Lusi sedang sibuk merias wajahnya di depan cermin, sedangkan David dia tengah duduk di sofa sambil memainkan ponselnya sembari menunggu istrinya selesai.
Lusi hanya memakai lipstik dan sedikit menyisir alisnya saja, dan dia juga tidak memakai krim apapun. Hanya polesan bedak yang tipis tapi tetap memberikan efek yang bersinar di wajah manis Lusi.
"Aku sudah selesai," teriak Lusi sembari beranjak dari kursi.
David yang mendengar teriakan Lusi langsung menyimpan kembali ponselnya. Dia ikut berdiri tapi tidak berani keluar sebelum Lusi melakukannya lebih dulu.
"Sayang, ayo kita keluar," ujar Lusi karena melihat tingkah aneh suaminya.
"Em iya, ayo," jawab David agak canggung.
"Kamu ngak apa-apakan?" tanya Lusi ragu.
"Iya, aku baik-baik saja."
David terpaksa berbohong kepada Lusi dengan mengatakan kalau dia baik-baik saja. Padahal kenyataannya dia takut dan malu untuk bertatap muka dengan kedua orang tua Lusi lagi.
"Sayang, kamu yang tenang ya. Ada aku yang akan selalu di samping kamu, aku akan selalu menjadi pembela dan juru bicara untuk kamu di depan mama dan papa."
Lusi tahu kalau David pasti takut untuk bertemu apa lagi bertatap muka dengan kedua orang tuanya. Apa lagi setelah yang papanya lakukan dulu kepada David, pasti itu membuat goresan trauma dan ketakutan dalam diri David meskipun itu sedikit, tapi pasti tetap saja ada.
"Terima kasih Lusi, aku memang tidak pantas untuk bersanding dengan kamu. Bahkan aku bukan hanya tidak pantas menjadi suamimu, sebagai seorang laki-laki yang harusnya melindungi wanitanya saja aku tidak bisa, justru kamu yang selalu melindungiku."
Terlihat raut wajah David yang terlihat kecewa dengan dirinya sendiri saat ini. Namum Lusi langsung berusaha untuk menenangkan David, membuatnya agar tidak goyah dan yakin kembali.
"Tuhan yang mengirimkan kamu ke acara pernikahanku, karena Tuhan mau kamulah yang menjadi suamiku. Tuhan sudah mencatat kalau kamulah takdirku, kamu itu jodohku. Hanya kamu laki-laki yang pantas mendapatkan cinta tulusku, sekarang ataupun nanti bahkan dulu sekalipun cintaku hanya untuk kamu Sayang," ujar Lusi dengan tulus dari hatinya.
"Terima kasih Lusi, aku sangat malu dengan diriku sendiri," sahut David dengan wajahnya yang tertunduk ke bawah.
"Stop calling me Lusi, you know? Please call me Sayang. Dan mulai sekarang jangan panggil aku denhan sebutan nama lagi, kalau sampai kamu salah akan aku pastikan kamu dapat hukuman. You understand Sayang?"
David mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali untuk menjawab pertanyaan Lusi. Tapi Lusi memaksa David untuk bersuara, meliriknya dengan tajam sampai David membuka mulutnya.
"I-ya Sa-yang," jawab David sedikit gugup.
"Sayang, anggap saja tidak pernah ada yang terjadi diantara kita. Ingat saja waktu kita kuliah dulu, waktu kita pacaran dulu. Perlakukan aku seperti dulu, panggil aku dengan panggilan Sayang tanpa ragu lagi seperti dulu. Anggap saja kita pacaran lagi seperti dulu, jangan malu-malu seperti ini. Aku ini istri kamu Sayang, kamu tidak perlu malu dan ragu."
Lusi mengenggam kedua tangan David, memberikan suaminya itu kekuatan. Lusi mau David kembali seperti yang dulu, periang, humoris, dan juga penyayang.
"I love you so much." Lusi mengatakan hal itu setelah ia mencium pipi kanan David dengan begitu lembut.
"Love you too," jawab David yang tidak Lusi sangka-sangka sebelumnya.
"Ayo kita keluar sekarang."
Lusi menarik tangan David, mengandengnya dengan erat sampai mereka tiba di meja makan yang sudah disediakan.
"Pengantin baru ya gini, pengennya di kamar terus sampai yang nunggu mau sarapan udah kelaperan," tukas Fiona saat David dan Lusi baru saja tiba di sana.
"Makanya cepet-cepet cari suami biar betah di kamar," sahut Lusi penuh candaan.
"Belum punya suami aja aku betah di kamar, apa lagi kalau udah punya suami, Lus? Bisa sehari penuh tuh aku di kamar ngak keluar, ha ha ha."
Tawa Fiona pecah sampai menular kepada Lusi, gadis cantik yang baru saja menikah kemarin itu juga ikut tertawa lepas karena candaan sahabatnya.
"Ketawanya kurang kenceng lagi kali ya, Lus," sindir Amie yang sedari tadi menjadi pendengar setia obrolan Lusi dan Fiona.
"He he he, enggak Ma. Udahan aja, Lusi udah laper banget."
Lusi langsung menarik sebuah kursi yang berhadapan dengan Amie, tapi kursi itu bukan untuk ia duduki melainkan untuk David suaminya.
"Ayo Sayang duduk," ujar Lusi kepada David.
"Ayo David, jangan sungkan-sungkan dan jangan malu-malu karena kita sekarang sudah menjadi keluarga," kata Amie yang disertai dengan senyumannya.
"Iya Tante," jawab David sekenanya.
"Loh jangan panggil Tante lagi dong, panggilnya sekarang Mama. Okay David?" ujar Amie dengan ekspresi khasnya yang sudah lama tidak David lihat dari jarak dekat seperti ini.
"Iya, Ma," jawab David malu-malu.
"Papa ke mana, Ma?" tanya Lusi karena James tidak ikut bergabung bersama mereka untuk sarapan bersama.
"Papa kamu sudah pergi, katanya dia ada urusan penting. Biarkan saja, masih ada Mama dan Fiona yang akan menemani sarapan kalian di sini bukan?"
Amie terpaksa bebohong karena dia tidak mau membuat David menjadi kepikiran. Sebenarnya James pergi sarapan sendiri, dia tidak mau ikut sarapan bersama dengan mereka karena ada David. Amie sudah berusaha membujuk dan memberitahu James, tapi dia tetap bersikeras untuk pergi.
Tapi Amie yakin kalau lambat laun James pasti akan mau menerima David sebagai menantu mereka. Amie pun yakin kalau David mampu membuat James percaya padanya dengan kemampuanya sendiri nantinya.
"Lusi," panggil Amie setelah piring mereka masing-masing sudah kosong.
"Iya Ma," sahut Lusi.
"Kamu mau tinggal di mana setelah ini?" tanya Amie kepada putri semata wayangnya.
"Lusi mau tinggal di apartemen aja, Ma. Lusi kan sekarang sudah bersuami, jadi lebih baik Lusi tinggal sendiri biar lebih mandiri lagi."
Kali ini Lusi juga berbohong seperti Amie tadi, dan tujuan mereka juga hampir sama. Semua mereka lakukan untuk David, Lusi juga tidak mau tinggal di rumah orang tuanya sebelum James mau menerima kehadiran David dengan tulus.
"Baguslah kalau seperti itu, tapi kamu harus ingat sering-sering main ke rumah ya. Ajak David juga, sesekali ajak dia untuk menginap di rumah juga ya," kata Amie dengan ramah.
"Iya Ma pasti," jawab Lusi dengan mantab.
"David, Mama titip Lusi ya. Jaga dia dengan baik seperti dulu ya, kali ini Mama tidak akan memisahkan kalian lagi. Mulai sekarang Mama justru yang akan jadi benteng untuk kalian. Mama akan menghalangi siapapun yang ingin memisahkan kalian dan mengganggu rumah tangga kalian," ujar Amie dengan nada tegas dan penuh penekanan.
"Uh enak banget kamu sama David, Lus. Udah punya perwira yang akan selalu mempertahankan keutuhan rumah tangga kalian. Ih jadi iri nih sama kalian, semoga nanti kalau aku menikah juga punya perwira yang tangguh seperti kalian ya."
Fiona mengerlingkan sebelah matanya ke arah Lusi, tapi dirinya justru mendapat cubitan gemas di pipinya oleh Amie.
"Tante juga akan jadi perwira untuk rumah tangga kamu kelak kalau kamu menikah. Makanya cepat cari laki-laki yang tepat, jangan buat main-main saja," kata Amie memberi nasihat.
"Iya Tante iya, lagian dicari sekeras apapun kalau belum waktunya bertemu jodoh pasti ngak bakalan ketemu jugakan. Tapi kalau udah jodoh ngak usah dicari dan mau sejauh apapun langsung aja nongol kaya tu tu."
Ekor mata Fiona melirik ke arah David, sebagai pertanda kalau yang sedang ia bicarakan itu adalah suami dari sahabatnya sendiri.
"Uh, jaga mata jangan jelalatan ya," sindir Lusi.
"Mana berani aku, Lus. Bisa jadi maba nanti aku kalau sampai berani melirik istri si bos," kata Fiona.
"Maba? Apaan tuh?" tanya Lusi.
"Mama-mama bingung cari kerja, ha ha ha." Tawa Fiona lepas begitu saja setelah mengatakannya.
"Tunggu," ujar Lusi yang membuat tawa Fiona terhenti.
"Tapi sepertinya ngak masuk deh, ha ha ha." Sekarang Lusi yang tertawa terbahak-bahak. tapi diikuti juga dengan tawa Fiona. Sedangkan David dan Amie hanya tersenyum dengan tatapan bahagia melihat Lusi tertawa lepas.