Rose kembali mengambil cangkir teh yang sudah dibuatkan oleh Daniel. Ia mulai menyesapnya. Namun belum sempat teh itu membasahi kerongkongan dan jatuh ke dalam lambungnya. Suara Anggun memanggil dan berjalan mendekat. “Mami, yakin kita menginap di sini?”
Lagi-lagi Rose menaruh cangkir tehnya ke atas meja. Daniel mendesah kecewa.
Ia menoleh menatap Anggun yang berjalan menghampiri.
“Mami yakin kita nginep di sini? Kita gak bawa baju ganti loh ...,” kata Anggun yang masih mengenakan kebaya warna putih.
Sebelum menjawab pertanyaan dari Anggun, Rose menoleh ke arah Daniel. Menatap pria itu, seakan hanya Daniel yang memiliki wewenang untuk menjawab.
“Kalian menginap saja di sini. Besok setelah pulang dari villa kita ke rumah orang tuaku. Dimas harus memperkenalkan istrinya pada keluarga,” jawab Daniel.
“Aku dan Mami tidak membawa pakaian ganti kan,” kata Anggun sembari menunjuk kebaya yang dikenakan. Masa aku harus pake ini untuk tidur."
“Pakaian yang kamu kenakan saat ke mari mana?” Rose menyela.
“Ada, di kamar. Tapi aku tidak mau mengenakannya. Aku gak suka kalo tidur tanpa pakai pakaian tidur,” jawab Anggun memberi alasan.
“Aku rasa di kamar Dimas masih ada pakaian Indah yang tertinggal.” Daniel memberitahu.
Rose dan Anggun saling menatap satu sama lain. Wanita bernama Indah ini masih misteri. Mereka tidak tahu cerita tentang Indah. Siapa dia, memiliki hubungan apa antara Dimas dan Daniel, juga di mana Indah sekarang?
“Dimas sudah memberitahukan aku untuk mengenakan pakaian yang ada di lemari,” kata Anggun lirih. “Oke, aku bisa mengenakannya. Tapi bagaimana dengan Mami? Apa Mami mau tidur pakai celana jeans?”
“Jangan cemaskan Mamimu. Aku akan mengurusnya,” ucap Daniel menyela. “Karena kamu sudah memiliki kehidupan sendiri. Aku yang akan menjaga Rose dan selalu menemaninya.”
Rose tersentuh mendengar kata-kata Daniel. Ia menatap Daniel dengan tatapan berbinar dan bergetar. “Oh ... Kamu sungguh manis Daniel ...,” pujinya.
Anggun ingin muntah melihat semua itu. Ia segera memalingkan mukanya. Melihat hubungan Daniel dan Rose yang memuakkan, ada rasa ilfeel yang terselip di hatinya untuk Daniel. “Jadi kita benar-benar menginap di sini?” tanyanya mengulangi.
“Ya, seperti yang dikatakan Daniel. Kita akan pulang besok. Setelah itu ke rumah Dimas. Aku ingin menitipkan kamu pada Tuan dan Nyonya Handoko,” jawab Rose tanpa memalingkan mukanya pada Daniel.
Anggun merasa diabaikan. Kedua alisnya dinaikkan ke atas. “Ya terserah kalian saja,”gumannya lirih dan segera kembali lagi ke kamar.
Suara pintu kamar terbuka dan tertutup terdengar menggema. Anggun sudah masuk kamarnya lagi.
Rose mendesah lirih. Raut mukanya berangsur berubah murung. Ia berjalan menjauh dari Daniel dan berdiri di sisi jendela kaca lebar. Pandangannya lurus ke arah depan, memandangi pemandangan alam yang terhampar indah dengan sorot sinar rembulan tergantung di langit gelap.
“Kamu kenapa?” tanya Daniel sembari berjalan mendekat dan menepuk bahu Rose.
Rose tersenyum getir dan menoleh sekilas, lalu memalingkan mukanya lagi. “Hubungan kita menjadi rumit. Kamu menjadi calon papa tirinya Anggun. Dan adik tirimu adalah menantuku. Apa saat esok kita ke rumah orang tuamu mereka menyetujui tentang kita?”
Daniel terdiam. Lalu beberapa menit kemudian tersenyum simpul. “Mereka pasti mengerti,” jawabnya dengan suara lirih. ‘Jika masalahku ibuku akan selalu membelaku, walau ayah akan marah sekalipun. Tapi untuk Dimas pasti dia akan benar-benar diusir dari rumah dan dicoret dari daftar warisan keluarga karena telah bertindak di luar kendali. Tanpa memberitukan Ayah, dia sudah menikah, Dimas akan diusir,' sambungnya di dalam hati.
“Semoga saja tidak akan ada masalah,” kata Rose berharap.
“Lebih baik kamu menenangkan diri. Minum teh herbal yang sudah aku buatkan tadi. Pasti tehnya sudah mulai dingin sekarang,” kata Daniel merayu. Rose harus meminum teh herbal yang telah diberi obat perangsang. Walau Rose seorang ibu tunggal tapi sejak menjalin kasih enam bulan yang lalu, dia selalu bisa memberi alasan saat diajak berhubungan intim.
Rose bukan ibu tunggal yang mudah dirayu dan disentuh. Dia memiliki harga diri yang tinggi. Hanya cara ini yang dimiliki Daniel untuk bisa melihat bagian dalam tubuh Rose yang tertutup kain itu. Dan hanya dengan cara ini dia bisa merekam Rose tanpa mengenakan sehelai benang pun. Setidaknya rekaman itu akan menambah koleksi di laptopnya.
Seulas seringai senyuman penuh arti tersembunyi dan kepuasan terhias di wajah Daniel ketika Rose berhasil dibujuk untuk menghabiskan teh herbal racikannya.
***
“Tolong ambilkan pakaian tidur yang akan aku pakai,” pinta Anggun ketika baru masuk ke dalam kamar.
Dimas yang rebahan di atas kasur sembari memiringkan tubuhnya segera berbalik, menoleh ke arah suara Anggun yang terdengar kesal. “Cari saja sendiri. Kenapa harus aku yang mencarinya?” protesnya.
“Ya, karena kamu kan yang tahu di mana tempatnya,” jawab Anggun sambil membuka pintu kamar mandi, dan masuk ke dalam.
“Kan sudah aku bilang, ada pakaian yang bisa kamu pakai di hambalan bawah dalam lemari baju,” jelas Dimas.
Namun suaranya tidak terdengar oleh Anggun. Gadis itu sudah masuk ke dalam kamar mandi.
Dimas hanya memandang pintu kamar mandi yang tertutup dan kemudian mendesah lirih karena kesal. Ia kembali rebahan dan berusaha memejamkan mata.
Namun niatnya itu tidak bisa direalisasikan dengan nyaman, karena Anggun sudah selesai mandi dan bersandung lirih menyanyikan sebuah lagu luar yang enak didengar.
Suara pintu kamar mandi terbuka. “Di mana baju gantiku? Apa kamu belum mencarinya?” tanyanya bak Nyonya.
“Cari saja sendiri. Kenapa harus aku yang mencarinya?”
“Karena kamu adalah suamiku,” jawab Anggun lantang. Ia mengenakan baju handuk warna putih dengan tali berpita di pinggangnya.
Dimas tertawa sinis. “Karena suamimu, aku harus melayanimu? Apa enggak kebalik?” sahutnya.
“Sebetulnya orang yang paling diuntungkan dari pernikahan kita ini adalah kamu, bukan aku. Jadi wajar jika kamu yang harus melayani ku.”
“Hanya aku? Bukannya kamu juga merasa diuntungkan? Kamu berhasil membuat Rose kesal kan?” Dimas mengingatkan.
Anggun mengatupkan bibirnya. Raut mukanya berubah murung. Ia duduk lesu di sisi ranjang. “Aku salah terka,” jawabnya lirih. “Ternyata Mami tidak kesal dengan pernikahan kita. Rasa kesalnya hanya sesaat aku melihat dia bahagia atas pernikahan ku ini. Apa Mami ingin aku pergi dari rumah ya? Setidaknya jika aku pergi maka beban Mami berkurang.”
Dimas mengubah posisi rebahannya. Ia duduk di atas ranjang dan melipat kedua kakinya, bersila. “Kenapa lagi-lagi kamu berburuk sangka pada Rose? Dia mamimu, ibumu ... Tidak baik seperti itu,” tegurnya.
“Tapi aku benar-benar melihat sinar kebahagian yang tersirat di bola matanya. Harusnya Mami kesal kerena aku sudah membohonginya.”
“Rose tidak bahagia karena kamu akan pergi dari hidupnya dan sudah terlepas bebannya. Mamimu bahagia karena melihat putrinya sudah menjadi wanita dewasa,” jelas Dimas. “Ingat, wanita dewasa ... Maka dari itu kamu harus berubah menjadi wanita yang dewasa dan mandiri.” Ia turun dari ranjang. Mengalah, mencarikan pakaian ganti untuk Anggun. Pakaian Indah yang tertinggal.
Sebetulnya ia malas mengambil pakaian itu, karena akan mengingatkannya dengan wanita j*****m, pengkhianat bernama Indah. Nama Indahnya tidak sepadan dengan tingkah lakunya yang buruk. Bisa-bisanya dia tidur dengan Daniel, pikirnya. Dan tanpa sadar mengingat kembali kejadian dua tahun silam.
Tapi baru saja ingatannya akan terprogram kembali untuk muncul dalam benak, suara Anggun yang melengking itu kembali menampar indera pendengarannya. “Mana pakaiannya? Lama sekali kamu mencarinya?” keluhnya.
“Astaga, cerewet sekali kamu ini,” sungut Dimas dan akhirnya menarik selembar pakaian berbahan satin dan berwarna biru. “Ini!” Ia melemparkan pakaian itu ke arah Anggun.
Spontan Anggun menangkapnya dengan kedua tangan. Saat pakaian itu di rentangkan, betapa Anggun terkesiap. Sepasang matanya sampai mendelik nyaris keluar dari kelopak mata. “Astaga, Dimas! Ini sih lingerie!”
Baju tidur yang dilemparkan Dimas berbahan satin dan sangat tipis.
“Tidak ada lagi. Hanya ada yang seperti itu,” jawab Dimas enteng.
Raut muka Anggun mulai pucat.
“Kamu takut sama aku kalau mengenakan baju tidur itu? Tenang aja, aku gak akan nafsu. Badan kamu enggak ada bagus-bagusnya. Jadi aku gak akan tertarik,” kata Dimas sembari kembali naik ke atas ranjang dan tidur menghadap dinding, membelakangi Anggun.
Anggun menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya. “Hei, hei harusnya kamu jangan tidur di sana! Kamu tidur di bawah. Tempat tidur itu punyaku!”
“Enggak mau. Aku di sini!” sahut Dimas dengan suara tertahan desakan kapuk, karena wajahnya tertutup guling. “Terserah kamu mau tidur berdua di tempat tidur atau kamu yang tidur di bawah.”