Kebenaran

1009 Words
Dengan susah payah Lusi berlari ke arah David sambil mengangkat gaun pengantin yang belum ia lepas. David sangat terkejut saat Lusi berhamburan ke pelukannya. Tangis Lusi seketika pecah saat dia memeluk David dengan eratnya. Tapi David tidak berani membalas pelukan Lusi, dia hanya diam karena masih belum percaya dengan apa yang terjadi sekarang. "Lusi, apa yang terjadi?" Dengan seluruh keberaniannya David menanyakan hal itu kepada Lusi. "Maafkan aku yang begitu bodoh," tutur Lusi di sela isak tangisnya. "Apa maksud kamu, Lusi?" David bertanya karena memang dia belum tahu arah pembicaraan Lusi. Lusi tidak menjawab pertanyaan David, dia justru semakin mengeratkan pelukannya kepada David. "Lusi!" Teriakan itu membuat Lusi dan juga David tersentak kaget. Mereka menengok ke arah pintu bersama, dan ternyata James sudah berdiri di sana dengan sorot mata penuh amarah. "Papa," kata Lusi lirih. "Apa yang kamu lakukan dengan laki-laki jelatah ini?" Suara tinggi James kali ini tidak membuat Lusi begeming. Lusi lebih tenang sekarang karena dia sudah mengetahui yang sebenarnya terjadi dua tahun yang lalu. "Memangnya apa yang sudah Lusi lakukan, Pa? Lusi hanya memeluk suami Lusi, apakah itu salah?" Bukan hanya James yang tidak percaya, David juga tidak percaya Lusi berani menjawab ucapan papanya. "Berani ya kamu sekarang sama Papa." Hampir saja James tidak bisa menahan emosinya, tapi untung saja Amie datang tepat waktu. "Cukup, Pa. Jangan pernah lagi sakiti mereka, jangan buat putriku tersiksa lagi." Amie berdiri tegak tepat di hadapan James, untuk pertama kalinya Amie berani melawan James untuk melindungi putrinya. "Apa yang membuat kalian berdua berani membantah aku? Apa karena laki-laki tidak tahu diri ini." Dengan sangat kasarnya, James menunjuk-nunjuk wajah polos David yang terlihat ketakutan. "Kenapa Papa begitu jahat, Papa rela mematahkan hati putrinya dua kali. Papa tega memisahkan aku dan David hanya demi menjodohkan aku dengan laki-laki b******n," kata Lusi dengan penuh amarah. "Apa maksud kamu, Lusi? Papa hanya tidak mau kamu hidup menderita dengan laki-laki miskin ini. Kamu putri kesayangan Papa, dan kamu berhak mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari dia," jawab James dengan nada tingginya. "Ada apa ini sebenarnya?" tanya Fiona dalam hatinya. "Siapa yang Papa maksud laki-laki terbaik untuk Lusi? Hacob? Dia yang Papa anggap laki-laki terbaik untuk Lusi justru ingin menghancurkan Lusi. Tidak, bukan hanya Lusi, tapi juga keluarga kita, bahkan dia ingin menghancurkan bisnis kita," kata Lusi dengan sangat lantang. "Mungkin ini adalah jalan dari Tuhan untuk Lusi, Tuhan menunjukkan keburukan Hacob lebih awal karena Tuhan masih sayang dengan keluarga kita. Tuhan masih perduli dengan kita, Tuhan tidak mengizinkan aku menikah dengan laki-laki buruk seperti Hacob." Lusi mengatur nafanya yang terengah-engah karena emosinya yang membuncah. "Kamu hanya seorang gadis yang dibutakan oleh cinta, Lusi!" Teriakan James kali ini lebih lantang dari sebelumnya, tapi Lusi tetap saja tidak bergeming. Dia tetap memegang pendiriannya, dan dia bertekad untuk tetap membela David sampai akhir. "Siapa yang dibutakan siapa, Pa? Bukankah Papa yang dibutakan oleh harta? Papa memilih Hacob karena bisnis Ayahnya, karena kerja sama antara perusahaan Papa dan Paman Jacob. Dan Papa memisahkan aku dan David hanya karena dia seorang yatim piatu. Tapi sekarang lihatlah Pa, takdir menyatukan aku dan David kembali. Takdir yang membuktikan kalau bukan Hacob yang pantas untuk menjadi pendamping Lusi." James terlihat berpikir saat Lusi mengatakan semua itu dengan panjang lebar. Begitu juga dengan David, dia diam tidak bergeming mendengarkan perdebatan antara istri dan papa mertuanya. "Haaah, terserah kamu saja." Dengan penuh emosi James meninggalkan ruang make up. Amie dan Fiona langsung berlari mendekati Lusi, mereka berdua tahu hati Lusi pasti sedang hancur. "Lusi, tenangkan dirimu. Kita duduk dulu ya." Amie menarik sebuah kursi untuk putrinya, dan Fiona mengambil segelas air putih untuk Lusi agar sahabatnya itu bisa lebih tenang. "Lusi, kamu ngak apa-apakan?" tanya Fiona. "Aku sudah merasa lebih baik sekarang, aku lebih lega bisa mengatakan apa yang seharusnya aku katakan ke Papa," jawab Lusi dengan tatapan kosongnya. "Lusi, keputusan yang baru saja kamu ambil itu tidaklah salah. Mama sangat mendukung kamu Sayang, kamu berhak bahagia dengan pilihanmu sendiri." Amie membelai tangan Lusi dengan lembut, mencoba memberikan kekuatan dan ketegaran untuk sang putri tercinta. "Ma, aku ingin bicara berdua dengan David. Tolong tinggalkan kami berdua sebentar ya." Lusi ingin segera meluruskan masalahnya dengan David dua tahun silam. Lusi tidak ingin lagi ada kesalah pahaman diantara mereka berdua, karena bagaimanapun sekarang mereka adalah pasangan suami istri. "Fiona, kita keluar dulu yuk." Amie dan Fiona meninggalkan pasangan pengantin baru itu. "Dav," panggil Lusi. "Aku ingin penjelasan, aku ingin kamu menjelaskan semuanya tanpa ada satupun yang kamu tutupi," kata Lusi lagi. "Lusi, maafkan aku. Aku laki-laki bodoh, aku terlalu bodoh untuk kamu." David mengacak-acak rambutnya dengan penuh frustasi. "Aku hanya ingin penjelasan, David. Aku ingin kamu menjelaskan semuanya tanpa ada satupun yang kamu tutupi dari aku," pinta Lusi dengan sangat. "Lusi, aku tidak bermaksud untuk menyakiti kamu. Tidak pernah sedikitpun dalam hidupku pernah berpikir untuk meninggalkan kamu Lusi," kata David dengan wajahnya yang terlihat putus asa. "Lalu kenapa kamu memilih pergi David? Kenapa kamu memilih kabur dan meninggalkan aku sendiri? Jika kamu benar-benar sayang denganku, harusnya kamu bisa menghadapi semua ini. Kamu sudah berjanji akan bertahan denganku dalam keadaan apapun, kamu akan selalu menggenggam tanganku meskipun dalam keadaan sesulit apapun. Tapi kenyataanya kamu menyerah begitu saja." Tangis Lusi semakin menjadi, David hanya berani mendekat ke arah Lusi tanpa menyentuh Lusi sedikitpun. "Kamu jahat David, kamu terlalu jahat." David terdiam saat Lusi memeluk tubuhnya, dia hanya pasrah ketika tangan Lusi terus memukul d**a bidangnya untuk menyalurkan kekesalannya. "Sekarang aku tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi, Lusi. Aku berjanji akan menghadapi semuanya, pahit manisnya akan aku jalani asalkan aku bisa selalu bersama kamu." Lusi menghentikan pukulannya di d**a David, tangannya kini memeluk tubuh laki-laki itu dengan sangat erat seperti tidak mau berpisah lagi. Antara cinta, rindu, sayang, dan kesal Lusi rasakan menjadi satu dalam hatinya. Begitu juga dengan David, dia juga sama rindunya dengan Lusiana Axen, wanita cantik yang pernah menjadi mantan pacarnya tapi sekarang sudah resmi menjadi istrinya karena takdir yang mempersatukan mereka. "Mungkin David memang sudah menjadi takdir cinta Lusi, mereka sudah jauh berpisah tapi sekarang mereka disatukan lagi karena besarnya cinta mereka," kata Amie dalam hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD