Rachel. kemudian berbalik, pergi.         “Alvin!”         Panggilan dibalik punggungnya sontak menghentikan langkah Alvin.         “R-A-C-H-E-L-X-A” Rachel berteriak keras mengeja huruf tersebut satu persatu, sebelum masuk ke apartemennya. Mengabaikan kerutan di kening Alvin yang gantian mematung, bingung.         Begitu masuk ke unitnya, Rachel langsung duduk di pantry, dan mengambil air mineral dingin dari kulkas. Dadanya naik turun dengan nafas terengah-engah, seperti baru selesai lari marathon memutari lapangan seratus kali.         Tiba-tiba saja ia tertawa keras sambil meletakkan botol mineralnya dihadapannya. Lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri. Rachel benar-benar tidak menyangka bisa merasakan debaran jatuh cinta semacam ini lagi. Bahkan, yang dia rasakan sekarang, terasa jauh lebih norak dari yang dulu ia rasakan saat jatuh cinta dengan Ale. Dan ketika otaknya kembali mengingat bagaimana dirinya yang mendadak berubah menjadi bodoh begini, Rachel jadi ingin tertawa semakin keras.         Sudah lama, ia tidak tertawa selepas ini. Ternyata benar kata orang-orang, tertawa memang melegakan hati. Tidak peduli seberapa banyak masalah, ketika kita tertawa, perasaannya akan terasa jauh lebih baik. Pantas saja, di Indonesia ini pelawak dan komedian dibayar mahal. Dan banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi pelawak atau menciptakan humor.         Tawa Rachel terinterupsi dengan getaran diponselnya yang masih ada di dalam tasnya. Tanda ada pesan masuk.         Alvin Fedrivico M : already missing u!         Alvin Fedrivico M : hopefully, u feel the same way!         Alvin Fedrivico M : Can’t wait to see u tomorrow!         Setelah setahun belakangan hatinya penuh kesenduan, akhirnya Rachel kembali merasakan butterfly effect berturut-turut selama sepuluh menit terakhir, hanya karena beberapa kalimat singkat.         Ia benar-benar bersyukur Alvin bisa memahami maksud dari ucapannya tadi sebelum menutup pintu. Padahal tadi dia sudah merutuki kebodohannya, yang hanya mengeja ID Line-nya secara tiba-tiba, tanpa memberi tahu terlebih dahulu kalau yang barusan dia ucapkan adalah ID Line. Untung saja Alvin langsung bisa memahami itu.          Apakah dengan kecerdasan Alvin yang bisa langsung mudah memahami maksud Rachel ini adalah salah satu bukti bahwa Alvin adalah jodohnya? Tbc~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD