Di sepanjang perjalan menuju kantor Lusi hanya diam saja tanpa menengok ke arah David sedikitpun. Melihat sikap sang istri yang berubah drastis seperti itu membuat David hanya bisa menghela nafasnya berat dan juga panjang.
"Sayang," panggil David.
"Hem." Hanya jawaban itu yang keluar dari mulut Lusi.
"Kamu kenapa masih ngambek gitu sih? Kenapa Sayang?" tanya David dengan hati-hati.
"Aku ngak suka kalau kamu deket terus sama itu junior kamu si Zana-Zana itu," jawab Lusi dengan sangat jujur.
"Sayang, kamu tadi lihat sendirikan seperti apa sikap aku ke Zana. Bukannya dari tadi yang jawab ucapan Zana itu kamu ya?" ujar David sambil tersenyum ke arah istrinya.
"Iya aku ngak mau aja kalau sampai kamu yang nyahutin dia. Lagian ya Sayang, dia kenapa ngak punya malu gitu sih. Iya secara dia tahu kalau kamu sudah punya istri dan terlebih lagi ada aku bersama kamu. Bener-bener ya bikin heran sikap dia, sampai bingung aku mikirnya."
David tersenyum melihat wajah Lusi yang terlihat keheranan dan tidak habis pikir dengan sikap Zana.
"Iya ngak usah dipikirkan dong Sayang, biarkan aja dia mau seperti apa," sahut David.
"Iya kalau genitnya ngak sama suami aku tuh ngak akan perduli Sayang. Ya ini genitnya sama suami aku sendiri, di depan mata aku sendiri lagi. Ihh nyebelin banget sih itu cewek, awas aja kalau sampai berani menggoda suami aku lagi."
David tidak henti-hentinya tersenyum melihat Lusi yang sedari tadi sewot dan uring-uringan mengingat sikap Zana kepada David tadi.
"Kamu harus percaya sama aku ya Sayang, cinta aku itu cuma untuk kamu. Dari dulu maupun sekarang bahkan sampai nanti tidak akan berubah. Karena kamu satu-satunya wanita yang pertama dan terakhir menjadi cinta dalam hidup aku. Kamu satu-satunya wanita yang mau menjadi teman dalam situasi apapun."
Lusi terlihat mulai melunak, wajahnya berseri sambil memandangi wajah David dengan penuh cinta.
"Masa si, segitunya ya aku di hidup kamu?" tanya Lusi.
"Tentu saja, kamu segalanya untukku. Kamu tahukan hanya kamu satu-satunya keluarga yang aku miliki?" sahut David.
"Iya Sayang, aku tahu ko. Kamu itu memang ngak pernah berubah ya, selalu menjadi laki-laki yang ingin aku jadikan pendamping hidupku selamanya dari dulu sampai sekarang," jawab Lusi.
"Udah mulai gombal nih," sahut David sambil tersenyum menggoda Lusi.
"Ih ngak gombal tahu Sayang."
"Sudah sampai Nyonya, mari kita turun."
Untung saja mobil yang mereka naiki sudah sampai di tempat parkir perusahaan, jadi pembicaraan mereka tertunda. Dan David terbebas dari perdebatan yang ia perkirakan akan muncul jika mereka tidak keluar dari mobil.
"Ih kamu beruntung karena kita udah sampai," jawab Lusi tapi dengan wajah menahan tawa.
"Mungkin takdir masih berpihak kepada aku," tukas David.
"Udah ah, ayo turun," ajak Lusi yang langsung keluar dari mobilnya setelah mengatakan hal itu.
"Nanti aku gimana Sayang di dalam sana?" tanya David yang berhasil mendapat respon tatapan aneh dan tawa dari sang istri.
"Loh kamu kenapa jadi ketawa si Sayang?" tanya David dengan wajah keheranan dan juga kebingungan.
"Iya habis pertanyaan kamu aneh banget sih, kamu kaya orang ngak pernah masuk kantor aja deh." Lusi tidak henti-hentinya menertawakan David.
"Iyakan aku di sini ngak punya jabatan apa-apa Sayang, jadi aku bingung harus bagaimana dan ngapaian aja nanti," jelas David.
"Ya udah yang penting kita masuk aja dulu, masalah mau bagaimana dan ngapain aja itu urusan nanti. Udah ah ayo."
Lusi langsung menggandeng tangan David dengan erat, mengajaknya untuk segera masuk ke dalam gedung besar dan juga tinggi itu bersama.
Layaknya karyawan baru di sana, David hanya bisa tengok kanan dan kiri sambil melihat-lihat keadaan di dalam gedung itu. Mungkin David memang tahu sejak dulu kalau gedung ini adalah perusahaan milik keluarga Axen. Tapi baru kali ini David masuk ke dalam gedung tinggi yang mempunyai banyak sekali lantai ini.
"Selamat pagi Bu, Pak," sapa salah seorang karyawan yang kebetulan berpapasan dengan Lusi dan David.
"Selamat pagi," jawab Lusi dengan ramah.
Sepanjang perjalanan menuju kantor Lusi, tidak henti-hentinya para karyawan di sana memandangai David. Mereka memberi salam kepada Lusi namun mata mereka justru memperhatikan David.
Tapi Lusi tidak heran akan hal itu, karena David memang orang baru di kantor itu. Terlebih lagi Lusi baru hari ini masuk ke kantor setelah cuti menikah.
"Ehem, pengantin baru nih," kata Fiona yang tiba-tiba saja berada tepat di belakang David dan Lusi.
"Eh jomblo akut nih," sahut Lusi yang sadar kalau suara itu milik sahabat baiknya.
"Gandengan terus udah kaya truk aja," sindir Fiona karena melihat tangan Lusi yang dengan sangat erat memegangi tangan sang suami.
"Udah kaya bis aja nih sendirian tanpa gandengan," sahut Lusi yang tidak mau kalah dengan Fiona.
"Bisa aja sih jawabnya," ujar Fiona lagi.
"Ya lagian kamu bisa aja nyindirnya," jawab Lusi lagi.
"Udah ah capek lama-lama debat sama bu bos," kata Fiona.
"Ya yang nyuruh kamu ngajak aku debat pagi-pagi begini siapa," ucap Lusi yang tidak mau kalah.
"Iya deh Bu Bos maafin aku ya, dan selamat pagi juga Bu Bos dan Pak Bos," lanjut Fiona lagi.
"Selamat pagi juga Fiona, perkenalkan ini suami saya David. Sebentar lagi dia yang akan jadi bos kamu, karena dia yang akan menggantikan posisi saya sebagai direktur di sini."
Lusi mengatakan hal itu dengan gaya formal layaknya seorang bos kepada karyawannya kepada Fiona.
"Selamat ya Pak atas promosinya, saya senang sekali bisa mendapatkan bos yang sangat tampan seperti Bapak," ujar Fiona yang tidak lupa dengan gaya formalnya.
"Sama-sama ya Fiona, saya juga senang bisa menjadi suami dari bos kamu yang sangat cantik ini," jawab David yang tidak kalah humornya.
"Iya Pak kalau itu saya sangat-sangat tahu ko, kalau begitu saya permisi dulu ya Pak, Bu. Permisi," pamit Fiona kepada Lusi dan David sebelum dia pergi.
"Jangan gandengan terus," sambung Fiona dengan kata-kata non formal layaknya seorang teman kepada temannya sendiri.
"Dasar ngiri aja tuh si jomblo," guman Lusi sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Ayo Sayang kita masuk." Tanpa aba-aba Lusi langsung menarik tangan David agar masuk ke dalam kantornya.
"Kenceng banget sih Sayang nariknya," ujar David yang sedikit terkejut karena tarikan tangan Lusi yang cukup kuat.
"Semakin lama kamu di luar semakin banyak karyawati di sini yang salah tingkah sambil mandangin kamu. Mereka ngak tahu aja kalau laki-laki tampan yang mereka pandang sambil salah tingkah itu calon bos mereka," gerutu Lusi yang sedari tadi masih uring-uringan karena cemburu kepada suaminya.
"Semakin kamu cemburu semakin gemas pula aku melihat wajah cantik kamu ini, ihh."
Dengan gemasnya David mencubit pipi kanan sang Lusi.
"Ih dasar," ujar Lusi sambil mencebikkan bibirnya ke arah David.
"Sayang," panggil David.
"Iya Sayang, ada apa?" jawab Lusi.
"Bukanya restoran yang tadi Zana maksud itu restoran milik keluarga kamu ya?" tanya David.
"Iya Sayang." Lusi mengiyakan pertanyaan dari sang suami.
"Terus tadi kamu." David menggantung kata-katanya sambil terus memandangi wajah Lusi dengan dahi berkerut.
"Iya aku sengaja aja, aku yakin kalau dia ngak tahu aku ini siapa," kata Lusi dengan penuh percaya diri.
"Kamu kan karyawan dari departemen keuangan, dan aku meneger kamu," sahut David karena mengingat hal yang tadi Lusi ucapkan kepada Zana waktu di mobil.
"Enak aja lihat wajah gadis itu yang sangat ingin tahu tentang aku, eh lebih tepatnya kamu ya," ujar Lusi.
"Udah ngak usah dibahas lagi, nanti bisa-bisa ngambeknya balik lagi," sahut David.
"Mana ada aku ngambek," tukas Lusi.
"Iya ngak ada kan udah dari tadi ngambeknya," jawab David lagi.
"Aku ngak ngambek ko, cuma cemburu aja." Lusi tidak mau kalah dari sang suami.
"Iya deh iya, istriku yang paling cantik, pinter, dan menggemaskan." Lusi langsung tersenyum ceria karena David memeluknya setelah memujinya baru saja.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu kantor Lusi langsung membuat David melepaskan pelukan eratnya pada sang istri.
"Siapa si?" guman Lusi bertanya-tanya.
"Masuk," kata Lusi dari dalam ruangannya.
"Selamat pagi Bu, maaf mau mengingatkan saja kalau pagi ini ada briefing yang akan dilakukan sepuluh menit lagi," kata sekretaris Lusi yang tidak lain adalah Fiona.
"Em maaf kalau boleh tahu briefing apa ya?" tanya Lusi yang memang tidak tahu atau mungkin lupa.
"Karena Ibu baru saja mengambil cuti yang cukup panjang, jadi banyak pekerjaan yang menumpuk, Bu. Dan satu lagi, memangnya Ibu tidak mau memperkenalkan karyawan baru ini kepada para karyawan yang lain?" Sebenarnya Fiona tengah menyindir Lusi, tapi dengan bahasa yang formal.
"Oh iya saya ingat, kalau begitu tolong siapkan berkas dan apa saja keperluannya," ujar Lusi.
"Baik Bu, akan saya lakukan sesuai perintah dari Ibu," jawab Fiona lagi.
"Kalau sudah tidak ada yang ingin disampaikan lagi silahkan keluar, karena saya masih sibuk sekarang." Dengan cara yang halus Lusi mengusir Fiona dari ruang kerjanya.
"Baik Bu, saya akan keluar sekarang. Terima kasih atas pertisipasinya." Fiona keluar dari ruang kerja Lusi setelah mengatakannya.
"Partisipasi? Dia kira ini semacam lomba apa, ya ampun." Lusi cekikikan mengingat kata partisipasi yang Fiona katakan sebelum keluar tadi.
"Sayang, aku ngak usah ikut briefing ya, aku tunggu kamu di sini aja," kata David tiba-tiba.
"Loh tentu saja kamu harus ikut dong Sayang, apa lagi hari ini ada yang akan aku sampaikan kepada para karyawan. Terlebih lagi aku ingin memperkenalkan kamu kepada para karyawan di sini," jawab Lusi.
"Iya lagian mereka udah tahu tentang aku kan Sayang pastinya. Mereka udah pada lihat aku di acara pernikahan kita kemarin," ucap David.
"Iyakan ini untuk mengenalkan suami aku secara resmi Sayang. Kamu ikut aja ya Sayang pokoknya, harus itu," tegas Lusi.
"Iya deh iya." Tidak punya pilihan lain, David akhirnya menyetujui ide dari sang istri.