Lusi mengerjapkan matanya karena pantulan cahaya matahari pagi yang menyusup melewati celah-celah tirai jendela kamar hotelnya. Lusi sedikit terkejut saat mendapati dirinya yang tidak mengenakan satupun pakaian.
Apa lagi waktu Lusi melihat David yang masih tertidur pulas di sampingnya, dia lebih terkejut lagi. d**a Lusi berdebar-debar mengingat kejadian semalam antara dirinya dan David.
"Kamu masih saja polos seperti dulu, untung saja aku agresif. Kalau aku tidak agresif mungkin malam pertama kita akan tertunda sampai entah kapan, hi hi."
Lusi memandangi wajah polos sang suami yang masih terlelap sambil cekikikan. Lusi ingat dengan jelas ekspresi David malam tadi, saat Lusi mulai menggodanya dan memainkan kepemilikannya.
Wajah polos David yang menahan rasa nikmat membuat Lusi semakin menjadi-jadi. Apa lagi waktu Lusi menyuruh David untuk segera memasukinya, wajah David langsung bersemu merah. Yang paling lucu bagi Lusi adalah wajah David ketika dia mulai memasuki tubuh Lusi, ekspresinya lucu tapi juga aneh. Perut Lusi sampai kaku karena menahan tawa sambil menahan rasa sakit di bawah sana.
"Ih gemes banget si," ujar Lusi sambil memcium pipi kiri David.
Karena tidak mau membangunkan David dari tidur lelapnya, Lusi turun dari tempat tidur dengan hati-hati. Lusi berjalan ke arah kamar mandi tanpa mengenakan apapun di badannya. Lusi memilih untuk mandi lebih dulu sambil menunggu David bangun.
Selang sepuluh menit setelah Lusi masuk ke dalam kamar mandi, David menggeliat kemudian membuka matanya. David terkejut sampai dia hampir saja melompat dari tempat tidurnya waktu melihat tubuh polosnya yang hanya ditutupi oleh selimut tebal.
"Apa yang sudah aku lakukan semalam?" batin David bertanya-tanya.
Mata David mencari-cari pakaiannya, namun hasilnya nihil. Dia tidak menemukan pakaiannya berserakan di lantai ataupun di sofa.
Tapi tiba-tiba David teringat akan kejadian yang dia lakukan dengan Lusi semalam. Mereka semalam mandi bersama, Lusi menggoda David di kamar mandi hingga akhirnya Lusi mengajak David untuk melanjutkan malam pertama mereka di tempat tidur.
"Pantas saja tidak ada, bajunya pasti ada di kamar mandi," guman David.
Awalnya David akan mengambil pakaiannya ke kamar mandi, tapi karena mendengar bunyi gemericik air dari dalam kamar mandi David akhirnya mengurungkan niatnya.
Tapi tiba-tiba suara air berhenti dan membuat David menengok ke arah pintu kamar mandi. Dan bodohnya David, dia lupa kalau suara air yang berhenti itu menandakan kalau Lusi akan segera keluar dari dalam sana.
Dan benar saja, Lusi keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang dibalut handuk kecil berwarna putih. Hal itu membuat paha mulus Lusi tentu saja tereskpos dengan jelas di mata David.
"Kamu sudah bangun ternyata," kata Lusi.
Bukannya menjawab ucapan sang istri, David justru membuang muka. Dia menundukkan kepalanya tidak berani memandang ke arah Lusi.
"Iya," jawab David singkat.
"Kalau begitu mandilah, setelah sarapan nanti kita akan pulang ke rumah," tambah Lusi.
Lagi-lagi David kebingungan, dia celingukan sana-sini seperti sedang mencari-cari sesuatu. Dan dengan segala kepolosannya, David turun dari tempat tidur sambil membawa selimut untuk membungkus tubuhnya yang telanjang bulat.
"Ya ampun Sayang, kamu ngapain?" tanya Lusi yang keheranan melihat tingkah sang suami.
"Em aku, itu maksudnya.. ."
David tidak mampu melanjutkan kata-katanya, dia gagap karena terlalu gugup dan grogi ada di depan Lusi saat ini.
"Sayang, kamu malu kalau telanjang di depan aku? Kenapa harus malu Sayang, kamu lupa apa yang sudah kita lakukan semalam?"
David hanya diam, wajahnya bersemu merah mendengar pertanyaan dari Lusi.
"Maafkan aku."
Lusi tercengang, dia bingung kenapa tiba-tiba suaminya meminta maaf kepadanya.
"Maaf untuk apa Sayang? Kamu salah apa sama aku?" tanya Lusi blak-blakan.
"Maaf karena semalam aku sudah membuat kamu kesakitan," ujar David dengan polosnya.
"Sayang, its okay. Aku tidak apa-apa, sakit itu wajar karena masih pertama. Lagian rasa sakitnya sudah tergantikan dengan rasa nikmat bukan?" goda Lusi dengan sengaja.
"Aku akan lebih hati-hati lagi," kata David lirih tapi masih bisa terdengar oleh telinga Lusi.
Bukannya menannggapi ucapan David, Lusi justru menarik selimut yang membungkus tubuh David. Kemudia dia membuka handuk yang ia lilitkan untuk menutupi tubuhnya sampai mereka kembali telanjang bulat bersama.
"Bagaimana kalau kita praktekan sekarang? Katanya kamu akan lebih hati-hati lagi?"
Lusi menangkup kedua pipi David dengan telapak tangannya. Dia membuat David yang sedari tadi menunduk akhirnya mau memandangnya.
"Tapi kamu sudah mandi," jawab David.
"Aku masih bisa mandi lagi, di sini tidak kekurangan air bersih. Aku mandi sampai sepuluh kali seharipun tidak apa-apa," jawab Lusi asal.
"Tapi nanti kesiangan," ujar David lagi.
"Bangun kesiangan hal yang wajar untuk pengantin baru."
Dengan buas Lusi langsung melahap bibir David tanpa ampun. David yang awalnya hanya diam sedikit demi sedikit mulai mengikuti permainan Lusi. David mulai bisa menghisap, menyusupkan lidahnya, bahkan menyusuri rongga mulut Lusi.
Tangan kiri Lusi juga tidak tinggal diam, dia menjelajah dengan bebas dari d**a turun terus sampai tiba di pusat rangsang David. Sedangkan tangan kanan Lusi terus menegang tengkuk leher David untuk memperdalam ciuman panas mereka.
Tapi usaha Lusi tidak sia-sia, David kini mulai mengimbangi permainannya. Insting laki-laki David mulai keluar, tanganya mulai menyusuri punggung Lusi. Sesekali tangan David memijat bongkahan kenyal di bawah punggung itu dengan kedua tangannya dengan gemas.
Lusi tersenyum puas dalam hatinya karena ulah David. Dia bahagia karena akhirnya David mau bermain dengan sendirinya tanpa harus ia ajari lagi.
"Auh," pekik David saat tangan nakal Lusi meremas kepemilikannya yang sudah mengeras dengan sempurna.
"Apakah sakit?" tanya Lusi.
"Sedikit sakit, mungkin karena terlalu keras," jawab David dengan polosnya.
"Apakah kamu tidak pernah menonton video porno selama ini, Sayang?" tanya Lusi.
"Em pernah sekali waktu kuliah dulu, tapi cuma beberapa menit," jawab laki-laki itu jujur.
"Huh, yang benar saja," guman Lusi.
"Kenapa?" tanya David.
"Tidak apa-apa, kita lanjutkan lagi permainannya."
Tanpa aba-aba, Lusi langsung melahap kembali bibir David. Sekarang lebih ganas dan lebih intens dari ciuman sebelumnya. Tangan Lusi juga terus menerus meremas dan memaju mundurkan kepemilikan David sampai laki-laki itu meracau tidak karuan di sela-sela ciuman mereka.
Tangan David kini sudah mulai bermain di bawah leher Lusi. Memainkan dua bukit kenyal itu sampai Lusi ikut meracau karena sensasi yang David berikan.
"Oh," desah Lusi setelah melepaskan ciuman mereka.
"Aku lelah berdiri terus," kata Lusi mencari alasan.
"Ya sudah kita lanjutkan di tempat tidur."
Sebenarnya Lusi sedikit geli dengan kepolosan David, tapi Lusi juga gemas karena sikap polosnya itu.
Lusi langsung berbaring di tempat tidur, kemudian David langsung menciuminya kembali. David menyusuri setiap jengkal kulit mulus Lusi sampai membuat wanita itu tersenyum puas di dalam hatinya.
"Bagus Sayang, lanjutkan Sayang, teruskan."
Entah apa yang terjadi pada David, mendengar racauan Lusi membuat dirinya semakin panas. Dia semakin ingin menikmati setiap inci tubuh Lusi tanpa meninggalkannya sedikitpun.
Permainan David semakin panas, sampai akhirnya dia menyatukan dirinya dengan tubuh Lusi. Menggoyangnya dengan penuh gairah sampai mereka mencapai titik kenikmatan mereka bersama-sama.
"Terima kasih untuk hari ini," bisik David di telinga Lusi sebelum ia membaringkan tubuhnya di samping tubuh Lusi.
"Sama-sama Sayang, terima kasih juga untuk hari ini. Ini luar biasa, aku cinta kamu."
Lusi memeluk tubuh David, mereka berbaring sambil berpelukan sampai nafas mereka kembali terkontrol. Setelah itu mereka membersihkan diri bersama seperti pasangan romantis pada umumnya.