ZOEY
Keesokan harinya aku bangun pagi dan langsung mandi. Kemudian aku menyiapkan sarapan untukku dan Rayden. Sudah tidak ada Rayden di ruang tamu, mungkin dia masuk ke kamarnya saat subuh tadi.
Aku menuju dapur dan mencari bahan makanan untuk dimasak. Karena ada hot dog di kulkas, aku aku mengambil enam buah dan memanggangnya. Aku juga memanaskan kaldu sup dari kemarin agar Rayden bisa menikmatinya lagi saat bangun nanti. Mungkin dia masih hangover dari semalam, jadi akan lebih baik jika ada sup yang siap untuknya.
Aku juga menanak nasi di rice cooker untuk jaga jaga kalau dia mau makan nasi.
Rayden datang ke dapur tepat saat semuanya siap disajikan
“Apa yang kamu masak?” tanyanya dengan nada serius. Dia baru saja mandi makanya aku bisa mencium bau badannya.
“Ada hot dog dan telur, aku juga memanaskan sup kemarin malam,” jawabku.
“Kamu bisa menghabiskan semua makanan itu?” tanyanya serius, menunjuk hot dog di meja.
“Kita berdua akan makan hot dog dan telurnya. Kamu masih hangover dari kemarin? Masih ada sisa sup kaldu semalam kalau kamu masih mau. Akan aku ambilkan untukmu,” tawarku.
“Aku hanya makan sandwich di pagi hari, jadi makan saja semua yang sudah kamu masak,” jawabnya dengan kesal sambil mengambil roti dan merebus telur.
Dia mulai membuat teh dan sandwich nya sendiri.
“Maaf, apa kamu mau makan nasi?” tawarku lagi.
“Sudah kubilang aku tidak makan nasi di pagi hari, jadi makanlah semua yang sudah kamu siapkan agar kamu tidak seperti tulang berjalan. Kamu terlalu kurus, seperti batang kayu. Makanlah supaya kamu sedikit berisi,” katanya, semakin menghina.
“Aku tidak bisa menghabiskan semuanya sendiri, kenapa kamu tidak makan setengahnya?”
“Habiskan semuanya sendiri, Zoey. Jangan buang-buang uangmu untuk makanan! Banyak orang diluar sana yang kelaparan. Kamu sudah memasak, maka kamu harus menghabiskannya,” katanya sambil duduk di meja makan dan minum tehnya.
“Aku kira kamu mau makan. Kalau kamu tidak mau makan sekarang aku akan simpan untuk nanti,” kataku, lalu mengambil nasi untuk ku makan.
“Terserah.” katanya sambil mengangkat bahu dan menggigit sandwichnya.
Saat aku sedang makan, dia memperhatikanku seakan mengejekku.
“Apakah kamu pernah bahagia dalam hidupmu, Zoey? Setelah kamu bergantung pada seseorang dan selingkuh dari nya?” tanyanya dengan nada seolah-olah memikirkan hal itu.
“Dibodohi dan digantung? Aku rasa kamu mengejekku, Rayden Zayn. Bukan kebiasaanku untuk berselingkuh dari pasanganku, jadi aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan,” jawabku, merasa bingung.
“Oh ya? Kamu bisa tidur dengan tenang setelah kamu selingkuh dari seseorang huh? Kamu bahkan bisa makan dengan baik tanpa harus memikirkan orang itu!” katanya dengan tegas.
“Omong kosong apa ini, Rayden? Aku tidak selingkuh dengan siapapun. Kalau kamu mau mengatakan sesuatu katakan saja dengan jelas, jangan menuduhku dengan hal yang tidak-tidak!” jawabku dengan marah.
“Kalau kamu tidak merasa bersalah, jangan marah. Bersyukurlah aku sudah berjanji pada orang yang kamu khianati dan lukai! Kalau tidak, mungkin kamu sudah lama terkubur!” katanya sambil berdiri dengan makanannya.
Aku hanya melihatnya pergi keluar ruangan, sambil bertanya-tanya tentang amarahnya barusan. Aku sama sekali tidak tahu siapa yang dia bicarakan, Mungkin pria jelek ini benar-benar gila. Entahlah, aku memutuskan untuk makan daripada memikirkan ucapannya.
Setelah selesai makan, aku membersihkan sisa makanan. Saat sedang mencuci di wastafel, Rayden menaruh cangkir tehnya di sebelahku.
“Cepat selesaikan, kita akan pergi ke suatu tempat!” perintahnya.
“Mau pergi kemana?” tanyaku.
“Tidak usah banyak tanya, Zoey! Cepatlah, aku tidak mau menunggu terlalu lama!”
Setelah berkata begitu, dia langsung berbalik. Aku segera menyelesaikan cucian piring dan meninggalkan dapur. Aku sudah mengenakan legging dan blouse, jadi aku pikir tidak masalah pergi dengan pakaian ini. Aku bergegas memakai jaket saat menyusulnya di ruang tamu. Kutemui dia juga memakai jaket. “Ayo!” panggilnya, dan kami keluar dari unit apartemennya.
“Kita mau pergi kemana, Rayden?” tanyaku lagi.
“Aku hanya ingin menunjukkan beberapa tempat. Kamu keberatan?” jawabnya dengan nada mengejek.
Aku hanya tersenyum kecut dan mengerutkan dahi. Kami masuk ke dalam elevator dan turun ke lantai dasar. Aku hanya mengikuti di belakangnya. Aku tidak bisa mengabaikan fakta tubuh Rayden sebenarnya sangat bagus dari belakang. Asal jangan lihat wajahnya yang jelek, karena kamu mungkin malah menciut. Mungkin wajahnya terbakar dalam sebuah kecelakaan, makanya dia memiliki bekas luka mengerikan itu.
Saat kami tiba di area parkir, dia naik ke motornya.
“Pakai helm ini dan naik ke belakang,” ucapnya sambil memberikan helm kepadaku.
“Aku tidak mau naik motor,” aku menolak karena takut.
“Naik saja, Zoey. Jangan takut, aku ahli mengendarai motor,” katanya meyakinkanku. Meskipun takut, aku ingin menguji diriku sendiri.
Aku naik dan mengenakan helm yang dia beri.
“Peluk aku, kalau tidak nanti kamu bisa jatuh,” katanya.
Aku memeluknya, dan dia mulai menjalankan motornya. Aku memeluk perutnya erat-erat karena dia mengendarai motor dengan sangat cepat. Rasanya seperti kami melayang dengan kecepatan super. Aku hanya menutup mata dan menunggu kami jatuh atau apa pun yang mungkin bisa terjadi. Ada perasaan yang mencengkeram hatiku yang tidak bisa aku ekspresikan karena kecepatan motor Rayden. Aku merasakan ketakutan dan kesedihan yang tidak sepenuhnya kumengerti.
“Rayden! Pelan-pelan!” teriakku padanya.
Entah tuli atau tidak peduli, dia malah mempercepat laju motornya. Aku memeluk pinggangnya lebih erat.
Hingga akhirnya dia berhenti, dan saat aku membuka mata, kami sudah berada di pemakaman pribadi.
“Turun,” perintahnya. Saat aku turun tubuhku masih gemetar karena ketakutan yang kurasakan. Tapi aku juga senang karena bisa naik motor secepat itu.
Rayden juga turun dari motornya. “Apa yang kita lakukan di sini, Rayden?” tanyaku sambil melihat sekeliling.
“Aku mau menguburmu disini, kamu mau?” dia menjawab dengan sarkas.
“Aku bertanya dengan baik-baik, jadi aku harap kamu bisa menjawab dengan baik juga!” jawabku kesal.
“Aku hanya ingin mengunjungi seseorang,” jawabnya dengan jujur, lalu berjalan menuju toko bunga di dekat pemakaman.
Aku hanya mengikuti di belakangnya dan melihat dia membeli bunga. Setelah membayar, dia berjalan masuk ke dalam pemakaman, aku mengikuti.
Mungkin dia mau mengunjungi kerabat di sini. Setelah beberapa langkah, dia berhenti di depan sebuah makam dan meletakkan bunga yang dibelinya di atas nisan. Aku membaca apa yang tertulis di nisan “RAYNIER ZEUN HARRIS”.
“Siapa dia?” tanyaku
“Orang penting dalam hidupku,” jawabnya singkat.
“Apa yang menyebabkan dia meninggal?” tanyaku penasaran.
Dia menatapku dengan mata penuh luka. “Dia meninggal karena seorang wanita yang tidak bertanggung jawab. Kamu benar-benar tidak tahu namanya?” tanyanya dengan penuh harapan.
Aku menggelengkan kepala, tapi di sudut hatiku terasa seperti ditusuk. Meskipun aku tidak mengenal orang yang dikubur di makam itu, rasanya ada sakit yang mendalam di hatiku.
“Kamu tahu, aku juga ingin mengubur wanita yang menyebabkan dia meninggal di sini. Tapi aku tidak sejahat itu untuk melakukannya sekarang, tapi aku akan memastikan hidupnya seperti neraka,” katanya padaku.
“Apa yang wanita itu lakukan kepadanya?” tanyaku
Namun dia menjawabku dengan wajah yang menghina dan sambil tertawa. “Aku tidak tahu.. Kamu memang tidak peka atau kamu berpura-pura tidak peduli dengan sekitarmu?” katanya. Aku mengerutkan dahi karena benar-benar tidak mengerti apa maksudnya.
“Aku tidak mengerti kamu, Rayden. Kurasa lebih baik kamu antar aku pulang daripada membicarakan hal-hal yang tidak masuk akal bagiku,” kataku padanya.
“Kita tidak akan pulang. Kita akan ke kantor, dan aku akan suruh kamu melakukan sesuatu,” katanya.
“Aku tidak tahu apa-apa tentang pekerjaan kantor,” kataku panik.
“Kamu yakin tidak tahu apa-apa? Aku hanya akan suruh kamu bersih-bersih,” katanya.
Aku menarik napas dalam-dalam dan memilih tidak menjawab agar tidak terjadi perdebatan.
“Terserah kamu,” jawabaku singkat.
Kami meninggalkan makam itu, namun aku tidak lupa dengan nama yang terukir di nisannya.
Rayden membawaku ke kantor Zeun Real Estate. Saat memasuki kantornya, terdapat banyak tumpukan kertas di sana. Rayden duduk di kursi putar dan bersandar. Dia menatapku seolah-olah sedang mempelajari gerak-gerikku.
“Mulailah bekerja, Zoey. Ambil kain, lap jendela, dan bersihkan ruangan ini,” perintahnya.
“Hanya itu yang harus aku lakukan, Tuan?” tanyaku dengan nada mengejek.
“Pekerjaanmu banyak, jadi mulailah bersih-bersih,” katanya tanpa ekspresi.
Aku menarik napas dalam-dalam dan mengambil kain serta semprotan dari ruang belakang kantor.
Banyak rumah-rumah besar dibangun di tempat ini. Kantornya berada tepat di depan gerbang keamanan atau gerbang utama kompleks.
Aku merasa pernah ke tempat ini sebelumnya, atau mungkin aku hanya bermimpi tentang tempat ini.
Aku mulai mengelap kaca jendela sementara suami jelekku sibuk di depan komputer dan melihat tumpukan kertas di meja.
Setelah membersihkan dua jendela kantor, aku mengambil vacuum cleaner dan menyedot lantai. Saat sedang bersih-bersih, aku merasa deja-vu pernah melakukan ini sebelumnya. Beberapa hal terasa familiar bagiku, tapi aku tidak tahu kapan itu terjadi. Aku merasa pernah ke tempat ini dan merasa pernah melakukan pekerjaan yang sama di tempat ini.
Saat sedang vacuum, aku melihat Rayden menatapku. Sepertinya dia sedang membaca gerak-gerikku.
Ketika mata kami bertemu, dia segera mengalihkan pandangannya. Aku tidak mengerti perasaanku, tapi aku merasa familiar dengan tempat ini dan pekerjaan yang sedang kulakukan.
Setelah selesai bersih-bersih, suamiku memerintah, “Bisa buatkan aku teh?”
Tanpa basa-basi aku langsung pergi ke pantry untuk membuatkannya teh. Bahkan saat membuat teh, apa yang kulakukan terasa familiar bagiku. Semuanya seperti serangkaian deja vu.
Rasanya seperti sering melakukan hal-hal ini. Tubuhku familiar dengan semua aktivitas dan gerakan ini. Setelah selesai membuat teh, aku membawanya dan meletakkannya di sampingnya di meja.
“Ini tehmu,” kataku.
Dia tidak menggubrisku dan terus mengetik di komputer.
Aku tiba-tiba teringat nama Raynier karena real estate ini diambil dari nama orang yang dikubur tadi.
“Rayden, siapa Raynier Zeun Harris?” tanyaku lagi.
Dia menatapku serius. “Kakekku, kau percaya?”
“Aku akan percaya katamu,” jawabku
“Tsss… Sudahlah, stop berpura-pura, tidak cocok bagimu,” dia menghinaku.
Aku tidak mengerti apa maksudnya.
“Pura-pura apa lagi yang kamu bicarakan? Apa kamu ingin menyindir sesuatu padaku, Rayden?” tanyaku.
Dia menatapku dengan penuh rasa sakit yang terlukis di matanya. “Banyak Zoey! Pertama, kamu tidak pantas menjadi bagian dari keluarga ini! Kedua, kamu tidak bisa dipercaya! Ketiga, jangan harap aku akan mencintaimu, karena suatu hari nanti aku akan membuatmu merangkak di tanah!” katanya dengan sangat marah kepadaku.
“Kalau itu yang kamu inginkan, lakukan saja! Aku tidak pernah melakukan hal buruk padamu. Aku juga tidak memaksamu untuk menikah denganku dan memintamu untuk mempercayaiku. Tapi jika kamu menuduhku sebagai pemburu harta dan hanya menginginkan uangmu, kamu salah!” teriakku kepadanya.
"Apa yang kamu kejar, Zoey? Kamu sama saja seperti gadis lainnya yang hanya menginginkan uangku, jadi jangan berpura-pura, karena kamu egois!"
"Kenapa kamu menilaiku seperti itu, Rayden? Aku bisa membuktikan padamu bahwa uang bukan satu-satunya hal yang penting bagiku. Aku bisa mencintaimu, Rayden, bahkan dengan wajahmu yang seperti itu. Meski kamu sejelek monster-monster di film, aku bisa mencintaimu jika sikapmu baik. Aku tidak melihat tampang, Rayden, tapi hati, hatimu," tangisku kepadanya.
Dia memandangku dengan pandangan merendahkan, seolah-olah aku adalah wanita yang sangat hina di matanya. Aku tidak tahu apa salahku padanya, hingga dia memperlakukanku seperti ini. Aku bisa mencintainya meskipun dia buruk rupa, asalkan dia tidak menghina atau meragukan integritasku.