RAYDEN
“Tidak bisakah kamu berhenti minum?! Kamu hanya membuang buang waktu dengan mabuk-mabukan!,” kataku.
“Dia meninggalkanku, aku sudah mencoba berbagai cara supaya dia kembali tapi setelah 4 tahun dia tiba-tiba menyerah dengan hubungan kami,” katanya sambil menangis dan meneguk wine lagi.
“Sudahlah kak. Masih banyak perempuan di luar sana yang kaya, seksi dan cantik. Lagipula, kita berdua juga tampan, jadi kenapa harus menenggelamkan diri dengan alkohol hanya karena perempuan itu?” kataku kepadanya.
“Dia berbeda dari semua perempuan yang pernah ku temui. Aku juga sudah banyak berkorban untuknya. Aku memberinya banyak uang, dan dia meninggalkanku begitu saja? Aku tidak akan membiarkannya lepas dari diriku,” katanya sambil mengambil botol anggur lagi.
“Raynier, hentikan kegilaanmu dengan perempuan itu. Sadarkah kamu dia hanya menggunakan mu demi uang dan kemudian meninggalkanmu. Biarkan sekretaris mu itu pergi,” kataku ke Raynier dan mengambil botol wine dari genggamannya.
“Jangan khawatir. Aku bisa move on dari ini,” katanya padaku dan berdiri.
“Tidurlah di unit apartemenku,” aku menghentikannya karena dia sudah sangat mabuk.
“Tidak apa-apa, jangan khawatir. Aku hanya ingin pulang,” katanya dan meninggalkan unit apartemenku.
Aku tidak menghentikannya karena dia bersama dengan pengawal dan sopir pribadinya.
Aku tidur setelah dia pergi. Esok paginya, aku terbangun karena dering telepon dari Mama.
“Pagi, Ma. Kenapa menelepon pagi-pagi sekali?” tanyaku pada Mama di ujung telepon.
“Rayden, kembaranmu mengalami kecelakaan, dan dia sekarang di rumah sakit di Saint Bernard,” tangis Mama di ujung telepon.
Tanpa membuang membuang waktu lagi aku segera meninggalkan apartemenku dan pergi ke rumah sakit tempat Raynier dirawat. Setibanya di sana, aku langsung melihat Mama menangis di luar ruang UGD. Ketika aku mendekatinya, dia memelukku erat dan menangis di bahuku.
“Ma, apa yang terjadi pada Raynier?” tanyaku cemas.
“Saudaramu dalam kondisi buruk. Dokter bilang hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya,” kata Mama lalu menangis lagi. Hati ku rasanya hancur mendengar apa yang dikatakan Mama. Kembaranku adalah Raynier, kami tidak bisa hidup tanpa satu sama lain.
Raynier menginap di ICU selama beberapa hari. Di antara kami, aku adalah tipe yang ceria dan playboy, serta tertarik pada balapan motor. Sementara Raynier yang mengurus properti milik keluarga. Adik kami, Hanah, saat itu sedang kuliah di Belanda.
Ketika dia mengetahui apa yang terjadi pada Raynier, dia segera memesan pesawat dari Belanda untuk kembali ke Los Angeles secepat mungkin.
Hari demi hari berlalu, tapi Raynier tak kunjung bangun. Hingga suatu hari saat aku pulang dari kantor, Mama tiba-tiba menelepon untuk memberitahu bahwa saudara kembarku sudah sadar, aku bergegas pergi ke rumah sakit. Ketika aku masuk ke kamarnya, dia sudah terbangun, namun dia berbisik kepada Mama dan Papa. Hanah juga ada di sana, menangis di sampingnya. Aku mendekat, dan ketika dia melihatku, dia memegang tanganku.
Aku mendekatkan telingaku, dan dia berbisik sesuatu padaku.
"Rayden ber-… janjilah…padaku," dia terbata-bata karena sulit berbicara.
“Kak, berjuanglah untuk hidupmu. Apapun yang kamu minta, akan aku lakukan,” jawabku tersedu tidak bisa menahan tangis.
"Ber--janji..lah… kamu… akan..menikahi… Zoey,” bisiknya dengan suara lirih setiap kata.
Setelah menyebut nama wanita itu, napasnya mulai tercekat. Ruangan kemudian dipenuhi oleh tangisan dan rintihan saat saudara kembarku menghembuskan napas terakhirnya. Aku sama sekali tidak bisa menerima kenyataan yang menimpa saudaraku.
"Rayden! Sialan! Tak bisakah kamu pelan sedikit? Rasanya kita seperti terbang!”' teriak Zoey saat aku sibuk merenung tentang apa yang terjadi pada kembaran ku.
Pikiranku kembali pada teriakan Zoey dan ketakutannya yang luar biasa kalau kita akan kecelakaan. Sambil memperlambat laju motor aku tersenyum sinis melihat betapa lemahnya dia dibanding aku. Aku sudah terbiasa berkendara cepat karena aku telah memenangkan beberapa balapan.
Seandainya aku tidak berjanji pada saudaraku, aku pasti akan menyiksa perempuan ini yang menyebabkan Raynier meninggal.
Aku juga teringat saat aku bertanya pada Mama tentang kecelakaan saudaraku. Mama bilang Raynier mengejar pacarnya yang keluar dari unit apartemen Mama dan Papa. Karena Raynier dalam keadaan mabuk, dia menghalangi kendaraan Zoey yang berujung pada kecelakaan. Dia tertabrak cukup keras, sebuah keajaiban dia tidak mati di tempat. Dan aku tidak sepenuhnya mengerti mengapa perempuan ini seolah tuli dan buta, seakan-akan apa yang terjadi pada saudaraku tidak ada artinya baginya. Bagaimanapun, dia adalah penyebab kematian saudara kembarku.
Kami berhenti di restoran yang sering aku dan Raynier kunjungi, dan aku mengajaknya makan di sana.
''Apa yang ingin kamu pesan?'' tanyaku ketika kami sudah di dalam restoran.
''Pasta saja,'' jawabnya. Aku memesan pasta seperti yang dia minta.
"Apakah ini pertama kalinya kamu makan di tempat ini?" tanyaku untuk mengujinya, melihat apakah dia ingat restoran ini, tempat dia dan saudaraku sering pergi. Namun, alih-alih menjawab, dia hanya mengangkat bahu tidak tahu.
Bagaimana bisa gadis ini tidur nyenyak tanpa beban? Setelah saudaraku memberinya koper berisi uang di kantor, ia pergi dan memutuskan hubungan begitu saja.
Tak lama kemudian, pelayan membawa pasta dan minuman yang kami pesan.
Aku menatapnya tajam. Aku tidak bisa menyalahkan saudaraku yang begitu tergila- gila dengan gadis ini, dan tidak mau melepaskannya karena dia begitu cantik hingga sulit untuk menyalahkannya. Matanya yang cerah bisa membuat seseorang tersesat ketika menatapnya. Hidungnya kecil dan mancung, bibirnya tipis dan merah, tubuhnya ramping. Aku tidak tahu apakah saudaraku sudah pernah membawanya ke tempat tidur.
Namun, mungkin dia telah menggoda saudaraku selama hubungan mereka; itulah sebabnya Raynier tidak bisa lepas darinya. Mungkin Zoey telah menjual dirinya kepada saudaraku demi uang.
Aku memperhatikan dia menatap pasta dengan tatapan sedih. Mungkin dia mengingat saudaraku tetapi tidak ingin menunjukkannya. Dia terlihat sangat polos, tapi di jauh di dalam hatinya, dia adalah wanita jahat.
"Kamu tidak akan bisa makan pasta itu hanya dengan menatapnya," kataku ketika aku melihat dia enggan menyentuh pasta.
Butuh beberapa saat bagi Rayden untuk melihat dia memakan pastanya. Tapi aku melihat genangan air mata di matanya.
"Ada apa, Zoey?" tanyaku sambil mengambil suapan pasta.
"Aku tidak mengerti mengapa aku merasa begitu sedih ketika mencium aroma pasta ini. Bibi selalu memasak pasta, tapi aku tidak mengerti mengapa aku merasakan hal aneh sekarang,'' katanya. Aku tidak tahu apakah dia hanya berpura-pura atau benar-benar tidak ingat apa-apa.
Sudah dua tahun sejak Raynier meninggal. Aku tidak tahu bagaimana Mama dan Papa menemukan gadis ini untuk menikah denganku. Aku tidak bisa menolak, karena itu adalah keinginan terakhir saudaraku untuk menikahi gadis ini. Mungkin tidak buruk jika aku menikahinya karena aku telah memenuhi janjiku pada saudaraku.
"Habiskan makananmu agar kita bisa pulang ke apartment. Masih ada cucian yang menunggu untuk dicuci," kataku dengan tegas.
“Habiskan makananmu agar kita bisa pulang ke apartment. Masih ada cucian yang menunggu untuk dicuci,'' kataku serius.
“Kamu punya mesin cuci otomatis, jadi seharusnya itu tugas mudah,” jawabnya sambil mengangkat bahu.
Satu-satunya hal yang aku suka dari gadis ini adalah dia tidak mengeluh, meskipun aku menjadikannya sebagai pembantu. Aku benar-benar tidak ingin berada di apartment karena aku ingin membuat gadis ini menderita dengan pekerjaan rumah. Tapi alih-alih marah atau mengeluh, dia malah melakukan apa yang aku suruh.
Seperti kemarin malam, dia memijatku dan memasak untukku, sampai-sampai aku tertidur di sofa. Dia bahkan tidak menggangguku malam itu.
Apakah dia bersikap baik karena sengaja, atau dia hanya berpura-pura dan mencoba membuatku senang? Kalau iya, maka dia telah membuat kesalahan karena aku tidak akan buta seperti saudaraku.
Setelah makan siang bersama Zoey, kami pulang ke apartment. Setibanya di dalam, aku mengambil tumpukan cucian dan menaruhnya di hadapannya. Daripada mencuci sendiri, aku menyuruhnya mencuci pakaianku. Aku ingin menyiksanya karena aku membencinya.
"Rendam dan cuci ini dengan tanganmu, Zoey. Aku ingin pakaian ini benar-benar bersih, karena mesin cuci tidak bisa melakukan itu. Dan jika kamu merusak salah satu pakaianku, kamu harus membayarnya," kataku dengan serius.
“Kalau begitu kenapa tidak sekalian di cuci di laundry saja? Bukankah kamu punya banyak uang?” jawabnya.
“Kamu ingin bebas dari aku, Zoey?” tanyaku.
“Tentu saja! Siapa yang mau tinggal denganmu!? Dengan sikapmu yang begini, Rayden, aku ingin segera bebas darimu. Aku tidak bisa hidup dengan perilakumu yang seperti ini!” katanya dengan menentang.
“Kalau begitu, jika kamu ingin bebas dari pernikahan kita, ikuti perintahku. Mulai sekarang, cuci pakaianku. Sekarang," kataku kepadanya.
Dengan cemberut, dia mengambil kantong cucian kotor dan berbalik menuju area laundry.
“Miliader tapi pelit,” bisiknya meskipun masih bisa kudengar dengan jelas.
“Apa katamu, Zoey?” tanyaku.
“Tidak ada! Aku bilang aku akan pergi! Kamu benar-benar monster!” ejeknya.
Aku hanya mengernyitkan dahi mendengar ucapannya. Aku lalu menuju ke lantai 9 dan bertemu dengan Mama dan para pembantunya yang sedang bersih-bersih.
“Apakah Mama akan pulang ke Belanda?” tanyaku sambil duduk di sofa.
“Ya, nak, tapi kamu dan Zoey juga bisa ikut,” jawab Mama.
“Baiklah, Ma. Bagus kalau mama pulang, Hannah jadi tidak sendirian,” kataku kepada Mama.
“Di mana Zoey?” tanya Mama.
“Di bawah sedang mencuci pakaianku,” jawabku dengan santai.
“Kenapa tidak sekalian saja kirim cucian ke laundry supaya Zoey terbebas dari pekerjaan itu?” tanya Papa yang baru keluar dari kamar dengan membawa koper.
“Anakku, Zoey adalah istrimu. Jadi, aku harap kamu mencintainya seperti kamu mencintai dirimu sendiri,” kata Mama penuh harapan. Dia mulai lagi.
“Ma, dia istriku untuk status saja. Kenapa Mama seolah-olah mengabaikan kematian Raynier? Apa Mama lupa bahwa dia penyebab kematian Raynier?” Kemarahan mulai membara dalam diriku.
“Rayden! Kamu tidak boleh menyalahkan istrimu atas kematian kembarmu! Kematian Raynier bukanlah salah Zoey. Aku harap kamu menghargai istrimu seperti Raynier menghargainya. Kamu ingat kan Zoey adalah hal terakhir yang dia sebutkan padamu. Aku harap kamu tidak menyiksa kesayangan saudara kembarmu. Saking terbiasanya bermain dengan banyak perempuan, ketika kamu benar-benar jatuh cinta, dia meninggalkanmu dan membuatmu bodoh. Mungkin itulah alasan kamu tidak menghargai gadis yang dicintai kakakmu!” kata Papa menasihatiku.
"Pa, aku telah mengurus bisnis kami sejak Raynier meninggal karena nya. Tapi aku harap kalian tidak terbutakan oleh sikapnya. Karena meskipun Raynier mencintainya dan memberinya segalanya, dia tetap saja mengkhianatinya. Kalian tahu apa yang sebenarnya ingin aku lakukan? Aku ingin menguburnya di samping Raynier!” kataku dengan tegas.
"Rayden, di antara kalian berdua, kalau ada yang benar-benar mengkhianati, itu kamu. Sadarlah dan lihat dirimu di cermin, tanyakan siapa sebenarnya pengkhianatnya. Kamu bersembunyi di balik topeng monstermu untuk melihat siapa yang akan mencintaimu dengan wajah seperti itu! Bahkan iblis pun tidak akan jatuh cinta pada seseorang yang tampak seperti itu!" kata Papa dengan nada sinis.
“Pa, kenapa kamu peduli dengan ini? Jika ada seseorang yang mencintaiku meskipun aku terlihat seperti ini, maka dia akan menjadi milikku selamanya," kataku pada Papa.
"Kamu bodoh, Rayden! Kenapa tidak kamu tunjukkan wajah itu pada gadis-gadismu dan lihat siapa yang tidak lari? Aku berani bertaruh, Zoey akan tetap di sisimu, asal kamu bersikap baik padanya. Mungkin dia bahkan akan lebih mencintai wajahmu yang seperti itu daripada wajah aslimu. Tapi dengan sikap iblismu, gadis mana yang akan bertahan lama denganmu?"
Papa ada benarnya. Awalnya, aku hanya berharap Zoey menolak pernikahan ini agar aku tetap bisa bebas. Tapi dia tetap setuju menikah denganku, meski dengan tampang buruk rupaku ini. Aku sempat berpikir dia setuju hanya karena uang dan ketenaran keluarga kami di negeri ini.
Aku meraba topeng wajah buruk rupa yang kini kupakai, menyunggingkan senyum kecil tanpa disadari. Sejak dulu, aku selalu mengubah penampilan setiap kali bersembunyi dari seorang gadis, hanya agar bisa menghindarinya tanpa perlu repot.