Hari demi hari berlalu, David dan Lusi kini sudah mempunyai ruang kerja masing-masing. Seperti yang Lusi katakan, ruang kerja David ada di samping ruang kerja Lusi. Ruangan kerja mereka hanya dipisahkan oleh dinding kaca yang menyekat ruangan keduanya.
Sejauh ini semuanya berjalan baik-baik saja, David menjalankan pekerjaannya dengan lancar tanpa adanya kendala. Sampai detik ini juga tidak ada karyawati yang berani menggoda apa lagi mendekati David.
Tapi berita diangkatnya David menjadi wakil direktur di perusahaan Cusion Corporation menjadi perhatian tersendiri untuk Hacob, mantan calon suami Lusi.
"Ternyata mereka hidup bahagia? Tapi aku tidak akan membiarkan kamu bahagia semudah itu," kata Hacob sambil terus memandangi wajah David dan Lusi yang berdiri berjajaran.
"Kamu sudah dengar berita tentang mantan calon istri kamu itu?"
Tiba-tiba Jacob datang mengejutkan Hacob yang tengah merasa sakit hati melihat kebahagiaan Lusi dan David saat ini.
"Iya Yah, aku sudah melihat beritanya juga. Mereka terlihat baik-baik saja, itu sangat menyakiti hati aku." Hacob dengan jujur mangatakan hal itu kepada ayahnya tanpa malu-malu apa lagi ragu.
"Ayah akan pikirkan bagaimana caranya agar mereka tidak bisa merasakan apa itu bahagia. Jangankan bahagia, melihat mereka tersenyum saja rasanya itu sangat tidak berkenan," kata Jacob dengan wajah yang penuh dengan wajahnya.
"Apa yang akan ayah lakukan kepada mereka? Aku tidak sabar ingin melihat mereka luluh lanta tidak ada satu pun aset mereka yang tersisa," ujar Hacob dengan wajah yang membuat orang ingin menghajarnya.
"Tunggu saja sampai Ayah benar-benar menemukan cara yang tepat untuk menghancurkan mereka secara bersamaan." Senyuman licik Jacob terlihat begitu jelas menghiasi wajahnya.
"Tentu saja aku selalu menunggu saat-saat itu, Yah. Bukankah laki-laki tidak tahu diri itu yang membuat semua rencana kita gagal. Aku tidak mendapatkan Lusi, dan Ayah tidak bisa mendapatkan sebagian saham dari perusahaan mereka. Jadi dia tentunya harus mendapatkan balasan yang setimpal."
Dengan penuh percaya diri Hacob berkata seolah-olah dirinya tidak mempunyai kesalahan.
Beralih dari rencana jahat Hacob dan Jacob untuk menghancurkan David, Lusi justru sedang merasa kesal. Itu semua lagi-lagi disebabkan oleh Zana, gadis itu masih terus-menerus memepet David.
Awalnya Lusi sangat bersemangat untuk berjogging di taman karena hari ini hari sabtu. Tapi bukannya mereka berjogging dengan senang, Lusi justru merasa kesal sepanjang jalan.
Itu semua tentu saja bukan tanpa sebab, itu karena kehadiran Zana di taman yang juga melakukan jogging pagi.
"Loh, Kak David juga jogging di sini ternyata," ujar Zana yang baru saja menghampiri David dan Lusi.
"Iya nih, kamu juga jogging di sini kan." Lusi langsung menyambar sebelum David menjawab ucapan Zana.
"Iya nih Kak, Kak Lusi sama Kak David sudah dari tadi?" tanya Zana lagi.
"Belum juga sih, baru tiga putaran aja," jawab Lusi.
"Memangnya biasanya berapa putaran Kak?"
Lusi semakin merasa risih karena Zana bersikap sok akrab dan terus-menerus bertanya tentang David dan dirinya.
"Iya paling ngak dua belas putaran kira-kira," ucap Lusi dengan sengaja.
"Wah Kak Lusi ternyata kuat juga ya, kalau aku paling banyak ya kalau ngak tujuh putaran palingan sembilan Kak," jawab Lusi.
"Oh gitu, kalau gitu kita mau lanjut muternya lagi ya Zana. Kamu yang semangat ya joggingnya, mari." Lusi menarik tangan David agar segera pergi dari hadapan gadis kecentilan itu.
“Eh Kak, kalau barengan boleh ngak joggingnya? Aku bosen nih soalnya sendirian aja.”
Lusi sebenarnya ingin sekali menolak Zana, tapi dia masih punya hati untuk melakukan itu semua.
“Oh boleh-boleh saja, ayo,” jawab Lusi mengiyakan.
David, Lusi, dan Zana berlari beriringan seperti seseorang yang sudah dekat. Mereka berlari beberapa kali putaran lalu beristirahat sejenak sambil meneguk air putih.
“Kak Lusi sama Kak David sering jogging di sini juga ya?” Zana membuka suara terlebih dahulu karena sedari tadi Lusi hanya diam. Tentu saja Lusi hanya diam karena dia merasa dongkol, bukanya jogging berdua bersama sang suami tapi justru jogging bertiga dengan gadis asing.
“Enggak juga si, baru dua kali ini,” jawab Lusi yang berusaha untuk seramah mungkin.
“Loh, emangnya Kak Lusi penghuni baru di sini ya?” tanya Zana yang tidak tahu kalau apartemen yang ia tempati sekarang adalah salah satu aset dari perusahaan Lusi.
”Iya ngak juga sih sebenarnya, udah lama juga. Cuma ya jarang ke sini aja, lebih sering tinggal di rumah orang tua aku,” sahut Lusi.
