Serigala

1378 Words
Kamar pengantin Anggun tidak dihiasi bunga-bunga layaknya kamar pengantin pada umumnya. Ia terduduk lesu menatap jendela. Cahaya matahari yang akan terbenam memantul keemasan membias ke dalam kamarnya. Suara shower di kamar mandi terhenti. Dimas keluar dari dalam kamar mandi. Aroma sabun yang menyegarkan segera menyeruak memenuhi kamar. “Badanku gatal-gatal pake kemeja kawinan yang tadi,” ungkapnya sembari melempar handuk ke atas kasur, hingga tanpa sengaja handuk basahnya itu mengenai kepala Anggun. Anggun terkesiap merasakan lembabnya handuk dingin mengenai kepalanya. Ia segera menarik handuk basah itu dan melemparnya kembali kepada Dimas. “Hei, kamu enggak punya mata? Masa gak liat kalau kena mukaku!” teriaknya lantang. “Oh, maaf. Aku gak sengaja,” jawab Dimas sembari menjejalkan jari-jarinya di dalam lebat rambut hitam legamnya itu. Pipi Anggun segera merona merah. Ia langsung memalingkan mukanya ketika netranya melihat Dimas tanpa mengenakan baju, hanya celana kolor santai warna biru. d**a bidangnya yang sedikit berbulu dan perutnya yang rata dengan enam kotak bak roti kasur itu nyaris membuat wajah Anggun seperti kepiting rebus. “Lain kali liat-liat kalau lempar handuk,” ujar Anggun dan kembali lurus menatap ke arah jendela. Melanjutkan kegiatannya yang tadi. “Kamu enggak mandi?” tanya Dimas. Seraya hubungan mereka ini tidak ada yang ganjil. “Nanti aja. Aku lagi pusing,” jawab Anggun sambil menggaruk pinggangnya. Kebaya putih brokat ini memang menyebalkan, membuatnya gatal-gatal. “Kebaya dan kemeja nikahan kita ini boleh beli apa nyewa sih? Kenapa bikin gatal-gatal banget,” gerutunya sembari memanyunkan bibir. “Dugaanku sih Daniel nyewa,” sahut Dimas sembari membuka lemari pakaian yang ada di dekat jendela. Sudut mata Anggun terpaksa mendapati Dimas yang sedang memakai kaos warna biru langit. “Kalau aku mandi, nanti aku pakai baju ganti yang mana? Aku kan gak bawa baju ganti. Mana aku tahu kalau kita bakalan dikawinin paksa di sini.” Dimas membuka pintu lemari sebelahnya. Lalu ia menunjuk ke arah hambalan yang paling bawah. “Pakai saja baju ini. Besok pagi kita akan pulang." Anggun menoleh dan melihat ke arah telunjuk Dimas mengarah. “Baju perempuan itu?” “Iya.” “Baju siapa?” “Enggak usah banyak tanya. Pakai aja. Itu baju orang yang dulu suka main ke sini terus ketinggalan, gak dibawa pulang lagi,” jawab Dimas cepat. “Orang yang kamu maksud itu siapa?” tanya Anggun mendesak. Dimas terlihat kesal mendengar rentetan pertanyaan Anggun. Ia segera duduk di kursi dan menuang air putih dari teko kaca kristal ke gelas kaca bening. Membiarkan pertanyaan Anggun tidak dijawab. “Aku yakin ... Semalam itu orang yang aku lihat menyelinap masuk ke dalam rumahmu adalah Daniel,” katanya mengalihkan pembicaraan. “Memang kamu lihat mukanya? Dia benar Daniel?” tanya Anggun. “Jangan suka sudzon sama orang. Lagian ngapain Daniel menyelinap masuk ke dalam rumahku? Dia lebih kaya dari keluargaku.” “Bukan masalahnya dia mau mencuri. Lihat ban mobilku yang tiba-tiba kempes. Lalu dengan kita yang jadi menikah sungguhan di sini,” jawab Dimas menjabarkan. "Daniel sungguh licik. Kenapa aku tidak belajar dari pengalaman sebelumnya ...," sambungnya berdesis lirih. Anggun mengatupkan bibirnya sebentar. Menjilat bibir bawahnya dan kemudian melirik ke arah Dimas lagi. “Sebetulnya kamu bisa menolak pernikahan ini.” “Kamu juga bisa menolak. Lalu kenapa kamu teruskan?” Dimas berbalik bertanya. Anggun diam sejenak. Dan setelah dua menit kemudian suaranya baru terdengar kembali. “Tadinya aku ingin menolak. Tapi aku pikir pernikahan kita adalah solusi agar Mami tidak mengaturku lagi.” Dimas memandangi Anggun yang memalingkan mukanya darinya. “Kamu menerima pernikahan kita ini hanya karena agar Rose tidak mengaturmu? Anggun, Rose itu mami kamu, wajar jika dia mengatur mu. Kamu ini sama sekali enggak ada rasa syukurnya. Nanti kalau kamu udah gak punya ibu, baru tau rasanya ...! Betapa seorang ibu sayang sama anaknya.” Anggun mendesah kesal. “Oh jadi aku kurang rasa syukur? Lalu kamu sendiri bagaimana? Bukannya kamu juga tidak punya rasa syukur dengan memusuhi kakakmu sendiri dan tidak tinggal serumah dengan keluargamu?” “Rumah itu bukan keluargaku!” seru Dimas lirih. Anggun mengerutkan dahinya. “Daniel itu kan kakak tirimu. Justru ibumu yang tinggal dengan Daniel kan?” Dimas tersenyum tipis. Seraya menertawakan Anggun yang sok tahu. “Yang tinggal di rumah besar Handoko ya ibunya Daniel. Bukan ibuku. Aku adalah anak selingkuhannya Tuan Niko Handoko. Karena itu kehadiranku tidak diinginkan di rumah besar itu.” Hening. Anggun dan Dimas terjebak kesunyian sesaat. “Jadi, kamu merasa orang asing di rumahmu sendiri?” Anggun bisa menebak. Kedua alis Dimas terangkat ke atas. “Hm ... Ya begitulah.” Ia beranjak dari duduknya. Lalu melangkah mendekati Anggun. Duduk di tepian ranjang, berhadapan dengan Anggun yang sedang menatapnya. “Anggun, kamu tidak menganggap pernikahan kita ini sungguhan kan?” “Ten, tentu saja tidak,” jawab Anggun nyaris tergugu. “Bagus. Aku takut kamu menganggap pernikahan kita ini sungguhan,” ujar Dimas dengan raut muka datar. “Tenang saja ... aku tidak akan menganggap serius pernikahan ini. Aku tahu pernikahan kita hanya pura-pura,” jawab Anggun sembari tertawa lirih. “Pernikahan kita ini selama enam puluh hari. Sekitar dua bulanan kita harus membuat Daniel pergi dari kehidupan Rose. Dan juga dalam kurun waktu itu aku akan membuatnya sadar jika dia tidak bisa selalu menjadi yang terunggul. Aku juga akan membuat ayah mempekerjakan diriku di hotel.” Kedua alis Anggun bertaut. “Kenapa kamu begitu membenci Daniel? Jika aku tahu rencana kita ini membuatnya susah aku pasti tidak mau.” Dimas membalas tatapan Anggun yang tajam memandanginya. “Maaf, idolamu itu sebetulnya berakhlak tidak baik.” Kening Anggun semakin berkerut dalam. Ia tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Dimas. Baginya kata-kata Dimas ini hanya rasa iri dan juga buruk sangka tak beralasan. Atau mungkin ini ada hubungannya dengan wanita bernama Indah yang tadi sempat mereka perbincangkan? tanyanya di dalam hati. *** Daniel melirik ke arah belakang punggungnya. Rose duduk di meja makan sembari menghadap ke teras belakang dari sekat jendela besar dan lebar. Bagai dinding tembus pandang, ia bisa melihat semi hutan lindung yang dipenuhi tingginya pepohonan rindang dan lebat. Tangan Daniel dengan sigap dan cepat memasukan sesuatu berbahan serbuk dari dalam saku celananya. Ia mengaduk teh itu dengan cepat. Setelah sudah memastikan jika partikel-partikel serbuk itu sudah tercampur rata, ia membawa dua cangkir teh ke arah meja makan. “Ini minumlah,” katanya sembari tersenyum pada Rose. Rose membalas senyum. Ia mengambil cangkir teh dengan alas piring kecil yang diberikan oleh Daniel, tanpa curiga sedikitpun isi dari teh itu sudah tercampur sesuatu. “Terima kasih.” Daniel menyeringai laksana serigala yang akan menyantap buruannya. “Kamu pasti lelah dengan semua ini. Habiskan teh herbalnya. Teh herbal ini bagus untuk kebugaran mu dan juga menghilangkan stress. Setelah minum teh herbal ini kamu pasti bisa tidur nyenyak.” Rose tersenyum menghargai. “Terima kasih Daniel. Tanpamu pasti aku tidak tahu kalau Anggun dan Dimas pura-pura menikah hanya untuk bisa tinggal di satu atap yang sama. Anggun itu tidak bisa berpikir panjang. Aku tahu, mungkin Dimas adalah cinta pertama dan kekasih pertamanya, makanya dia seperti cinta buta begitu ....” Daniel menepuk punggung tangan Rose. Menghela nafas panjang dan dalam seraya melepaskan beban berat. “Dimas memang sering memanfaatkan gadis-gadis lugu. Tapi semoga saja kali ini dia sungguhan insaf dan setia pada Anggun.” Sembari menyimak, tangan kanan Rose mulai mengangkat cangkir teh dan hendak menyesapnya. Daniel mengamati dan berharap Rose segera tandas menghabiskan. Tapi saat cangkir teh sudah menempel di bibir, tiba-tiba tangan Rose terhenti dan ia kembali manaruh cangkir tehnya. Ia teringat sesuatu, “Oh ya, apa Dimas memiliki mantan kekasih? Berapa orang?” tanyanya penuh selidik. Rose sungguh takut Anggun memiliki suami yang memiliki sederet mantan dan juga mata keranjang. “Aku lupa,” jawab Daniel sembari menggaruk hidungnya. “Masa kamu lupa ....” Protes Rose. “Ada satu pacar terakhir Dimas yang aku ingat. Namanya Indah.” “Indah ...?” “Hm ... Ya Indah. Seindah namanya, gadis itu cantik,” jelas Daniel. “Kenapa mereka putus?” tanya Rose sekali lagi. Manik mata Daniel tarpaku pada cangkir teh yang mulai diabaikan. “Rose, tehnya mulai dingin. Lebih baik kamu minum tehnya dulu ...,” ujarnya sembari tersenyum simpul. “Kalau teh herbalnya dingin, nanti rasanya kurang nikmat," lanjutnya sembari tersenyum simpul. Cepat diminum Rose! seru Daniel di dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD