Kebiasaan Daniel

1152 Words
Dimas tidak peduli Anggun mau atau tidak mengenakan baju tidur yang tadi dilemparkan olehnya. Lebih baik dia tidak mengenakannya, pikirnya. Ia pun mengira Anggun tidur di bawah, di atas lantai. Namun ketika ia berbalik badan, manik matanya sontak membulat ketika melihat Anggun berada di sisinya. Plus mengenakan baju tidur berbahan minim. “Astaga, dia nekat ...,” desisnya lirih. Karena tidur lebih cepat dari pada sebelumnya, kini Dimas tidak lagi bisa memejamkan mata. Ia segera bangkit dari ranjang, melewati Anggun, karena dia tidur di bagian paling tepi ranjang. Tapi ketika ia melewati tubuh Anggun yang terbaring, netranya terhenti pada bibir Anggun yang sedikit terbuka. Bibirnya yang indah seraya menghipnotisnya. Tapi Dimas segera mengerjapkan matanya, membuang perasaan tertarik itu. Anggun memang benar, orang yang paling diuntungkan dari pernikahan pura-pura ini adalah dirinya. Jika ayahnya, Niko Handoko setuju dengan pernikahan ini, maka kemungkinan besar dirinya akan diminta untuk kembali ke rumah dan bekerja di Hotel. Tapi jika ayahnya tidak setuju, maka dirinya justru akan diusir selamanya dari rumah megah Handoko. Dimas menyingkirkan pemikiran risaunya sementara. Lalu berjalan keluar kamar untuk mengambil air minum. Atau menuju teras belakang untuk mencari udara segar. Sebelum benar-benar pergi dari kamar, Dimas menarik selimut yang berada di ujung kaki Anggun. “Dia tidur seperti anak kecil, tidak bisa diam,” gumannya sembari menarik selimut warna biru muda, menutupi tubuh Anggun hingga bagian dadanya. Saat menyelimuti Anggun, gaun tidur bagian bawahnya tersingkap, memperlihatkan lekukan dan sepasang kaki yang mulus. Tapi lagi-lagi Dimas berhasil mengendalikan diri. Apa yang dilihatnya sekarang tidak seberapa dibandingkan dengan yang dilakukan oleh Indah di masa lampau. Ketika tubuh Anggun sudah tertutup selimut dengan benar. Ia segera berjalan menuju pintu, membukanya lalu menutupnya kembali. Bertepatan dengan Dimas yang akan keluar kamar, Daniel baru masuk ke kamarnya sembari membawa kamera handycam yang sebelumnya tertinggal di ruang tengah. Rose yang sudah meminum teh herbal dengan racikan obat perangsang pemberian Daniel, mulai tidak bisa menahan diri. Ia mulai merajuk dan memanggil-manggil nama Daniel. Lalu satu persatu pakaiannya ditanggalkannya sendiri. Setengah sadar ia melakukan semua itu. Daniel tersenyum simpul melihatnya. Kamera handycam sudah dipasang dan aktif merekam. Tingkah Rose yang merajuk sembari menanggalkan satu persatu pakaiannya itu membuat bagian bawah tubuhnya mengeras dan menegang lebih besar dari pada sebelumnya. Rose berwajah cantik dan bertubuh molek. Dia memang tipe wanita idaman Daniel. Karena wanita cantik dengan tubuh ideal pasti lebih bagus jika dalam rekaman video. “Daniel, ke mari ...,” panggil Rose sembari menggerakkan jarinya ke depan. Seulas senyuman terhias di sudut bibir. Tentu saja Daniel segera mendekat, tanpa diminta untuk kedua kalinya. Ia segera membuka kaos yang dikenakan dan melemparnya sembarangan. Tubuh Rose yang sudah setengah tanpa pakaian. Bagian atas tubuhnya yang padat berisi dan masih mengenakan bra itu segera ditangkupnya. Sedikit setengah menurunkan branya setengah dan mencicipi ujungnya. Rose mulai mendesah dan menggelinjang geli. Sudah berapa tahun lamanya ia tidak mendapatkan sentuhan nikmat seperti ini. Tapi karena ternyata yang diberikan Daniel itu adalah obat perangsang kualitas rendah, saat adegan mulai memanas Rose justru mulai tertidur, tidak sadarkan diri. Rose terpejam dalam pelukan Daniel. Daniel terkejut. “Rose, kamu tidur?” tanyanya lirih nyaris berbisik. Rose tidak menjawab. “Rose?” Daniel bertanya lagi sembari menjauhkan tubuh Rose dari dirinya. Ia pun kesal ketika melihat sepasang mata Rose sudah terpejam dan tubuhnya lemas. Gundukan padat menyembul dari bra hitam membuat Daniel kelaparan tapi ia tidak bisa melahapnya kerena ia tak menyukai hubungan tanpa adanya respon. Percuma jika dia mencium, melumat, meremas jika Rose tidak meresponnya. “Sialan, Rico pasti memberikan aku obat murahan. Tidak berkualitas. Ini sih obat tidur namanya!” serunya kesal dan kemudian membaringkan tubuh Rose dan menyelimutinya hingga badan indah dan padat itu tak terlihat oleh netra. Dimas sudah membasahi kerongkongannya dengan air putih dingin yang dia ambil dari lemari es. Niat hendak berjalan menuju teras belakang untuk merokok, tiba-tiba saja ketika melintasi ruang keluarga ia mendengar suara Daniel menggerutu kesal. Suara itu terdengar samar-samar. Namun ketika Dimas penasaran dan mulai mendekat, suara Daniel yang mengomel terdengar jelas. Karena penasaran ia menaruh tangan kanan di atas kenop pintu. Perlahan memutar dan kemudian pintu kamar terbuka pelan. Untung saja pintu tidak terkunci. Sepertinya Daniel lupa menguncinya. Dari celah pintu yang terbuka, sepasang mata Dimas bisa melihat punggung Daniel yang tak mengenakan baju. Lalu Rose yang terbaring dan tertutupi selimut. Dari tali hitam yang terlihat di bahunya, bisa ditebak Rose hanya mengenakan pakaian dalam saja. Selain itu, Dimas bisa melihat kamera handycam yang berdiri di atas meja, mengarah ke tempat tidur. Menyadari ada yang tidak beres, Dimas segera membuka pintu kamar lebih lebar dan berseru, “Daniel, apa yang kamu lakukan? Kamu membuat rekaman lagi?” Daniel terkejut. Menyesal teledor, lupa mengunci pintu kamar hingga Dimas bisa membuka pintunya. Karena Rose sudah terpengaruh obat, dia tidak mendengar, apa lagi terbangun karena suara Dimas yang menggelegar. “Lagi-lagi kamu membuat rekaman Daniel? Parahnya, untuk kali ini kamu merekamnya karena Rose kamu beri obat!” tuduh Dimas tepat. Tapi tentu saja Daniel mengelak. Ia menggeleng cepat. “Aku tidak memberikan Rose obat tidur,” jawabnya sembari mengambil kaos t-shirtnya yang tergeletak di atas lantai lalu mengenakkannya lagi. “Alasan. Lihat itu kamera dan Rose yang tidak sadarkan diri,” ujar Dimas sembari menunjuk alat bukti. Daniel segera mendekat dan mendorong Dimas keluar kamar. “Aku bisa jelaskan,” katanya sembari memaksa Dimas keluar kamarnya. Ia tidak ingin Rose benar-benar terbangun dengan suara Dimas yang menyalak. Setelah berhasil mendorong Dimas keluar kamar, Daniel segera menutup pintu kamar. Lalu kembali menjelaskan pada Dimas. “Apa yang kamu lihat tadi adalah hubungan dua orang dewasa. Apa kamu tidak faham?” Dimas menatap manik mata Daniel lekat-lekat. “Tadi aku lihat ada kamera handycam.” “Handycam memang ada di sana. Lalu kenapa? Aku tidak membuat rekaman.” Daniel terus berdalih. Dimas mengemeratakkan giginya. “Kebiasanmu ini menjijikkan ....” “Aku tahu kamu menyukai Rose. Tapi dia tidak pantas untukmu,” kata Daniel kembali. “Aku yang pantas untuknya,” sambungnya dengan wajah serius. “Kamu tahu jika aku menyukai Rose? Tapi kamu membuat aku dan Anggun menikah. Semua itu kamu lakukan agar Rose tidak jatuh cinta padaku kan? Begitu? Sebetulnya kamu takut padaku,” ujar Dimas, raut mukanya tak kalah serius. “Kamu selalu takut padaku, Daniel. Kamu takut aku merebut semua orang yang kamu suka, kamu cinta, dan yang memujamu. Bahkan kamu takut jika ayah lebih menyukaiku.” Daniel mengatupkan bibirnya. Garis rahangnya mengeras tanda amarah tertahan. “Aku tidak takut pada anak dari wanita tak berharga. Anak dari wanita yang sudah merebut cinta dari ibuku.” Kata-akata Daniel amat menyinggung hati Dimas. Ia mengepalkan kedua tangannya. Tidak tahan wanita yang melahirkannya di dunia, dihina, sebelah tangan kanannya melayang, terbang cepat dan akan memukul pipi Daniel dengan keras. Tapi Daniel menangkisnya. Ia menahan kepalan tangan Dimas dan mencengkeramnya. Mereka berdua saling menatap tajam. Kebencian tersirat dari dua pasang mata kakak beradik itu. Seraya kilatan halilintar yang akan saling mengalahkan satu sama lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD