kepala Ibram terasa berdenyut bahkan ketika laki-laki itu bangun dari rebahannya kamar tempatnya berada terasa berputar hingga laki-laki itu kembali memejamkan matanya walau saat ini dia sudah duduk di tepi ranjang. Seketika dunianya terasa begitu berbeda hanya ada kesuraman karena dia tidak tahu di mana sang istri tercinta berada sekarang tapi akhirnya laki-laki itu menyadari jika dirinya masih memiliki sebuah tanggung jawab lain saat ini, maka Ibram berjalan ke kamar mandi berharap setelah membasuh tubuhnya nanti rasa pusing di kepalanya akan menghilang. Laki-laki itu kembali menghela nafas berat ketika ia keluar dari kamar mandi, separuh bahkan mungkin tiga perempat atau mungkin tujuh perdelapan hatinya hilang seiring dengan kepergian Niswa dari rumahnya, biasanya ketika dia keluar

