Apartemen mewah dan begitu luas dengan interior yang begitu indah, memiliki pemandangan yang langsung menuju pada kota New York. Di sinilah, Claire berdiri memandang kota New York pada sore hari. Apartemen ini terlalu luas baginya namun juga mengubah segalanya, hidupnya yang bergantung pada Nathan dan beban berat yang harus dia tanggung. Bagaimana jika yang diinginkan Nathan tidak bisa dia kabulkan?
Semenjak kejadian malam itu hingga saat ini Nathan belum pernah lagi datang ke apartemen, bahkan dia hanya mengirimi pesan pada Claire jika dia akan ke Shanghai untuk urusan bisnis.
Claire menghembuskan napas panjang, sungguh ada rasa ketakutan dan dosa yang menghantuinya namun disisi lain dia mengingat sang ayah yang masih dalam masa perawatan. Ya, Claire baru tahu jika sang ayah sudah di operasi dan berjalan dengan lancar namun saat ini ayahnya masih memerlukan pemulihan di rumah sakit.
“Maafkan Claire, ayah. Jika ayah tahu apa yang Claire lakukan pasti ayah akan kecewa padaku,” gumamnya.
Dengan matanya yang sudah berkaca-kaca mengingat Claire telah melakukan sampai sejauh ini dan dia mungkin mengatakannya pada sang ayah, Claire belum siap menerima kenyataannya jika nanti sang ayah akan membuangnya.
Apartemen ini begitu luas dan nyaman akan tetapi ini bukanlah rumah yang aman, ini adalah neraka yang kapan saja membuatnya jatuh-sejatuhnya ke lubang yang dalam. Claire mengusap air matanya segera, ini jalan yang sudah dia ambil menangis pun hanya percuma dan tidak bisa mengembalikan dirinya ke semula.
Claire memejamkan matanya sejenak, memikirkan bagaimana nantinya jika sang ayah mempertanyakan uang yang aku dapatkan untuk perawatannya. Ah! Rasanya begitu sesak di d**a dan Claire memukul dadanya secara perlahan namun rasa sesak itu masih tetap ada.
Hingga, Claire di kagetkan dengan dering suara telepon dari handphone miliknya, Claire dapat melihat tulisan Maya dan Claire pun langsung menekan tombol hijau.
“Claire, kenapa lama sekali mengangkat teleponku. Kenapa hari ini kamu tidak datang ke kampus, apa kamu sakit?” tanya Maya dari seberang telepon.
“Maafkan aku, Maya. Hari ini aku sedang sibuk jadi aku tidak datang ke kampus,” ucap Claire.
Terdengar jelas helaan Maya dari seberang telepon, “Aku kira kamu sakit Claire jadi aku sangat mengkhawatirkanmu.”
“Sekali lagi aku minta maaf, May karena aku tidak mengirimkan pesan padamu. Apa kamu sudah pulang dari kampus?” tanya Claire.
“Ya, aku baru saja sampai di apartemen, apa nanti malam kamu memiliki waktu jika kamu tidak sibuk maka aku ingin mengajakmu makan malam bersama. Kita sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama, Claire dan aku ingin kita bisa berbincang seperti saat waktu kita masih SMA,” ucap Maya bahagia.
Claire hanya bisa tersenyum sambil mengangukan kepalanya meski sebenarnya Maya tidak bisa melihatnya. Ya, dia juga merindukan momen kebersamaannya dengan sahabat waktu kecilnya, karena memang semenjak mereka kuliah Maya dan Claire berpisah meski sebenarnya bisa saja mereka bertemu namun waktu menghalanginya karena kesibukan masing-masing.
“Baiklah jika nanti malam aku bisa maka aku akan mengabarimu, Maya,” ucap Claire.
“Ok, aku tunggu kabar baiknya, Claire,” ucap Maya, lalu setelanya sambungan telepon pun terputus.
Claire pun menghela napas sejenak lalu di berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum yang ada di lemari pendingin. Claire meneguk air mineral itu hingga tandas dan setelah dia langsung berjalan ke kamarnya, rencananya Claire akan berendam sebentar.
Waktu sudah menunjukkan malam dan saat ini Claire dan Maya sedang berada di restoran mewah yang ada di kota New York. Keduanya menikmati makan malam mereka sambil sesekali berbincang hal-hal lucu.
“Claire, aku tidak menyangka akhirnya kamu pindah ke sini,” ucap Maya tersenyum.
Claire menganggukan kepalanya, “Karena ayahku harus di pindahkan ke sini Maya dan aku juga bersyukur saat ini ayahku dalam pemulihan setelah melakukan operasi.”
“Ya, dan aku juga bahagia mendengarnya Claire,” ucap Maya.
“Tuhan mengabulkan doaku, Maya,” ucapnya dengan senyum manis.
Maya mengangguk setuju, “Semoga kedepannya kamu dan ayah kamu akan baik-baik saja, Claire.”
“Terima kasih, Maya.”
Setelah selesai makan malam, Maya mengajak Claire untuk pergi ke mall yang tidak jauh dari restoran. Keduanya sedang berada di dalam toko lingerie, dan Maya sedang memilihnya. Sedangkan Claire hanya bergidik ngeri, padahal sebelumnya dia juga pernah memakainya.
“May, kenapa kamu beli ini?” bisik Claire pelan karena takut di dengar orang lain.
Maya hanya terkekeh mendengar pertanyaan Claire, “Claire, wajar saja ini sangat nyaman dipakai dan yang pasti bisa buat menyenangkan pacar.”
Plakk
Claire mengeplak lengan Maya pelan namun itu cukup membuat Maya sakit, sehingga mengusap-usap lengannya.
“Claire, kamu tega. Sakit tahu bisa enggak usak pakai pukul aku,” ucap Maya dengan bibirnya yang sedikit manyun.
Claire hanya meringis sambil mengaruk tengkuknya yang tidak gatal, “Sorry, May. Tapi please, ya ini baju nerawang yang ada bikin kamu masuk angin kalau kamu pakai ini tiap hari.”
Maya semakin tertawa terbahak-bahak hingga orang-orang yang ada di sekitar mereka menatap aneh mereka. Bahkan ada juga yang memberikan tatapan tajam pada mereka karena menurutnya menganggu.
“Stttt! Berisik tahu Maya, malu pada lihatin kita,” ucap Claire dengan satu tangannya membungkam mulut Maya.
Claire pun juga segera melepaskan tangannya dan pergi keluar toko meninggalkan mata yang masih tertawa.
“Ih! Maya benar-benar bikin malu,” gumamnya sedikit ada rasa kesal. Namun tiba-tiba pandangannya tertuju pada dua orang pria dan wanita. Mereka terlihat begitu serasi dan romantis, dimana sang pria mengeratkan pelukannya pada pinggang ramping wanita itu.
“Nathan,” gumam Claire pelan.
Ya, pria itu adalah Nathan dan istrinya, ada rasa sakit yang menghantam di dadanya entah karena apa? Claire tidak suka dengan pemandangan saat ini yang dia lihat.
“Kenapa menyakitkan?” tanyanya pada dirinya sendiri sambil memukul dadanya pelan.
Claire terus menatap kepergian mereka, namun tanpa sadar langkah kakinya bergerak mengikuti mereka. Hingga saat ini mereka sudah berada di basemant, dan lebih sakitnya Claire dapat melihat Nathan mencium istrinya dengan begitu rakus dan b*******h.
Claire membungkam mulutnya dengan kedua tangannya dan jangan lupakan air matanya yang sudah keluar begitu jelas. Claire menggelengkan kepalanya, kenapa dia menangis? Kenapa dia merasa sakit? Bukankah dia tidak memiliki hubungan apa pun dengan Nathan kecuali hubungan yang saling menguntungkan bukan daro hati ke hati.
Kedua insan itu asik berciuman tanpa memperdulikan sekitarnya, bahkan bisa dilihat Nathan sudah tidak bisa menahannya hingga membuka pintu mobil dan mendorong istrinya masuk ke dalam. Setelah kedua insan itu berada di dalam mobil meneruskan aktifitas panas mereka tanpa menyadari bahwa dari tadi yang memperhatikannya.
“Tuhan, kenapa sesakit ini,” ucapnya yang saat ini Claire tidak bisa membendung tangisannya dan bahkan dia melupakan Maya yang mungkin sahabatnya itu akan mencarinya.