Cerita kawin lari

1279 Words
“Tidak!” Anggun terbangun di pagi hari sembari menjerit. Mimpi buruknya itu terasa sangat nyata membuat peluh bercucuran dari kening dan juga pelipisnya. Ia mengusap keringatnya dengan cepat. “Astaga, sampai terbawa mimpi,” keluhnya lirih. Ia melirik ke arah jam dinding di kamar, sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Hampir berlonjak dari ranjang karena lupa bila ini hari minggu dan seingatnya dia harus berangkat kerja. Anggun turun perlahan dan membuka pintu kamar pelan. Tepat saat ia membuka pintu kamar, terdengar jelas suara bel rumah berbunyi. Lalu derap langkah kaki Rose yang berjalan mendekat ke pintu utama. “Selamat pagi ....” Suara seorang pria menyapa. Cuping daun telinga Anggun segera bergerak sedikit ke atas, menyimak. “Ya, selamat pagi,” balas Rose menyapa ramah. “Cari siapa ya?” “Anggunnya ada Mbak?” tanya Dimas dengan perasaan terluka karena Rose tidak mengenalinya. Sebetulnya, hubungannya dan Rose tidak bisa disebut sebagai mantan atau pun teman dekat. Karena Rose hanya pernah sekali meminta Dimas untuk melukisnya. Lalu hubungan dekat selama tiga hari itu amat berkesan bagi Dimas, membuatnya tidak bisa menyingkirkan sosok Rose yang hangat, ramah dan kharismatik. Seperti sosok almarhum ibunda Dimas yang telah meninggal lima belas tahun silam. Rose tidak menjawab. Ia menatap Dimas lekat-lekat. “Hm .... Sepertinya aku kenal kamu.” Dimas mulai tersenyum. Hatinya mulai berbunga karena Rose mulai mengenalinya. “Ya, ya, kita pernah bertemu.” Kini Rose mulai teringat. “Kamu pelukis hebat itu kan ....” Dimas mengangguk mantap. “Betul sekali mbak.” “Dan kamu mencari Anggun?” Dimas tersenyum. “Ya, betul.” “Oia, apa hubunganmu dan putriku?” tanya Rose ingin tahu. Sementara Rose mengajukan beberapa pertanyaan pada Dimas, Anggun menuruni anak-anak tangga rumahnya sembari menguping. Rambut kusut dan setelan piyama yang sama lusuhnya dengan mukanya diabaikannya. “Aku adalah ....” “Ada apa ke mari?” tanya Anggun menyela sembari berjalan. “Aku kira semuanya sudah jelas semalam.” “Semalam?” tanya Rose berdesis lirih. “Maaf,” jawab Dimas singkat. “Ya sudah pulang sana!” Anggun mengusir. Rose mulai memandangi Anggun dan Dimas bergantian. Tingkah keduanya seperti pasangan kekasih yang sedang bertengkar. “Aku ingin membicarakan perihal semalam. Bisa kita bicara?” tanya Dimas dengan seulas senyuman kecut. “Tidak,” jawab Anggun secepat kilat dan sembari melipat kedua tangannya. “Pembicaraan kita sudah basi. Sudah sana pulanglah ....” Rose masih memandangi Anggun dan Dimas bergantian. Ia memperhatikan. Dimas mengulurkan tas ransel Anggun. “Ini tas mu ... Apa kau membawa uang di sakumu? Bagaimana caramu pulang jika tas dan dompetmu ketinggalan di apertemanku?” Anggun mengambil tas ransel kecilnya. Iya, dia memang lupa dengan tasnya. “Aku selalu menyelipkan uang di balik silikon ponselku. Lagi pula dompetku uangnya gak banyak. Jadi enggak masalah jika ketinggalan.” “Lain kali jangan begitu. Walau dompetmu tipis, tapi kartu identitas dan juga ATM milikmu itu penting.” “Jadi semalam kalian bertemu di aperteman? Berduaan?” tanya Rose sembari menggerakkan jarinya seraya menghitung. Anggun dan Dimas kompak bersamaan menatap Rose. “Iya,” jawab mereka bersama tanpa ada yang mengkomando. Setelah sadar mereka menjawab bersamaan, Anggun dan Dimas pun saling bertatapan sebentar. “Jadi semalam itu kamu bersama Dimas? Di apertemannya?” tanya Rose sekali lagi. “Iya. Maaf aku enggak bilang Mami.” “Astaga Anggun, kamu berduaan di aperteman pria lajang?” Rose terlihat tidak suka. “Harusnya tidak boleh seperti itu ....” “Kalau aku tidak boleh. Sedangkan Mami bagaimana? Mami kan pernah ke apertemannya Dimas untuk dilukis kan?” tanya Anggun dengan sepasang mata menyalak berapi-api karena kesal. “Mami? Enggak. Mami enggak pernah ke apertemannya.” “Bohong. Aku lihat lukisan Mami di apertemannya Dimas.” “Mami memang pernah meminta dilukis, tapi hasil lukisannya Mami bawa dan Mami menaruhnya di kamar. Lagi pula Mami dilukis di galeri lukis Dimas. Bukan di apertemannya,” jelas Rose. Anggun mengatupkan bibirnya. Dari air mukanya terlihat ia tidak percaya. Begitu banyak Rose membohonginya. Memperlakukannya seperti anak kecil. Ini itu dilarang. Sedangkan Maminya sendiri bisa hidup bebas. Gonta ganti kekasih seperti mengganti pakaian saja. “Apa yang Mamimu katakan itu benar Anggun. Aku melukis Mamimu di galeri milikku. Dan lukisan yang kamu lihat di apertemanku itu, aku melukisnya ulang. Mamimu terlalu cantik untuk tidak aku jadikan kenang-kenangan atau karya yang akan aku pamerkan di galeriku.” Hening. Anggun melirik ke arah Maminya dan juga Dimas. Rose menarik nafas panjang menghadapi sikap keras kepala putrinya. “Mbak, aku kira Anggun ini adalah adikmu ...,” ujar Dimas mengalihkan topik pembicaraan. Rose tersenyum simpul. “Ah, kamu bisa saja memuji. Bukan. Anggun ini putriku. Anakku satu-satunya.” “Mbak tidak terlihat seperti ibunya. Bahkan seperti seusia dengan Anggun.” Rose kembali tersenyum sembari tertawa pelan. “Bisa saja kamu ....” Anggun memandangi Rose dan Dimas yang sedang berbincang dan tertawa lirih. Sedangkan dia berdiri sendirian seperti orang asing. Padahal jarak mereka tidak berjauhan. “Ayo silahkan masuk,” kata Rose sembari mempersilahkan Dimas ke dalam. Sejak tadi Dimas berdiri di ambang pintu. Dimas berjalan masuk ke dalam rumah. Lalu duduk di salah satu sofa. Aroma bunga sedap malam terhirup di ujung indera penciumannya. Tiba-tiba kenangan atas mendiang almarhum ibunya ketika masih hidup teringat kembali. Ibunya juga suka bunga sedap malam seperti Rose. Anggun menatap cuping hidung Dimas yang bergerak-gerak. “Kamu tidak suka dengan aromanya ya? Mamiku itu memang aneh. Dia selalu menaruh bunga sedap malam di ruang tamu dan juga ruang keluarga. Apa lagi kalau malam hari, aroma sedap malamnya semakin menyengat. Menyeruak, dan aku serasa ada di kamar mayat. Horor ....” “Ibumu tidak aneh, Anggun. Ibumu unik,” sahut Dimas. Kedua alis Anggun naik ke atas. “Ya, ya ... terserah kamu lah. Kamu pasti akan membela mamiku, karena kamu adalah jajaran fans Mamiku di Kota ini. Harusnya Mamiku itu jadi artis, cantik dan banyak yang suka. Kalau Mamiku jadi artis kan kami bisa punya banyak uang,” katanya sembari tersenyum sinis. Dimas menggeleng pelan. “Kamu tidak boleh begitu pada ibumu, Anggun.” Anggun melirik tajam lalu memalingkan mukanya. Rose yang tadi berjalan meninggalkan, menuju ke dapur untuk mengambilkan kue bolu pandan kini datang lagi. “Kebetulan, hari ini Mami membuat kue bolu pandan. Apa kamu suka Dimas?” “Tentu saja, Mbak. Kue pandan kesukaanku ...,” jawab Dimas seperti anak kecil. Anggun nyaris tertawa melihatnya. Dimas menatap Rose yang memotong-motong kue, lalu membagikannya. Seulas senyuman Rose, suara dan sikap hangatnya benar-benar membuat Dimas teringat akan sosok mendiang ibundanya. “Ini, dihabiskan ya ....” Rose menaruh potongan kue bolu pandan di atas piring kecil beserta garpu kecil. Begitu juga untuk Anggun. “Anggun, kamu mandi dulu sana,” kata Rose pada putrinya. “Malu-maluin aja ....” “Aku enggak malu kok,” timpal Anggun sembari tersenyum. “Astaga, anak ini ... Kamu enggak malu duduk di sini dengan tampilan muka kaya gitu?” “Kenapa aku harus malu sama suamiku sendiri?” Anggun semakin tersenyum lebar. “Mami, maaf ... Sebetulnya aku sudah menikah dengan Dimas. Satu bulan yang lalu, kami kawin lari. Orang tua Dimas tidak setuju dengan hubungan kami. Dan Mami juga pasti tidak akan setuju bila aku menikah muda kan? Jadi kami memutuskan untuk kawin lari. Tapi berhubung Dimas sudah ke mari, lebih baik aku memberitahu Mami apa yang sudah terjadi.” Sepasang mata Rose membulat, membola besar dan nyaris keluar dari kelopak matanya. “Apaaa? Kalian berdua sudah menikah?” tanyanya dengan suara nyaring beroktaf tinggi. “Ya, Mami. Maafkan aku ....” Rose memandang Anggun dan Dimas bergantian. “Astaga ....” Dimas tidak bersuara sepatah kata pun. Mulutnya rapat. Membiarkan Anggun saja yang mengatur semua permainan ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD