Episode 14

1024 Words
Meninggalkan kisah romantis pasangan direktur dan wakilnya, sekertaris direktur sekarang justru tengah heboh memilih foto. Fiona memilih hasil jebretan foto yang ia ambil waktu briefing tadi pagi. Dia ingin memposting foto-foto itu sebagai sambutan atas diangkatnya David menjadi wakil direktur di kantor itu. "Ini aja kali ya." Fiona memandangi foto saat David memperkenalkan diri kepada para karyawan tadi. Di foto yang tengah Fiona perhatikan saat ini, Lusi terlihat tengah tersenyum sambil memperhatikan David yang ada di sampingnya. Begitu juga dengan David, wajahnya juga terlihat berseri-seri dan penuh semangat saat memperkenalkan diri di ruang meeting tadi. "Seneng banget melihat mereka akhirnya bersatu kembali. Ikut bahagia untuk mereka berdua pokoknya," guman Fiona. Beberapa menit kemudian foto itu sudah ada di beranda sosial media perusahaan milik keluarga Lusi. Fiona menuliskan caption yang memancing emosi orang yang tidak suka dengan David maupun Lusi. 'Selamat untuk pasangan pengantin baru antara ibu direktur dan bapak wakil direktur.' Caption yang Fiona tulis itu telah berhasil membuat foto itu ramai dikomentari banyak orang. Efek dari foto itu juga sangat heboh, karena sudah sampai ke telinga James. "Apa-apaan ini? Baru saja satu minggu menjadi suami Lusi, tapi dia sudah sangat berani mengambil posisi penting di perusahaan milikku. Ini sangat-sangat tidak bisa dibiarkan begitu saja. Anak tidak tahu diri itu harus aku buat sadar siapa dirinya dan dari mana asalnya. Baru saja James hendak beranjak dari kursi, tapi Amie langsung menghentikannya. "Papa mau ke mana?" tanya Amie. "Papa mau ke kantor," jawab James dengan wajah yang penuh amarah. "Untuk apa ke kantor?" tanya Amie lagi. "Anak tidak tahu diri itu semakin melunjak, baru juga satu minggu mereka menikah tapi tingkahnya sudah semakin semena-mena. Dia sudah berani menjadi wakil direktur tanpa ijin dari aku. Aku yakin dia pasti merayu Lusi untuk menjadikannya sebagai wakil direktur di sana." Amie hanya tersenyum, karena dia sudah sangat paham seperti apa sikap sang suami. "Kenapa kamu hanya diam aja si Ma? Kasih solusi apa atau gimana gitu, ngak cuma diam aja." Amie hanya menghela nafasnya dengan berat, lagi-lagi suaminya mengomel tidak jelas hanya karena masalah David. "Kalau Papa minta saran kepada Mama, ya saran Mama mendingan Papa diam aja. Atau kalau ngak lebih baik Papa pergi main golf atau membaca buku ke perpustakaan gitu," jawab Amie. "Bukan itu saran yang aku maksud, Ma. Kasih saran agar Lusi tidak membiarkan laki-laki itu duduk di kursi perusahaan aku," tukas James. "Pa, siapa yang kamu maksud laki-laki itu? Dia punya nama, dia menantu kita, suami Lusi, namanya David," sergah Amie. "Enak aja menantu, dia bukan menantu aku," jawab James. "Terserah Papa aja, Mama capek kalau harus berdebat terus dengan Papa hanya karena masalah kecil seperti ini," ujar Amie. "Sepertinya laki-laki tidak tahu diri itu benar-benar sudah mencuci otak kamu dan otak Lusi." Amie sangat tahu bagaimana sifat sang suami, dia selalu memandang orang dari status sosialnya. Dia menutup mata dengan semua kebaikan David hanya karena dia berasal dari kalangan ekonomi rendah. "Pa, Lusi lebih tau siapa David, dia lebih tau bagaimana David. Jika Lusi sudah mengambil keputusan ini, itu artinya dia sudah yakin dengan keputusannya. Dan bukan hanya Lusi, Mama juga yakin kalau David bisa memegang kendali perusahaan," kata Amie dengan penuh percaya diri. "Tapi Ma." Belum sempat James melanjutkan kata-katanya, Amie sudah lebih dulu memotong ucapannya. "Ngak ada tapi-tapi Pa, tidak ada penolakan. Keputusan Lusi adalah keputusan mama juga, jadi Papa ngak boleh ganggu gugat keputusan ini." Kalau Amie sudah menekankan kata-katanya, James tidak lagi bisa berulah. "Awas kalau Papa sampai melakukan hal-hal yang tidak Mama tahu seperti dulu lagi. Kali ini Mama ngak main-main dengan ucapan Mama ya, Pa. Jangan bertindak tanpa sepengetahuan Mama lagi, cukup dulu saja jangan diulangi lagi." James hanya diam saja, dia tidak menjawab kata-kata sang istri. Begitu juga dengan Amie, dia meninggalkan suaminya yang tengah diam sambil mencerna kata-kata yang baru saja dikatakan oleh sang istri. Bukan tanpa alasan kenapa James takut kepada Amie dan selalu bertindak tanpa sepengetahuan Amie. Itu semua karena James bukan siapa-siapa tanpa adanya Amie dikehidupannya. Kisah cinta mereka juga bermula karena orang tua James dan orang tua Amie dulu sahabat dekat. Perusahaan orang tua James dulu gulung tikar karena mereka tertipu investasi bodong yang jumlahnya cukup besar. Sebenarnya orang tua Amie sudah menawarkan bantuan, karena mereka selaku sahabat baik. Tapi orang tua James terus saja menolak karena mereka berkata kalau tidak masalah tidak mempunyai perusahaan. Yang penting mereka masih mempunyai beberapa restoran dan cafe yang masih bisa mereka jadikan sumber penghasilan mereka. Tapi di sisi lain, orang tua James lebih memilih untuk meminta bantuan kepada orang tua Amie dalam hal yang berbeda. Mereka meminta bantuan agar mereka mau memasukkan James ke perusahaan mereka. Di sinilah awal dimulainya benih-benih cinta Amie dan James bersemi. Sama seperti Lusi dan David, bedanya dulu Amie adalah meneger dan James adalah sekretaris pribadi. Hingga akhirnya mereka saling menyimpan rasa kemudian menjalin hubungan yang berakhir di pelaminan dan sampailah sekarang. Meskipun dalam status sosial Amie lebih tinggi dari James, tapi Amie tidak pernah memikirkan hal itu. Amie selalu menganggap kedudukan semua orang itu sama apapun pekerjaannya. Kecuali dalam hal pekerjaan, memang ada tingkat-tingkatannya sesuai jabatan. Itu menurut pemikiran Amie, dan pastinya sangat bertolak belakang dengan pemikiran James. Dan untungnya sifat buruk James tidak menurun kepada Lusi. Putri semata wayang mereka justru menuruni sifat baik Amie. Itu semua sudah terbukti adanya, Lusi yang selalu berbuat baik kepada semua orang apa lagi kepada para karyawannya. Lusi juga tidak segan untuk mengucapkan salam terlebih dahulu ketika berpapasan dengan karyawannya. Lusi juga sering menginap di rumah Fiona disaat-saat tertentu. Lusi juga mudah berbaur dengan keluarga Fiona yang notabenya mereka adalah orang dari kalangan ekonomi rendah. Tapi Lusi tidak memikirkan hal itu, keluarga Fiona sudah Lusi anggap seperti keluarga sendiri. Karena memang mereka sangat dekat, dan Fiona juga satu-satunya sahabat yang Lusi miliki. Begitu pula sebaliknya, Lusi juga satu-satunya sahabat yang Fiona miliki. Mereka menjadi sangat dekat karena Amie juga sangat baik kepada ibunda Fiona. Meskipun James tidak begitu ramah kepada Fiona dan ibunya, tapi Amie tetap memperlakukan mereka dengan baik. Amie dan Lusi juga memaklumi ketidaksukaan James, karena memang itu sifatnya yang susah untuk dirubah. Tapi ketidaksukaan James tidak membuat hubungan Fiona da Lusi merenggang, mereka tetap bersahabat sampai sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD