'Kenapa Rose ada di rumah sakit? apa benar dia di rumah sakit?' ingatan Dirga kembali pada beberapa waktu lalu dimana dia bertemu dengan mantan kekasihnya.
'Ah mantan? Ya, semua hubungan itu sudah berakhir ketika aku dan Yuanti menikah' gumamku lagi dalam hatiku.
Pagi ini Dirga kembali memasuki ruangannya di rumah sakit, tempatnya bertugas. Aku menghentikan langkahku ketika aku melihat kembali bagaimana istrinya, Yuanti berjuang melahirkan Gauri, anaknya, walaupun bukan anak kandungnya.
Dia berjalan sekilas untuk kembali mengingatkan hatinya apakah dia benar-benar sudah merelakan istrinya itu atau masih ada harap untuk rujuk.
'Ah tidak, Yuanti harus bahagia dengan hatinya begitu juga aku, bangun Ga, bangun' lirihnya dalam hati.
Dirga kembali dengan dirinya, bertugas sebagai dokter Orthopedi yang harus teliti dalam melakukan pemeriksaan apalagi itu berhubungan dengan operasi tulang dan juga sendi. Diagnosa dan berbagai pemeriksaan diperlukan agar dia tidak salah dalam memberikan penanganan. Seperti yang terjadi saat ini.
"Dokter, apa yang sebenarnya terjadi pada saya? mengapa nyeri di pinggang saya sangat terasa?" tanya seorang pria paruh baya, menurut Dirga mata pasiennya ini sangat mirip dengan Rose, mantan kekasihnya.
Menghela nafas perlahan dan kemudian menariknya kembali, setelah itu dia tersenyum.
"Pak Agus, Nyeri pinggang itu dapat dipicu oleh beberapa hal seperti kelebihan berat badan, sering mengangkat benda berat, duduk terlalu lama, trauma dan atau proses pengeroposan tulang. Berdasarkan hasil rontgen tulang belakang anda, di sini disebutkan bahwa ada beberapa kelainan diantaranya hiperlordotik atau hiperlordosis yang mengarah ke kondisi tulang yangg terlalu melengkung ke arah depan yang berlebihan. Kemudian kelainan lainnya yaitu unstable lumbosacral yaitu kelainan yang mengarah pada kestidakstabilan tulang belakang anda bagian tulang punggung bawah" jelas dokter Dirga panjang lebar.
"Lalu apa yang harus saya lakukan dok?" tanyanya kemudian.
"Untuk mengurangi nyeri punggung bapak bisa melakukan beberapa hal seperti olahraga ringan, yoga misalnya ataupun renang. Kemudian jaga postur tubuh bapak jangan sampai berlebihan ya, berusahalah berbaring di atas permukaan yang rata, kemudian jangan mengangkat barang yang berat dulu ya pak sambil bapak melakukan fisioterapi, ini saya buatkan pengantar" terangnya kemudian.
"Baik dok, terimakasih". Pasiennya telah pergi, tugas jaganya hari ini juga telah selesai, kini ia harus segera pulang, sebentar malam dia harus kembali bekerja, di tempat prakteknya. Dokter Dirga hanya datang ke tempat praktek dua kali dalam seminggu, hal ini karena dia berbagi tempat praktek dengan sesama dokter orthopedi di klinik itu, serta dia ingin memiliki waktu yang banyak untuk dirinya sendiri dan keluarganya.
Saat dia berjalan menuju parkiran mobil para dokter, dia melihat perawat yang pernah ditemuinya di ruangan tempat ayah Rose di rawat.
"Suster, maaf bolehkah saya bicara sebentar?" kata Dokter Dirga pada perawat itu. Walaupun sebenarnya Dokter Dirga adalah seorang dokter, namun rasanya dia tetap harus berbicara dengan baik pada perawat yang terlihat masih sangat mudah dan cantik itu.
"Oh, iya dok. Apakah ada yang bisa saya bantu dok?" tanya perawat itu kemudian. Dirga mengangguk dan kemudian mengajaknya berbicara dari jarak yang tidak terlalu dekat, karena mereka hanya berdua saja di jalan itu. Sebagai seorang dokter dia juga menjaga nama baiknya.
"Apakah suster masih ingat dengan pasien yang bernama Axton?"
Suster seperti melihat-lihat ke atas awan, mungkin mengingat. Namun kemudian dia tersenyum sambil mengangguk mantap.
"Oh, yang saat itu dokter menghampiri saya tapi dokter langsung pergi?" ingatnya kemudian. Dokter Dirga tersenyum puas, karena perawat ini ingatannya sangat kuat. Pantas saja dia terlihat sangat sibuk dengan beberapa pasien di ruangan itu.
"Iya, Tuan Axton. Bisakah kamu menceritakan detail, apa yang terjadi dengannya? kenapa saya melihatnya kembali, beliau sudah tidak ada?" terang Dokter Dirga lagi.
"Oh, dia dok. Sudah meninggal, serangan jantung" kata perawat itu.
"Apa? meninggal? hari itu juga?" tanya Dirga lagi kemudian, dengan setengah membelalaknya matanya pertanda dia sangat terkejut. Hari itu saat dia selesai melaksanakan tugasnya, dia kembali mengecek apakah itu Tuan Axton, ayahnya Rose atau bukan? namun perawat yang berjaga saat itu baru saya bergantian jaga dan banyaknya pasien yang keluar masuk membuatku mengurungkan niatku mencari tau. Karena kesibukanku kemudian, aku menjadi lupa dan hari ini ingatan itu seperti meronta untuk aku ketahui.
"Saya permisi dok".
"Hah, iya terimakasih sus" jawab sang dokter. Dia terkejut dan tersadar dari lamunannya saat perawat itu sudah akan meninggalkannya.
Malam ini, dia tidak praktek di klinik dan Gauri juga sedang dengan ibunya, Yuanti. Dia meminta mengajak Gauri berjalan-jalan dan berkenalan secara lebih dekat dengan Ismail, ayah kandungnya.
'Aku tidak bisa melarangnya, karena seberapa besar kekuatanku melarang atau memisahkan mereka, mereka tetaplah anak dan ayah. Ada hubungan darah yang sangat erat yang membuat mereka bisa saling menguatkan, walaupun dari kecil aku yang merawatnya, mengadzaninya dan juga menggendongnya untuk pertama kalinya' gumam Dirga dalam hatinya.
Mengingat semua kejadian ituu, hatinya perih, bagaikan di tusuk sembilu. Dia meninggalkan gadis kecilnya untuk menerima perjodohan dari orang tuanya, namun ternyata terbelenggu oleh cinta pertama membuat Yuanti tidak bisa menjalani kehidupannya dengan Dirga secara normal, begitu juga dengan Dirga. Ingatan-ingatan berselancar dalam dirinya, meronta untuk tetap mentahtakan nama kekasihnya, Rose.
Kehadiran Gauri harusnya bisa menjadi penguat pernikahan mereka, namun sepertinya itu hanya dalam hayalan dan keinginan semata. Saat Dirga berusaha menjadi suami dan ayah yang baik, Yuanti justru bertemu dengan kekasih hati yang diinginkannya sehingga keputusannya sudah bulat untuk meminta perpisahan dari Dirga. Awalnya Dirgapun menolak untuk berpisah, namun dia tidak ingin menyiksa Yuanti lebih lama lagi. Kebahagiaan itu sudah di depan matanya, maka aku akan mempermudahnya untuk meraihnya.
"Ga, kamu sudah di rumah?" tanya mantan istrinya itu. Seiring talak yang sudah diucapkannya, kini mereka sepakat untuk bersahabat seperti saat mereka belum menjadi suami istri.
"Iya Yu, kenapa? Gauri masih dengan kamu kan?"
"Iya Ga, ini kata dia mau cari Daddy Dirga. Huh, kamu lebih sabar ya, anakku merepotkanmu" kata Yuanti dari seberang telfon.
"Aku jemput aja Yu, aku baru mau pulang dari rumah sakit nich"
"Kamu nggak praktek? bukannya hari ini jadwal praktekmu?" Yuanti memang bukan istri yang begitu peduli akan perasaan Dirga suaminya, saat mereka masih berstatus suami dan istri. Namun jadwal praktek dan kegiatannya masih terekam jelas dalam ingatan Yuanti selama dua tahun menjadi istrinya.
Ya, 4 tahun pernikahan karena perjodohan itu bertahta dan sselama itu cinta mereka masih pada orang lain. Mereka berdua tidak memiliki keinginan untuk berjuang, memilih memperjuangkan apa yang ada di hati mereka.
"Jadwal praktekku pindah besok Yu" mantapnya.
"Kamu dimana? aku jemput Gauri" ulangnya lagi.
"Aku sudah di jalan MH Tamrin, habis belikan dia mainan nich dengan Mail"
"Ya udah, aku kesana". Dirga kemudian mengendarai mobil Honda Jaz berwarna hitam itu menuju tempat yang di sampaikan oleh Yuanti. Gauri langsung terlihat girang saat melihat Daddy nya datang menghampirinya.
"Anak Daddy sudah mau pulang?"
"Iya Daddy. Ayo, aku mau bobo" manjanya lagi.
"Papa, Gauri pulang ya. Mama d**a? sambil melambaikan tangannya. Anakku ini memang sangat menggemaskan, namun sayangnya dia hanya tumbuh indah denganku, dia tetap anak kandung Yuanti dengan Ismail.
"Anak Daddy masih mau jalan-jalan?"
"Nggak Dad, Gauri ngantuk. Bobo ma Daddy ya" jawabnya mantap.
"Baiklah sayang. Back home?" Gauri mengangguk.
"Let's go" ulang Dirga kemudian.
Mereka terlihat sangat bahagia bersama, ada rasa nyeri di hati Yuanti jika memikirkan bahwa dia dan Dirga memang benar-benar sahabat yang baik, setelah status mereka resmi bercerai. Bahkan mereka sama-sama sangat bahagia, tidak lagi saling melukai dan menghianati.
Sementara itu di rumah Rose, suasana berkabung belumlah usai. Rose masih dengan kepedihannya yang begitu dalam, dia mengurung dirinya di dalam kamar dan tidak mau diganggu oleh siapapun, termasuk Marchel, tunangannya.
Ingatan tentang serangan jantung dialami oleh sang ayah adalah karena rencana pernikahannya yang menjadi permasalahan, setelah sang salon mama mertua mengetahui dirinya yang sulit hamil.
***
Ingatannya kembali pada penjelasan Dokter Parta saat itu.
"Apa yang terjadi sehingga dia sulit hamil dok?" pertanyaan Marchel pada dokter saat itu.
"Rose memiliki gejala PCO atau Policystic Ovarium, yang ditandai dengan sel telur yang kecil-kecil, siklus haid yang tidak normal dan bisa menimbulkan penebalan pada dinding rahim" jelas sang dokter.
"Hahhhhh" Rose menghempaskan nafasnya panjang, mengingat semuanya dia kemudian berusaha membawa dirinya melupakan semuanya dengan memejamkan matanya perlahan.
Bersambung....