"Mama" Marchel mengalihkan pandangannya pada Raisa sang ibu.
"Apa yang mama dengar itu benar? Jika kamu.."
Rose mengangguk dan menundukkan kepala nya, air mata mengalir perlahan dadanya sesak dan ketakutan pun menyerang, dan apa yang akan terjadi kemudian, itulah pikiran Rose sekarang.
Marchel berusaha menenangkan Rose dan mamanya untuk tenang serta berusaha mencari solusi terbaik.
"Pernikahan ini mungkin tidak perlu dilanjutkan" kali ini ibu Rose, ibu tiri tepatnya memulai sidang yang dibicarakan keluarga besar ini.
"Tapi Tante.." Marchel kali ini berpendapat dan Rose hanya bisa diam saja karena dalam hal ini dia merasa tak layak untuk berkata apapun.
"Mama setuju" Raisa menjawab.
"Pernikahan kalian memang atas dasar kalian yang saling mencintai, tapi salah satu hal yang membuat mama menyetujui karena mama ingin punya cucu yang akan bisa melanjutkan keturunan keluarga ini"
"Mama, kami akan berusaha untuk bisa punya anak" Marchel tetap berusaha meyakinkan ibunya.
"Apa kau sekarang menyalahkan hasil pemeriksaan Rumah sakit? Hah.."
"Kecuali kau mau menikah lagi setelah menikahi Rose, karena mama ingin cucu secepatnya" tegas Raisa.
Sakit rasanya, pernikahan yang belum terjadi ini belum menemui titik terang. Marchel tetap ingin menikah karena usianya yang tak lagi muda dan keluarga nya yang menginginkan keturunan secepatnya.
"Kita batalkan saja semua rencana ini" Ayah kali ini dengan tegas berkata.
"Ayah..." Lirih Rose.
Ayah nampak sangat emosi menahan sesak di dadanya, matanya merah. dilihatnya ayah memegang dadanya dan semakin kesulitan bernafas.
"Ayah, ayah ayahh.." Rose memekik memanggil ayah, bergegas menghampiri ayah yang sudah terjatuh ke lantai. Marchel ikut memapah ayah rose untuk segera dibawa ke Rumah Sakit dan Rose terus saja menangis sambil berlari membawa serta ayah.
"Jangan menangis terus sayang, semoga Ayahmu baik-baik saja"
Hanya anggukan yang ditampilkan pada Marchel bahkan tak ada kata antara mereka hanya pandangan yang seolah-olah mampu berbahasa.
"Bagaimana dokter? Keadaan ayah saya" Rose mendekati dokter yang keluar dari ruangan pemeriksaan ayah.
"Maafkan kami, kami sudah berusaha tapi takdir berkata lain. Pak Axton sudah meninggal"
Seketika itu tubuh Rose ambruk ke lantai dan Marchel membantu menyadarkan Rose.
"Rose.. Rose" panggilan itu sedikit demi sedikit menyadarkan Rose.
"Ayahhhh" Rose setengah berteriak, mendekati jasad sang ayah yang sudah di tutupi kain kafan. Jasad itu terbujur kaku di sebuah ranjang rumah sakit. Sakit pun di rasakan oleh Rose di dadanya mengingat ayah yang menjadi kekuatannya kali ini telah pergi.
**
Dirga memasuki ruangannya dirumah sakit, namun dia mendapatkan panggilan dari seorang perawat bahwa ada pasien yang membutuhkan bantuannya.
Dengan senyum khasnya dia memasuki ruangan ICU, menuju pasien yang ditunjukkan oleh perawat itu. Pandangannya terhenti saat seorang Wanita menangis tersedu-sedu disamping ranjang rumah sakit.
“Rose…. Apakah itu kau?” panggilan itu pelan. Dirga melangkahkan kakinya mendekat pada gadis itu.
“Dokter, pasiennya disebelah sana” Srita perawat cantik itu membuat Dirga menghentikan langkahnya. Dirga mengangguk dan memutuskan ikut dengan Srita.
‘Aku akan memastikan apakah itu kau Rose, setelah pekerjaanku selesai’ gumamnya.
Langkah Dirga yang sedikit ragu menuju pasien yang harus ditanganinya. Sebagai seorang dokter Orthopedi Dirga harus berhati-hati dalam memeriksa keadaan pasiennya.
“Bawa dia ke ruang operasi, harus dilaksanakan pagi ini” perintah Dirga pada perawatnya.
“Baik dok”
Dirga langsung bersiap-siap menuju ruang operasi, ditangguhkan keinginannya untuk menemui gadis yang menangis itu.
**
Rose memeluk pusara sang ayah, tak ada keinginan nya untuk pergi dari situ. Resti dan ibunya sudah meninggalkan pekuburan itu. Hanya Rose dan Marchel yang belum beranjak dari situ, hujan mulai membasahi tubuh mereka, secepatnya Marchel mengajak Rose untuk segera pulang, namun tidak dengan Rose.
"Ayo Rose, kita pulang"
"Hiks hiks Ayah.. ayah.... Kenapa ayah tinggalkan Rose, Ayah.... " Rose masih menangis tersedu-sedu, Marchel mengeluarkan air mata melihat kesedihan sang kekasih.
"Aku bersamamu Rose, ayolah kita pulang"
Rose beranjak pulang walaupun hatinya tak ingin pergi dari situ, tatapan matanya hampa dan seakan hidupnya mati. Ayahnya telah pergi dan pernikahan nya pun terancam gagal.
“Dimana pasien disini tadi sus?” Dirga mencari sosok yang sedari tadi mulai menyesakkan dadanya.
· “Oh, Tuan Axton dok**
Setahun kemudian
Dirga memandangi sebuah foto kebersamaan pria dan gadis cilik yang sangat mempesona. Senyum tak henti-hentinya di gulirkan dari bibir indah nya itu.
"Sampai kapan fotonya dipandangi aja bro" Damar membuyarkan lamunan Dirga.
"Hmmmm, sejak kapan kamu ada d sini"
"Sejak kamu senyum-senyum sendiri"
Dirga kembali memalingkan pandangannya ke foto tersebut dan tersenyum dengan mengabaikan pandangan Damar padanya.
"Apa mungkin foto ini yang membuat istrinya cemburu dan pergi dari mu Ga?"
"Nggak Dam, semenjak menikah aku memutuskan untuk menyimpan foto dan kenangan ini rapat-rapat di sebuah tempat, sampai penghiatan itu terjadi"
Sebuah mobil HRV putih menjemput sang istri dari kantor tempat istrinya bekerja. Sejak menikah, Yuanti memang tidak pernah memperlihatkan kepedulian nya akan hubungan rumah tangga mereka, Dirga seolah mengejar mimpi yang tak pernah ada. Walaupun sebelumnya mereka sudah sepakat untuk membangun rumah tangga mereka dengan baik.
"Maafkan aku Ga, pernikahan kita hanya perjodohan. Aku mencintai Mail, sejak SMA, dia cinta pertamaku. Tolong lepaskan aku Ga, kini Mail sudah bisa bertanggung jawab akan aku dan anakku jadi tolong biarkan kami"
"Aku berjuang melepaskan wanita yang aku cintai demi pernikahan ini, tapi ternyata semuanya terlalu menyakitkan"
Yuanti duduk memohon dihadapan Dirga sambil menangis "maaf Ga, maaf. Cintaku tak pernah bisa berpaling dari Mail, maaf" Yuanti menangis dan Ismail pun memperlihatkan tatapan sendunya sekaligus bermohon pada Dirga.
"Kejarlah dia Ga, dia yang selalu kau sebut dalam tidurmu dan yang selalu kau ingat dalam mimpimu. Kejar Ga"
"Baiklah jika itu yang kau inginkan, aku tak ingin kita saling menyakiti. Biarkan Gauri bersamaku" Dirga meminta hal itu pada Yuanti agar ia tidak merasa sepi.
"Kau bisa datang kapanpun untuk menjenguknya dan kau bisa layangkan surat cerai, akan aku tanda tangani" sambung Dirga.
"Dirga, kau terlalu baik bagiku. Tapi maafkan aku, cintaku pada Mail membuatku tak bisa melihat kebaikanmu"
"Aku mengerti Yu, karena cinta tak bisa dipaksa"
Percakapan terakhirnya dengan Yuanti sang mantan istri setelah akhirnya mereka bercerai. Dirga kembali memasang foto itu di atas meja kerjanya. Sama seperti tahun-tahun sebelum dia menikah dengan Yuanti.
Dirga menyadari rasa cinta Yuanti pada Ismail cinta pertamanya adalah sama seperti apa yang ia rasakan pada wanita pujaannya, cinta pertama nya, Rose.
Sebelumnya mereka bertengkar hebat di sebuah rumah besar mereka.
“Kau menghianatiku Yuan” Dirga menarik tangan Yuanti yang berstatus istrinya itu. Nafasnya memburu karena menahan amarah sejak pulang dari acara reuni itu.
“Aku tidak tahan Ga, kau ingin membangun rumah tangga denganku tapi kau tidak menunjukkan bahwa aku istrimu”
“Aku salah dimana Yuan?” bentaknya, matanya memerah saat menatap istrinya.
Walaupun mereka sepakat untuk menjalin hubungan dengan baik sebagai suami istri dan melupakan masa lalu, namun sebulan pernikahan mereka Dirga masih enggan meminta haknya sebagai suami. Yuanti merasa Dirga tidak pernah serius dengan kata-katanya, sehingga memutuskan untuk kembali pada Mail sang kekasih yang ia tinggalkan karena perjodohan itu.
“Mengenai Gauri, aku menyayanginya. Walaupun aku tau dia bukan anakku” Dirga kali ini mengendorkan suaranya.
“Maafkan aku Ga, maaf” Yuanti merasa sangat bersalah.
“Aku hanya butuh waktu Yu”
“Setahun tak cukup Ga?”
“Karena di awal pernikahan kau sudah tak jujur, walaupun kita sepakat melupakan masa lalu tapi bukan berarti kau harus menyakitiku dengan cara seperti ini”
Setelah menikah, Dirga tidak meminta haknya kepada istrinya. Hal itu karena pertemuan tak terduganya dengan Rose di rumah sakit. Namun janjinya pada orang tuanya membuat dia harus menjalani pernikahan itu.
Kekecewaan Yuanti dilampiaskannya disebuah Club bersama teman-temannya dan tak lupa Ismail hadir disana karena cinta mereka yang masih ada. Malam itu mereka saling melampiaskan rasa rindu dan cinta yang dalam, melupakan semua masalah antara mereka. Yuanti tau, kehamilannya itu memang menyenangkan, Dirga menjadi suami siaga walaupun Dirga tau itu bukan anaknya. Dirga memang sosok suami yang bertanggung jawab.
“Daddy” panggilan itu membuat mereka menghentikan pertengkaran itu.
“Ya sayang. Anak daddy sudah besar. Bi, apa Gauri sudah makan?”
“Iya Tuan, sudah minum s**u juga”
“Bawa tidur saja bik”
“Iya tuan, permisi tuan, nyonya” Bi inah membungkukkan badannya dan meminta ijin untuk meninggalkan mereka berdua yang masih saling memandang.
“Aku bahkan melupakan bahwa Gauri bukan anak kandungku. Yang aku mau, kita belajar menjadi orang tua baginya. Tapi ternyata kau selalu menghiantiku”
“Maafkan aku Ga, aku tidak bisa menjalani pernikahan ini. Pernikahan yang tidak ada pandangan cinta didalamnya”
“Ijinkan aku menjalani hidupku dengan Mail” pintanya pada Dirga.