Episode 2

1671 Words
ZOEY Setelah makan malam, aku dan Bu Rose kembali ke rumah, sementara Pak Anthony pergi bersama temannya, Pak Rafael Johnson. Ketika tiba di kediaman Harris, aku terheran kenapa kami tinggal di lantai 6, bukan di lantai 9. Hanya ada 3 pintu yang aku lihat di lantai 6. Bu Rose dan aku memasuki pintu utama. Ruangannya cukup besar, namun kenapa hanya ada 3 ruangan disini? Aku mengelilingi ruangannya, terpana dengan keindahan nya, yang jauh lebih indah daripada lantai 9. Terdapat sofa di dalam elevator. Zoey, ini adalah unit apartemen milik suamimu, jadi kamu akan tinggal disini juga. Terdapat dua ruangan disini, dan yang itu milikmu dan Rayden,” Bu Rose menjelaskan kepadaku. Aku hanya mengangguk. Kemudian aku melihat aquarium besar dengan ikan besar di dalamnya. Aku terkagum dengan desain unit Rayden karena desain interiornya yang bersih dan indah. Dan itu diselaraskan dengan warna putih dan abu-abu pada perabotannya. Unit apartemen Rayden berukuran besar dan memiliki smart TV besar yang menempel di dinding. “Kemarin aku meminta Divina membawa barang-barangmu ke dalam. Divina juga akan tinggal di sini bersamamu, jadi kamu punya orang lain yang menemanimu selain Rayden,” kata Bu Rose sambil mengajakku melihat-lihat ruangan. Di ruang makan terdapat meja dan enam kursi. Aku semakin kagum dengan desain interiornya ketika aku melihat kamar mandi berlapis kaca yang juga berfungsi sebagai cermin. Kamar mandi Rayden sama besarnya seperti rumah ku dan Bibi di San Francisco. “Bu Rose, apakah aku boleh bekerja meskipun sudah menikah?” tanya ku ragu kepada mertuaku. “Zoey, keputusan itu tidak ada ditanganku, melainkan suamimu. Tapi kau rasa dia tidak akan membiarkan kamu bekerja untuk orang lain. Kecuali dia memberikanmu pekerjaan di kantor. Dan satu lagi, jangan panggil aku bu, panggil saja aku mama. Kamu adalah istri anak kami, kamu sudah menjadi bagian dari kami sekarang, jadi kamu bisa memanggilku mama dan papa,” ujar Bu Rose. “Baiklah ma,” ucapku malu kepadanya. Dia tersenyum manis kepadaku dan pamitan. “Zoey, bersabarlah dengan suamimu. Tunggu saja Divina, dia akan menemanimu selama suamimu pergi. Rapikan saja barang-barangmu di kamar.” Aku hanya mengangguk. Setelah dia pergi, aku memasuki ruangan kami. Ketika aku masuk, mataku langsung tertuju pada tempat tidur king-size dengan sprei abu-abu. Di dalam juga terdapat ruangan lain yang berisi lemari dengan berbagai merk parfume berjejer di dalamnya. Ada juga lemari pakaian yang berisi dasi dan tuxedo milik Rayden. Kaos putih dan hitamnya terpisah. Aku perhatikan pakaiannya tidak memiliki warna lain selain hitam dan putih. Ketika aku membuka lemari lain, terdapat pakaian wanita. Pakaian yang aku bawa dari tas travel ku juga ada di sana. Pakaian lainnya masih baru dan berbau feminin dan di bawahnya ada bra dan pakaian dalam. Ada juga dompet dan tas bermerk di etalase kaca. Kamar ini juga memiliki kamar mandi sendiri yang dindingnya terbuat dari kaca. Selain itu ada TV, sofa sendiri dan etalase koleksi mainan. Kebanyakan koleksinya adalah mainan sepeda motor dengan desain yang berbeda. Ketika seseorang membunyikan bel pintu, aku membuka dan melihat Divina. “Selamat siang, Nona Zoey,” sapa Divina. "Selamat sore, Divina. Silakan masuk," jawabku, dan Divina pun masuk ke dalam. “Apakah Nona ingin makan camilan?” tanyanya “Aku masih kenyang, Divina. Bolehkah aku istirahat dulu?” tanyaku. Dia mengangguk dan menjawab “Baiklah nona, silahkan istirahat, aku akan membereskan beberapa hal disini.” Aku tidak bisa tidur kemarin malam karena khawatir akan hari ini, dan sekarang tubuhku lemas karena kurang tidur. Aku masuk ke kamar kami dan merebahkan diri di kasurnya yang empuk. Karena sangat lelah dan mengantuk, aku akhirnya tertidur, sampai lupa menelpon temanku Ruby Rose. Aku tersentak bangun ketika ada yang melempar bantal ke mukaku. “Siapa yang mengijinkan kamu untuk tidur di kasur ku?” suara bariton itu lagi. Aku perlahan membuka mataku dan melihat wajah suamiku yang jelek, sehingga aku terkejut dan berteriak. "Monster! Monster!" Aku tiba-tiba bangkit dan memegang dadaku ketika sadar bahwa monster ini adalah suamiku. Dia memandangku dengan sinis. "Turun dari tempat tidurku!" perintahnya dengan kasar. Aku turun dan merapikan rambutku yang jatuh di bahu. "Maaf, aku tertidur," kataku. Alih-alih memperhatikanku, dia memanggil Divina. "Divina!" teriaknya Divina segera masuk ke kamar suamiku sementara aku tetap berdiri di tepi tempat tidur. "Ada apa, Tuan?" tanyanya dengan wajah pucat karena monster jelek ini. “Ganti sprei dan sarung bantal ku!” katanya marah sambil melihat ke arahku. “Siapa yang menyuruhmu untuk tidur di kamar ku? Kamu pikir kamu menang lotre karena menikah denganku? Aku tahu kamu hanya ingin uang dari keluarga ini, tapi kamu tidak bisa membodohiku! Tidur di kamar lain! Bawa semua barangmu ke sana!” teriaknya padaku di depan pembantu. Tak pernah sekalipun aku merasa seperti menang dalam hidup karena menikah denganmu! Malahan aku merasa seperti wanita paling malang yang menikahi monster sepertimu. Sejelek apa pun wajahmu, perilakumu lebih jelek! Aku setuju menikahimu untuk membayar utang keluargaku pada keluargamu, tapi kamu tidak punya hak untuk menghina aku. Yang kamu punya hanyalah uang. Apa kamu pikir ada yang mau menikahi seseorang yang jelek dan jahat sepertimu kalau kamu tidak punya uang? Aku menelan harga diriku dan menikah denganmu karena aku yang membayar utang keluargaku pada keluargamu! Jadi, kamu tidak berhak menghina aku!” Setelah aku memberitahunya, aku berbalik dan pergi ke dapur. Saking marahnya aku sampai menangis. Masihkah dia perlu membuatku merasa seolah aku hanya menginginkan uang darinya? Rumor itu memang benar, dia jelek, dan perilakunya bahkan lebih buruk. Kenapa aku begitu malang dalam hidup ini? Seandainya ada cara untuk mencegah pernikahan ini, aku pasti tidak akan setuju menikahi monster ini. Aku meninggalkan unit apartemen sambil membawa ponsel dan pergi ke luar. Aku duduk di sofa tunggal yang menawarkan pemandangan Kota Los Angeles dari sana. Aku teringat untuk menelepon Ruby Rose. Dia menjawabnya hanya dalam tiga dering. "Kamu di mana? Aku ke rumahmu, tapi tidak ada siapa-siapa," katanya di ujung telepon. "Aku di Los Angeles. Aku tidak sempat pamit padamu karena kami berangkat pagi-pagi," aku menjelaskan padanya. "Kenapa kamu ke Los Angeles? Apa yang kamu lakukan di sana?" dia bertanya terkejut. "Aku sudah menikah, Ruby. Aku menikah dengan Tuan Harris, miliarder jelek dari Maharlika," jawabku. “Miliarder jelek yang tidak mau muncul di depan kamera itu? Anak dari Pak Anthony Harris dan Bu Rose? Pemilik Multi Tower Condominium dan Pengusaha Konstruksi serta Pemilik Real Estate di Los Angeles dan Holand City?" Ruby bertanya dengan terkejut. "Iya, Ruby. Itu dia. Semuanya terjadi begitu tiba-tiba. Aku harus menikah dengannya karena kamu tahu bahwa kita berhutang pada keluarganya. Rasanya aku ingin menggantung diri saja,” aku tak bisa berhenti menangis sambil menceritakan semua ini pada Ruby. "Bagaimana dengan impianmu untuk menikah dengan pria tinggi, manis, dan tampan meskipun dia tidak kaya?" Aku menahan napas. "Apa ada yang bisa kulakukan, Ruby? Ini adalah takdirku, jadi aku hanya harus menerima nasib yang diberikan padaku." "Yah, selamat ya. Setidaknya kamu bisa merasakan surga," ujarnya dengan nada menggoda. Aku terkejut dengan ucapannya. "Surga apanya Neraka, Ruby! Aku tidak akan takluk begitu saja kepada pria itu!” “Apa maksudmu, Zoey? Tutup saja matamu saat bulan madu,” dia tertawa menggodaku. "Sial! Sudahlah, tutup saja teleponnya. Sampai jumpa, mungkin kamu sibuk melakukan sesuatu," aku menanggapi dengan kasar. "Oke, jaga dirimu. Semoga beruntung dengan bulan madumu bersama suami jelekmu, hahahaha!" Ruby berkata, lalu memutus telepon. Aku hanya bisa menghela napas melihat tingkah gila temanku. Tepat ketika aku meletakkan ponselku, Divina keluar. "Nona, ayo masuk, Tuan Rayden sedang bersikap keras kepala. Aku akan kembali ke lantai 9 karena Tuan tidak mau menerima layanan saya.” “Duluan saja, Divina. Aku akan masuk,” jawabku, lalu aku masuk ke dalam unit saat Divina menuju lift yang akan membawanya ke lantai 9. Saat aku masuk ke unit, aku langsung dihadapkan pada suamiku yang seperti monster, sedang membawa barang-barangku dari kamarnya. Dia berdiri di depanku dan melemparkan pakaianku dengan kasar, seolah melempar batu. Barang-barangku jatuh di kakiku. “Pindahkan sampah ini ke kamar sana. Aku tidak mau ada yang terlihat seperti uang di sekelilingku!” teriaknya marah, membuat tubuhku bergetar. Tanganku bergerak tak terkendali, dan sebelum aku bisa menghentikannya, aku menampar pipi kanannya dengan keras. Wajahnya berputar, dan dia segera menatapku lagi. Ekspresi terkejut di wajahnya menunjukkan betapa dia tidak percaya dengan apa yang baru saja kulakukan. “Kalau aku terlihat seperti uang di matamu, setidaknya itu hanya soal penampilan. Lalu bagaimana denganmu? Kau iblis jelek! Kalau aku bisa melakukan apa saja untuk melunasi hutang keluargaku padamu, aku akan melakukannya hanya untuk bebas dari pernikahan yang tidak berguna ini!” teriakku padanya sambil membiarkan air mataku jatuh. "Kamu mau melunasi hutangmu? Jadilah pembantu di rumah ini. Jangan harap aku menganggapmu sebagai istriku!” "Mungkin kamu menganggap pernikahan ini hanya lelucon bagimu, Rayden, tapi tidak bagiku! Tidak peduli apa yang kamu lakukan, di mata Tuhan dan di mata orang-orang di sekitar kita, kita tetap menikah! Jika kamu tidak menganggapku sebagai istrimu, silakan saja, karena jika aku membalas kejahatanmu, aku akan seperti dirimu, yang tidak punya sopan santun!” Aku mengambil pakaianku dan masuk ke dalam kamar, meninggalkannya tanpa kata-kata. Kamar itu besar dan juga memiliki lemari. Aku ingin menunjukkan kepadanya bahwa meskipun dia jelek, aku tetap bisa mencintainya asalkan dia bersikap baik. Sikapnya lebih penting dibanding tampangnya. Aku ingin membuktikan padanya bahwa tidak semua wanita hanya mengincar uangnya. Memang benar, uang adalah alasan aku setuju untuk menikah dengannya karena keinginan orang tuanya dan bibi ku. Tapi aku bisa saja mencintainya jika dia tidak sejahat seperti sekarang. Bibi Hilda dan Mama Rose telah berteman baik sejak mereka di SMA. Sejak aku kecil, Tuan dan Nyonya Harris selalu datang ke rumah karena mereka memiliki bisnis real estate di San Francisco. Saat ayahku masih hidup, mereka selalu bersamanya. Hidupku baik-baik saja saat itu bahkan aku bisa kuliah. Tapi, waktu itu aku hanya bisa menyelesaikan semester pertama di tahun pertama kuliah karena kami terjebak dalam hutang. Mama Rose dan Papa Anthony sangat menyukaiku. Jadi, ketika Ayah dan Bibi terlilit hutang, mereka membuat perjanjian tidak akan menagih hutang asalkan aku menikahi putra mereka. Mereka memohon padaku selama beberapa bulan sebelum pada akhirnya aku luluh dan setuju untuk menikah. Jadi, inilah aku akhirnya menikah dengan suami jelekku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD