Sepasang mata Rose membulat terbelalak. “Yang benar saja Anggun!” serunya dengan nada tinggi. “Yang benar saja kamu menikah diam-diam tanpa meminta izin pada Mami ataupun mengatakannya?”
“Maaf Mami. Aku terpaksa,” ucap Anggun lirih.
“Terpaksa? Memang ada alasan mendesak apa hingga kamu harus buru-buru menikah?” tanya Rose sembari memicingkan sepasang matanya. Ia mulai takut jika Anggun hamil duluan. Netranya melihat ke arah perut Anggun yang rata. “Apa kamu tengah mengandung?”
Hening.
Lalu beberapa menit kemudian seluruh ruangan dipenuhi tawa Anggun. “Tidak Mami, aku tidak hamil.”
“Lalu kenapa kamu bisa mengambil keputusan begini? Menikah buru-buru tanpa mengatakan pada Mami lebih dulu?”
“Aku hanya ingin ada orang yang setia menemaniku. Selama ini Mami sibuk dengan pekerjaan Mami, kencan-kencan Mami.” Anggun menjawab dengan lantang.
“Mami sibuk bekerja demi kamu! Demi kehidupan kita. Dan bukankah kamu sering bermain dengan Nita dan melupakan Mami yang masih ada di sini?” tukas Rose.
“Pokoknya, aku sudah menikah sekarang. Mungkin resepsinya akan di selanggarakan tiga bulan lagi. Dimas lagi ngumpulin uangnya,” kata Anggun sembari melirik Dimas yang berdiri mematung.
Rose mengarahkan pandangan matanya kembali pada Dimas.
Dimas tersenyum canggung. “Iya, aku sedang mengumpulkan uangnya,” jawabnya sembari memarkan jajaran gigi-gigi putihnya.
Rose masih kesal. Ia tidak menanggapi.
“Bagaimana Mam? Mami terima kan jika aku sudah menikah dengan Dimas di bawah tangan,” ucap Anggun sekali lagi. Ia terlihat tidak takut dengan amarah ibunya.
“Terserah kamu!” sungut Rose sembari membalik badan dan menuju ke kamarnya.
Anggun dan Dimas saling melirik satu sama lain.
Dimas akan mengatakan sesuatu, namun suaranya itu tertelan kembali ketika Rose kembali keluar kamar dengan membawa tas kecilnya dan juga blezer warna mocca.
“Mami mau ke mana?” tanya Anggun dengan raut muka tanpa dosa. Seolah ia tidak merasa bersalah atas kekesalan yang dirasakan oleh ibunya itu.
“Mami mau ke salon!” jawab Rose tanpa menatap Anggun dan Dimas kembali. Ia langsung berjalan lurus ke depan, melewati mereka seraya tidak melihat.
Tidak lama kemudian terdengar suara deru mesin mobil yang keluar pekarangan rumah. Rose pergi dengan mobil baru pemberian Daniel.
“Sepertinya Rose marah besar pada kita,” ucap Dimas sembari menatap kosong.
“Sudah biarkan saja,” jawab Anggun sembari duduk di sofa ruang tamu dan menyantap kue bolu yang dibuat oleh Rose.
“Apa kita keterlaluan?” tanya Dimas sembari mengikuti Anggun duduk di sofa.
Anggun menggeleng cepat sambil mengunyah. “Tidak. Tenang saja. Kita enggak keterlaluan. Mami hanya kaget. Sore nanti pasti dia sudah biasa lagi.”
“Sungguh kan Rose tidak akan marah sama kita?” tanya Dimas sekali lagi.
Raut muka Anggun yang semula biasa aja berubah menjadi kesal. “Sudah aku bilang, Mamiku tidak marah. Sudahlah jangan dipikirkan. Serahkan saja semuanya padaku.”
Hening.
Dimas menatap Anggun dalam diam. Ia takut jika rencana mereka justru membuat Rose membencinya.
“Ini nih, makan kuenya. Idola kamu yang buat kan,” ujar Anggun menawarkan.
***
“Kamu kenapa? Kok dari tadi cemberut aja?” tanya Daniel sembari mencubit hidung Rose.
Rose lebih tua delapan tahun dari Daniel. Tapi Daniel merasa Rose sungguh menggemaskan. Di usianya yang ketiga puluh tujuh tahun itu tidak membuat Rose tampak terlihat tua. Bahkan ia terlihat masih berusia dua puluh lima tahun.
Wajah Rose yang imut dan tubuhnya yang masih langsing, tidak memperlihatkan jika dia sudah memiliki anak gadis berusia sembilan belas tahun.
“Jangan mengamatiku terus ...,” gerutu Rose sembari menoleh ke arah Daniel. Pipinya tampak memerah tersipu seperti jambu biji yang kematangan.
“Memang kenapa? Aku tidak boleh mengamatimu. Kamu itu seperti bidadari. Aku enggak akan bosan menatapmu. Tanpamu aku sekarat ...,” ucap Daniel penuh gombalan. Jari di tangan kanannya mempermainkan helai rambut Rose yang sedikit terjuntai ke depan.
Rose tersenyum tersipu mendengarnya.
“Kenapa kamu sedih?” tanya Daniel. “Apa kamu ingin sesuatu? Kita sudah menonton film. Tapi kamu tidak menikmatinya.”
Rose tersenyum kecut. “Maaf. Aku banyak pikiran.”
“Ceritakan padaku ada apa? Ada sesuatu yang salah? Kamu bosan dengan mobil yang aku berikan padaku? Jika bosan kita ganti yang baru.”
“Bukan itu!” sahut Rose buru-buru. “Mobilmu tidak apa-apa. Aku suka dengan mobilnya dan aku sangat berterima kasih kamu memberikannya untukku.”
“Lalu apa masalahnya?” tanya Daniel penasaran.
“Ini tentang putriku ....”
“Anggun?” Daniel langsung bisa menebak. Karena memang putri Rose hanya satu orang. “Kenapa dia?”
“Dia tahu hubungan kita ...,” jawab Rose lirih.
“Baguslah jika Anggun tahu. Pasti dia senang akan mendapatkan Papa baru yang ternyata atasannya sendiri,” ujar Daniel sembari tersenyum lebar.
Rose menghela nafas panjang. “Justru dia marah padaku.”
“Marah? Aneh sekali ... Memang dia tidak suka padaku? Padahal jika bertemu di hotel, Anggun terlihat ramah, sopan dan selalu menatapku. Apa semua itu karena aku hanya atasannya semata? Di belakangku sebetulnya dia membenciku? Seperti seorang karyawan yang membenci bosnya?”
Rose tertawa lirih. “Anggun bukan anak yang seperti itu. Dia hanya kaget, aku menjalin hubungan dengan atasannya. Mungkin dia merasa akan kikuk jika ternyata atasan di tempat kerjanya adalah kekasih ibunya.”
Daniel mencibirkan bibirnya. “Jadi begitu rupanya,” tanggapnya sembari tersenyum pahit. Lalu melambai pada pelayan restoran kembali. Ia meminta dibuatkan secangkir kopi cappucino lagi.
Pelayan restoran mengangguk. Tidak membutuhkan waktu lama, dia kembali lagi sembari membawa satu cangkir capuccino di dalam nampannya dan memberikannya pada Daniel.
Daniel tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada pelayan tersebut.
Pelayan tersebut setengah membungkukkan badan dan berjalan mundur. Lalu kembali ke tempatnya.
“Jadi Anggun mengatakan apa yang membuatmu sedih dan terlihat terbebani seperti ini?” tanya Daniel sembari meniup capucinnonya. Terlihat asap hangat bergerak dari atas cangkir. Ia menyesap perlahan, sembari menunggu lanjutan cerita Rose.
“Anggun tidak mengatakan apa pun sih ... Dia hanya terlihat kesal dan kecewa karena aku tidak menceritakannya sejak dulu. Dia juga terkejut ketika mendengar hubungan kita sudah terjalin enam bulan.”
“Mungkin dia terkejut senang,” sahut Daniel sembari tersenyum.
“Dia bilang kecewa padaku. Dan tadi pagi ... Ada seorang pemuda ke rumahku, namanya Dimas, seorang seniman. Dia pelukis hebat. Aku juga pernah dilukis olehnya. Lukisannya sangat bagus dan hidup.”
Daniel mendengarkan. Menyimak dengan teliti.
“Dimas ke rumah mencari Anggun. Saat aku tanya hubunganya apa dengan Anggun ... Tiba-tiba Anggun menjawab dari dalam rumah, jika Dimas adalah suaminya.”
“Apa?” Daniel ikut terkesiap mendengarnya. “Anggun sudah menikah tapi dia sama sekali tidak mengatakannya padamu?”
“Iya. Bagaimana aku tidak kesal dibuatnya? Ayahnya sudah meninggal, dia bisa menikah dengan wali hakim.”
“Ya lalu? Sudahlah biarkan saja kalau begitu. Itu sudah pilihannya.” Daniel menghibur.
Rose terdiam sebentar. Tiba-tiba ia merasa ada yang janggal. Rasanya aneh jika Anggun sampai berani menikah di bawah tangan dengan Dimas, buru-buru seperti itu. “Apa dia marah padaku ya? Karena dia kecewa padaku yang tidak memberitahukan kalau aku menjalin hubungan denganmu, maka Anggun membalasnya? Mendadak dia langsung menikah dengan Dimas tanpa pikir panjang.”
Daniel terdiam. Berpikir sesaat. “Ya, bisa jadi. Atau mungkin ... Pernikahannya itu hanya pura-pura untuk membalasmu? Membuatmu menjadi kesal sama seperti apa yang dirasakannya?” Ia menebak dengan bola mata mengkilat. “Bisa saja kan putrimu itu hanya pura-pura menikah untuk membalasmu yang telah menutupi hubungan kita darinya ....”