Briefing pagi ini hampir di mulai, para karyawan juga sudah duduk di ruang meeting menunggu kehadiran Lusi selaku direktur utama.
Seperti biasa, para karyawan memberikan salam hormat mereka kepada Lusi waktu dia masuk ke dalam ruang meeting. Namun yang menjadi pusat perhatian para karyawan yang ada di dalam ruangan itu adalah kehadiran laki-laki tampan yang masuk bersama bos mereka.
"Siapa laki-laki itu?" bisik salah seorang karyawati kepada temannya.
"Mungkin karyawan baru," jawabnya yang memang belum tahu siapa David.
"Selamat pagi semua," ujar Lusi.
"Selamat pagi, Bu," jawab para karyawan.
"Kita mulai briefing pagi ini ya. Sebenarnya briefing kali ini tidak terlalu penting, karena tidak ada hal terlalu serius yang akan saya sampaikan pagi ini. Saya hanya ingin berterima kasih kepada kalian semua karena sudah bekerja sebaik mungkin meskipun saya tidak ada di kantor," kata Lusi.
"Dan kebetulan pagi ini kita kedatangan karyawan baru di sini," tambah Lusi.
"Tuh kan bener kalau dia karyawan baru," kata salah satu karyawan.
"Tapi aku tadi melihat dia bergandengan tangan sama Bu Bos," sahut temannya lagi.
"Iya tadi aku juga lihat dia masuk ke ruang kerja Bu Bos," jawab teman karyawatinya.
"Silahkan perkenalkan diri dulu." Lusi mempersilahkan David untuk memperkenalkan dirinya.
"Selamat pagi semua, nama saya David Havi. Kalian bisa panggil saya David, saya karyawan baru di sini mohon bimbingan dan kerja sama dari kalian semua. Terima kasih."
Perkenalan singkat dari David berhasil membuat semua mata para karyawati menatapnya dengan tatapan terkesima. Pesona dan keramahan senyum David membuat para karyawati hampir mabuk dibuatnya.
"Ada yang mau di tanyakan kepada David?" tambah Lusi.
"Maaf saya ingin bertanya." Salah seorang karyawati mengangkat tangannya karena ingin bertanya sesuatu kepada David.
"Iya silahkan," jawab Lusi mempersilahkan.
"Kalau boleh tahu rumahnya di mana?" tanya karyawati itu.
"Kebetulan saya belum punya tempat tinggal tetap, jadi kemungkinan saya akan tinggal yang disediakan oleh perusahaan," jawab David dengan ramah.
"Kalau umurnya berapa?" Lusi berusaha untuk tetap tenang dengan pertanyaan-pertanyaan yang diucapkan oleh para karyawatinya kepada sang suami.
"Umur saya belum ada kepala tiga." Kali ini David tidak menjawab secara spesifik, dia hanya memberikan semacam sebuah kisi-kisi.
"Status hubungan?" Lusi masih berusaha mempertahankan senyumnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak penting itu.
"Saya lajang." Mendengar jawaban David membuat Lusi langsung melayangkan tatapan tajam ke arahnya.
"Tapi itu beberapa hari yang lalu, karena sekarang status saya sudah berganti menjadi suami orang," lanjut David yang sengaja menggantung kata-katanya tadi.
"Bekerja di bagian apa nanti di sini?" Kali ini yang mengajukan pertanyaan bukan lagi karyawati, tapi salah seorang karyawan.
"Kalau itu mungkin lebih baik Bu Lusi saja yang menjawabnya, karena Bu Lusi lebih tau dari pada saya." David tidak berani menjawab karena dia sendiri hanya mengikuti apa kata sang istri.
"Pertanyaannya sudah cukup ya, sekarang saya akan menjawab pertanyaan terakhir," ujar Lusi.
"Mampus kalian yang pada tanya-tanya tadi," batin Fiona merutuki para karyawati yang kepo dengan masalah pribadi David.
"Sebelumnya perkenalkan, David ini adalah suami saya. Kalian tahu sendiri kalau saya baru saja menikah, dan inilah suami saya."
Semua karyawati yang ada di ruang meeting langsung menelan saliva mereka dengan susah payah. Mereka merasa terkutuk karena sudah sangat lancang memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada David yang ternyata suami dari bos mereka sendiri.
"Aku bilang juga apa, itu suaminya," kata seorang karyawan kepada temannya.
"Iya mana aku tahu, dulu pacar Bu Lusi kan bukan dia. Namanya juga bukan David, iya mana aku tahu kalau ternyata dia suami Bu Lusi," jawabnya temannya.
"Kalian tahu sendiri bahwasannya di perusahaan ini tidak ada posisi wakil direktur. Karena karena secara tidak langsung itu adalah posisi saya dan posisi direktur adalah papa saya. Namun karena sekarang papa saya sudah tidak produktif lagi, maka posisi direktur sepenuhnya menjadi jabatan saya sekarang. Dan posisi wakil direktur akan diduduki oleh suami saya mulai sekarang," kata Lusi memberikan penjelasan.
"Mulai sekarang untuk berkas-berkas mega proyek yang tengah kita laksanakan harus melalui Pak David terlebih dahulu. Karena Pak David lebih tahu tentang masalah mega proyek yang masih kita tangani sekarang ini," tambah Lusi lagi.
"Ada yang belum jelas? Atau ada yang ingin bertanya lagi? Kalau ada silahkan bertanya." Sekarang tidak ada satu karyawan pun yang mengangkat tangan mereka untuk bertanya.
"Kalau tidak ada saya anggap kalian sudah paham dengan penjelasan dari saya. Kalau begitu saya cukupkan sekian briefing pagi ini, kalian bisa melanjutkan kembali pekerjaan kalian. Selamat pagi dan selamat bekerja kembali."
"Selamat pagi, Bu," jawab para karyawan.
Lusi menutup briefing pagi ini, dan dia kembali ke ruangannya bersama wakil direktur barunya yang tidak lain adalah suaminya sendiri.
"Perasaan nama suami Bu Lusi bukan David ya, seinget aku Hacob," kata salah seorang karyawati setelah Lusi keluar dari ruang meeting.
"Betul, kayaknya bukan itu deh orangnya," sahut temannya lagi.
"Ehem, lebih baik kalian tutup rasa ingin tahu kalian itu kalau memang masih ingin bekerja di sini. Siapapun itu, yang penting laki-laki itu yang kita tahu sebagai suami sah dari Bu Lusi. Ingatlah kalau setiap orang punya privasi masing-masing. Ketahui saja apa yang perlu kalian ketahui, jangan mengulik hal-hal yang tidak perlu kalian cari tahu maka hidup kalian akan baik-baik saja." Kata-kata panjang lebar dari Fiona yang ia akhiri dengan senyum yang cukup lebar membuat para karyawati yang membicarakan hal tentang Lusi dan David jadi salah tingkah.
Fiona lebih memilih menasihati dari pada harus berkomentar buruk apa lagi mejelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Karena satu-satunya orang yang berhak menjelaskan kejadian di hari pernikahan itu hanyalah Lusi. Bahkan Hacob sekalipun tidak berhak mengatakan kepada siapapun tentang kejadian hari itu menurut Fiona.
"Lain kali kalau mau bicara lihat situasi dan kondisi dong. Malu-maluin kan kalau sudah begini," kata karyawati yang tadi membicarakan hal tentang Lusi.
"Iya tadi aku ngak lihat kalau ada Fiona di sana," jawab temannya.
"Kalau dia ngadu ke Bu Lusi gimana coba? Secara dia kan sehabat baik Bu Lusi," jawabnya lagi.
"Saya tidak akan mengadu, jadi tolong jaga sikap kalian ya. Saya bukan tukang ngadu, jadi kalian santai saja. Dan jangan diulangi lagi saja kebiasaan buruk kalian ini, permisi."
Mereka dibuat terkejut bukan main saat Fiona tiba-tiba masuk lagi ke dalam ruangan meeting, padahal dia baru saja keluar dari sana. Fiona sendiri sebenarnya tidak berniat mengambil bolpoinnya yang tertinggal di ruang meeting. Tapi kebetulan dia mendengar namanya disebut waktu masih di depan pintu, jadi dia lebih memilih untuk masuk lagi.
Bukan tanpa tujuan Fiona melakukan hal itu, dia ingin membuat para karyawati itu semakin malu dan salah tingkah karena sudah membicarakan Lusi dan juga dirinya. Fiona ingin memberikan pelajaran agar mereka mendapat efek jera dan merasa bersalah atas tindakan mereka.
"Huh, ada-ada saja mulut nyinyir para wanita itu," gerutu Fiona yang tengah berjalan menuju ruang kerjanya.
Sedangkan di dalam ruang kerja Lusi, David hanya duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu sambil memperhatikan istrinya yang sibuk dengan layar leptonya.
"Sayang," panggil Lusi.
"Iya Sayang ada apa?" David beranjak dari sofa, lalu menghampiri sang istri.
"Aku minta tolong boleh ngak?" tanya Lusi.
"Minta tolong apa Sayang, tentu saja boleh. Apa si yang enggak buat istri aku yang paling cantik ini," gombal David.
"Tolong lanjutkan pengecekan dokumen ini ya, aku mau cek yang lainnya." Lusi menatap David dengan wajah mememohon.
"Dengan senang hati Bu," jawab David.
"Kalau begitu tolong kerjakan dengan cepat ya, jangan sampai ada yang salah," balas Lusi yang tidak mau kalah.
"Tenang saja Bu," sahut David.
"Kamu ngecek dokumen cetak aja ya, soalnya kalau pakai leptop pasti agak susah karena mejanya sama sofanya tinggian sofanya," ujar Lusi yang tiba-tiba berhenti berkata formal.
"Siyap deh pokoknya, akan aku kerjakan dengan sepenuh hati." David mengulas sebuah senyuman dan Lusi membalasnya dengan senyum manisnya pula.
"Besok juga aku akan menyuruh Fiona untuk mencari orang untuk membuatkan ruang kerja untuk kamu," ucap Lusi.
"Tidak perlu membuatkan ruang kerja Sayang, aku bisa duduk di mana aja. Kamu ngak perlu mengkhawatirkan tentang hal itu ya." David tidak mau membuat istrinya semakin kerepotan hanya karena dirinya.
"Iya ngak gitu dong Sayang, namanya juga orang kerja ya pasti butuh ruang kerja dong Sayang. Jadi segala sesuatunya menjadi tertata dengan rapi, baik pekerjaan atauapun yang lainnya," jelas Lusi dengan panjang.
"Iya Sayang iya, terserah kamu saja aku ikut apa kata kamu aja," jawab David.
"Nanti ruang kerja kamu aku letakkan di samping ruang kerja aku. Dinding peyekatnya kaca saja jadi biar aku bisa melihat apa saja yang kamu lakukan di dalam sana. Biar aku juga lihat kalau sampai ada karyawati yang berani menggoda kamu."
Lusi melirik David dengan lirikan yang sangat tajam.
"Iya Sayangku." David mencubit hidung Lusi dengan gemas namun penuh cinta.
"Ih jadi ngak kelar-kelar nih kerjaannya," guman Lusi.
"Iya yang nyuruh kamu godain aku terus siapa coba?" sahut David.
"Dari pada digodain sama cewek lain mendingan aku aja yang godain kan ya," jawab Lusi lagi.
"Udah ah, saya mau kerja dulu ya Bu. Saya permisi," ujar David dengan gaya formal.
"Oh iya Pak, silahkan," sahut Lusi dengan gaya formalnya juga.
David langsung duduk kembali di sofa sambil membawa berkas-berkas yang diberikan oleh Lusi. Sambil duduk David terus membuka dan membaca dokumen yang memang perlu dilakukan pengecekan ulang.
Lusi sejenak melirik ke arah David, dia masih begitu kagum dengan kecekatan David dan juga kecerdasannya.
"Terima kasih sudah kembali," kata Lusi dalam hatinya sambil memandangi wajah David yang tengah serius membaca dokumen.