Pernikahan Tanpa Cinta
Gaun putih yang kukenakan terasa terlalu berat untuk tubuhku
Bukan karena payetnya, bukan karena renda mahal yang menempel di kulitku, melainkan karena makna di baliknya. Gaun ini bukan simbol kebahagiaan. Ia adalah tanda penyerahan diri pada keadaan, pada takdir yang tak pernah kupilih.
Di depanku, seorang pria berdiri tegak dengan setelan jas hitam sempurna. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang akan menikah hari ini. Tidak ada gugup, tidak ada senyum, tidak ada getar emosi.
Nathaniel Arka.
Calon suamiku.
CEO muda yang namanya disegani dan ditakuti.
Pria yang akan kunikahi.. tanpa cinta.
“Akad nikah akan segera dimulai.”
Suara penghulu menggema di ruangan mewah itu. Lampu kristal berkilauan, para tamu duduk rapi dengan busana terbaik mereka. Semua terlihat sempurna. Terlalu sempurna untuk sebuah pernikahan yang dibangun dari kontrak.
Tanganku gemetar di atas pangkuan. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Di barisan depan, ibuku duduk di kursi roda. Wajahnya pucat, tapi matanya menatapku penuh harap dan rasa bersalah itu kembali menyesak dadaku.
Aku melakukan ini untuknya.
Nathan menoleh sekilas ke arahku. Tatapannya dingin, datar, seolah aku hanya bagian dari agenda hariannya. Tidak ada sentuhan, tidak ada isyarat menenangkan.
Dan entah mengapa, itu lebih menyakitkan daripada amarah.
Ijab kabul diucapkan dengan lantang. Suara Nathan stabil, tanpa ragu. Satu tarikan napas, satu kalimat, dan hidupku resmi berubah.
“Sah.”
Kata itu menggema di telingaku.
Para tamu bertepuk tangan. Beberapa tersenyum haru. Kamera menangkap momen yang seharusnya menjadi awal bahagia sepasang pengantin.
Aku tersenyum.
Senyum yang kupaksakan.
Nathan menandatangani buku nikah tanpa melihatku. Saat cincin disematkan di jariku, sentuhannya singkat dan dingin—seperti peringatan, bukan janji.
“Kita hanya menjalankan peran,” katanya pelan, hanya untukku. “Jangan berharap lebih.”
Dadaku terasa perih, tapi aku mengangguk.
“Baik.”
Satu kata itu terasa seperti sumpah yang kupaksakan pada diri sendiri.
Hari ini, aku resmi menjadi istri seorang pria yang tidak mencintaiku.
Dan entah kenapa, aku merasa ini baru permulaan dari luka yang lebih dalam.