Episode 8

1706 Words
2 TAHUN KEMUDIAN Rayden dan aku menikah dua tahun lalu. Kadang kami bisa akur, tapi ada hari-hari ketika kami tidak sejalan. Di tahun pertama, semuanya masih baik-baik saja, dan hubungan kami cukup harmonis, meskipun tidak tidur di kamar yang sama. Kadang dia mengajakku ke Belanda dan tinggal di apartemen miliknya karena dia tidak mau tinggal di mansion keluarganya di sana. Dia belum pernah sama sekali membawaku ke mansion itu. Beberapa hari yang lalu, kami kembali ke Multi Tower di Los Angeles, tapi belakangan ini aku perhatikan dia baru pulang dini hari. Dulu kami masih sempat mengobrol, tapi sekarang kami tak punya waktu untuk itu. Dia selalu sibuk bekerja, dan ketika dia pulang, aku sudah tertidur. Selama dua tahun ini, aku jatuh cinta padanya. Meski dia tidak tampan, aku belajar mencintainya karena terkadang dia bersikap baik padaku. Seperti saat ini, aku menunggunya karena dia belum juga pulang. Sudah pukul tiga pagi, dan dia masih belum kembali. Aku hampir tidak tidur menunggunya. Aku ingin menjadi istri yang baik untuknya, meski aku merasa dia tidak menyukaiku. Ketika dia masuk ke unit apartemen kami, dia melihatku di sofa. ''Kenapa kamu belum tidur?'' tanyanya. Aku tahu dia minum alkohol. "Kenapa kamu pulang terlambat? Kamu sering pulang jam segini. Apa yang kamu lakukan?" tanyaku dengan kesal. "Aku banyak kerjaan, jadi kalau bisa, jangan tunggu aku," jawabnya tanpa semangat, sambil melepas jaket dan melemparkannya ke sofa. "Kamu yakin banyak kerjaan? Rayden, kamu bukan lagi pemuda, dan sesibuk apapun, kamu akan pulang. Aku harap kamu ingat bahwa ada istrimu disini yang menunggumu dan khawatir padamu!'' kataku padanya. "Zoey, aku sibuk. Kita semua menjalankan bisnis keluarga. Aku harap kamu mengerti bahwa suamimu bukan orang biasa!" jawabnya marah dan berbalik pergi. Dia menuju kamar mandi untuk mandi, sementara aku duduk di sofa dan menghela napas panjang. Tak lama kemudian, aku mendengar ponselnya berdering dari dalam jaket. Aku cepat-cepat mengambilnya dan melihat siapa yang menelepon. Di layar tertera nama "Sayang". Tanganku gemetar saat menjawab panggilan itu. ''Sayang, kamu sudah sampai di apartemen?'' tanya seorang wanita di ujung telepon. Bulu kudukku berdiri saat berpikir bahwa suamiku mungkin punya wanita lain. Saat aku hendak berbicara tiba-tiba Rayden merebut ponsel dari tanganku. Aku terkejut saat dia merebutnya, tapi dia memberiku tatapan penuh luka dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Halo, Sayang?" tanyanya di ujung telepon, menatapku dengan perasaan sakit. Dia masuk ke kamarnya, sementara aku terpaku, diam di tempat, tak percaya. Aku baru menyadari bahwa air mata mulai mengalir dari mataku. Dia punya keberanian untuk berselingkuh, meskipun wajahnya tak menarik. Aku masuk ke kamar dan menangis di sana. Rasanya hatiku hancur karena begitu banyak rasa sakit. Apakah dia berselingkuh karena selama dua tahun aku tak mampu memenuhi kebutuhannya sebagai pria? Aku merasa jijik pada diriku sendiri karena merasakan hal ini terhadap suamiku yang buruk rupa! Aku begitu terpukul hingga akhirnya tertidur. Aku terbangun pukul delapan pagi. Aku pergi ke kamar mandi, menggosok gigi, dan mandi. Ketika aku keluar dari kamar mandi, aku menemukannya di dapur, membuat teh. Aku tidak bisa menahan amarahku lagi, jadi aku menghadapinya. "Siapa yang meneleponmu tadi malam, Rayden? Cewekmu? Apa itu alasan kamu selalu pulang pagi?" tanyaku dengan suara serak. Dia menatapku sambil meminum tehnya, wajahnya berkerut. "Lain kali, jangan usik barang-barang pribadiku! Meskipun kamu istriku, itu bukan alasan untuk membongkar barang-barangku!" katanya dengan marah. "Kenapa kamu yang marah? Kamu yang berbuat salah, bukan aku! Kenapa kamu tega melakukan ini?" Aku tak bisa lagi menahan kemarahanku, jadi aku tidak peduli lagi dengan apa yang akan kukatakan. “Kamu ribut sekali pagi-pagi begini! Apa aku tidak punya hak untuk mencari kebahagiaan sendiri? Apa kamu pikir tidak ada yang akan tertarik padaku hanya karena aku jelek?” suaranya meninggi, dengan nada menantang. “Aku bisa memberikanmu apa yang kamu butuhkan! Itu kewajibanku sebagai istri untuk membuatmu bahagia! Kamu tidak perlu mencari wanita lain karena aku istrimu! Kamu bisa tidur denganku, tapi kamu sendiri yang tidak mau!” kataku, air mata mulai mengalir di pipiku. "Stop, Zoey! Kalau kamu tidak tahu apa yang sedang kamu bicarakan, lebih baik diam. Jangan membuatku melakukan sesuatu yang akan kamu sesali!" jawabnya, jelas-jelas menahan diri. “Rayden, aku ini istrimu! Kita sudah bersama sebagai suami istri selama dua tahun. Tapi apakah kamu pernah menganggapku sebagai istri? Apa yang kamu pikirkan tentang aku? Sesuatu yang dibayar sebagai pajangan di rumah ini? Kita sudah tiga kali ke Belanda, tapi sekalipun kamu tidak pernah membawaku ke mansionmu, apakah itu karena perempuan itu? Apa mama dan papa tahu akan hal ini?” tanyaku sambil mengusap air mata yang terus mengalir. “Aku ini suamimu untuk status, Zoey! Aku tidak suka maupun cinta denganmu, dan kamu pun tidak mencintai aku jadi berhentilah bersikap dramatis!” jawabnya dengan suara tinggi. Aku terpukul oleh kata-kata yang keluar dari mulutnya. Kenyataan bahwa dia tidak mencintaiku adalah hal yang paling menyakitkan. "Apakah aku begitu jelek sehingga kamu tidak bisa belajar mencintaiku? Rayden, aku mencintaimu. Aku mencintaimu meskipun kamu jelek! Tapi kenapa kamu tidak bisa mencintaiku?" Aku menangis, mengakui perasaanku padanya. Dia menatapku sejenak sebelum berbicara. “Bukan cinta yang kau rasakan padaku, Zoey. Aku tidak mencintaimu, dan tidak akan pernah bisa,” katanya. Dengan hati yang hancur, aku meninggalkan unit apartemen dan berlari menuju lift. Tujuanku adalah ke rooftop gedung, tempat kolam renang eksklusif milik Rayden dan keluarganya. Aku duduk di tepi kolam, menangis, merasakan betapa tidak pentingnya aku baginya. Aku menelepon bibiku untuk menanyakan apakah dia ada di rumah San Francisco. Namun, ketika aku melihat ponselku, ternyata itu adalah panggilan dari Ruby Rose. Aku menjawab teleponnya. “Apakah kamu menelepon?’’ tanyaku dengan sedih. “Joseph dan aku sekarang ada di Los Angeles. Aku dengar kamu tinggal di sini bersama suamimu?’’ tanyanya. “Ya, aku tinggal di Los Angeles. Ada urusan apa kamu disini? Apakah kamu berkencan dengan Joseph?’’ tanyaku kembali. “Aku sedang mencari pekerjaan; kamu tahu betapa sulitnya hidup sekarang,’’ jawabnya. “Di mana kamu? Aku ingin bertemu. Sudah lama kita tidak bertemu. Aku merindukanmu,’’ kataku. “Kami di Hotel & Restoran Enrico yang baru saja dibuka di sini,’’ jawabnya. Aku buru-buru turun ke lantai enam untuk mengambil dompetku dari kamar. Rayden tidak ada di ruang tamu; mungkin dia sedang di kamarnya atau di perpustakaan. Setelah mengambil dompet, aku cepat-cepat turun ke lantai dasar dan keluar dari gedung. Kemudian memanggil taksi dan menuju ke Hotel & Restoran Enrico. Setibanya di sana, aku melihat Ruby Rose. Dia dan Joseph duduk dekat dinding kaca, memandangi taman di luar. Ruby melambai padaku saat melihatku, dan aku langsung menuju ke tempat mereka. Kami berbincang sebentar sebelum memesan makanan. “Kamu semakin cantik, Zoey. Bagaimana kabarmu?’’ tanya Ruby Rose. “Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?’’ tanyaku sambil berjabat tangan dengan Joseph. Mereka seperti saudara bagiku. “Aku masih mencoba bertahan, sis. Sejak ayah berhenti bekerja, aku berhenti kuliah,’’ Ruby Rose menatapku dengan sedih. Aku merasa kasihan padanya. “Kamu mau makan apa?’’ Aku benar-benar merasa kasihan pada Ruby Rose. Dia masih memimpikan kelulusan kuliah. “Pizza Bagaimana? Aku sudah lama tidak makan pizza,’’ katanya sementara Joseph tetap diam. “Joseph, apa yang ingin kamu makan?’’ tanyaku. “Pizza saja, Zoey. Kamu yang mentraktir kami kali ini. Kalau aku dapat pekerjaan, aku yang akan mentraktir kalian berdua,’’ kata Joseph dengan malu-malu. “Jangan pikirkan itu. Kamu dulu sering mentraktirku. Sejak aku sadar, kamu selalu membawakan makanan untukku. Omong-omong, di mana Hanna?’’ tanyaku. “Bekerja di restoran di Costa Villa. Kamu tahu, teman kita itu terlalu sibuk dan tidak tahu cara istirahat. Aku kira dia akan pergi ke Belanda untuk mengunjungi ibunya,’’ jawab Ruby Rose. Hanna dan Ruby Rose jauh dari rumah Bibi Hilda. Aku teringat saat mereka baru mengenalku. “Hai, kamu baru di sini?’’ “Aku sudah lama tinggal bersama Bibi Hilda,’’ jawabku. “Kenapa baru sekarang aku melihatmu di sini?’’ tanya seorang wanita seumuranku. “Aku baru keluar dari rumah sakit. Bibiku bilang aku sakit, jadi kami tinggal di Belanda,’’ jawabku. “Oh, begitu? Aku Ruby Rose, by the way. Siapa namamu?’’ “Namaku Zoey.’’ Aku hendak berbicara ketika bibiku memanggilku. “Zoey, masuklah! Ayo makan!’’ “Maaf, aku duluan ya,’’ kataku sambil berpamitan pada Ruby Rose. Aku berada di depan rumah kami karena ingin menghirup udara segar. “Kalau kamu tidak sibuk, mampirlah ke rumah kami, ya?’’ aku hanya mengangguk dan masuk ke rumah. Setibanya di rumah bibi, makanan sudah terhidang di meja. “Makanlah yang banyak, Zoey. Mr. dan Mrs. Harris akan datang nanti. Mereka akan memberitahumu sesuatu,’’ kata Bibi Hilda dengan serius saat kami duduk di meja. Mr. dan Mrs. Harris adalah satu-satunya orang yang setia mengunjungiku di rumah sakit selama aku dirawat. Aku terbangun di rumah sakit tanpa ingatan, bahkan tidak bisa mengingat namaku. Bibiku memberitahuku bahwa pasangan Harris adalah teman dekat mama dan papa. Mereka adalah satu-satunya yang selalu datang menjengukku, dan mereka juga yang menanggung seluruh biaya rumah sakit serta tagihan obat-obatan. “Bibi, berapa lama kita tinggal di rumah ini?’’ tanyaku pada bibiku. “Selama yang kamu butuhkan, sayang. Kamu tumbuh besar di sini, dan ini adalah rumahmu,’’ jawabnya sambil menambahkan makanan di piringku. “Benarkah? Kenapa Ruby Rose tidak mengenaliku?’’ tanyaku dengan heran. “Rose hanya pernah ke sini sekali. Rumah itu jauh dari sini,’’ jawab Bibi Hilda sambil mengambil nasi dan menambahkannya ke piringnya. “Bibi, ada apa sebenarnya denganku? Kenapa aku tidak bisa mengingat masa lalu?’’ tanyaku dengan marah. “Makanlah, Zoey. Jangan banyak bertanya. Dokter bilang mungkin kamu tidak ingat karena kamu jatuh saat kehilangan kesadaran,” jawab Bibi dengan nada kesal. “Mungkin ada cara agar aku bisa mengingatnya, Bibi. Aku juga ingin mengingat kenangan tentang orangtuaku. Aku ingin mengingat wajah mereka. Tidak ada foto mereka sama sekali, bi?” tanyaku dengan marah. “Kalau ada, sudah kuberikan padamu. Makanlah makananmu supaya kamu bisa minum obat,” perintah Bibi, jelas menghindari pertanyaanku. “Pesananmu, Nyonya.” Kenangan masa lalu ku terputus saat pelayan meletakkan pesanan kami di meja. “Kamu terlalu memikirkan semuanya, sayang,” komentar Ruby sambil mengambil pizza yang untuknya. “Aku hanya teringat bagaimana aku bertemu denganmu di San Francisco,” jawabku sambil tersenyum. “Lebih baik kita makan sekarang Hmmm... aku rindu pizza ini,” katanya, sambil memakan pizzanya. Aku tersenyum tipis pada Ruby Rose. Kami mulai menikmati makanan yang dipesan, rasa lapar menggigitku dalam-dalam. Aku berharap, dengan setiap gigitan pizza, rasa kecewaku bisa sedikit demi sedikit mereda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD