Anggun duduk lesu sembari memandangi kaca jendela besar di teras belakang. Manik matanya lurus menerawang ke arah luar. “Mami memang benar-benar pintar. Dia tahu jika aku telah mempermainkannya ...,” gumannya lirih.
“Bukan Mamimu,” sahut Dimas yang duduk bersandar di sofa. “Tapi Daniel.”
Anggun mengerjapkan sepasang matanya. Lalu menghela nafas panjang. Seketika ia menoleh ke belakang dengan raut muka penuh emosi. “Kamu juga! Kenapa kamu tidak memberitahuku jika Daniel adalah kakak kamu!” Nada suara Anggun meninggi. Lalu ia menoleh ke sekeliling, untungnya sunyi. Tidak ada orang.
Mami dan Daniel berada di dapur bersama Bu Darmini, menyiapkan sesuatu untuk sajian penghulu dan wali hakim yang akan menikahkan Anggun dan Dimas.
“Daniel bukan kakakku kandungku. Tapi dia kakak tiriku,” sahut Dimas dengan air muka datar.
“Sama saja. Mau dia kakak kandungmu atau kakak tirimu. Sama saja kalian itu kakak beradik, Paijo!” sungut Anggun kesal. “Kenapa kamu tidak cerita semua itu padaku. Katanya kita partner!"
“Tapi aku tidak tinggal serumah lagi dengan Daniel.”
“Itu tidak penting,” sahut Anggun sembari mengatupkan bibirnya dan memalingkan mukanya. “Sekarang, penghulu dan wali hakim akan tiba dalam waktu tiga puluh menit,” sambungnya lesu. “Justru kita yang akan terjebak dan kamu diam saja? Malah menyetujui permintaan Mamiku.”
“Mau bagaimana lagi, dari pada Mamimu mengira aku p****************g yang gemar mempermainkan wanita. Lebih baik aku menyetujui pernikahan ini. Karena aku tahu Daniel telah membuat rencana agar aku terlihat seperti seorang pria b******n di depan Rose. Agar aku tidak bisa muncul lagi di depannya dan juga kamu.”
“Aku heran!” seru Anggun lirih. Terlihat ia masih menahan rasa kesalnya. “Kenapa kamu dan Daniel sama-sama pura-pura tidak mengenal? Dan Mami malah mengira Daniel terpaksa mengikuti rencana yang kita buat?!”
“Sudah aku bilang ini semua rencana Daniel. Kenapa kamu tidak faham juga sih,” gerutu Dimas sembari memikirkan sesuatu. “Tadinya aku kira Daniel diam saja, pura-pura tidak mengenalku ketika bertemu di rumahmu, itu semua karena dia malu mengakui aku sebagai adiknya. Tapi nyatanya ... dia telah membuat rencana. Dia sungguh licik dan aku begitu begitu bodoh,” lanjutnya mengeluh.
Anggun menatap Dimas. Perlahan kini ia mulai mengerti tentang pertikaian yang terjadi antara kakak dan adik tiri itu. “Kamu tidak akur ya dengan Daniel?” tanyanya baru sadar.
Dimas melirik Anggun. “Hm ... begitulah ... Dia selalu berpikir kehadiranku di rumahnya akan menyingkirkannya. Membuat ayah tidak menyayanginya.”
Anggun menatap Dimas lebih lekat dari pada sebelumnya. “Apa yang terjadi dengan kalian?” tanyanya menjadi penasaran.
“Bukan urusanmu,” jawab Dimas. “Sekarang yang harus kita bicarakan adalah pernikahan kita yang akan terjadi beberapa jam lagi.”
“Loh, bukannya ini semua karena kamu kan? Kenapa pakai setuju dengan keputusan Mami. Padahal kalo mengelak kan bisa. Ini juga terjadi karena kamu enggak bilang kamu itu adiknya Daniel.”
“Adik tiri,” sahut Dimas mengingatkan.
“Ya, ya ... adik tirinya Daniel,” jawab Anggun meralat.
“Anggun, kalau aku mengelak dan menolak keputusan Rose untuk menikahkan kita, maka dia pasti akan berpikir aku adalah pria yang tidak bertanggung jawab. Aku adalah pria yang dengan mudahnya mempermainkan wanita. Aku tidak akan membiarkan si Daniel yang licik itu puas dengan rencana yang telah dibuatnya.”
“Daniel tidak selicik itu. Dia baik, ramah dan tampan.” Anggun membela.
Dimas tersenyum sinis. “Kamu belum tahu bagaimana dia ....”
Anggun mengatupkan bibirnya. Membalas tatapan Dimas yang terlihat kesal padanya.
“Sekarang lebih baik kita fokus pada apa yang akan terjadi pada diri kita,” ucap Dimas mengingatkan. “Kita akan menikah sebentar lagi.”
“Lalu?” tanya Anggun dengan sepasang mata membulat bak telur.
“Kita bisa menikah. Kita lanjutkan permainan. Menikah pura-pura selama enam puluh hari, lalu berpisah. Harga dirimu tidak akan jatuh dan aku tidak akan terlihat seperti lelaki bejat.”
Kening Anggun berkerut. “Jadi ... Kita benar-benar menikah?”
Dimas menganggukkan kepalanya. “Ya, kita akan menikah. Apa susahnya? Pernikahan kita hanya di atas kertas, dan hanya enam puluh hari,” jawab Dimas lirih nyaris berbisik.
Kerongkongan Anggun terasa kering. Ia menjilat bibirnya sekilas dan kemudian menarik nafas.
“Kenapa? Dari raut mukamu terlihat begitu sulit memutuskannya.” Kedua alis Dimas saling bertaut.
“Karena hal ini bukan urusan mudah. Ini bukanlah masalah sepele. Kita bukan pura-pura menikah hanya dengan lisan. Tapi kita akan menikah di depan penghulu. Bukannya itu tidak baik ya?” tanya Anggun ragu.
Dimas mencondongkan punggungnya sedikit lebih dekat ke arah Anggun. “Terserah kamu sih ... Aku tidak memaksa. Kalau kamu menolak dan memaksa Mamimu untuk menghentikan semua ini pasti Rose akan mendengarkanmu. Tapi aku hanya ingin mengingatkan ... jika kamu menolak pernikahan kita. Lalu menceritakan pada Rose dan Daniel, kalau aku menyukai Rose, kamu menyukai Daniel. Kita sepakat membuat rencana absurt pura-pura menikah untuk memanas-manasi mereka, untuk memisahkan mereka, apa hal tersebut tidak membuat harga dirimu jatuh dan kamu semakin terlihat menyedihkan?”
Anggun terdiam. Tatapannya mulai kembali menerawang dan hatinya semakin gelisah.
“Bukankah hal itu akan membuatmu terlihat seperti gadis tidak laku?” sambung Dimas berbisik pelan.
“Ehem ....” Daniel berdeham ketika dia berjalan mendekat.
Spontan Dimas dan Anggun menoleh ke belakang, seulas senyuman terhias di wajah Daniel.
Bagi Anggun, Daniel idolanya itu terlihat semakin tampan. Tapi berbeda dengan Dimas, ia merasa senyuman Daniel penuh kelicikan.
“Anggun, kamu dipanggil Mamimu,” ujar Daniel memberitahu. Ia duduk di sofa panjang bersama Anggun dan Dimas di bagian paling tepi.
“Untuk apa Mamiku memanggil? Bukannya sudah jelas aku akan menikah secara resmi dengan Dimas,” jawab Anggun berbalik bertanya.
Daniel mengangkat bahunya ke atas. “Entahlah aku tidak tahu. Coba kamu datangi Mamimu ....”
Hening. Anggun tidak menjawab. Ia malas beranjak berdiri dan berbicara dengan Rose.
“Aku merasa Anggun memang tipemu. Dia mirip dengan Indah,” ujar Daniel yang kemudian langsung membuat Anggun tertarik untuk menyimak.
Siapa Indah? tanya Anggun di dalam hatinya dan segera menatap ke arah Dimas.
Raut muka Dimas terlihat memerah. Bibirnya terkatup rapat dan rahangnya mulai mengeras. “Jangan sebut namanya lagi,” pekik Dimas dengan suara tertahan.
“Kenapa? Apa yang salah? Aku hanya berbicara saja,” jawab Daniel dengan raut muka tanpa dosa. Ia seperti tidak sadar telah menyinggung perasaan Dimas. “Jangan begitu ... Walau Indah adalah masa lalu, tapi masa lalu tidak patut dibuang begitu saja. Karena masa lalu bisa dijadikan pelajaran. Jangan lagi kamu bersikap acuh pada pasanganmu dan membuatnya berpaling.”
“Brak!” Dimas menggebrak meja.
Anggun hampir berlonjak karena terkesiap.
Sedangkan Daniel sama sekali tidak terlihat terkejut. Ia biasa saja. “Kenapa lagi-lagi kamu marah?” tanyanya dengan ekspresi datar pada Dimas. “Aku hanya mengingatkan. Jangan sampai kamu mengulangi kesalahan dengan mengabaikan pasanganmu dan kemudian menjadi menyukaiku ....”
Gigi Dimas terdengar menggemeretak menahan emosi.
Anggun bisa merasakan aura ketidak akuran antara kakak beradik ini.
“Kamu yang merebut Indah dariku kala itu,” sahut Dimas.
“Dia yang tidak setia. Jangan salahkan aku.” Daniel membela diri.
“Sejak dahulu kamu selalu sok kegantengan Daniel. Kamu berharap semua orang jatuh cinta padamu.”
“Tapi faktanya benar begitu kan? Semua orang menyukaiku,” jawab Daniel dengan raut muka santai.
“Jad-jadi ... dahulu Dimas pernah memiliki pacar bernama Indah dan kemudian Indah malah jatuh cinta pada Daniel?” Anggun mulai mengerti arus permasalah yang sedang dibicarakan.
“Bukan,” sahut Dimas. “Daniel merebutnya.”
Daniel menarik nafas panjang dengan wajah tengilnya. Raut muka seperti korban malang yang terintimidasi. Ia menoleh memandang Anggun. “Dia selalu begitu, Anggun ... Selalu menyalahkan aku. Padahal sebagai kakak aku menyayangi adikku.”
Mulut Anggun rapat. Ia hanya menatap tanpa kata.
“Jangan lupa kamu dipanggil Rose. Dia ada di kamar utama. Cepat kamu temui Mamimu itu. Mungkin ada yang ingin dibicarakan olehnya secara pribadi sebelum pak penghulu datang dan kalian melaksanakan akad,” kata Daniel kembali mengingatkan.
Anggun beranjak berdiri. Ia memandangi Daniel dan Dimas bergantian sebelum pergi. Tanpa suara lagi ia meninggalkan ruang keluarga di dekat teras belakang dan kemudian melangkah pergi menghampiri Rose.
Namun di dalam kepala Anggun, bukannya penasaran dan bertanya apa yang akan Rose bicarakan dengannya. Tapi kepalanya itu penuh dengan pertanyaan soal permusuhan yang terjadi di antara Daniel dan Dimas. Semakin lama terlibat dalam masalah keluarga mereka, ia semakin penasaran. ‘Apa yang terjadi dengan Indah, mantan pacar Dimas itu ...?’ tanyanya di dalam hati.