Menikahi Mantan

1025 Words
Resepsi pernikahan sudah selesai sekitar satu jam yang lalu. David masih duduk sendirian di ruang make up, dia tidak berani masuk ke kamar pengantin lagi setelah ia diusir oleh Lusi dengan kasar tadi. "Jangan pernah mendekati aku, ingat pernikahan ini bukanlah pernikahan sungguhan. Kamu hanya seorang pengantin pengganti, dan kita akan mengakhiri pernikahan ini secepat mungkin." Kata-kata yang Lusi ucapkan masih terngiang di kepala David. Lusi yang dulu sangat manja kepadanya sekarang begitu kasar dengannya. "Andai saja kamu tahu yang sebenarnya Lusi." David terus merenung bagikan orang yang sedang patah hati dan putus asa. Sedangkan Lusi, wanita itu tengah duduk di dalam kamar pengantin bersama sang mama. Wajah kesal Lusi masih belum hilang, guratan kekesalan masih begitu nampak di wajah cantiknya. "Lusi, sebenarnya ada banyak hal yang ingin mama bicarakan mengenai David." Amie menggenggam tangan Lusi, karena dia tahu bagaimana perasaan putrinya sekarang. "Apa sebenarnya yang Mama sembunyikan dari aku selama ini?" Amie tertunduk lesu, dia begitu merasa bersalah dengan putri semata wayangnya. "Ma, tolong katakan apa yang sebenarnya terjadi dengan David." Lusi memegang kedua bahu Amie, mencoba mencari jawaban dari wanita yang sudah melahirkan dirinya itu. "Lusi, sebenarnya Mama yang sudah membuat David meninggalkan kamu dua tahun yang lalu." Bagaikan mendengar petir di sore hari, tubuh Lusi seketika berubah kaku. Tenggorokannya tercekat seakan pita suaranya sudah tidak lagi berfungsi dengan baik. "Maafkan Mama, Lusi. Maafkan Mama." Dengan penuh penyesalan, Amie memeluk hangat Lusiana Axen, putrinya. Tapi Lusi sendiri belum bisa berkata apa-apa, bibirnya masih membeku tidak mau untuk digerakan. "Ma," kata Lusi setelah berusaha dengan susah payah untuk menggerakkan bibirnya. "Maafkan Mama, maafkan Mama." Tangisan Amie semakin menjadi-jadi, begitu juga dengan Lusi, dia tidak mampu membendung air matanya lagi. "Ma, tolong katakan dengan jelas sebenarnya apa maksud ucapan Mama?" Sejenak Amie menghela nafasnya cukup panjang, dia mempersiapkan diri untuk mengatakan yang sejujurnya kepada Lusi. "Lusi, sebelumnya Mama benar-benar minta maaf. Mama melakukan ini semua demi kebaikan kamu dan kebaikan David juga." Belum apa-apa jantung Lusi sudah berdebar sangat cepat. Bahkan hatinya juga merasa sakit, seakan hati Lusi tahu apa yang akan dikatakan oleh Amie. "Dua tahun yang lalu Mama datang ke rumah David, Mama menyuruh dia untuk menjauh dari hidup kamu. Mama memberikan dia uang dalam jumlah yang besar, memberikannya tiket pesawat untuk meninggalkan negara ini." Dada Lusi terasa begitu sesak, dia seakan lupa bagaimana caranya untuk bernafas. "Mama melakukan itu juga bukan tanpa alasan, Lusi. Ini semua Mama lakukan karena Mama tidak mau terjadi apa-apa dengan David," sambung Amie. "Aku benar-benar belum mengerti, Ma. Apa yang Mama maksud demi kebaikan aku dan David, bahkan Mama tahu sendiri aku sangat patah hati kala itu." Lusi memejamkan matanya, mengingat kembali saat David dengan begitu tega memutuskannya secara sepihak. "Lusi, mari kita akhiri saja hubungan ini. Aku dan kamu sangatlah jauh berbeda, kamu bagaikan emas permata dan aku hanya sebuah batu sungai yang tidak ada harganya." Kata-kata itu kembali melintas di otak Lusi, wajah tampan David juga ikut melintas di pikirannya bersama kenangan masa lalu mereka. Tepat satu minggu setelah David mengatakan itu kepada Lusi, dia benar-benar menghilang dari hadapan Lusi. Bagaikan hilang di telan bumi, David tidak pernah menampakkan dirinya lagi setelah putus dengan Lusi. "Kenapa Mama baru mengatakannya sekarang? Apa Mama ingin melihat aku tersiksa dengan rasa benciku kepada David?" Air mata kedua wanita itu keluar bersamaan, tidak ada yang bahagia di sini. Amie juga tersiksa dengan rasa bersalahnya selama ini karena sudah menyembunyikan rahasia besar ini kepada Lusi. Dan Lusi, dia sangat tersiksa dengan rasa rindu dan benci saat teringat kenangannya bersama David semasa dulu. "Sebenarnya dulu Mama tidak sengaja mendengar rencana Papamu untuk memisahkan kamu dan David. Dia sepertinya menyuruh seseorang untuk membuat David celaka karena dia masih berani mendekati kamu. Mama tidak bisa berfikir jernih, yang Mama pikirkan hanya keselamatan kamu dan David saat itu. Makanya Mama langsung meminta David untuk pergi jauh dari negara ini." Jantung Lusi semakin berdebar dengan hebat, dia benar-benar merasa hancur seketika itu juga. "Lusi, Mama minta kamu jangan mengakhiri pernikahan ini. Mama mohon berusahalah untuk menerima David kembali ke depannya." Amie memohon kepada Lusi, agar dia mau menerima kembali laki-laki yang pernah mematahkan hatinya itu. "Ma, bagaimana mungkin aku mempertahankan pernikahan ini jika David sudah tidak ada lagi rasa untukku," kata Lusi dengan suara bergetar. "Lusi, jika David sudah tidak mempunyai rasa untuk kamu, dia tidak akan mungkin datang ke sini. Mama yang memberitahu David kalau kamu akan menikah," kata Amie dengan jujur. "Atas dasar apa Mama memberitahu David kabar pernikahanku?" Kadua wanita itu sudah banjir air mata, linangan air mata mereka seakan menggambarkan semua penyesalan antara keduanya. "Mama hanya ingin David tahu kalau kamu hidup bahagia, Mama tidak tahu jika akhirnya akan seperti ini, Lusi." Amie menggenggam kedua tangan putrinya, karena dia tahu hanya dirinya yang bisa menguatkan Lusi disaat-saag rapuh seperti ini. "Aku malu, Ma. Aku malu dengan David, pernikahanku hancur di depan matanya. Dan dia pula yang menjadi pengantin pengganti untuk menjaga nama baikku. Aku sangat malu, Ma," kata Lusi di sela isak tangisnya. "Tante, Lusi." Fiona masuk ke dalam kamar pengantin Lusi, dia mendekati mereka yang tengah menangis bersama. "Lusi, mungkin ini adalah jalan yang diberikan oleh Tuhan. Lebih baik mengetahui kebusukannya sekarang. dari pada mengetahui kebusukannya setelah kalian menikah." Fiona mengira kalau Lusi masih menangis karena Hacob. Dia belum tahu kalau Lusi dan Amie tengah membicarakan tentang David. "Ma, aku harus berbicara dengannya sekarang." Lusi beranjak dari duduknya, dia tidak menghiraukan make upnya yang sudah berantakan karena dia baru saja menangis. "Lusi, kamu kamu ke mana?" tanya Fiona yang masih bingung dengan apa yang terjadi antara putri dan mamanya itu. Lusi tidak menanggapi pertanyaan Fiona, dia terus saja berjalan menuju ruang make up. "Lusi, kamu mau ke mana?" tanya James karena melihat Lusi tergesa-gesa sambil berlinangan air mata. Lagi-lagi Lusi tidak menanggapi pertanyaan, padahal kali ini bukan orang lain yang bertanya, melainkan papanya sendiri. "David, David, di mana kamu?" David celingukan mendengar namanya dipanggil-panggil seseorang. Tapi setelah ia dengarkan lagi, suara itu seperti suara wanita yang ia cintai. Siapa lagi kalau bukan Lusiana Axen, wanita yang baru saja ia nikahi siang tadi. "Lusi," panggil David dengan lirih saat melihat wanita yang dicintainya sudah berdiri di tengah pintu ruang make up.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD