Episode 3

1728 Words
ZOEY “Apa lagi yang kamu inginkan, Rayden? Kenapa kamu memecat Divina? Kenapa kamu tidak membiarkan Zoey tidur di kamarmu? Kalian sudah menikah, jadi kamu harus bertanggung jawab sebagai suami!” terdengar suara Mama Rose di luar kamarku, memarahi anaknya. “Ma, aku setuju untuk menikahi wanita pilihanmu meskipun aku tidak menginginkannya! Aku harap Hannah tidak dipaksa menikah dengan orang yang tidak dia cintai, seperti yang kalian lakukan padaku, atau seperti yang terjadi pada Mama dan Papa, yang dipaksa menikah oleh orang tua kalian!” Rayden menjawab ibunya dengan nada menohok. “Kalian akan saling mencintai, seperti mama dan papa yang belajar mencintai satu sama lain. Kami sebagai orang tua tahu apa dan siapa yang terbaik untukmu Rayden! Zoey bukan wanita sembarangan yang bisa kamu temukan di jalan!” Mama Rose membalas dengan tegas. “Kenapa? Apa kalian benar-benar tahu wanita seperti apa yang kalian paksa menikah denganku? Selain Mama dan Hannah, semua wanita sama saja! Mereka hanya mengejar uang. Kalau aku tidak punya uang, apa ada yang mau menikah denganku dengan wajah seperti ini?" Rayden menjawab sinis. Aku hanya mendengarkan perdebatan mereka tanpa niat untuk ikut campur. “Dia meninggalkanmu, pergi ke London, dan tidak pernah kembali padamu”" seru Mama. “Aku tahu dia punya alasan kenapa dia melakukan itu padaku, Ma," jawab Rayden. "Nak, jangan berharap Shiela akan kembali padamu. Dia hanya memanfaatkanmu untuk mencapai mimpinya. Terimalah kenyataan dan lanjutkan hidupmu.” "Aku sudah lama move on, Ma. Mama pikir dengan menikahi Zoey itu baik untukku? Kalau bukan karena saudara kembarku, aku tidak akan menikahi Zoey. Jangan buta, Ma, aku tahu dia hanya pura-pura. Mama berharap aku akan mencintainya? Kalaupun iya, dia hanya mencintai uang kita. Aku tidak akan membiarkan wanita membodohiku lagi, jadi jangan harap aku akan mencintai gadis itu!” kata Rayden dengan anda marah kepada Mama. Dia cepat sekali menilai karakterku. Bagaimana aku bisa mencintainya jika dia bersikap seperti itu? Apa yang dia tahu tentangku dan menilaiku seperti itu? "Nak, bukalah hatimu untuk Zoey. Zoey berbeda, dia tidak seperti yang kamu pikirkan. Kenapa kamu tidak mencoba mengenalnya lebih baik sebelum kamu menilai Zoey?" bela Mama Rose. "Ma, kalau Mama ingin aku dan gadis itu bertahan, tolong jangan ganggu aku lagi. Kalau kamu ikut campur, aku akan langsung menceraikannya!” ancam Rayden kepada ibunya. "Baiklah, tapi kuharap kamu memberi istrimu seorang asisten, supaya dia bisa dibantu mengurus rumah ini," mohon mama dengan nada memelas. "Ma, aku tidak butuh asisten, oke? Lagi pula, aku juga berpindah-pindah. Kalau proyek perumahan ini selesai, aku akan pindah ke Belanda supaya bisa fokus pada bisnis kita di sana.” "Oke, asal kamu tidak bertengkar dengan Zoey. Aku juga berharap kamu bisa belajar mencintainya seiring berjalannya waktu, sehingga kalian bisa segera memiliki anak, agar orangtua bisa memiliki cucu," kata ibunya. “Aku belum siap jadi ayah, Ma. Dan bahkan jika aku menjadi ayah, itu bukan dari gadis itu!” jawab Rayden dengan tegas. Dia benar-benar berpikir aku ingin punya anak dengannya. Jika anakku nanti akan terlihat seperti monyet karena mewarisi tampang jeleknya, hidup anakku akan sangat sengsara. “Aku tidak paham lagi denganmu, kamu sangat keras kepala. Cobalah berhenti dengan balapan motor. Kamu membuat Mama sangat khawatir,” ucap mama Rose. “Jangan khawatir ma. Aku akan berhenti balapan motor selama mama lepas tangan denganku dan kehidupan cinta Hannah,” ujar Rayden. “Terserah kamu, lakukan apapun yang kamu mau. Mama menyerah. Papa akan balik dari Belanda besok.” Setelah beberapa saat, aku mendengar pintu ditutup dari luar. Mama pasti sudah pergi. Aku mulai merasa lapar dan ngantuk, tapi aku tidak mau meninggalkan ruangan hanya untuk melihat pria jelek itu. “Keluarlah dan masak sesuatu untuk makan! Aku mau pergi mungkin akan balik besok pagi. Jangan lupa sebelum kamu tidur bersihkan seluruh ruangan,” teriaknya dari luar kamar. Aku tidak mengatakan apapun, tapi aku merasa sudah sendiri di unit apartemen. Rasa lapar ku sudah hilang, jadi aku beranjak dari kasur menuju ke dapur. Aku hanya minum air putih dan kembali ke kamar untuk membereskan pakaian yang Rayden buang dari lemari ku. Aku melipat pakaian ku dan mengembalikannya ke lemari pakaian. Kemudian aku mandi, mengeringkan rambut lalu tidur lebih awal. Aku tidak makan malam karena aku sudah kehilangan nafsu makan, aku juga tidak menggubris perkataan nya tadi. Namun, dini hari aku terbangun karena lapar sehingga aku ke dapur. Saat membuka kulkas untuk melihat isinya, aku melihat telur, lalu merebusnya merebusnya untuk mengganjal perut. Setelah makan aku duduk di ruang tamu untuk menonton TV. Tidak lama kemudian, pintu terbuka, dan ternyata itu Rayden. Dia melihatku dengan tatapan tidak suka sambil membanting pintu. “Kenapa kamu masih bangun?” dia bertanya dalam keadaan mabuk. “Aku baru saja bangun, kamu kemana saja? Sudah makan?” tanyaku Dia duduk dan menyandarkan punggungnya di sofa. “Aku baru saja datang dari pesta ulang tahun temanku di Belanda. Aku langsung naik pesawat untuk cepat pulang," jawabnya terlihat sangat lelah. Tidak heran jika dia baru saja dari Belanda dan langsung tiba di Los Angeles karena dia punya pesawat pribadi. Bau alkohol menyengat dari tubuhnya, dia pasti mabuk. Seandainya saja dia jatuh dari pesawat, mungkin otaknya bisa kembali normal. Tak lama kemudian, dia berdiri dan berlari ke kamar mandi. Aku mendengarnya muntah, sehingga aku bangkit dari duduk dan mengambil air hangat dari dapur, lalu menuangkannya ke dalam gelas. Aku pergi ke kamar mandi dan menyerahkan gelas itu padanya. “Minum ini untuk menghangatkan perutmu,” kataku padanya. Dia menuruti dan meminumnya hingga habis. "Terima kasih," ucapnya sambil mengembalikan gelas kepadaku. Dia berbalik, dan aku melihat bahwa dia tidak membersihkan muntahnya di toilet, jadi aku membilasnya. Aku kembali ke ruang tamu, terlihat dia sudah terbaring di sofa panjang. Aku mendekatinya dan bertanya, "Mau sup?" “Ada sup? Mie instan pun tidak apa-apa,” jawabnya. "Tunggu sebentar, aku akan memasak untukmu," jawabku lalu pergi ke dapur. Aku memeriksa isi kulkas dan menemukan mie instan. Untungnya ada daging dan sayuran di kulkas, jadi aku mengambil daging dan sedikit kubis, lalu memotongnya. Aku membuat sup untuk suamiku yang mabuk untuk dia merasa enakan. Aku teringat apa yang diajarkan Bibi Esmeralda, saat Ayah mabuk, aku harus memasak sup ini untuknya. Bibi mengajariku cara memasak sup untuk mengatasi mabuk. Setelah selesai memasak, aku menuangkan sup ke dalam mangkuk dan membawanya ke ruang tamu untuk Rayden. Ketika aku tiba di tempatnya, aku melihat dia sudah tertidur. Aku juga melihat bajunya dan tangannya berlumuran muntah. Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihatnya. Saat aku melihatnya, tiba-tiba aku teringat percakapannya dengan ibunya tentang mantan pacarnya. Mungkin dia sangat mencintai wanita itu namun wanita itu mengkhianatinya, makanya dia berpikir aku sama seperti mantan pacarnya. Aku meninggalkannya sebentar untuk mengambil handuk dan air hangat. Aku mencelupkan handuk ke dalam baskom kecil dan mulai membersihkannya. Aku mengelap tangannya, dan saat hendak mengelap wajahnya agar segar, dia memegang tanganku dan tiba-tiba membuka matanya. "Jangan pernah sentuh wajahku!" katanya padaku sambil melepaskan tanganku yang memegang handuk basah. Dia bangkit dari sofa dan duduk. "Lain kali, jangan coba-coba sentuh wajahku. Mengerti?" katanya dengan marah. "Aku hanya ingin membersihkanmu agar kamu merasa segar. Makanlah sup ini untuk menghangatkan perutmu," kataku tanpa menggubris kemarahannya. Aku memindahkan meja di depannya agar dia bisa makan sup. Ketika aku berada di depannya, aku menangkap tatapannya yang menatapku. Dia langsung mengalihkan pandangannya ketika mata kami bertemu. “Bisa saja sudah kamu racuni,” katanya sambil mengangkat sendok. “Kalau aku mau meracunimu, lebih baik aku meminta penyihir untuk mengutuk mu supaya tidak ketahuan. Aku sudah susah payah memasak untukmu, tapi kamu masih meragukanku!” kataku sambil mengerutkan dahi. “Hanya memastikan, karena aku tahu kamu membenciku.” katanya sambil mencicipi supnya. Dia menutup matanya ketika mencicipi rasanya, dan aku tersenyum tipis. Untunglah dia sadar kalau aku membencinya. "Aku hanya marah karena sikapmu, Rayden Zayn. Bukan keseluruhan kepribadianmu." "Wow! Ini enak. Apa namanya supnya? Mie dengan kubis dan daging sapi?” tanyanya. "Iya. Habiskan itu supaya aku bisa kembali a tidur,” kataku padanya, ketika aku hendak berbalik pergi, dia menghentikanku. “Tidur nanti saja. Tunggu sampai aku selesai supaya kamu bisa mencucinya, termasuk pakaian ku sekarang," perintahnya. Aku terperangah mendengar ucapannya. Dia cepat-cepat menghabiskan supnya dan meletakkan mangkuknya kembali di meja. Tanpa rasa bersalah, dia bersandar di sofa dan menatapku. “ Bersihkan semuanya, aku tidak mau ada yang berserakan di dapurku,” perintahnya kepadaku layaknya seorang b***k. Rasanya ingin sekali menendang wajah jeleknya supaya jadi lebih jelek sebagai balasan perlakuannya padaku. “Ya, Tuan!” jawabku dengan nada mengejek sambil membawa mangkuk ke dapur. Saat aku kembali, dia berbicara lagi, “Setelah kamu selesai bersih-bersih, kembali ke sini.” Tanpa menjawab apa pun aku angsung kembali ke dapur. Bodohnya dan tanpa sadar, aku mencuci mangkuk dan bahkan handuk yang aku gunakan untuknya. Saat aku kembali ke ruang tamu, dia sedang duduk sambil memijat punggungnya. “Kamu bisa memijat?” tanyanya “Ya, bisa sedikit.” jawabku “Bisakah kamu pijat punggungku, terutama pundakku, sakit sekali sejak kemarin,” ujarnya kepadaku. “Katamu aku harus mencuci pakaianmu?” tanyaku, namun dia malah menaikkan alisnya. “Ssssh.. aku hanya bercanda, tolong pijat punggungku.,” perintahnya sambil berbaring di sofa, dan aku mulai memijat punggungnya. Aku mulai dari bahunya, memberikan pijatan kering karena dia masih mengenakan pakaian. Beberapa menit kemudian, aku menyadari bahwa dia sudah tertidur. Aku membiarkannya tidur di sofa dan kembali ke kamarku. Aku tidak peduli dia tidur dengan bau muntahnya sendiri, dia pantas mendapatkannya. Saat berbaring di tempat tidur, kepalaku mulai memikirkan bagaimana hidupku sekarang setelah menikah. Rasanya aku adalah gadis paling malang di dunia. Hingga hari ini, aku masih sulit percaya bahwa suamiku tidak hanya orang terkaya di negara ini, tapi juga yang paling jelek. Bagaimana hidupku bisa berubah kalau aku tinggal dengan suamiku yang buruk rupa. Aku tidak bodoh untuk memahami apa yang dia rasakan karena tampangnya yang buruk rupa hingga pacarnya meninggalkannya. Jauh dilubuk hatiku, aku mau membuktikan bahwa meskipun ia buruk rupa, dia tetap dicintai dan uang bukanlah alasan untuk mencintai seseorang. Aku juga paham bahwa mencintainya tidak akan rumit kalau dia bersikap baik padaku. Aku tidak punya pilihan selain mencintainya karena dia sudah menjadi suamiku. Aku juga ingin membuktikan padanya bahwa meskipun dia buruk rupa, aku bisa belajar mencintainya dan bangga padanya. Cinta sejati tidak bergantung pada apa yang seseorang lakukan, apalagi kalau mereka sudah menjadi bagian dari hidupmu. Aku ingin dia tahu bahwa tidak semua orang mendekatinya karena uang. Aku adalah Zoey Anderson, 29 tahun, dan suamiku adalah Mr. Harris, Miliarder Jelek.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD