Pagi ini cukup cerah bagi Lusi untuk mulai kembali ke perusahaannya setelah mengambil cuti cukup panjang. Untung saja dia bekerja di perusahaan milik orang tuanya sendiri, jadi mengambil cuti nikah panjang tidak menjadi masalah untuknya.
"Sayang, kamu ikut aku ke kantor ya?" tanya Lusi setelah mereka menghabiskan sarapan mereka masing-masing.
"Kalau aku ikut nanti malah ganggu kamu kerja lagi di sana, lebih baik aku di rumah aja ya Sayang." David berusaha menolak ajakan sang istri dengan bahasa yang baik.
"Iya ngak dong Sayang, ngak akan ganggu. Justru kalau ada kamu aku jadi semangat kerjanya. Udah gitu nanti kamu bisa bantu aku, pasti kerjaan aku udah numpuk banget di kantor karena aku libur panjang." Lusi memasang wajah memelas untuk menarik simpati dari sang suami.
"Tapi aku malu Sayang," ujar David.
"Malu? Kamu malu jadi suami aku ya?" sahut Lusi dengan wajah sedihnya yang ia buat-buat.
"Bukan gitu Sayang, aku ngak malu jadi suami kamu. Justru aku sangat senang bisa menjadi suami kamu, tapi gini maksud aku. Misal aku ikut ke sana, takutnya nanti papa marah atau gimana-gimana," kata David memberikan penjelasan.
"Gimana-gimana bagaimana maksud kamu?" Bukan hanya Lusi yang bingung ternyata, David juga bingung karena pembicaraan mereka menjadi berputar-putar tidak ada ujungnya.
"Ya udah aku ikut kamu ke kantor." Akhirnya David menjawab ajakan istrinya dengan pasrah.
"Kaya ngak ikhlas gitu sih Sayang ngomongnya?" sindir Lusi.
"Ikhlas Sayang, ikhlas banget ko. Udah yuk kita berangkat sekarang, nanti kamu kesiangan lagi."
David dan Lusi beranjak dari meja makan, mereka masuk ke kamar bersama untuk mengambil keperluan yang memang mereka butuhkan.
"Ayo," ajak David dengan semangat.
"Tunggu dulu Sayang," cegah Lusi.
"Kenapa Sayang? Ada apa lagi sekarang?" ujar David bertanya-tanya.
"Kamu mau ke kantor pakai baju kaya gini? Kamu ngak malu?" tanya Lusi sambil memandangi suaminya dengan tatapan heran.
"Ya ampun aku sampai lupa, ya udah aku ganti baju dulu ya sebentar. Kamu tunggu aja di luar," ujar David.
"Biar aku siapkan bajunya," kata Lusi yang hendak meletakkan kembali tas yang sudah ia pegang.
"Tidak usah Sayang, kamu tunggu aja di luar sambil makan camilan mungkin," kata David dengan manis.
"Aku ngak mau, aku mau tunggu di sini aja," sahut Lusi sambil menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Ya udah, tunggu sebentar ya." David langsung membuka lemari pakaiannya, dia memilih kemeja dan celana yang akan ia kenakan.
"Pakai yang warna biru dongker aja Sayang, biar kita samaan," tukas Lusi.
Dengan patuhnya David langsung mengambil setelan jas, celana, dan kemeja berwarna biru dongker seperti yang Lusi katakan baru saja.
"Tunggu Sayang, biar aku yang pilihkan dasinya ya." Dengan sigap Lusi langsung berdiri, berjalan ke arah David lalu memilih dasi yang cocok untuk dipaduka dengan jas yang akan David kenakan.
"Ini dia, ini sangat cocok untuk kamu dan untuk kemeja ini." Lusi mengambil dasi yang warnanya juga biru dongker dengan motif garis yang tidak terlalu jelas.
"Pilihan istriku memang paling oke deh," gombal David.
"Iya dong, istri siapa dulu. Sini biar aku pakaikan."
Untung saja selisih tinggi badan Lusi dan David tidak terlalu jauh, jadi Lusi tidak perlu susah payah berjinjit untuk memakaikan dasi ke leher David. Cukup mendongakkan wajahnya ke atas saja Lusi sudah bisa menggapai leher sang suami.
"Ayo kita berangkat sekarang," ujar David setelah mengenakan jasnya.
"Ih suami aku ganteng banget sih, awas ya kalau di sana sampai banya yang lirik. Akan aku pecat mereka," kata Lusi dengan wajahnya yang begitu menggemaskan.
"Kalau kamu kau pecat semua karyawati kamu, nanti siapa yang akan kerja di perusahaan kamu coba," sahut David sambil menggelengkan kepalanya karena tingkah lucu sang istri.
"Ih kamu itu ya bukannya belain aku malah jawabnya gitu," tukas Lusi dengan wajah masamnya.
"Loh terus aku harus jawab gimana dong Sayang, kan yang aku katakan itu benar," jawab David dengan wajah polosnya.
"Iyakan dengan kamu jawab seperti itu, artinya kamu memang mengharap kalau nanti cewek-cewek lain akan memperhatikan kamu semua, sebel deh sama kamu." David hanya bisa berdiri sambil celingukan saat sang istri keluar begitu saja dari kamarnya.
"Iya gini kalau berhadapan sama wanita, harus sabar dan harus siap menjadi serba salah. Dia yang mulai duluan tapi aku yang jadi tersangka sekarang, dahlah kamus kode cewek memang selalu susah dipecahkan. Ya gimana lagi, emang sejatinya mereka maunya dipahami bukan dipecahkan."
David seperti orang yang sedang curhat akan masalahnya, tapi bedanya dia curhat dengan dirinya sendiri bukan dengan orang lain.
"Ya sudahlah, yang penting aku cinta sama dia," guman David sebelum akhirnya dia keluar dari kamar untuk mengejar sang istri.
"Sayang, tunggu aku dong. Jangan ngambek ya, nanti kalau ada yang berani melirik aku akan aku lirik balik." Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, David sudah mendapat pelototan mata yang tajam dari sang istri.
"Sayang dengerin dulu dong kalau aku lagi ngomong. Maksudnya aku mau lirik balik terus bilang, maaf ya tolong di jaga matanya. Karena saya tidak mau menyakiti hati istri saya. Dan maaf juga istri saya jauh lebih cantik dari pada anda," kata David untuk merayu istrinya agar tidak ngambek lagi.
Dan benar saja, ternyata usaha David tidak sia-sia. Lusi yang awalnya memasang wajah cemberut sedikit demi sedikit mulai menggerakkan bibirnya. Dia terlihat menahan sebuah senyuman yang akan terukir di bibir mungil itu.
"Bisa aja sih kalau ngomong, ayo ah berangkat sekarang. Udah siang nanti terlambat bisa malu sama anak buah."
David tahu kalau Lusi sudah tidak marah lagi, dia mengalihkan topik pembicaraan karena sudah salah tingkah mendengar rayuan gombal dari David.
"Ya udah ayo." David langsung menggenggam erat tangan Lusi, dia terus menggandeng tangan Lusi sampai mereka keluar dari lift.
Namun lagi-lagi Lusi dan David harus bertemu dengan Zana, junior mereka di kampus.
"Selamat pagi Kak David, dan Kak em maaf saya lupa namanya," kata Zana dengan senyum khas anak-anak remaja.
"Lusi, dan selamat pagi juga," sahut Lusi dengan senyum yang ia paksakan.
"Kakak mau berangkat kerja ya?" tanya Zana berbasa-basi kepada David, tapi dia lupa kalau di sana ada singa betina David yang siap menerkamnya kapan saja.
"Iya nih kita mau berangkat ke kantor, kalau begitu kita duluan ya. Udah siang takut terlambat, mari Zana." Meskipun sebenarnya Lusi tidak suka dengan gadis itu, tapi dia tetap berusaha untuk bersikap seramah mungkin dengannya.
Tapi saat Lusi dan David hendak masuk ke dalam mobil, tanpa malu dan tanpa ragu Zana justru memanggil mereka dan menghentikan mereka berdua.
"Em tunggu Kak," kata Zana menghentikan mereka berdua.
"Iya Zana, ada apa?" Tidak mau kalau sang suami yang bertanya, Lusi langsung menghampiri gadis itu.
"Em di tempat Kakak kerja ada lowongan pekerjaan ngak ya?" tanya Zana tanpa ragu.
"Em kalau itu saya ngak tahu ya, nanti coba saya tanyakan ya. Soalnya kemarin saya lihat pengumuman yang dibutuhkan itu office boy, kalau office girl atau yang lain sepertinya tidak ada," jawab Lusi mengada-ada.
"Em Kak David satu kantor dengan Kak Lusi ya?" tanya Zana lagi tanpa rasa malu.
"Em iya, kita satu kantor," jawab Lusi asal.
"Ngak apa-apa Kak jadi office girl juga tidak masalah, kalau ada lowongan pekerjaan kasih kabar ya Kak." Lusi hanya mengangguk sambil tersenyum karena dirinya sebenarnya merasa dongkol dengan sikap Zana yang tidak tahu malu itu.
"Oke Zana, nanti akan saya kabari ya. Mari." Baru saja Lusi hendak masuk ke dalam mobil lagi, tapi Zana sudah menghentikannya lagi.
"Tunggu Kak," kata Zana.
"Iya Zana, ada apa lagi?" tanya Lusi yang berusaha untuk tetap tenang meskipun sebentar dia sudah sangat emosi melihat kelakuan Zana.
"Em Saya boleh nebeng di mobil Kakak ngak? Saya bekerja di restoran yang ada di perempatan itu Kak, kita satu arah ko." Dengan sangat percaya dirinya Zana ingin ikut di mobil Lusi bersama David.
Tapi karena merasa tidak enak dan kebetulan Lusi orang yang murah hati, dia akhirnya mengijinkan Zana untuk ikut di mobilnya.
"Oh boleh ko, ayo silahkan." Sambil menahan emosi Lusi terpaksa mengiyakan permintaan Zana.
"Kak Lusi baik banget, terima kasih ya Kak." Dengan senyum sumringahnya, Zana langsung masuk begitu saja ke dalam mobil Lusi.
"Ayo Sayang kita berangkat." Lusi dengan sengaja mengatakannya dengan nada manja kepada David.
"Kak Lusi bekerja di bagian apa Kak kalau boleh tahu?" tanya Zana saat dalam perjalanan.
"Ternyata dia tidak tahu siapa aku, baguslah," batin Lusi.
"Saya hanya karyawan biasa ko, kebetulan saya baru pindah ke departemen keuangan," jawab Lusi berbohong.
"Wah kita sama ya Kak, saya juga bekerja di bagian keuangan di restoran," jawab Zana dengan penuh percaya diri.
"Oh pantes ya kamu berangkatnya pagi, karena biasanyakan karyawan restoran masuk kerjanya agak siangan ya," sahut Lusi karena kebetulan dia juga mempunyai beberapa restoran terkenal.
"Iya Kak, sambil melamar kerja ke tempat lain Kak, dari pada nganggur jadi kerja seadanya dulu," tambah Zana.
"Iya betul," jawab Lusi.
"Em kalau Kak David sendiri bagian apa Kak kalau boleh tahu?" Baru saja bibir David hendak berucap, tapi Lusi sudah menjawabnya lebih dulu.
"Kalau suami saya kebetulan bukan orang sembarangan, jabatan dia meneger di sana. Direkturnya juga sudah ada rencana mau mengangkat dia menjadi wakil direktur," ucap Lusi mengarang cerita.
"Lusi kenapa melebih-lebihkan aku s? Padahal dia sendiri adalah anak pemilik perusahaan," tanya David dalam benaknya.
Baru saja Zana akan berbicara kembali, tapi untung saja tiba-tiba mobil berhenti.
"Sudah sampai," kata David.
"Eh, sudah sampai ya. Tapi sebenarnya aku bukan bekerja di restoran ini Kak, tapi yang itu yang di seberang jalan." Zana menunjuk salah satu restoran mewah yang ada di seberang jalan.
"Oh restoran itu, aku sering makan di sana," sahut Lusi.
"Benarkah Kak? Lain kali datang lagi ya Kak." Wajah Zana terlihat tidak percaya, karena restoran tempat dia bekerja itu terkenal mewah dan cukup mahal karena makanan yang di tawarkan di sana sangat menjanjikan dan esksotis.
"Iya, tunggu saja kedatangan kami ya," jawab Lusi dengan senyum mengejek.
"Baik Kak, saya tunggu kedatangannya. Kalau begitu saya duluan ya Kak. Terima kasih tumpangannya."
"Sama-sama ya."
David langsung melajukan mobilnya kembali setelah Zana turun. Sejenak mereka diam karena David tahu Lusi sedang berdamai dengan perasaannya.