Psikopat?

1202 Words
Antara sadar dan tidak sadar Anggun merasa ia dibawa oleh seorang pria ke suatu tempat. Tapi yang jelas tempat ini bukanlah rumah sakit. Aroma rumah sakit tidak seperti ini. Ini seperti sebuah kamar. Aroma maskulin seorang pria. Bukannya aroma karbol pembersih lantai khas rumah sakit yang membuat bulu kuduk merinding. Anggun berusaha membuka matanya dengan lebih lebar agar bisa melihat dengan jelas. Dan benar saja .... Ketika pertama kali netranya terbuka. Yang dilihatnya adalah sebuah lukisan indah. Seorang wanita yang menyusui anaknya. Lukisan itu sederhana. Namun penuh arti dan membuat siapa pun yang melihatnya bisa merasakan kasih sayang seorang ibu pada anaknya yang tertuang di dalamnya. “Kau sudah sadar?” Suara bariton seorang pria menegur. Anggun menoleh. Menatap lekat wajah pria tersebut. Pria tinggi dengan berat badan ideal, hidung mancung, sepasang mata berwarna cokelat dibingkai alis yang lebat. Lalu rambut gondrong terawatnya yang diikat cepol ke belakang. “Kenapa aku dibawa ke sini?” Anggun bertanya sembari sekali lagi memperhatikan ruangan ini dan juga sofa yang didudukinya. “Tadinya aku ingin membawamu ke rumah sakit. Tapi sepertinya kau ini tidak sakit parah. Hanya sesak nafas karena tertekan,” ujar Dimas sembari memberikan segelas teh manis hangat. “Ini untuk tubuhmu agar lebih segar.” Anggun mengambil teh hangat tersebut. Ia menghirup aroma teh lebih dulu baru menyesapnya. Kerongkongannya yang kering mulai dialiri hangatnya air teh. Hal tersebut memang membuatnya lebih nyaman dan sedikit lebih baik. “Terima kasih,” ujarnya sembari menaruh gelas mug berwarna putih di atas meja. Setelah menaruh gelas mug di meja, ia baru melihat jika di badan mug tersebut terlukis wajah seorang wanita. Anggun seraya familiar dengan wajahnya. “Kau membuat gelas ini sendiri?” “Ya, aku membuatnya sendiri.” “Kau pengerajin keramik?” tanya Anggun asal. “Bukan. Aku seniman. Seorang pelukis.” “Keren ...,” puji Anggun sembari kembali mengambil mug yang sudah kosong tersebut dan menatap lukisan tersebut sekali lagi. “Aku merasa mengenal wanita ini.” “Ya, dia ibumu.” Jreng! Jreng! Seakan ada musik bernada tinggi seperti di opera sabun, Anggun sangat terkejut hingga membuat sepasang matanya membola nyaris keluar. “Apa?” “Ya, wanita yang ada di mug tersebut adalah wajah ibumu,” jawab Dimas memperjelas. Mulut Anggun ternganga karena saking terkejutnya. Ia tidak menyangka jika pria yang ada di depannya ini adalah pengagum ibunya juga. “Jangan katakan bila kau fansnya mamiku!” “Sayangnya memang aku adalah salah satu fans Mamimu,” jawab Dimas dengan senyuman melebar dibuat-buat. “Aku tahu tentang dirimu. Namamu Anggun. Bekerja di hotel Manggis sebagai resepsionis dan menyukai atasannya yang juga putra dari pemilik Hotel tersebut.” Anggun semakin tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Mulutnya ternganga lebar dan kemudian rasa takut mulai menghinggapinya. “Kau menakutkan. Menguntit keluarga kami. Aku pulang,” ujarnya sembari beranjak berdiri. “Jadi begini sikapmu pada orang yang telah menolongmu?” Anggun kembali merasakan tenggorokannya kering. Ia menelan ludahnya dan kemudian bergegas berjalan cepat menuju pintu. Dari bentuk ruangan dan perabotan di sini, tampaknya ini adalah sebuat aperteman. “Untuk bantuanmu, aku ucapkan terima kasih. Dan harusnya jika memang ingin menolong, jangan bawa aku ke apertemanmu. Tapi bawa aku ke rumah sakit.” “Aku tidak membawamu ke rumah sakit, karena aku tahu kau tidak sakit,” jawab Dimas masih duduk di kursi stole. Ia tidak berusaha menghalangi kepergian Anggun. Anggun mengabaikan penjelasan Dimas. Hanya satu keingainannya, yaitu pergi dari sini. Ia tidak ingin hidupnya terancam dengan pria penguntit keluarganya. Pria penguntit biasanya seorang psikopat, batinnya dan kemudian segera menekan knop pintu. Namun ternyata pintunya dikunci. Dan kuncinya tidak tergantung di lubang kuncinya. Jantung Anggun segera berdebar hebat. Ia sangat takut jika terjadi sesuatu dengannya. Karena sepertinya pria asing yang menolongnya ini sangat aneh. Dan biasanya psikopat di dalam drama Korea pasti tampan-tampan, pikirnya. Raut muka pucat pasi segera terlihat di muka Anggun. Apa lagi derap kaki berat terdengar melangkah mendekatinya. Anggun memejamkan matanya sesaat sembari menelan ludah. Jantungnya berdebar hebat hingga membuatnya gemetar. “Jangan dekati aku!” serunya dengan lantang. Dimas tidak mendengarkan teriakan Anggun yang melarangnya mendekat. Langkah kaki semakin merapat. Anggun membalikkan badannya dan menatap Dimas tajam. Mengumpulkan keberaniannya sepenuhnya. “Jangan dekati aku! Jika tidak aku akan berteriak!” “Teriak saja. Tidak akan ada yang mendengarmu,” sahut Dimas. “Lagi pula, kenapa kau berteriak? Memang salahku apa? Jadi ini ya artinya air s**u dibalas dengan air tuba? Baru kali ini aku mengalaminya,” lanjutnya seraya menyindir. “Biasanya aku tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya.” “Kau, sudah mengincarku kan? Kau menguntit aku?” Dimas tertawa. “Hahaha ... Untuk apa aku menguntitmu? Aku tadi mengikuti ibumu. Dan ternyata dia sudah memiliki kekasih,” ujarnya dengan raut muka berubah sedih. “Te-tetap saja sama. Mau menguntitku atau ibuku. Kau ini menakutkan. Aku ingin pulang! Kenapa kau menyekapku!” Tangis Anggun mulai akan pecah. Sepasang mata Dimas mendelik mendengar tuduhan keji seperti itu padanya. Dia seorang seniman dan pengagum rahasia seorang wanita cantik bernama Rosmiati. Bukannya seorang penculik. “Siapa yang akan menyekapmu?” “Tentu saja kamu!” seru Anggun sembari berlinang air mata. “Sudah patah hati, kini aku disekap oleh psikopat. Astaga, apes banget ....” Dimas memicingkan matanya. “Hei, kau itu tidak bisa membuka pintunya,” ujarnya memberitahu. “Pintuku sudah tidak pakai kunci lagi. Lihat, begini cara membukanya.” Ia menekan beberapa angka di sebuah layar yang terpasang di atas pintu. Tidak lama pintu aperteman Dimas pun terbuka. Air mata Anggun yang berlinang bak air terjun itu segera terhenti. Bibirnya yang terbuka segera terkatup. Manik matanya melirik Dimas dan mulai merasa tidak enak hati dengan tuduhan bodohnya itu. “Silahkan pulang ...,” ujar Dimas sembari menggerakkan tangannya ke depan. “Aku tidak menyekapmu. Untuk apa aku menyekapmu di sini? Yang ada malah membuat daftar pengeluaranku meningkat karena menanggung beban satu orang yang harus diberi makan.” Anggun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tersenyum kecut dan kemudian menyadari kesalahannya. “Maaf. Aku salah faham ....” “Ya, memang kau salah faham,” timpal Dimas kesal. Ekspresi mukanya langsung berubah ketus, tak ramah. “Ya, sudah sana pergi ....” Dimas kini mengusir. Anggun masih berdiri di tempat yang sama sembari menyeringai seperti cengiran kuda yang menyebalkan. “Tadi siapa namamu? Kita belum berkenalan.” “Untuk apa? Kamu mulai naksir sama aku? Sorry aja ya, rasa cintaku itu hanya untuk Rose!” jawab Dimas sembari bersedekap tegap dan tampak gagah. “Enak aja aku naksir kamu! Rasa cintaku ini juga hanya untuk Daniel! Bukan pria lain!” Anggun tidak kalah ketusnya. Ia berbicara sembari menenggakkan muka dan berkacak pinggang. “Baguslah, kalau begitu ....” Hening sebentar. Lalu dua menit kemudian mereka sama-sama melirik satu sama lain. “Hei, seniman karbutan ... Bagaimana jika kita membuat rencana bersama ....” Anggun mulai memiliki ide gila. Kedua alis Dimas bertaut. “Rencana bersama apa?” “Kau mencintai ibuku kan? Dan aku mencintai Daniel. Bagaimana jika kita bekerja sama untuk memisahkan mereka?” Sudut bibir Anggun menukik ke atas, tersenyum tipis penuh arti. “Bagaimana? Kita rebut kembali orang yang kita cintai ....” Dimas tidak langsung menjawab. Dari raut mukanya, terlihat sedang memikirkan tawaran kerjasama yang diajukan Anggun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD