Menikah sungguhan

1665 Words
“Hei, hei bangun. Kita sudah sampai.” Suara Anggun menggema di telinga Dimas. “Kita sudah sampai,” sambungnya sembari membuka pintu mobil. Suasana Villa sangat asri dan dikelilingi pepohonan hijau. Udara yang terhirup pun begitu menyegarkan. Rose dan Daniel sudah berjalan lebih dahulu menuju ke arah dalam villa. Anggun segera melangkah menyusul. Namun Dimas tidak ada di sampingnya. “Astaga, Dimas!” pekiknya sembari melihat ke belakang dan Dimas belum juga keluar dari mobil. “Sedang apa kamu diam saja di sana?” Anggun terpaksa kembali ke mobil dan membuka pintunya. Bola matanya membulat, kesal. Dimas serasa malas untuk keluar dari mobil dan masuk ke dalam villa besar tak bertingkat. Kaca lebar dan tembus pandang terlihat dari luar. Gorden lebar dan anggun menutupinya. Diikat dengan sebuah tali berpita satu warna di tepinya. “Ayo cepat keluar!” seru Anggun dengan suara sedikit lebih kencang dari pada sebelumnya. “Daniel dan Mami sudah akan masuk ke dalam! Kita harus menyusul mereka!” Dimas menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Terpaksa ia turun dari mobil dan berjalan sejajar dengan Anggun. Daniel dan Rose menanti mereka di depan villa. Terlihat Daniel berbicara serius kepada Rose. Lalu Rose terkesiap mendengar kata-kata dari Daniel dengan bibir ternganga dan tangan menutup mulutnya. Entah apa yang dibicarakan oleh Daniel. Karena jaraknya sedikit jauh, membuat Dimas dan Anggun tidak bisa mendengarnya. “Kalian menunggu kami?” tanya Anggun saat sudah berada di tempat yang sama. “Padahal duluan saja tidak apa-apa. Kami akan menyusul.” Rose menoleh. Tatapannya menerawang. Bola mata hitam pekat itu memandangi Anggun dan Dimas bergantian, seolah ada kata yang tertahan di bibirnya. Ketika Rose menoleh dan memiringkan tubuhnya, seseorang penjaga villa berusia lima puluh dua tahun terlihat berdiri di depan teras. Penjaga villa itu tersenyum. Anggun membalas senyuman pria tua itu. Ternyata di sampingnya juga berdiri seorang wanita berusia tidak jauh dari pria tua tadi. Sepertinya mereka suami istri, pikir Anggun. “Selamat datang,” ucap mereka ramah. Anggun tersenyum kembali. “Terima kasih.” Dimas tidak menjawab. Ia hanya tersenyum simpul. “Anggun, perkenalkan ... Mereka adalah pengurus Villa. Pak Sukri dan Bu Darmini,” kata Daniel sembari menggerakkan tangannya ke samping. “Salam kenal Bapak, Ibu ....” Anggun berusaha bersikap ramah. Ia menoleh ke arah Rose. Mami diam saja, pikirnya. Mungkin sudah berkenalan tadi. Anggun juga tidak ambil pusing mengenai sikap Rose yang tiba-tiba mendadak berubah lebih diam. Ia pikir Maminya menjaga image di sini. Ingin terlihat elegan, batinnya. “Tapi walau Anggun berusaha seabai mungkin dengan Maminya, ia tetap penasaran dengan apa yang terjadi. “Mami, kenapa?” tanyanya berbisik. “Tumben sekali jadi diem begini.” Ia berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Rose. Rose menghentikan langkah kakinya. Dimas melewati Rose dan Anggun tanpa peduli apa yang akan mereka bicarakan. Dimas pikir hanya pembicaraan antara seorang Mami dan putrinya. Rose menatap Dimas yang berjalan melalui mereka. Lalu pandangannya kembali lagi pada Anggun. “Kenapa kalian pura-pura?” Deg! Jantung Anggun seakan berhenti berdetak. “Kenapa kamu dan Dimas pura-pura?” tanya Rose sekali lagi. “Jadi Mami sudah tahu?” pekiknya lirih. Sepasang mata Rose membulat. “Ya, Mami baru tahu. Jika tidak diberi tahu Daniel, pasti tidak akan ketahuan." “Hah?” Anggun tidak mengerti ke mana arah pembicaraan mereka. “Daniel? Apa Daniel juga tahu jika aku dan Dimas ....” “Anggun, kenapa kamu dan Dimas berbohong dan pura-pura tidak mengenal Daniel?” Suara Rose sedikit meninggi ketika bertanya. Tapi setelah sadar, ia merendahkan suaranya lagi. Kini Anggun yang tidak mengerti. “Pura-pura tidak mengenal Daniel? Aku mengenalnya kok ... Kan Daniel menejerku.” Rose menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. “Maksud Mami, kenapa kamu dan Dimas pura-pura tidak mengenal Daniel. Kamu kan tau jika Dimas adalah adiknya Daniel.” “Apa?” Sepasang mata Anggun mendelik. “Dimas dan Daniel kakak adik?” “Sudahlah, hentikan sandiwara ini. Daniel, sudah menceritakannya padaku. Ia sengaja ikut berbohong di depanku, pura-pura tidak mengenal Dimas itu semua karena keinginan kalian kan?” Bibir Anggun ternganga. Ia sungguh tidak tahu apa-apa soal ini. “Kalian menginginkan Daniel merahasiakan jika Dimas adalah adiknya. Untuk apa? Kalian ingin membodohi Mami?” “A-aku ... Aku tidak tahu, Mam ... Jika ....” “Hai gadis-gadis, sedang apa kalian di sana?” tegur Daniel yang sudah duduk di sofa dan sembari melambai ke arah Anggun dan Rose. “Duduk di sini. Apa kalian enggak pegal kakinya berdiri terus?” Rose menoleh sekilas ke arah Daniel dan kemudian menatap Anggun lagi. “Mami minta kamu dan Dimas jelaskan ini! Kenapa kamu dan Dimas membohongi Mami? Pura-pura enggak kenal Daniel. Padahal suatu saat pasti ketahuan juga jika Dimas adalah adiknya Daniel. Pikiran kalian itu kekanak-kenakan sekali. Apa sebetulnya kamu dan Dimas ingin kumpul kebo? Astaga Anggun ... otak kamu ya ... Kalian harus menikah sungguhan!” “Hah?” Anggun mengerjapkan matanya. Ia tidak faham dengan semua ini. “Siapa yang ingin kumpul kebo. Aku dan Dimas kan udah nikah.” “Bohong!” seru Rose lirih. Nada bicaranya ketus dan membentak. Tapi ia berusaha untuk tidak terlihat sedang memarahi putrinya. “Kamu belum menikah dengan Dimas kan? Kalian berpura-pura. Anggun, yang kalian lakukan ini dosa. Kalian kumpul kebo. Kamu kira kita tinggal di Texas? Kamu pikir mudah jika suatu saat Dimas pergi meninggalkanmu tanpa ikatan sedangkan kamu sudah tidur dengannya?” “Mami, apa sih yang Mami omongin? Aku dan Dimas udah nikah di bawah tangan. Kami nikah siri,” tukas Anggun cepat. Untuk kesekian kalinya Rose menarik nafas panjang dan menghembuskan nafas perlahan. “Daniel adalah kakak Dimas. Daniel sudah memberitahukan pada Mami jika tidak ada yang namanya pernikahan. Kalian harus menikah ulang di sini. Daniel sudah mempersiapkan acara pernikahan untuk kalian.” “Apa?!” Anggun berteriak. Membuat Daniel dan Dimas yang berada jauh darinya terkejut dan menoleh ke arahnya. Raut muka Anggun pucat dan panik. Rose manarik Anggun ke arah sofa. Lalu menyuruhnya untuk duduk di samping Dimas. “Dimas, saya kecewa sama kamu,” kata Rose dengan wajah memerah menahan emosi. “Saya sudah mulai menyukai menantu seperti kamu. Tapi kenapa kamu membohongi saya?” Dimas segera melirik ke arah Daniel. Daniel membuang muka. Ia pura-pura tidak melihat Dimas yang memandang ke arahnya. “Memang ada apa ya mbak?” tanya Dimas sopan. “Kenapa mbak Rose marah?” “Gimana saya tidak marah, kamu hanya menginginkan tubuh anak saya. Kamu memanfaatkan anak saya yang polos!” tuduh Rose mencerca. Dimas terdiam sesaat dengan mulut terbuka. Ia masih mencerna semua kata-kata Rose padanya. “Daniel dan kamu adalah kakak adik kan? Daniel sudah menceritakan sama saya dari A-Z. Tentang permintaan kamu untuk pura-pura tidak saling mengenal ketika pertama kali bertemu. Lalu pura-pura sudah nikah siri?! Untung saja Daniel akhirnya menceritakan semuanya sama saya,” jelas Rose dengan suara meledak-ledak dan nafas yang tersengal karena emosi membeludak. “Enak saja kamu mau memanfaatkan anak saya. Setelah kamu nidurin anak saya, kamu bisa kabur begitu saja kan?” Dimas semakin tidak mengerti. Raut mukanya datar. Ia menoleh ke arah Anggun yang sama tidak faham seperti dirinya. Rencana mereka gagal total. Justru mereka lah yang terjerembab masalah pelik. “Kenapa rencanamu jadi begini Anggun? Kenapa aku terkesan seperti penjahat kelamin?” tanya Dimas lirih. “Aku saja tidak tahu jika kamu adalah adiknya Daniel,” jawab Anggun dengan raut muka ketus. Dimas melirik ke arah Daniel. “Ini pasti ulahnya,” desisnya lirih dan kemudian segera bangkit. Menerkam Daniel yang duduk tak jauh darinya. Terjadi perkelahian. Dimas menarik kerah kaos yang dikenakan Daniel dan berusaha mencekiknya. Daniel pura-pura rapuh. Dimas sangat kesal. Karena ulah Daniel, citranya menjadi buruk di mata Rose. “Sialan kamu Daniel!” Rose dan Anggun kaget setengah mati dengan apa yang terjadi. Mereka gaduh merelai perkelahian. Menarik tubuh Dimas agar menjauhi Daniel. “Lihat ternyata kamu sangat kasar sekali,” kata Rose menuding. Kata-kata Rose seraya menusuk hatinya. Ia segera melepaskan cengkeraman kerah baju Daniel. Otot-otot yang semula tegang berangsur lemas. Langkahnya berjalan mundur perlahan. Semua mata menatapnya. Terlihat memandang jijik dan takut. Lagi-lagi Daniel menang dalam mencari perhatian, batinnya sembari mengepalkan tangan. Suasana mendadak menjadi hening. Villa besar dan megah itu terasa sangat sunyi bagai di pemakaman. “Dimas ...,” panggil Rose lirih. “Kamu harus menikahi putriku, Anggun secara benar. Kamu harus menikahi Anggun sekarang! Di depan mataku dan dengan penghulu juga wali hakim yang benar. Dan juga harus resmi di mata hukum.” Anggun terkesiap mendengar keputusan sepisak Rose. “Mami, apa-apaan ini ... Aku ....” “Diam!” Rose membentak. “Anggun. Aku adalah ibumu! Sekali-sekali kamu harus mendengarkan Mami,” sambungnya dengan suara gemetar. Air matanya mulai berdesakan di pelupuk mata. “Sekali-sekali dengarkan Mami ... Orang tua hanya menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Kamu dan Dimas sudah tidur bersama. Kalian harus menikah sekarang. Karena jika ada apa-apa, yang paling dirugikan itu adalah kamu.” “Ya, Mami kamu benar Anggun.” Daniel mulai ikut bersuara. “Karena aku adalah kakak Dimas, maka aku bisa mewakili keluarga dari pihak pria,” ucapnya sembari tersenyum puas. Dimas menatap Daniel. Kedua tangannya sudah mengepal. Mati-matian ia menahan emosi dan rasa ingin menghantam wajah Daniel yang menyebalkan. “Tapi ... Aku dan Dimas tidak pernah .....” “Aku akan menikahi Anggun.” Suara Dimas terdengar lantang dan lugas. Hingga memantul ke dinding dan membuat gema lirih di sekitar ruangan. Anggun terkesiap setengah mati. Ia menatap Dimas dalam gamang. “Demi kamu Rose, aku akan menikahi Anggun ... Aku tidak akan menghancurkan masa depannya. Salah jika kamu menduga aku adalah pria yang tidak bertanggung jawab dan hanya mengutamakan kesenangan semata,” kata Dimas melanjutkan kata-katanya. Ia tidak akan membiarkan Daniel benar-benar membabat habis citra baiknya di mata Rose. Ia sadar Daniel ingin membuat nama baik dan harga dirinya tercoreng. Pergi dari kehidupan Rose dan Anggun selamanya dengan kesan sebagai pria tak bertanggung jawab yang hanya menginginkan kesenangan duniawi semata. “Di-Dimas, apa yang kamu katakan ...?” desis Anggun lirih. “Kita tidak mungkin menikah ... sungguhan.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD