Malam Pertamakan?

1018 Words
Sekarang keadaan sudah mulai sedikit kondusif dan tenang. James sudah kembali ke kamarnya bersama Amie, begitu juga dengan Lusi yang sudah ada di dalam kamar pengantinnya bersama sang suami. "Dav, tolong tatap aku." Lusi berusaha mengangkat dagu David dengan jari telunjuknya, karena sejak merek masuk kamar David terus saja menundukkan kepalanya. "Lusi, maafkan aku." Lusi terkejut mendengar kata-kata yang David lontarkan, laki-laki itu lalu sedikit mendongkakkan kepalanya untuk memandang wajah sang istri. "Aku bahkan bukan laki-laki yang pantas untuk menjadi pendamping hidupmu Lusi. Aku hanya laki-laki pecundang yang pergi tanpa alasan dan kembali dengan berjuta alasan." Lusi melihat kesedihan dan penyesalan yang begitu besar dari sorot mata David. Bahkan suara David juga sedikit bergetar seperti orang yang tengah menahan air mata. "Tolong jangan bicara seperti itu Dav, yang telah terjadi biarlah terjadi. Apa yang sekarang terjadi maka kita jalani." Lusi berjongkok di depan David, menggenggam tangan laki-laki itu sambil mengulas senyum manisnya. "Yang terjadi di masa lalu bukanlah kesalahanmu, jadikan semuanya sebagai pelajaran. Kalau kamu waktu itu tidak pergi, maka selamanya papa tidak akan pernah tahu kebusukan Hacob," timpal Lusi. "Bersihkan dirimu dulu, lalu istirahatlah. Kamu pasti lelah." Lusi tidak menjawab ucapan David, tapi dia justru memeluk laki-laki itu dengan penuh cinta. "Bersihkan dirimu juga, yang lelah bukan hanya aku pasti kamu juga. Mari mandi bersama, kita adalah suami istri yang sah bukan." Lusi membisikkan kata-kata itu ke telinga David, sampai tanpa sadar perbuatan Lusi membuat benda di bawah sana menjadi bangun. "Kenapa hanya kamu yang bisa menenangkan dan mengobrak-abrik hatiku," kata David dalam hati sambil menatap wajah istrinya dengan penuh makna. Lusi menarik tangan David, mengajak laki-laki itu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri bersama. David tercengang saat Lusi mulai menanggalkan pakaiannya satu persatu. Kulit putih mulus Lusi terekspos dengan jelas tepat di depan mata David. Karena malu, David memilih membalik badannya agar tidak melihat pemandangan indah yang ada di depannya itu. "Dav, are you okay?" tanya Lusi dengan ragu. "Eh iya aku tidak apa-apa," jawab David sedikit tergagap. "Heh, kamu kenapa. Lihat aku Dav, tidak sopan diajak bicara tapi tidak melihat orangnya." Mendengar kata-kata dari Lusi membuat David akhirnya membalik badannya menghadap ke arah Lusi. Tapi David terus menundukkan kepalanya sambil terus memejamkan matanya tanpa berani membukanya sedikitpun. "Sayang, tatap mata aku dong," kata Lusi menggoda sang suami. "Tapi.. ." Kata-kata David terhenti karena jari telunjuk Lusi sudah mendarat di bibir David. "Kamu ngak lupakan kalau aku ini istri kamu?" tanya Lusi yang dijawab David dengan anggukan kepalanya. "Lalu kenapa kamu malu? Sekarang aku milik kamu seutuhnya. Aku wanitamu, dan kamu berhak atas diriku sepenuhnya. Sekarang buka mata kamu dan lihat aku." Meskipun David masih sedikit takut dan ragu, tapi dia mulai memberanikan diri untuk membuka matanya. Dia menatap wajah Lusi yang cantik dengan rambutnya yang di ikat ke atas. Cup. Wajah David langsung memerah seketika saat Lusi mendaratkan satu ciuman hangat tepat di bibir David. "Kamu ngak lupakan kalau malam ini adalah malam pertama kita?" David membeku tepat di tempatnya berdiri mendengar pertanyaan yang baru saja Lusi bisikkan di telinganya. "Aku sangat menunggu malam ini selama ini, dan aku selalu membayangkannya denganmu bukan dengan laki-laki manapun," bisik Lusi lagi di telinga David. Tangan nakal Lusi mulai mendarat di celana David, membukanya perlahan sampai terjatuh di lantai kamar mandi. Setelah itu tangan Lusi sibuk dengan kancing kemeja David, membukanya satu persatu sampai menunjukkan d**a bidang David yang ditumbuhi bulu-bulu halus tipis yang menambah ketampanannya. "Maaf kalau aku sedikit agresif malam ini," kata Lusi dengan senyum nakalnya. David hanya bisa pasrah, diam sambil mengikuti setiap permainan tangan dan juga bibir Lusi. Di kamar sebelah, Amie dan James sedang berdebat hebat masalah pernikahan anak mereka. "Ini semua karena kamu, karena ulah kamu laki-laki tidak tahu diri itu jadi kembali ke kehidupan putri kita lagi," ujar James penuh amarah. "Jangan salahkan aku Pa, bukankah di sini Papa yang lebih bersalah? Ingat Pa, kalau sudah jodoh sejauh apapun mereka berpisah, sekuat apapun Papa ingin memisahkan mereka kalau memang sudah takdirnya mereka bersama pasti ada saja jalan untuk mereka kembali bersama," sahut Amie. "Kalau saja dulu kamu tidak menghalangiku untuk menyingkirkan laki-laki itu, semuanya tidak akan jadi seperti ini. Hah." James menghantam angin untuk meluapkan rasa emosinya. "Ingat Pa, David tidak bersalah. Papa akan sangat berdosa kalau saja waktu itu Papa benar-benar menyingkirkan David," kata Amie lagi. "Kata siapa dia tidak bersalah, dia sangatlah bersalah. Karena dia sudah dengan lancang menggoda putri semata wayangku," jawab James. "Kamu ini terlalu menyalahkan David hanya karena kedudukan sosialnya, hanya karena dia dari kalangan ekonomi rendah. Padahal tanpa orang-orang seperti David perusahaan besar seperti perusahaan kita tidak akan berjalan. Apa lagi David itu sangat pintar dan dia sangat baik, orang seperti dialah yang memang cocok untuk menjadi pendamping Lusi. Tidak seperti laki-laki yang kamu pilih, menghancurkan pernikahan demi tidur dengan wanita lain," kata Amie panjang lebar. "Asal Papa tahu, ini adalah jalan yang Tuhan tunjukkan untuk Lusi. Tuhan menunjukkan keburukan Hacob tepat sebelum dia resmi menjadi suami Lusi. Mama bersyukur karena akhirnya Tuhan menunjukkan keburukan Hacob, jadi Mama tidak perlu susah payah untuk meyakinkan Papa kalau Hacob bukan laki-laki yang tepat untuk menjadi pendamping hidup Lusi," tambah Amie lagi. "Dan semoga dia tidak akan macam-macam dengan keluarga kita. Orang miskin biasanya akan selalu merangkak ke atas dengan cara memanfaatkan orang kaya." James tersenyum sinis, membayangkan bagaimana dia ingin menyingkirkan David. "Jangan pernah macam-macam, menantuku tidak seperti yang kamu katakan. David orang yang baik, dia tidak gila harta seperti laki-laki di luaran sana," jawab Amie membela David. "Menantu katamu, aku tidak pernah punya menantu seperti dia," balas James. "Kamu akan menyesal memperlakukan David seperti itu, Pa. Dia laki-laki yang baik, tidak seperti yang Papa pikirkan. Tidak apa-apa Papa tidak mau menganggap David sebagai menantu, yang pasti hanya David yang Mama akui sebagai menantu untuk saat ini dan sampai kapanpun," tukas Amie. "Terserah kamu saja, aku lelah berdebat dengan kamu." Karena tidak mau berdebat lagi dengan sang istri, James memilih keluar dari kamar hotel itu agar tidak mendengar ocehan dari sang istri lagi. "Dasar laki-laki keras kepala, selalu ingin menang sendiri tidak pernah mau kalah. Bikin kesel aja," gerutu Amie yang masih kesal dengan suaminya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD