Episode 6

1726 Words
ZOEY Langit sudah mulai gelap namun aku masih belum selesai mencuci pakaian Rayden. Dengan sangat hati-hati aku mencuci dan memeras pakaian-pakaiannya. Aku khawatir merusaknya karena harganya yang mahal; kalau rusak, dia pasti akan menuntutku menggantinya. “Aku tidak tahu kenapa aku melakukan ini. Kenapa aku harus mematuhi permintaannya? Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku bisa menanggung segalanya. Apapun tantangan dalam hidupku, aku mampu mengatasinya.” Saat aku masih mencuci, tiba-tiba dia muncul. “Belum selesai juga? Makanan yang kamu masak tadi pagi sudah basi,” katanya. “Tidak, aku sudah menaruhnya di kulkas. Nanti aku panaskan sebelum makan. Biarkan saja,” jawabku dingin. “Kamu mau makan nasi ini? Lain kali, tanya dulu sebelum memasak agar makanan tidak terbuang sia-sia kalau kamu tidak bisa menghabiskannya!” bentaknya. Aku baru ingat kalau aku lupa memasukkan nasi ke kulkas. “Itu tidak akan terbuang. Biarkan saja di situ, nanti aku urus. Kamu ingin makan apa nanti?” tanyaku. “Aku akan pesan makan malam saja. Oh ya, rice cooker nya rusak, buang saja buang saja. Aku akan beli yang baru," katanya. “Kenapa harus dibuang? Itu masih bisa digunakan. Yasudah pesan saja sendiri makan malamnya. Aku akan mengurus makananku nanti. Jangan pesan makanan untukku karena aku mungkin tidak bisa menghabiskannya daripada terbuang lagi." “Terserah mu! Pastikan pakaian-pakaian aku bersih dan tidak rusak!” dia mengingatkanku. “Ya, Tuan!” jawabku, sudah mulai kesal. Dia berbalik menuju ruang tamu. Tangan ku berdarah karena tersangkut pada pakaian Rayden, tapi aku tetap menahan rasa sakit. Sebelum pukul sembilan malam tepat, aku sudah selesai mencuci. Kemudian aku menggantung semua pakaian dan membersihkan berantakan sebelum pergi ke kamarku dan mandi. Aku merasa sangat lelah dan lapar. Setelah memakai baju aku keluar ke ruang tamu, tapi Rayden tidak ada di sana. Tubuhku mulai bergetar karena lapar. Aku pergi ke dapur, melihat nasi di rice cooker, dan memanaskannya bersama hotdog dan sup sisa dari kulkas. Aku tidak punya tenaga lagi untuk memasak karena rasa lapar yang semakin menyiksa. Setelah semuanya dipanaskan, aku membawanya ke meja makan dan mulai makan. Aku tidak peduli dengan rasa makanan yang kumakan. Saking laparnya aku menghabiskan semua sisa makanan tadi pagi. Mungkin Rayden sudah makan dan sekarang ada di kamarnya. Setelah mencuci piring, aku masuk ke kamarku. Aku bersyukur karena dia memberiku kamar sendiri. Setidaknya, keperawananku aman dari suamiku yang jelek. Aku belum siap melakukan hal itu bersamanya. Menjelang pagi, aku mulai merasa tidak enak badan. Aku merasa kedinginan dan terus bolak-balik ke toilet. Aku rasa mengalami diare dan mulai demam. Ditambah dengan rasa sakit di tanganku yang penuh luka akibat mencuci semua pakaian suamiku yang jelek. Perutku semakin tidak karuan, membuatku bolak-balik ke kamar mandi hingga aku merasa sangat lemas. Setelah keluar dari kamar mandi untuk kelima kalinya, aku melemparkan tubuhku ke tempat tidur dan memegangi perutku sambil merintih kesakitan. Aku menggigil dan merasa panas dengan demam. Selimutku sangat tebal, tapi tetap saja aku merasa kedinginan. Beberapa saat kemudian, aku mendengar ketukan di pintu. "Zoey! Apa yang kamu lakukan dengan pakaianku? Kenapa baunya seperti sabun cuci? Kamu tidak pakai pelembut pakaian?" tanyanya sambil terus mengetuk pintu, kepalaku semakin sakit mendengarnya. Aku tidak menjawab karena aku merasa semakin pusing karena teriakannya. Tapi dia mengetuk begitu keras hingga hampir merusak pintu. "Zoey! Cuci pakaianku lagi!" teriaknya dari luar pintu. Aku terpaksa bangkit supaya dia berhenti membuat keributan. Perlahan-lahan, aku berdiri dan berjalan ke pintu. Aku membukanya, dan wajahnya yang jelek dan marah muncul di hadapanku. “Kamu tidak memakai pelembut pakaian?” tanyanya dengan marah. "Maaf, aku lupa," jawabku. "Aku akan bilas lagi. Kamu mau teh?" “Aku akan buat sendiri tehnya. Pergi ke dapur dan masak nasi, aku ingin makan pagi ini,”perintahnya. Aku tidak berkata apa-apa lagi dan mencoba melangkah. Kakiku bergetar karena kedinginan. "Zoey, kamu baik-baik saja?" tanyanya dengan khawatir ketika dia akhirnya menyadari kondisiku. Namun, sebelum aku bisa menjawab, tiba-tiba aku jatuh karena rasa sakit. Untung saja, dia menangkapku sebelum wajahku menyentuh lantai dingin. "Astaga! Kamu panas sekali," kudengar dia berkata sambil mengangkatku, membawaku kembali ke kamar, dan membaringkanku di tempat tidur. "Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sakit?" tanyanya seolah-olah kesal. "Aku baru mulai merasa sakit tadi. Aku terus bolak-balik ke kamar mandi," jawabku lembut. "Apa yang kamu makan?" Dia jelas-jelas kesal dengan pertanyaannya. "Sisa nasi dan hotdog serta sup yang aku buat untukmu kemarin," jawabku dengan lemah. "Kan sudah kubilang dibuang saja!? Itu sudah basi, Zoey! Kamu bodoh!?" katanya. "Aku tidak mau membuang-buang makanan," kataku dengan badan yang menggigil kedinginan. “Bahkan anjing pun tidak mau memakannya. Aku akan membawamu ke rumah sakit," katanya, dan dia bersiap mengangkatku. “Tidak perlu. Aku dan bibi malah makin berutang padamu, jadi aku tidak mau ke rumah sakit. Beri aku obat diare dan demam kalau ada,” kataku, menghentikannya. “Tss… Kamu malah memikirkan itu. Aku akan membawamu ke rumah sakit supaya kamu bisa segera dirawat,” katanya, dan dia hendak mengangkatku, tapi aku menghentikannya lagi. “Jangan bawa aku ke rumah sakit, Rayden. Tolong, aku tidak mau,” aku memohon padanya. “Tapi kondisimu bisa semakin buruk,” katanya dengan khawatir. “Aku tidak suka pergi ke rumah sakit. Aku tidak mau berada di sana lagi,” aku menangis dan memohon kepadanya. “Oke oke, jangan menangis. Aku akan memberimu obat saja,” katanya. Dia melirikku sebelum keluar dari kamarku. Tak lama kemudian, dia kembali ke kamarku dengan obat dan segelas air. “Minumlah ini, Zoey,” katanya, membantuku menelan obat tersebut. Setelah itu, aku merasakan dia mengelap dahi dan leherku dengan handuk basah, serta tanganku. “Zoey! Kenapa tanganmu penuh luka?” tanyanya. ku merasa tidak enak, jadi aku tidak menjawabnya. Tak lama kemudian, aku tertidur. “Sayang, tolong maafkan aku,” dia menangis kepadaku. “Kamu selingkuh di depan mataku! Apa yang kurang dariku sampai kamu mempermainkanku? Apa aku tidak cukup karena aku tidak memberimu tubuhku? Kupikir kamu paham, tapi ternyata kamu mengkhianatiku! Aku tidak mau lagi denganmu; kita putus!” aku berteriak padanya dan berlari keluar dari kamar. Dia mengejarku dan berhasil menangkapku, memelukku erat dari belakang. “Sayang, maafkan aku. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku mencintaimu, Sayang.” “Kau pembohong!” aku berteriak, tapi tiba-tiba sebuah truk besar menabraknya. Tubuhnya tergeletak di sana, penuh darah dan tidak bernyawa. “Sayang!” aku berteriak. Aku tiba-tiba terbangun dari mimpi buruk lagi. Entah kenapa, aku mulai menangis. “Sayang?” aku menangis. “Zoey, kamu hanya bermimpi,” kata Rayden sambil memelukku. Aku tidak tahu kenapa rasanya hatiku seperti hancur menjadi beberapa bagian karena rasa sakit yang begitu mendalam. Aku menangis karena kesedihan dan rasa sakit yang dirasakan hatiku. “Zoey, berhentilah menangis. Kamu hanya bermimpi,” Rayden menghiburku, tapi saat aku sadar dia memelukku, aku langsung mendorongnya dengan keras. “Apa yang kamu lakukan di kamarku? Kenapa kamu memelukku? Kau c***l! Apa kamu memanfaatkan ku?” Aku memukulnya dengan bantal. “Hey! Stop!” Dia memegang tanganku dan mengambil bantal dariku. “Apa? Kamu tadi demam dan menggigil. Aku memelukmu untuk menghangatkanmu. Aku tidak sadar kalau aku tertidur. Aku hanya bangun karena mendengar kamu mengalami mimpi buruk!” katanya dengan marah. Aku teringat kalau aku merasa sakit tadi, jadi aku hanya menggigit bibirku. Dia berdiri dari tempat tidur dan melemparkan bantal kepadaku. “Lain kali, aku biarkan kamu menggigil. Memeluk bukan berarti memanfaatkanmu! Lagipula, tidak ada salahnya, karena kamu istriku!” “Maaf, aku hanya kaget. Jam berapa sekarang?” aku bertanya. Dia melihat jam tangannya dan menatapku. “Sekarang sudah mulai siang. Aku akan masak supaya kamu bisa minum obat lagi. Bagaimana keadaanmu?” “Perutku sudah tidak sakit lagi, tapi tubuhku masih sakit, dan aku masih merasa sedikit tidak enak badan,” kataku kepadanya. “Baiklah, istirahatlah di sini dan tunggu aku. Aku akan masak sebentar,” katanya, keluar dari kamarku. Ternyata, di balik penampilan jeleknya, dia juga punya hati yang baik. Aku hanya berbaring di tempat tidurku, memikirkan mimpi yang barusan aku alami. Tapi aku lupa apa itu. Beberapa menit kemudian, Rayden kembali dengan nampan makanan. Dia meletakkannya di meja samping tempat tidurku. “Makan saja bubur dulu agar perutmu tidak perih. Lain kali, jangan makan nasi yang sudah basi,” katanya sambil mengaduk bubur untuk mendinginkannya. “Kamu tahu cara membuat bubur?” aku bertanya. “Membuat bubur itu mudah, Zoey. Anak-anak juga bisa melakukannya,” katanya. Aku mengangkat alisku saat dia mengatakan itu. “Terserah, kamu tidak penting bagiku. Cepat makan juga, kamu pasti sudah lapar,” kataku kepadanya, mengambil sendok dari tangannya. “Aku lebih pilih makan makanan lain, Zoey. Misalnya menikmati bagian bawah dimana bayi keluar,” ujarnya sambil bercanda. “Rayden c***l! Aku sedang makan!'' jawabku dengan kesal. “Hahahaha… aku bercanda, kamu terlalu serius,” katanya sambil tertawa. Mendengar tawanya terasa menyenangkan. Ini adalah pertama kalinya aku melihatnya tertawa. Aku makan bubur sendok demi sendok, mencoba mengatasi ketegangan yang kurasakan. Setiap kali aku mencium aroma tubuhnya yang harum, rasanya suhu tubuhku meningkat. Ketika kulit kami bersentuhan, aku merasakan getaran hangat yang aneh menyebar ke seluruh tubuhku. “Jangan bercanda seperti itu. Meskipun kita sudah menikah, aku belum siap untuk melakukan itu, semoga kamu paham. Kalau aku siap, aku pasti akan bilang," kataku dengan serius. Dia terkekeh. “Apa yang kamu bicarakan, Zoey? Bahkan jika kamu siap memberikan tubuhmu, aku tetap tidak akan menyentuhnya! Masih banyak wanita yang bisa aku bayar untuk membuatku bahagia.” Aku memberinya tatapan tidak suka. Aku tidak suka apa yang dia katakan. “Kamu tidak puas dengan istrimu, masih mencari rasa lain.” ''Jangan bilang kamu akan membenciku ketika aku mengklaimmu sebagai istriku?'' dia bertanya. “Tampangmu saja yang buruk rupa, Rayden. Tapi kalau hatimu murni, tidak peduli seperti apa wajahmu, aku tidak akan membencimu karena aku adalah istrimu. Aku harus mencintai dan menerima kamu apa adanya,” kataku dengan serius. “Oke, kita lihat seberapa kamu bisa bertahan,'' ujarnya seolah-olah dia bermaksud sesuatu. “Selama aku bisa memahami dirimu, aku akan mencintaimu tidak peduli seberapa jeleknya kamu. Keluarga itu penting bagiku, dan pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Aku menghargai orang-orang yang Tuhan berikan kepadaku. Dia memberimu kepadaku, jadi aku akan mencintai dan menghargaimu sebagai suamiku,” kataku dengan sungguh-sungguh. “Lebih baik kamu makan supaya cepat sembuh. Kamu banyak bicara,” katanya sambil memberikan suap demi suap bubur padaku. Aku menghabiskan bubur yang dibuat Rayden. Ternyata dia memang pandai memasak. Setelah makan, aku sudah mulai berkeringat. Rayden juga membereskan sisa makanku dan menyuruhku untuk beristirahat sejenak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD