Episode 16

1007 Words
Saat Zana sedang tersenyum-senyum sendiri sambil membayangkan wajah David, tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri dia. "Em boleh duduk di sini ngak?" tanya laki-laki itu. "Boleh silahkan," jawab Zana mengizinkan. Laki-laki bertubuh lumayan kekar, rambutnya tertata rapi tapi tetap saja lebih tampan David menurut Zana. "Nama kamu siapa kalau boleh tahu?" tanya laki-laki itu lagi. "Saya Zana, Zana Audrey. Nama kamu siapa?" Laki-laki itu tidak langsung menjawab, tapi dia justru menatap Zana sambil tersenyum dengan tangan yang masih terus menggenggam tangan Zana. "Are you okay?" tanya Zana karena laki-laki itu tidak kunjung menjawab. "Oh iya maaf ya, aku Hacob. Hacob Volan," jawabnya. "Kamu sendirian aja?" tanya Zana basa-basi. "Iya nih, kamu juga sendiriankan sekarang." Hacob menjawab dengan senyum yang sangat ramah. "Sekarang?" Zana mengulang kembali kata-kata yang baru saja Hacob ucapkan. "Iya, tadi aku sempat lihat kamu sama dua orang. Yang satu cowok, dan yang satu cewek, bener ngak?" tanya Hacob. "Loh iya, kamu ko tahu si. Jangan-jangan kamu merhatiin aku sama mereka dari tadi ya?" Hacob hanya tersenyum dengan wajah malu-malu tapi masih dengan niat tersembunyi di dalam hatinya. "Loh ko diam aja sih, dijawab dong," paksa Zana dengan nada suara yang sengaja ia buat-buat. "Iya, ya habis tadi aku heran aja lihatnya. Kalian kaya istri muda dan istri tua, tapi terlihat akur," jawab Hacob seadanya. "Istri muda dan istri tua? Apa maksud kamu?" tanya Zana yang tidak habis pikir dengan ucapan laki-laki yang baru saja ia temui itu. "Loh memangnya tadi itu siapanya kamu?" tanya Hacob pura-pura ngak tahu. "Oh tadi itu tetangga aku, tetangga di apartemen aku. Mereka pasangan pengantin baru, dan kebetulan juga mereka itu senior aku di kampus dulu," jelas Zana tanpa ragu. "Oh, aku kira siapanya kamu. Habis kamu natap laki-laki itu kaya penuh cinta gitu," pancing Hacob. "Ih mana ada? Cuma tatapan kagum aja ko, ngak lebih dari itu," elak Zana. "Kalau iya juga ngak apa-apa ko, itukan hak kamu juga," ujar Hacob. "Ya sebenarnya iya sih, tapi ya aku sadar diri aja. Mereka pengantin baru yang masih anget-angetnya, jadi ngak mungkin aku harus berada di antara mereka." Zana tanpa ragu bercerita begitu saja kepada Hacob, padahal dia dan Hacob belum mengenal satu sama lain. "Kamu mau tahu sesuatu ngak?" Wajah Zana langsung berubah serius mendengar perkataan Hacob. "Mau tahu sesuatu apa?" Dahi Zana berkerut karena penasaran, sampai kedua alisnya akan bersatu. "Sebenarnya wanita yang tadi bersama kamu itu mantan tunangan aku," ujar Hacob dengan santainya. "Hah kamu serius, tunggu dulu maksud kamu Kak Lusi?" Wajah Zana terlihat lebih terkejut mendengar pengakuan dari Hacob. "Iya, dan laki-laki yang tadi bersama kamu itu yang telah membuat aku dan dia berpisah," lanjut Hacob. "Maksud kamu? Kak David merebut Kak Lusi dari kamu?" Hacob mengangguk-anggukan kepalanya menanggapi pertanyaan dari Zana. "Tapi mereka udah pacaran sejak masih kuliah, dan mereka terlihat saling mencintai," kata Zana tidak percaya. "Sebenarnya David datang waktu hari pernikahan aku dan Lusi, dan hal itu membuat hati Lusi goyah dan dia lebih memilih menikah dengan David dari pada aku." Wajah Zana terlihat lebih tercengang dari pada sebelumnya. Dia masih tidak habis pikir kalau ternyata David bisa senekat itu. Padahal David yang dulu ia kenal selalu kalem pembawaannya, tidak banyak bicara dan jarang bergaul. "Eh tunggu, jadi kalau kamu mantan Kak Lusi itu artinya kamu lebih tua dari aku dong?" "Iya, aku dan Lusi bertaut umur lima tahun. Berapa umur kamu sekarang?" Hacob sengaja ingin mengulik lebih jauh kehidupan gadis ini. Jadi dia akan lebih mudah jika akan memanfaatkan Zana kedepannya. "Wah kalau aku panggilnya nama aku ngak sopan dong nih," ujar Zana. "Ngak apa-apa, santai aja. Biar lebih akrab kalau aku kamu," tukas David. "Ngak enak ah, beda usianya tujuh tahun lebih masa panggil nama sih. Aku merasa jadi anak yang kurang ajar banget deh kayaknya," gurau Zana. "Ya udah kalau gitu terserah kamu aja mau manggil apa," sahut Hacob. "Oke Kak Hacob, sekarang aku mau tanya sesuatu ke Kakak," lanjut Zana. "Oka Zana, tanya apa?" jawab Hacob. "Kenapa Kakak mau cerita semua kisah pilu Kakak itu ke aku?" tanya Zana tiba-tiba. Zana bertanya kepada Hacob karena dia sadar kalau Hacob pasti punya niat lain kenapa dia menceritakan kisah pilunya kepada dirinya. Karena tidak mungkin Hacob menceritakan kisah sedihnya begitu saja kepada Zana karena dia bukan orang istimewa. "Mari kita dapatkan orang yang kita cintai lagi," sahut Hacob dengan senyum liciknya. "Maksud Kakak?" Zana masih belum paham dengan maksud ucapan Hacob. "Kamu maukan mendapatkan David?" Zana tidak menjawabnya, tapi Hacob bisa tahu jawaban Zana hanya dari ekspresi wajahnya. "Adilkan, kamu mendapatkan David dan aku bisa kembali lagi dengan Lusi. Gimana menurut kamu?" tanya Hacob. "Sebenarnya aku setuju aja sih Kak, tapi jangan yang membahayakan ya rencananya. Aku ngak mau berurusan dengan hukum, apa lagi sampai polisi." Zana menjawab degan jujur kalau dirinya takut jika harus berhubungan dengan hukum. Apa lagi berurusan dengan aparat kepolisian, Zana cukup tahu pengalaman dari ayahnya saja. "Tentu saja tidak, nanti aku kasih tahu kamu kalau aku sudah mendapatkan rencana yang bagus dan sesuai. Kamyu setujukan?" Zana langsung mengangguk tanpa ragu sebagai jawaban atas tawaran yang Hacob berikan. Karena Zana memang bukan tipe orang yang selalu waspada dengan orang baru, dia selalu welcome kepada siapapun yang ia kenal. Tapi di sisi lain itu merugikan, karena pada akhirnya Zana akan dimanfaatkan oleh orang lain yang bahkan tidak ia kenal, seperti sekarang ini Hacob yang ingin memanfaatkan Zana. "Boleh minta nomor ponsel kamu ngak? Biar lebih mudah kita komunikasi kedepannya." "Boleh Kak." Zana menerima ponsel Hacob, lalu dia menuliskan nomor ponselnya tanpa adanya keraguan di hatinya sedikitpun. "Terima kasih ya Zana, kalau begitu aku permisi dulu. Nanti aku akan hubungi kamu bagaimana ke depannya ya," kata Hacob sebelum pergi meninggalkan Zana di taman itu sendirian. "Oke Kak, aku tunggu." Zana tersenyum melihat kepergian Hacob, dia seperti menemukan teman seperjuangan. Sama-sama berjuang untuk menghancurkan rumah tangga orang lain. "Akhirnya aku bertemu orang yang senasib dan seperjuangan dengan aku. Uhh, semoga aja rencana yang Kak Hacob susun nanti berjalan lancar. Ngak sabar banget pengen membelai wajah Kak David kalau gini ih, gemes." Pikiran Zana makin treveling ke mana-mana karena memikirkan David.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD