“Bagaimana ideku ini?” tanya Anggun sekali lagi. “Bagus kan ...,” ujarnya lirih dengan sebelah alis naik ke atas dan kedua tangan masih terlipat di depan dadanya.
“Memang bagaimana caranya kita berdua menghancurkan hubungan Mamimu dan Daniel?” tanya Dimas yang mulai sedikit tertarik dengan ide Anggun tersebut.
“Mudah saja, kita panis-panasin saja mereka. Seperti kamu tetap terus menggoda Mamiku dan aku menggoda Daniel. Nanti juga lama-lama hubungan mereka goyah kan.”
“Bagaimana aku bisa menggoda Mamimu jika aku tinggal jauh di sini?” Dimas melengos dan membalik badan, kembali duduk di sofanya.
“Hei, hei pasti ada cara lain!” seru Anggun.
“Cara lainnya bagaimana?”
Anggun menutup pintu aperteman yang sudah dibuka, lalu menutupnya kembali. Ia berjalan mengikuti Dimas dan duduk di sampingnya. “Sebetulnya ada banyak cara lain. Misal kau jadi tukang kebun keluarga kami untuk mendekati Mamiku. Kau jadi dekat kan dengannya ....”
“Hah, tukang kebun?” Dimas menyeringai sembari terkekeh. Terlihat jika ia meragukan ide gila dari Anggun. “Apa aku kelihatan seperti tukang kebun? Idemu tidak masuk akal.”
Anggun mengamati Dimas. Memang sih Dimas tidak pantas menjadi tukang kebun karena terlalu tampan. Tapi hanya itu satu-satunya cara agar dia bisa dekat di rumahnya. “Ya sudah, jika tidak bisa menjadi tukang kebun. Kamu bisa menjadi supirku.”
“Supirmu? Memang kalian punya mobil?” Dimas berbalik bertanya.
Anggun mengantupkan bibirnnya. “Tidak punya sih ... Hehehe,” jawabnya sembari nyengir kuda.
Dimas melengos sembari menghela nafas berat. “Seluruh idemu asbun, asal bunyi,” ucapnya malas. “Lebih baik kau pulang saja. Bukannya tadi kau takut denganku ya?”
Anggun tersenyum. “Iya, sih sedikit,” jawabnya sembari menahan tawa. “Oh iya, kita belum berkenalan.”
“Aku sudah tahu siapa namamu,” ujar Dimas dengan raut muka ketusnya.
“Tapi aku kan belum tahu siapa namamu. Itu tidak adil.”
“Hm ... Namaku Dimas,” ucapnya singkat.
Anggun mengulurkan tangannya. “Ayo sini kita harus berkenalan secara resmi.”
Dimas menjabat tangan Anggun dengan malas. “Sudah resmi sekarang?”
“Ya, minimal sudah jika begini,” jawab Anggun kembali menyeringai.
“Kamu cuma bisa nyengir kuda kek gitu ya? Ayo kasih saran yang bagus untuk bagaimana caranya memisahkan Mamiku dan Daniel. Kamu kan seniman, harusnya kreatif dong ....”
“Loh kenapa harus bawa-bawa profesi? Ideku buruk jika tentang urusan wanita,” sahut Dimas sembari menatap lukisan berukuran besar yang terpajang di dinding. Lukisan tersebut adalah maha karya dari tangan dinginnya.
Manik mata Anggun mengikuti ke mana arah bola mata Dimas tertuju. Lukisan tersebut membuat mulutnya ternganga membentuk huruf O besar. “Wanita yang kau lukis itu adalah Mamiku kan?” tanyanya sembari menunjuk.
“Ya, dia Mamimu. Bidadariku ....”
“Astaga, bidadari ....” Anggun membayangkan wajah Rose yang bersuara melengking ketika memanggilnya atau memarahinya karena suatu kesalahan. “Bidadari tidak seperti itu ...,” desisnya lirih. “Bidadari itu anggun seperti aku. Harusnya ....”
“Kau bicara apa?” tanya Dimas seraya mendengar Anggun berbicara.
“Tidak apa-apa,” jawab Anggun kembali menyeringai. Entah sudah berapa kali cengiran kuda yang sudah ditampilkannya pada Dimas.
“Jadi bagaimana dengan pembicaraan kita tadi?” tanya Dimas mengingatkan. “Aku harus bagaimana agar bisa dekat dengan Rose dan mengacaukan hubungannya dengan Daniel?”
Anggun terdiam sebentar. Tanpa sengaja ia mengamati Dimas. “Aku heran, kenapa Mamiku begitu banyak digandrungi pria ya? Padahal menurutku, Mamiku itu biasa saja. Bahkan dia tidak sebaik yang kalian kira.”
“Hei, hei! Kenapa kau berbicara seperti itu pada ibumu sendiri. Itu tidak baik,” tukas Dimas mengingatkan.
“Aku mengatakan hal sebenarnya. Kenapa aku salah?” Anggun tidak terima. “Lihat, berapa umurmu?”
“Dua puluh tujuh, tahun ini.”
“Pemuda berusia Dua puluh tujuh tahun kenapa bisa mencintai wanita paruh baya seperti Mamiku yang berusia tiga puluh delapan tahun? Harusnya kau mengencani wanita seusiaku. Atau paling tidak yang sepantaran denganmu.”
“Cinta itu tidak memandang usia Anggun. Cinta itu sebuah anugerah. Ibumu itu memiliki kharisma yang hanya dimilikinya seorang.”
Patutnya Anggun bangga mendengar seseorang memuji ibunya. Tapi entah kenapa setiap pria memuji betapa cantik ibunya dengan rambut ikal alami bergelombang dan wajah awet mudanya itu, membuat dirinya kesal.
Bagaimana jika ia menjadi perawan tua karena Maminya?
Auranya sendiri tenggelam dalam kharisma Maminya?
“Dimas, bagaimana jika kita menikah saja?” Tiba-tiba sebuah tawaran absurt keluar dari mulut Anggun.
Tentu saja Dimas terkesiap dengan ajakan aneh itu. “Hah, menikah denganmu? Tidak, tidak. Kita baru bertemu dan aku juga aku tidak mencintaimu. Maaf, maaf saja ya ....”
“Aku juga tidak mencintaimu. Ada rasa suka pun tidak,” timpal Anggun dengan raut muka menggerutu.
“Lah tadi kamu mengajak ku menikah kan?”
“Ya, memang sih. Tapi semua itu hanya sebuah rencana. Maksudku, bagaimana jika kita menikah pura-pura saja?”
“Hm, menikah pura-pura?” tanya Dimas dengan sepasang mata mendelik. “Sungguh ide yang absurt.”
“Tenang saja. Aku tidak akan jatuh cinta padamu. Kau bukan tipeku.” Anggun mencibir sembari mengendikkan bahunya ke atas.
Dimas tertawa lepas. “Hahaha, kau kira kau adalah tipeku? Jangan khawatir, aku juga tidak akan jatuh cinta padamu. Kau ini bukan tipeku. Aku tidak suka wanita kekanak-kanakan yang mendadak asma lalu pingsan hanya karena patah hati melihat idolanya akan menjadi papa tirinya.”
“Stop! Stop!” Anggun bersuara tinggi dengan tangan terangkat. “Jangan membahasnya. Aku tidak ingin mengingat, bagaimana Daniel terlihat mengagumi Mamiku,” lanjutnya sembari menghela nafas panjang. “Kenapa Mami bisa secepat itu melupakan Papaku ya ....”
Dimas melirik ke arah Anggun. Ia tertarik dengan pembahasan ini. “Memang Papamu sudah meninggal sejak kapan?”
“Sejak aku SMP kelas dua.”
“Astaga, lama sekali itu. Kasian sekali Rose pasti kesepian.”
Bola mata Anggun berputar dan berakhir dengan melirik ke arah Dimas tajam. “Hei, hei ... Harusnya Mamiku itu masih setia dengan ayahku.”
“Tapi ayahmu kan sudah meninggal,” timpal Dimas yang bisa membayangkan kesendirian Rose selama lima tahun dan menjadi ibu tunggal merawat dan membiayai sekolah putrinya seorang diri.
Air muka Anggun berangsur berubah sedih ketika Dimas mengucapkan kata ‘meninggal’.
Dimas menjadi merasa tidak enak hati dengan kata-katanya. “Maafkan aku ...,” ucapnya pelan. “Aku ikut bersedih dengan kepergian ayahmu yang sangat cepat. Hanya saja, harusnya kamu juga memikirkan perasaan Mamimu yang pasti kesepian.”
Anggun segera berdiri dari sofanya. “Harusnya Mamiku bersikap layaknya seorang ibu.”
“Ibumu itu masih muda. Tiga puluh delapan tahun. Bahkan dia tidak terlihat sudah memiliki putri seusia kamu.”
Anggun menarik nafas panjang. “Sekarang begini, aku menawarimu ... Mau tidak menjadi suami pura-puraku? Menikah denganku, agar bisa berada dekat dengan Mamiku?”
Dimas tidak langsung menjawab. Sepertinya tawaran untuk menjadi suami Anggun bukan tawaran menarik untuknya.
“Kau tidak mau?” tanya Anggun sekali lagi. “Ya sudah jika kau tidak mau,” lanjutnya menjawab sendiri. “Sampai jumpa. Aku pulang. Terima kasih sudah menolongku.” Ia membalik badan dan menuju ke arah pintu kamar.
Tidak lama setelah derap kaki Anggun berjalan menjauh dan diikuti suara pintu yang terbuka dan tertutup. Sudut mata Dimas melihat sebuah tas yang tadi berada di punggung Anggun. “Sepertinya kita akan bertemu lagi, Anggun calon anak tiriku ...,” ujarnya sembari tersenyum tipis.