Kenyataan pahit

1261 Words
Rasa penasaran seraya membunuh Anggun perlahan. Ia menjadi tidak tenang. Terlebih lagi saat melihat perubahan ekspresi muka Nita saat siang kemarin. Anggun tidak bodoh, pasti Nita melihat sesuatu yang mengejutkan dan tidak ingin memberitahukannya. “Memang siapa kekasih Daniel?” guman Anggun bertanya pada dirinya sendiri. “Kenapa Nita sampe segitunya? Dia kaya kesambet abis melihat setan. Hari ini juga tuh anak ga masuk kerja. Padahal kan hari libur kita udah kemarin.” Anggun membetulkan tali tas ranselnya yang melorot turun dari bahu. Ia berjalan pulang dari Hotel Manggis, tempatnya bekerja sebagai resepsionis. Wajah lusuh kurang dempulan bedak dan lipstik yang sudah pudar memperlihatkan wajah Anggun yang tidak bercahaya. Ketika Anggun melangkahkan kaki perlahan, berjalan menuju stasiun untuk naik Comutter line, lagi-lagi tanpa sengaja sepasang matanya melihat mobil Daniel yang melaju di depannya. “Idola gue!” serunya spontan. Tanpa pikir panjang dan berpikir dua kali, Anggun langsung menghentikan mobil taxi yang lewat di depannya. Mobil Taxi pun berhenti. Anggun langsung membuka pintu mobil. “Pak kejar mobil yang warna merah itu ya!” Sang supir taxi pun langsung menoleh ke belakang. “Kita mau ngikutin orang neng?” “Iya pak. Dia pacar saya. Saya lagi hamil malah diputusin. Taunya tadi saya lihat dia malah sama cewe lain,” jawab Anggun penuh dusta demi secepatnya bisa mengikuti ke mana Daniel pergi. “Kurang ajar banget itu pacarnya Neng?! Siap! Kita ikutin ke mana mobil itu pergi!” sahut pak Supir taxi sambil menancap gas. Ternyata mobil Daniel melaju cukup jauh dari Hotel miliknya. Beberapa kali sepasang mata Anggun melirik ke arah argo taxi yang sudah mencapai seratus ribu lebih. “Ke mana sih mereka pergi, jauh bener,” gumannya pelan. “Sepertinya mereka ke Taman Kota. Kan malam ini ada acara HUT hari jadi Kota ini Neng ...,” ujar pak Supir yang ternyata bernama Edi dari kartu nama yang terpajang di dasboard mobil. Dan benar saja apa yang dikatakan Edi pada Anggun. Mobil Daniel masuk ke dalam parkiran taman Kota yang luas dan kemudian taxi yang ia tumpangi pun berhenti. “Gimana neng? Mau turun di sini?” tanya Edi pada Anggun. “Yaudah pak di sini aja!” jawab Anggun sambil menyiapkan lembaran uang seratus ribuan dan juga selembar uang lima puluh ribu yang dikeluarkannya dari dalam dompet. “Ini pak. Makasih ya,” katanya sambil membayar dan kemudian membuka pintu mobil. “Kalo pacar Neng tetep engga mau tanggung jawab. Kejar terus! Berani berbuat, engga mau bertanggung jawab! Pengecut!” Edi, pria paruh baya yang mungkin juga memiliki anak seusai Anggun itu nampak emosi. “Oke, oke Pak Edi. Makasih ya ...!” sahut Anggun dan kemudian berlari ke dalam taman Kota yang sudah terhias lampu-lampu warna warni dan rangkaian desain panggung yang bagus. “Sedang apa Daniel ke mari? pikir Anggun. Kemarin ia dan Nita juga melihat Daniel berada di sekitar daerah ini. Apa pacar Daniel itu berkerja di salah satu pertokoan di sini?” tanya Anggun penuh tanya. Hari dengan cepatnya sudah menjadi gelap. Namun sudah tiga puluh menit berlalu, Anggun tidak kunjung bisa menemukan Daniel. Anggun terduduk lesu di salah satu bangku taman. Ia menatap ke sekeliling. Banyak pasangan bergandengan mesra menikmati acara Hari Jadi Kota ini. Tapi tidak dengan dirinya. Duduk sendiri dengan status Tuna Asmara, alias jomblo. Nada-nada melodi yang mulai mengalun indah bersama suara merdu band lokal mulai terdengar. Sebuah lagu pembukaan berjudul Lumpuhkan Ingatanku yang dipopulerkan oleh Geisha, menambah riuh suasana di tempat ini. Namun membuat suasana hati Anggun semakin sedih. “Tuhan, kenapa kisah cintaku tidak pernah mujur ...,” gumannya lirih dan frustasi. Bahkan hanya untuk mengangumi seseorang saja, Anggun sudah merasa patah hati. Sepertinya Tuhan sedang berbaik hati pada Anggun. Baru saja Anggun berdoa sambil mengandahkan muka ke langit yang saat ini sedang dipenuhi bintang-bintang bertaburan. Tiba-tiba ia melihat sekelebat bayangan Daniel yang sedang membawa sebuket bunga mawar merah yang indah. Anggun langsung berdiri dari duduknya dan kemudian bergegas mengikuti Daniel. Ia menjaga jarak langkah agar Daniel tidak merasa diikuti. Dahi Anggun mulai berkerut ketika Daniel kini berjalan menuju tempat yang lebih sepi dari sebelumnya. Lalu di dekat sebuah pohon yang dihiasi lampu bergantungan warna warni, seorang wanita yang mengenakan dress merah berdiri membelakangi. Wanita itu sedang mengandahkan muka, melihat ke atas langit, menghitung bintang. Anggun memicingkan sepasang matanya. Berharap bisa melihat lebih jelas. Punggung wanita itu terlihat tidak asing. Rambut panjang yang bergelombang itu pun juga. ‘Deg!’ Jantung Anggun langsung berdegup lebih cepat. “Tidak!” serunya lirih. Dan benar saja kan, Daniel berjalan menuju wanita itu dengan sebuket bunga mawar merah yang besar dan berpita indah. Saat sudah dekat, Daniel memeluk wanita itu dengan cepat. Seraya memberikan kejutan. Mendapatkan pelukan Daniel dari belakang si wanita langsung membalik badan dan membalas pelukan Daniel erat. Rambutnya tersibak dengan senyuman manis merekah di sudut bibirnya. Kini Anggun bisa dengan jelas melihat siapa wanita yang berpelukan dengan Daniel. Bibirnya ternganga. Membulat seperti huruf O besar. Terkesiap ketika akhirnya bisa mengetahui siapa kekasih pria yang dipujanya diam-diam. Anggun menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak ...! Tidak!” serunya sambil membalikkan badan dan kemudian berlari. Saat Anggun berteriak dan berlari. Rose melepaskan pelukan Daniel. “Ada apa?” tanya Daniel dengan alis mengerenyit. “Apa kamu mendengar suara seseorang berteriak?” tanya Rose sambil melihat ke sekeliling. “Tadi aku mendengar seseorang berteriak. Dan suaranya mirip seperti suara ....” “Tidak ada yang berteriak. Aku hanya mendengar suara vokalis band bernyanyi,” jawab Daniel sambil memeluk Rose kembali dengan erat. Rose terdiam dan membiarkan tubuh indahnya dipeluk Daniel. Tatapan matanya masih melihat ke sekeliling. Tadi ia sangat jelas mendengar suara Anggun berteriak. *** “Tidak ...!” seru Anggun sambil berlarian. Ia menerobos kerumunan pemuda yang sedang berkumpul tanpa permisi. Hingga suara teriakan marah dan makian dilontarkan padanya. Tapi Anggun tidak peduli dengan semua itu. Ia tetap terus berlari. Melangkahkan kaki lebar-lebar untuk meninggalkan tempat terkutuk ini. ‘Kenapa ... kenapa terulang lagi ...?’ batin Anggun. “Kenapa orang yang aku cintai, selalu memuja ibuku?!’ Anggun menangis terisak di dalam gelapnya malam. Hingga ia sudah tidak sadar lagi telah berlari ke arah mana. Menangis sambil berlari membuat nafasnya sesak. Anggun kelelahan. Namun ia terus berlari. Hingga suara berisik lalu lalang kendaraan dan riuhnya musik tidak terdengar lagi. “Tuhaaaan ... Kenapa aku terlahir dari ibu yang tidak bisa memahami ku?!” teriak Anggun dan seketika ia menabrak seseorang. “Brak!” Anggun terjatuh. Ia terjengkang ke belakang. Anggun menabrak seorang pria tinggi berbadan tegap. Pria itu mengulurkan tangannya ke arah Anggun. Namun Anggun langsung menepisnya kasar dan justru terisak dan menangis kencang. “Pergi! Pergi!” teriaknya histeris. Pandangan Anggun berkabut karena air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Tidak bisa melihat dengan jelas siapa pria yang sudah ditabraknya itu. Melihat seorang wanita menangis terisak di depannya, membuat Dimas merasa tidak tega. Ia pikir Anggun menangis akibat terjatuh setelah menabraknya dengan keras. Dimas kembali mengulurkan tangannya ke arah Anggun. Namun lagi-lagi Anggun menepisnya. “Pergi kataku!” teriak Anggun sambil sesegukan dengan nafas terengah. Penyakit asmanya menjadi kumat karena tangis dan kelelahan berlari. Anggun memegangi lehernya sendiri dan berusaha mengatur nafas yang mulai sangat sulit itu. Melihat semua itu membuat Dimas merasa sangat tidak tega dan langsung membopong Anggun. Tangan kekar langsung menarik tubuh Anggun dengan cepat. Kepala Anggun bersandar di d**a bidang Dimas. Anggun memicingkan sepasang matanya untuk melihat jelas wajah pria yang kini membopongnya. Namun karena kekurangan oksigen membuat pandangannya mulai gelap. Yang sangat jelas dirasakan Anggun saat ini hanya satu, aroma kayu-kayuan yang menenangkan. “Aku akan membawamu ke rumah sakit. Bertahanlah ...,” ucap Dimas lirih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD