Malam ini, Claire berdiri di depan kaca besar yang berada di dalam kamarnya, lekukan tubuhnya terlihat begitu indah dan menggoda. Selama ini, Claire memang selalu merawat tubuhnya dengan baik. Claire yang saat ini mengenakan lingeri berwarna merah maron melekat di badannya dengan sempurna.
Waktu sudah menunjukkan larut malam, Claire semakin merasa gelisah dan gugup. Mungkin dia belum siap dengan apa yang malam ini akan terjadi, akan tetapi dia juga tidak bisa kabur dari tempat ini. Pandangan, Claire tertuju pada sebuah parfum yang berada di meja riasnya, parfum itu diberikan oleh Riley sebelum dia pergi tadi. Sebotol parfum mahal dan lingeri yang saat ini dia kenakan dan ada pesan singkat dengan di tuliskan di kertas kecil.
“Malam ini, aku menginginkanmu malam ini, Claire.”
Claire menutup mata, dan menarik napas panjang, lalu menyemprotkan parfum itu keseluruh tubuhnya. Parfum dengan aroma wangi yang begitu menggoda sehingga membuat Claire bergidik negeri.
Tanpa Claire sadari sedari tadi bahwa pintu kamar sudah terbuka dengan Nathan yang bersandar di pintu menatap kagum lekuk tubuh Claire. Nathan begitu b*******h melihat tubuh indah Claire, ini pertama kalinya melihat tubuh wanita lain selain istrinya. Nathan ingin sekali menjatuhkan tubuh Claire ke atas ranjang dan berada di bawah kukungannya namun dia menahannya. Nathan masih ingin berlama-lama menatap tubuh Claire.
Hingga, Claire membalikkan tubuhnya dan terkejut saat mendapati Nathan sedang memperhatikannya. Claire sungguh tidak tahu kapan Nathan sudah ada di kamar dan menatapnya seolah ingin memakan dirinya.
Nathan hanya tersenyum dengan pandangannya yang masih tertuju pada, Claire. Dia berjalan pelan mendekati Claire yang masih berdiri mematung dan aroma parfum yang dia pilihkan terciumnya. Ah! Sial dengan mencium wangi parfum dan melihat tubuh indah Claire saja membuat inti dalam tubuh Nathan menegang.
“Claire, malam ini kamu sangat menggoda dan aku menyukainya. Claire malam ini aku ingin menghabiskan malam panas denganmu dan aku harap kamu tidak akan pernah mengecewakanku.”
Claire hanya bisa menutup matanya dan menahan napasnya, dimana dia merasakan sentuhan tangan Nathan yang begitu sensual membuatnya semakin menegang dan tidak berani bergerak. Claire sangat takut malam ini akan tetapi dia juga tidak bisa kabur.
“Buka matamu, Claire,” ucap Nathan yang saat ini dihadapan Claire, bahkan jarak mereka sangat begitu dekat dan Claire bisa menghirup napas hangat Nathan.
Perlahan namun pasti Claire membuka matanya, dia bisa menatap wajah tampan, Nathan. Ya, dia baru saja menyadari jika melihat wajah Nathan sedekat ini sangatlah begitu tampan seperti dewa yunani, bahkan jantungnya juga berdebar dengan kecang.
Nathan meraih dagu, Claire dan memiringkan wajahnya. Nathan mengecup bibir Claire, hanya menempel dan Claire tidak ada penolakan. Nathan melumat bibir Claire dengan lembut namun dengan hati-hati.
Nathan menyudahi ciumannya dan kembali menatap, Claire, “Manis, dan aku sangat suka dengan bibirmu, Claire,” ucapnya dengan suara parau dan penuh hasrat.
Selanjutnya Nathan membawa tubuh Claire ke atas ranjang, membaringkannya dengan hati-hati seakan tubuh Claire yang mungil itu adalah benda yang tidak boleh tergores sedikit pun. “Claire, kamu tidak akan bisa kabur lagi.”
Kini mereka saling menatap satu sama lain, dengan degup jantung Claire yang begitu cepat. Bahkan dia tidak bisa berucap sepatah kata pun karena lidahnya begitu kelu.
“Aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu, Claire,” ucapnya pelan dan serak.
Tidak membuang waktu lagi, Nathan mencium bibir Claire dengan begitu rakus. Ya, Nathan sudah tidak bisa menahannya lagi, ini adalah pertama kalinya Nathan merasakan gejolak panas yang harus dia selesaikan malam ini juga.
Malam yang semakin larut dengan lampu kamar remang-remang semakin menambah keintiman dari kedua insan yang saat ini sedang bergulat di atas ranjang. Erangan demi erang keluar dari mulut kedua seakan malam ini hanya milik mereka berdua.
Nathan dengan penuh semangatnya memasuki Claire tanpa henti dan bahkan tidak memberikan Claire istirahat walau hanya sebentar.
Pagi pun telah tiba, matahari terbit sudah begitu tinggi sehingga sinar matahari masuk melalui celah jendela apartemen. Kedua insan yang masih tertidur dengan pulas tidak sedikit pun terusik oleh cahaya matahari. Ya, Nathan melakukannya hingga pukul lima pagi mereka baru saja tertidur, sungguh gila memang Nathan akan tetapi itulah kenyataannya. Bahkan saat bersama dengan sang istri dia hanya melakukan sekali atau dua permainan saja namun berbeda dengan Claire.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 dan Claire baru saja membuka matanya, dia merasakan badannya yang begitu remuk. Claire menoleh ke samping namun dia tidak mendapati Nathan, Claire mengingat kejadian semalam dimana dirinya dan Nathan menyatu dan begitu panas.
Perlahan Claire bangun dari duduknya dan bersandar pada dasboard ranjang, dia juga merasakan perih di area intinya. Claire menghela napas panjangnya, mahkota yang selama ini dia jaga dengan baik telah diambil oleh pria yang bukan suaminya. Entah bagaimana nanti suatu saat dia menikah dengan pria yang mencintai pasti itu akan dipertanyakan dan Claire harus menjawab apa? Bukankah di negara yang dia tempati adalah negara bebas, akan tetapi Claire tetap saja menjaga mahkotanya dengan baik hingga saat ini hilang karena ini semua demi kesembuhan ayahnya.
“Kamu sudah bangun ternyata,” ucap Nathan yang baru saja masuk dan di tangannya membawa nampan yang berisi makan dan minuman untuk Claire.
Claire hanya mengangguk dengan menundukkan kepalanya, dia kira jika Nathan sudah pergi dari apartemen ini. Kali Claire sangat malu meski semalam mereka sudah mengetahui semuanya satu sama lain.
“Claire, mau aku bantu ke kamar mandi untuk membersihkan dirimu,” tawar Nathan yang saat ini berada di sampingnya.
Claire menggelengkan kepalanya cepat, “T-tidak usah aku bisa sendiri,” ucapnya, dengan sedikit terburu-buru Claire segera beranjak dari ranjang. Namun saat dia akan melangkahkan kakinya dia merasa sakit yang begitu luar biasa.
“Ah! Sakit sekali,” desitnya, dan sepertinya dia memang membutuhkan bantuan akan tetapi dia terlalu malu.
“Kenapa kamu begitu bakal, Claire. Sudahlah biarkan aku membantumu, kamu tenang saja karena aku tidak akan melakukannya kembali karena aku tidak menginginkan kamu mati sekarang,” ucap Nathan.
Nathan pun langsung menggendong tubuh mungil Claire masuk ke dalam kamar mandi, dan di sana Nathan juga sudah menyiapkan air hangat untuk Claire berendam agar membuat tubuh Claire rilex.
Nathan memasukkan tubuh Claire dengan hati-hati ke dalam bathtub. “Berendam lebih dulu ingin akan membuat tubuhmu kembali segar, aku akan keluar jika kamu membutuhkan sesuatu kamu bisa memanggilku dan aku juga tidak akan mengunci pintunya.”
Setelahnya Nathan pun pergi keluar kamar mandi karena dia ingin memberikan ruang untuk Claire dan dia juga tidak bisa menatap tubuh Claire lama atau tidak dia akan kembali menerkam Claire.