“Memangnya Kak Lusi kalau jogging di mana sebelumnya? Kenapa jarang ke sini?” Lusi berusaha untuk tetap sabar mengdengarkan pertanyaan-pertanyaan yang sangat tidak ingin ia dengar apa lagi dia jawab.
“Ya biasanya di sini juga, cuma kalau berdua sama suami baru dua kali ini. Tapi kalau sendiri mah udah sering, hampir tiap minggu juga sih,” jelas Lusi dengan sejelas-jelasnya untuk menghindari pertanyaan selanjutnya. Tapi ternyata Lusi salah besar,Zana tetap saja membuka mulutnya lagi dan menanyakan hal-hal yang sebenarnya tidak penting bagi Lusi.
“Kak Lusi dan Kak David udah punya baby?” tanya Zana tanpa rasa malu.
“Belum, doakan ya semoga cepat diberi baby,” jawab Lusi.
“Memangnya Kak Lusi dan Kak David sudah manikah berapa lama?” tanya gadis itu lagi.
“Baru satu bulan.” Lusi dengan berat hati harus mengukir senyuman yang sebenarnya palsu itu.
“Oh jadi pengantin baru ya? Ya ampun jadi aku ganggu kebersamaan pengantin baru dong ini, jadi malu.”
“Idih baru sadar ya kalau ganggu, bukan hanya ganggu tapi ganggu banget. Ih sebel banget,” gerutu Lusi dalam hatinya.
“Udah tau ganggu, kenapa ngak pergi juga sih,” batin Lusi lagi.
“Enak ya Kak kalau kerja di kantor,” kata Zana tiba-tiba.
“Enak? Enak gimana maksud kamu?” tanya Lusi yang memang tidak mengerti.
“Iya enak aja gitu, kerjanya bisa sambil duduk di rungan ber-ac. Udah gitu kerjanya Cuma lima hari, liburnya dua hari jadinya bisa jalan-jalan ke mana-mana.”
Lusi menghela nafanya pelan, dia tidak habis fikir dengan cara pikir Zana. Masih mending dia punya pekerjaan tetap tapi masih saja mengeluh. Padahal di luar sana banyak orang yang menginginkan pekerjaan Zana saat ini. Harusnya Zana bersyukur karena masih banyak orang di luar sana yang bahkan tidak punya pekerjaan .
“Tapi yang penting kamu masih bisa libur setidaknya sekali dalam satu minggu kan? Di luar sana juga masih banyak orang yang bekerja tanpa mengenal kata libur,” jawab Lusi.
“Iya juga sih Kak, makanya aku minta libur hari sabtu biar bisa weekend walaupun cuma sehari,” tukas Zana.
“Semua pekerjaan itu pasti ada plus-minusnya Zana, mungkin kamu tidak menyukai pekerjaan kamu yang sekarang. Tapi di luar sana pasti banyak orang yang menginginkan pekerjaan kamu ini. Pekerjaan yang kamu rasa tidak menyenangkan mungkin adalah pekerjaan yang diidamkan-idamkan para pengangguran di luar sana.”
Wajah Zana terlihat serius saat mendnegarkan nasihat yang diberika oleh Lusi. Kepalanya sedikit mengangguk-angguk, seakan-akan Zana setuju dengan apa yang baru saja Lusi sampaikan.
“Iya juga sih Kak, tapi aku masih selalu menunggu lowongan pekerjaan di perusahaan Kak. Kak Lusi jangan lupa hubungi aku ya kalau ada lowongan pekerjaan di kantor Kakak ya.” Lusi hanya mengangguk karena dia merasa malas harus menjawab kata-kata Zana.
“Oh iya Kak, hari ini dan besok ada promo loh di restoran tempat aku bekerja. Kak Lusi dan Kak David jangan lupa datang ya, tapi sebaiknya besok aja karena hari ini aku libur.” Zana yang belum tahu kalau Lusi adalah bosnya dengan begitu percaya diri mempromosikan restoran itu kepada pemiliknya sendiri.
“Iya pasti nanti kita mampir mumpung lagi ada promo. Kita besok ke sana ya Sayang,” ujar Lusi.
“Iya Sayang,” jawab David mengiyakan.
Untuk sepersekian menit mereka hanya diam, tapi kemudian David memecah keheningan itu sampai membuat hati Lusi berbunga-bunga.
Mereka juga tidak sadar kalau sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari jauh. Sepasang mata itu memperhatikan dengan seksama, terutama Lusi. Dia menatap Lusi dengan tatapan yang berbeda dari tatapan kepada Zana dan David.
“Sayang, kita pulang yuk. Aku udah laper nih.”
Wajah kesal Lusi langsung berubah saat David tiba-tiba mengajaknya untuk pulang ke apartemen mereka. Akhirnya dia bisa terbebas dari pertanyaa-pertanyaan yang tidak bermutu dari Zana.
“Iya Sayang, aku juga udah lapar,” jawab Lusi.
“Zana, kita duluan ya, mari.” Seketika David langsung berdiri dan menarik tangan Lusi.
"Oh iya Kak, mari." Dengan terpaksa Zana hanya bisa melihat kepergian David dan Lusi dari sana. Zana tidak mungkin ikut pulang bersama mereka, karena itu terlihat seperti Zana sedang memepet David.
"Kalau pengantin baru masih anget-angetnya dong, jadi susah buat deketinnya. Harus dengan cara yang lebih intens kalau gini," guman Zana dengan sejuta rencana jahat yang berlalu-lalang di pikirannya.
"Nantilah aku pikir sambil berjalan aja, yang penting sekarang jalani aja dulu. Bagaimana kedepannya aku akan susun rencananya." Zana tersenyum sendiri memikirkan bagaimana dia bisa dekat dengan David.