bc

Miliarder Jelek Suamiku

book_age18+
detail_authorizedAUTHORIZED
355
FOLLOW
2.1K
READ
billionaire
possessive
sex
love after marriage
fated
arranged marriage
drama
twisted
bxg
virgin
like
intro-logo
Blurb

Zoey yakin bahwa cinta sejati tidak ditentukan oleh penampilan seseorang. Itulah sebabnya dia membuktikan cintanya ke suaminya, Rayden Zayn Harris, sekalipun dia kejam dan buruk rupa. Penampilan bukan masalah baginya, selama dia mencintai Rayden, dia akan selalu berada di sisinya. Namun, setelah kematian Raynier, saudara kembar Rayden, kebencian Rayden terhadap Zoey mulai tumbuh. Dia sengaja mengubah penampilannya untuk membuat hidup Zoey sengsara. Tapi bagaimana kalau orang sekitar Zoey membohongi meskipun sikap Zoey yang baik? Bisakah dia memaafkan Rayden ketika kebenaran di balik wajahnya terungkap?

chap-preview
Free preview
Episode 1
Zoey “Bibi, tolong jangan lakukan ini padaku,” isakku, memohon kepada Bibi Hilda. “Zoey, kamu akan lebih baik jika kamu menikah dengan putra Sir Anthony. Dan aku sudah membuat kesepakatan dengan Rose, istri Sir Anthony.” Bibi memohon padaku. “Tapi bi, aku tidak mau menikahi anak mereka yang jelek. Kasihani aku, aku tidak mau menghadiri pernikahanku besok dengan pria jelek itu!” Aku menangis karena apapun yang aku lakukan, keputusan bibi tidak akan berubah. Aku tahu bahwa dia telah memutuskan untuk menikahi ku dengan putra sulung keluarga Harris. Aku tumbuh di San Francisco, dibesarkan oleh bibi karena sejak kecil sudah menjadi yatim piatu. Ayah meninggal karena penyakit serius, sementara ibu meninggal karena tenggelam. Bibi Hilda adalah satu-satunya keluarga yang ku miliki. “Zoey, dengarkan aku baik-baik. Kita tidak punya uang. Daripada terus bekerja di hotel dengan gaji kecil yang tak bisa menutupi hutang kita, kenapa kamu tidak menikahi putra Tuan Anthony? Dengan begitu, hutang pengobatan ayahmu akan terbayar lunas. Tolong terima keputusanku, ya? Sekarang, pergi dan kemasi barang-barangmu karena besok supir mereka akan menjemput membawa kita ke rumah mereka,” Bibi Hilda memohon padaku sekali lagi. Bahuku terasa lemas dan aku tidak dapat mengucapkan satu patah kata lagi. Aku masuk ke kamar dan mulai mengemasi barang-barang yang akan ku bawa ke Los Angeles. Aku harus menerima kenyataan pahit bahwa aku akan menikahi putra Sulung keluarga Harris. In Tapi Tuan Harris berjanji bahwa Bibi tidak akan ditelantarkan meskipun saya telah menikah dengan putra mereka. Air mataku mengalir dengan deras setelah aku membaringkan diri di tempat tidur. Bibi Hilda masuk ke dalam kamarku dan melihat aku terbaring. Melihatku menangis, dia mendekat dan mengusap punggungku. “Zoey, ini demi kebaikanmu juga. Hidupmu akan lebih baik jika kamu menikah dengan Rayden Zayn,” ujar bibi dengan nada menghibur. “Bagaimana bisa bi? Bibi tahu rumor kalau pria jelek itu punya kelakuan yang buruk, tidak peduli berapa banyak uang yang dia punya, tidak ada yang mau menikah dengannya karena tampang dan karakternya,” protesku pada bibi. “Zoey, jangan dengarkan rumor itu. Tunanganmu tidak seburuk yang kau kira,” Bibi membela calon suamiku. Aku hanya mengangkat bahu dan mempersiapkan diri karena besok aku akan menikah. Aku belum pernah melihat wajah Rayden Zayn, tapi banyak rumor yang mengatakan bahwa dia jelek dan sombong. Dia tidak mengizinkan siapapun untuk mengambil fotonya, yah, mungkin karena tampangnya. Aku pun tidak pernah bermimpi untuk menikahi pria yang jelek. Namun apa boleh buat. Aku tidak bisa melakukan apapun selain menuruti kemauan bibi, yang sudah merawatku sejak kecil. Tepat pukul delapan pagi, aku dan bibi dijemput oleh supir dengan mobil mustang warna hitam klasik. “Mereka sudah sampai untuk menjemput kita, Nak. Bergegaslah, karena kita diharapkan untuk tiba di Los Angeles di kediaman Harris,” kata Bibi mendesakku untuk bergegas. Aku hanya membawa koper yang berisi barang dan beberapa surat penting. Ketika bibi dan aku keluar, supir keluarga Harris membukakan pintu mobil untuk kami. Bibi dan aku duduk dibelakang dan kami segera pergi menuju airport. Perjalanan kami memakan waktu kurang lebih 9 jam. Setibanya kami di Los Angeles, sudah ada mobil lain yang menunggu untuk membawa kami ke kediaman Harris. Setelah beberapa menit, mobil itu parkir di sebuah kondominium eksklusif “Multi Tower Condominium.” Aku baru tahu bahwa itu milik keluarga Harris. Dinding bangunan seluruhnya terbuat dari kaca berwarna, dan desainnya sangat mengesankan. Ketika bibi dan aku turun, dua pelayan berseragam menyambut kami. Mereka segera mengambil tas yang kami bawa. “Tuan dan Nyonya Harris menunggu kalian di lantai atas, nona-nona,” ujar seorang pelayan yang tampak setua bibi ku yang berusia 50 tahun. Tanpa mengucapkan apapun aku langsung mengikuti pelayannya. Kita menaiki elevator ke lantai 9, setelahnya langsung memasuki ruangan. Begitu aku masuk, aku terpana dengan keindahan tata letak furnitur di dalamnya. Dari pintu utama, kami disapa oleh Bu Rose, yang akan menjadi ibu mertua ku. “Aku senang kamu sudah datang! Menantu ku sangat cantik! Mari duduk,” katanya sambil tersenyum dan mencium pipi kami berdua. Kita duduk di sofa sembari disuguhi teh dan jus oleh para pelayan. Tuan Anthony datang beberapa menit kemudian. “Akhirnya kamu datang! Apakah makan siang nya sudah siap?” dia bertanay kepada istrinya. “Para pelayan sudah mempersiapkan nya, sayang,” jawab Bu Rose. “Selamat pagi, Tuan,” sapaku kepada Tuan Anthony. “Selamat pagi Zoey dan Hilda.” sapa Pak Anthony, bersalaman dengan kita. “Dimana Rayden?” Bu Rose bertanya pada suaminya. “Mungkin di kamarnya, coba panggil dia, Divina,” suruh Pak Anthony kepada salah satu pelayan. “Pak Anthony, Tuan Rayden tidak ada di kamar maupun kantor pribadinya,” ujar Divina setelah membuat telepon. “Hari apa ini?” tanya Pak Anthony, “Hari ini hari Sabtu, Pak.” jawab Divina “Kalau tidak salah, hari ini adalah hari balapan motorcross! Anakmu itu sangat keras kepala!” ujar Pak Anthony kepada istrinya. “Anakmu masih ikut balapan motorcross? Bibi bertanya pada Bu Rose. “Begitulah, Hilda. Itulah mengapa kami mempercepat pernikahannya supaya dia bisa menghentikan kebiasaan balapannya ini. Kamu tahu kalau balapan sangat berbahaya,” jawab Bu Rose kepada bibi. Pria itu benar-benar jelek, sombong dan keras kepala. Aku harap dia mengalami kecelakaan supaya pernikahan kita batal. Ya Tuhan, aku tidak tahu kenapa aku berharap akan hal-hal buruk seperti ini. Setelah beberapa saat, akhirnya makan siang disajikan. Hanya ada kami berempat di meja ini, karena putri mereka, Hannah, sedang ada di Belanda. Ketika kami sedang makan, terdengar teriakan orang dari belakang ku. “Selamat siang, semuanya!” terdengar suara bariton. “Akhirnya kamu datang juga. Ayo bergabung supaya kamu bisa bertemu dengan calon istrimu,” senyum Bu Rose pada orang di belakang ku. Dia mendekat dan mencium Bu Rose, lalu duduk di sebelahnya. Aku melihat wajahnya yang seperti terbakar sinar matahari dari dari mata kiri ke dahi sampai ke pipi kanan dan hidungnya yang mancung. Memang wajahnya jelek, tapi dia tinggi, mungkin sekitar 180 cm. Dia mengenakan V-neck putih yang pas dan membentuk tubuh berototnya. Jelas, gym merawatnya dengan baik. Bibirnya tebal seperti terbakar, dan hanya separuh dari pipinya yang mulus. Aku tidak bisa membayangkan bahwa aku akan menghabiskan sisa hidup ku dengan pria seperti ini. “Bagaimana kabarmu Bibi Hilda? Keponakanmu ini sungguh cantik,” ujarnya ke Bibi Hilda sembari melihat kearahku, matanya tertuju kepada ku dari kepala hingga d**a. Tatapannya tajam seperti api akan keluar dari kedua matanya dan membakar kulitku. ''Aku baik-baik saja. Ngomong-ngomong, dia adalah Zoey. Zoey, kenalkan ini Rayden Zayn, calon suamimu,” Bibi secara resmi memperkenalkan kami berdua. “Maafkan aku karena belum bisa memberikan pernikahan yang mewah untuk keponakan mu. Kamu mungkin sudah tahu bahwa pernikahan besok hanya akan dihadiri oleh pendeta dna tidak akan ada tamu. Aku ingin kehidupan pribadiku tetap damai dan aku tidak ingin dikerumuni oleh media. Zoey, aku harap pernikahan sederhana ini tidak menjadi masalah bagimu,” katanya kepada kami dengan lesu. Apa yang mereka katakan tentang kepribadiannya memang benar. Dia memiliki sikap yang buruk. “Tidak apa-apa, aku sendiri juga tidak ingin teman-teman ku tahu bahwa aku menikahi pria yang je–.” Ucapanku terhenti ketika bibi menyentuh kaki ku. Aku melihatnya tersenyum ke mereka, namun tatapannya marah kepada ku. “Pria yang jelek? Ya, kamu benar. Siapa juga yang mau memberitahu publik kalau calon suaminya jelek? Jangan khawatirkan hal itu karena aku tidak seperti orang lain, yang bangga memiliki istri hanya karena kekayaan,” jawabnya dengan sarkas. Aku menelan ludahku sendiri ketika kata-kata itu keluar dari mulutnya. Apa yang dia pikirkan? Seorang mata duitan? “Kalian berdua, hentikan! Rayden, tenangkan dirimu! Kamu tidak boleh berbicara seperti itu kepada istrimu!” Ayahnya memarahinya. “Ayah, apakah kamu tahu bahwa semua perempuan hanya mau uang dari ku? Dan mereka tidak bisa disalahkan kalau mereka hanya ingin uang dariku,” balas Rayden dengan lembut kepada ayahnya. “Aku tidak peduli apa yang mereka pikirkan tentangku karena mereka tidak tahu kebenarannya. Kalau saja keluargaku tidak berhutang ke keluargamu, aku tidak mau menikah denganmu! Tapi aku akan menurunkan egoku dan menikahimu sebagai bayaran atas hutang kami kepadamu,” bentakku kepada Rayden, karena aku tidak mau orang terkutuk ini berpikir kalau aku hanya mengejar uangnya. “Rayden, lebih baik kita makan sekarang, setelah selesai baru kita ajak Zoey jalan-jalan di Los Angeles,” ujar Bu Rose menghentikan percakapan sebelum mengeruh. “Kerjaanku menumpuk, Ma. Aku tidak punya waktu untuk jalan-jalan,” ujarnya kepada ibunya. “Jangan khawatirkan aku, Bu, aku juga lelah dari penerbangan tadi dan aku tidak punya cukup waktu untuk jalan-jalan dengannya setelah makan siang ini. Mungkin setelah istirahat yang cukup aku akan jalan-jalan sendiri,” ucapku dengan nada yang dingin, tidak memperdulikan tatapan amarahnya. Rayden mengerutkan alisnya ke arahku dan menatapku dengan tidak suka, sembari menggigit makanannya. Esoknya, pernikahan aku dan Rayden berlangsung pada dini hari. Aku mengenakan gaun putih sederhana. Kami menikah disalah satu ruangan di apartemen Rayden. Selain kedua orangtua Rayden, ada dua tamu yang datang yaitu Mr. Rafael and Mrs. Matilda Johnson. Satu-satu nya teman Rayden yang datang ke pernikahan kami hanyalah Enrico Thompson. Dari sisi ku, aku tidak memiliki teman yang datang, namun yang terpenting adalah memiliki Bibi Hilda disampingku. Setelah pernikahan kami di sahkan oleh pendeta/penghulu, kami semua makan di salah satu restoran terkenal di Los Angeles. Ketika kami makan, Enrico, yang baru saja balik dari luar negeri bertanya. “Kalian akan honeymoon dimana?” tanya Enrico kepada kami berdua “Honeymoon hanya akan terjadi jika kedua belah pihak saling mencintai,” balas suamiku yang tidak rupawan. “Ow, ohh! Honeymoon bukan hal yang menarik bagimu ya. Aku ingin bulan madu di Las Vegas setelah menikah nanti,” balas Enrico “Rayden, kamu bisa ambil hari cuti supaya kamu dan Zoey bisa berbulan madu kemanapun kalian mau pergi,” ucap ayah Rayden. “Ayah, kita sudah membahas hal ini. Aku setuju untuk menikahi dia tapi aku harap Ayah tidak memerintah apapun yang akan aku lakukan,” ucap Rayden dengan nada dingin kepada Ayahnya. Ayahnya tidak mengatakan sepatah kata pun dan terus melanjutkan makannya. Sejak kemarin malam, aku tidak bisa tidur karena memikirkan nasibku di tangan pria jelek ini. Kalau saja aku punya pilihan, aku lebih memilih untuk menjadi wanita tua daripada harus menikahinya. Namun, tidak ada yang bisa kuperbuat karena aku sudah menikah dengan sampah ini. Aku bertanya-tanya kenapa dia tidak membiarkan doktor memperbaiki wajahnya kalau memang dia sangat kaya. Kalau dipikir-pikir, meskipun wajahnya bisa diperbaiki, tidak ada yang bisa memperbaiki karakternya. Setelah selesai makan, dia berdiri dari kursinya. “Maaf semuanya, aku harus pergi sekarang karena ada meeting yang penting,” ujar Rayden pamit tanpa melihat sedikitpun ke arahku, “Nak, tidak bisakah kamu membatalkan pertemuan itu? Kamu dan Zoey baru saja menikah,” saran ibunya sambil menatap ayah dan ibu baptis/asuh/angkat kami, Tuan dan Nyonya Johnson. “Itu benar Rayden, kamu boleh membatalkan meeting mu dan ajak istrimu jalan-jalan supaya kalian bisa mengenal satu sama lain,” jawab ibu baptis/asuh/angkat kami, Ny. Johnson. “Masih ada balapan yang harus aku ikuti, Bi. Ini yang terakhir kali, jadi aku tidak bisa menundanya. Ayo kita pergi,” dia menjawab sambil mengajak Enrico untuk berangkat. Tuan dan Nyonya Harris hanya menatap mereka pergi. Kemudian, mereka menatap ku dan meminta maaf atas sikap keras kepala putra sulung mereka. Setelah kami makan, Bibi diantar pulang ke San Fransisco oleh Peter. Aku masih ingin pergi dengan Bibi tapi dia tidak memperbolehkanku karena aku sudah menikah. Aku kecewa karena aku tidak memiliki kesempatan untuk berbicara dan pamitan ke teman ku, Ruby Rose dan Halley sebelum aku meninggalkan San Francisco. Mereka bahkan tidak tahu bahwa aku akan menikah. Aku memutuskan untuk menelepon mereka ketika ada waktu. Aku tahu Halley sibuk menjaga toko bibinya, dan Ruby Rose sibuk dengan kuliahnya …

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
198.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Tunangan Pengganti CEO

read
1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

TAKDIR KEDUA

read
34.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook