"Hai" sebuah tangan menyentuh bahu Rose dan dia tetap tak bergeming, kepala Rose masih ditenggelamkan diantara lututnya. Rasanya malas untuk menatap siapapun.
"Kenapa menangis?" Mendengar kata menangis, air matanya kembali membanjiri pipi, Rose berusaha membendungnya namun kata menangis yang dilontarkan pria ini membuat kekuatannya goyah.
"Nona, apakah ada yang mengganggumu?, Ini Rumah sakit dan sudah hampir malam. Apa kau tidak akan pulang?"
"Pulang?" Rose mengulangi kata itu dan mengangkat kepalanya hingga berhadapan dengan pria itu. Seketika itu Rose langsung ingat ayah dan ibunya, apa yang akan mereka rasakan dan bagaimana Rose harus menyampaikan kepada mereka jika rencana pernikahan ini mungkin batal.
"Iya pulang, apa kau tidak mau pulang?" Pria itu mengulanginya lagi.
Pria tampan itu menggunakan baju santai, dengan kaos dan celana panjang jeans membuat ketampanannya semakin terpancar. Apalagi kelembutannya dalam menyapa Rose sedikit membuat hati Rose menghangat.
"Aku akan pulang sebentar lagi, terimakasih" Rose menjawab
"Namamu Rose kan?" Ia memilih duduk di samping Rose.
"Kenapa kau bisa tau?"
"Aku melihatmu tadi diruangan dokter Parta, kebetulan setelah kau keluar aku masuk kesana" dia melanjutkan kata-katanya.
"Iya, aku Rose" Rose kembali diam.
"Aku Alan" dia memperkenalkan dirinya dan Rose hanya mengangguk karena masih mengingat kejadian sebelumnya. Saat Alan membicarakan percakapannya dengan dokter Parta membuat Rose kembali mengingat hasil pemeriksaan Rahimnya pagi tadi. Air matanya Kembali membasahi pipinya.
"Aku antar pulang ya" Alan membujuk Rose untuk pulang.
Namun Rose menggeleng dan memutuskan untuk tetap disana. Alan memainkan Hp nya di samping Rose dengan terus menatap ke arah Rose.
"Kenapa kau disini? Aku belum mau pulang" jawab Rose ketus.
"Ya aku juga cuma mau duduk disini, sama dengan kamu. Aku belum mau pulang" jawabannya sangat santai dan sesekali melempar senyum ke arah Rose.
"Aku mau pulang" kali ini Rose segera bangkit dan berjalan lunglai menuju parkiran. Tiba-tiba Rose tersadar bahwa dia tidak membawa kendaraan.
Rose memutuskan memesan kendaraan melalui aplikasi g***k online. Menaiki kendaraan tersebut dan ingin segera merebahkan badannya di kasurnya.
Kepalanya memandang ke arah gedung Rumah sakit yang ditinggalkan, tatapan mata Alan bertemu dengannya disana, dia tampak tersenyum. Secepat kilat Rose memalingkan pandangannya ke arah jalan didepannya. Rose tidak mau melihat siapapun, ingatannya masih terpaku akan bagaimana menyampaikan semua kabar ini pada ayah dan ibunya.
"Rose kenapa baru pulang jam begini?" Terlihat kekhawatiran diwajah ayah dan ibunya.
"Lagi singgah sama teman tadi ayah" Rose melirik ibu untuk berusaha meyakinkannya.
"Ya sudah, mandi sana dan habis itu kita makan ya" Sella menyambung kata-katanya.
Rose langsung menuju kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Langkahnya berat untuk meninggalkan ayah dan ibu, Rose ingin menangis dihadapan mereka, namun itu tidak mungkin dilakukan.
Guyuran air dikepalanya langsung membawa pada deraian air mata yang semakin deras, sesak d**a yang dirasakan karena ancaman batalnya pernikahan dan dinginnya sikap Marchel padanya membuat d**a Rose semakin tak kuasa mengeluarkan semua sakit itu melalui air mata.
Badan yang tak lagi terbalut benang sehelaipun terlihat jelas di cermin besar dalam kamar mandi itu. ditelusurinya jari lentiknya diantara lekukan pinggang, hingga pa****nya. Tangisnya pecah dan semakin menyayat hati ketika sampailah perlihatannya ke bagian perutnya.
"Ini tak akan berguna lagi jika aku tak bisa memberikan keturunan pada Marchel, aku tak berguna" Rose menangis sejadi-jadinya, di buka kran air dengar keras agar ayah dan ibunya tidak mendengar teriakannya.
"Hiks hiks hiks... Haaaah, aku tak berguna, aku tak berguna" Rose menenggelamkan dirinya ke dalam bathtub kamar mandi, berharap tidak menemui lagi dunianya yang terasa sangat tidak adil ini.
"Rose... Rose ... Rose..."
"Ayah.." panggilan itu menyadarkan Rose yang entah sudah berapa lama tenggelam dalam bathtub ini. Rose harus bangkit demi keluarganya, ‘jika Marchel membatalkan pernikahan ini, ada mereka yang akan menerimaku. 'apa yang aku lakukan?' Rose bergumam dalam hati.
"Rose kenapa lama sekali mandinya nak?"
" Ya ayah, sebentar lagi aku keluar" teriak Rose.
"Ayah tunggu di ruang makan ya. Ibu dan adikmu sudah menunggumu"
"Ya ayah"
Rose bergegas keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian. Menggunakan baby doll berwarna pink Salem membuat tampilannya lebih cerah. Setidaknya membuat Rose lebih fresh agar ayah dan ibu nya tidak mencurigai sikap anehnya ini.
**
Melangkahkan kaki menuju ruang makan dan betapa kagetnya Rose melihat Marchel beserta keluarga besarnya ada bersama ayah dan ibunya.
"Kalian ada disini?" Rose mencium punggung tangan ayah dan ibu Marchel kemudian duduk di samping Resti adik tirinya itu.
"Iya, kami datang untuk membicarakan pernikahan Marchel"
"Hah... " Matanya membulat. Kaget tentu saja, bukankah Marchel ingin membatalkan pernikahan ini? Kenapa orang tuanya ingin membicarakan pernikahan ini saat ini?
"Berhubung hasil pemeriksaan sudah keluar maka saatnya kita membicarakan pernikahan kalian dengan keluarga besar kita"
Marchel menundukkan kepala mengingat hasil pemeriksaan Rahim Rose dirumah sakit tadi.
"Bagaimana hasil pemeriksaan nya?" Kali ini Sella, ibu tiri Rose menyela pembicaraan.
Rosee menelan ludahnya yang terasa pahit, apa yang harus sekarang di katakan oleh Rose, benar-benar takut menghadapi semua ini.
"Maafkan aku ayah dan ibu, karena belum sempat membicarakan hasilnya..."
"Hasilnya baik-baik saja, Rose siap untuk menikah" Marchel menyela kata-kata Rose. Dia menatap Rose dengan tatapan memohon seolah-olah ingin mengatakan untuk tidak melanjutkan lagi kata-kata Rose.
Rose mengerti sekarang, sepertinya Marchel belum memberitahu kan hasil pemeriksaan Rahimnya atau mungkin Marchel tidak mengatakan yang sebenarnya. 'Oh Tuhan, ini hal yang aku takutkan' gumam Rose dalam hati.
"Aku sudah memperlihatkan hasilnya pada ayah dan ibu" sambungnya lagi.
"Iya Rose, kami senang akhirnya kalian akan segera menikah. Aku sudah tidak sabar akan menimang cucu, ya kan yah"
"Huk huk huk" Rose batuk tiba-tiba dan kemudian Marchel mendekatinya. Dia meminta ijin pada orang tua kami untuk membawa Rose ke teras depan. Mereka tentu saja tidak keberatan, tempat favorit ketika ingin bercerita santai.
"Apa yang terjadi Marchel?"
"Maafkan aku Rose, aku tidak sanggup mengatakan semua kebenaran itu pada ayah dan ibuku" Marchel terlihat begitu sedih dan menghapus titik air mata yang mengalir dipipi mulus Rose.
"Tapi ini kebohongan Chel, aku nggak mau pernikahan ini dibangun atas dasar kebohongan" Rose menatap netra mata Marchel yang hitam.
"Anak adalah tujuan pernikahan itu Rose, jadi jika hasil itu aku sampaikan maka mereka tidak akan menyetujui nya"
"Lalu apa bedanya ketika setelah menikah, kemudian kita tidak bisa punya anak?" Rose menjawabnya dengan keras.
"Aku kecewa dengan hasil pemeriksaan itu, namun apa yang bisa aku lakukan?" Marchel memandang Rose dengan tajam.
"Apa? Kecewa? Kau kecewa? Lalu aku?" Teriaknya.
"Apa hanya kamu yang layak untuk kecewa, apa aku tidak? Lalu apa aku harus marah padamu? Atau pada diriku sendiri hah.."
"Jika kau kecewa, kenapa kau tetap bersikeras menikahi ku?" Rose memalingkan pandangannya dari Marchel.
Rose mencoba menatapnya saat ini, menunggu jawabannya. Berharap cintanya begitu besar padanya hingga mungkin dia akan bisa menerima kekurangan Rose.
"Aku ingin memenuhi janjiku pada orang tuamu saat melamar mu"
Kata-kata itu bagaikan petir disiang hari, bukan karena cintanya, hanya karena tanggung jawabnya. Lalu kemana akan dibawa pernikahan kita? Jika anak kami tidak punya, apakah aku akan tetap dipertahankan sebagai istrinya? Ataukah sebaliknya?’ hanya Rose yang bermonolog dalam hatinya sendiri.
'aku nggak ngerti" jawab Rose singkat. Dia berjalan ingin masuk kedalam rumah, namun tatapannya terpaku pada seseorang yang mungkin sejak tadi mendengar obrolan kami.