Saat ini seorang pria masih terbaring tak berdaya dikasur. Muka penuh luka lebam, tangan dan kaki yang patah membutuhkan waktu sembuh yang cukup lama. Untung saja anak buahnya tepat waktu datang menyelamatkannya.
“Bagaimana kondisi gadis itu?” Tanyanya pada salah satu anak buahnya.
“Seminggu ini nona Florensia berkegiatan seperti biasa, tuan. Tapi sepertinya ia memiliki hubungan khusus dengan Mr. Colline.”
“Sejauh apa hubungan mereka?” Nada datar, mimik muka dingin membuat pria lemah itu terlihat seram.
“Belum ada kepastian hubungan mereka, tuan. Tak ada yang mengetahui kondisi mereka.”
Pranggg.
Pria itu membanting gelas di atas nakas ke tubuh anak buahnya itu, namun meleset. Semua anak buahnya menunduk. Tuan mudanya memang manja sedari kecil dan selalu mendapatkan apa yang diinginkan. Dasar tuan manja Junno Harrington.
“BODOH. Aku tak butuh jawaban seperti itu.”
“M-ma maaf tuan. Kami akan cari informasi lagi.”
“PERGI KALIAN SEMUA.”
Semua anak buahnya meninggalkan kamar Junno. “Adeline harus jadi milikku. Aku sudah menunggu lama. Jika cara halus tak bisa, maka cara paksa pun boleh.” Lirihnya sinis.
Beberapa saat kemudian seorang pria paruh baya masuk ke kamar Junno tanpa permisi. Mr. Jerry Harrington menggebrak kamar anaknya.
“Apa-apaan kamu. Jangan semena-mena dengan anak buahku. Kau belum beraksi saja sudah babak belur. Bodoh sekali.”
Jerry geram dengan kelakuan anaknya. Ia memang berusaha mengajari Junno bisnis dunia hitam miliknya dan meneruskan kekuasaanya. Tapi belum bertindak saja sudah ceroboh dihajar habis saat mabuk.
“Maaf, pa.” suara lirih yang hampir tak terdengar.
“Papa jadi ragu, apa kau memang bisa meneruskan bisnisku? Atau kuberikan saja pada kakak iparmu?”
“Tidak pa. aku pasti bisa aku akan berusaha.” Junno berusaha meyakinkan ayahnya. Ia tak rela kekuasaa ayahnya jatuh ke orang lain.
“Kalau begitu buktikan. Dan berhenti memikirkan persoalan wanita. Apalagi berhubungan dengan Robert Colline.”
Jerry meninggalkan anaknya yang masih tak berdaya dengan kaki menggantung akibat ulah bodohnya. Jerry memang berbisnis dengan dunia hitam sama seperti Rain dan ayahnya, Robert Colline. Namun kekuasaannya tak seberapa dibanding Robert, mereka bisa dalam semalam membuat usahanya gulung tikar jika mau. Apalagi hanya karna ulah anak bodohnya.
Junno tersenyum kecut mendengar ucapan ayahnya. Ia tak bisa melepaskan Adeline, cintanya sedari kuliah. Ia memang tak berani menyatakan cintanya dulu karna tau seperti apa Adeline, ia tak mau perasaannya membuat jarak. Lebih baik mencintai dalam diam tapi selalu bersama. Saat ini berbeda, mereka sudah cukup umur untuk menjalin hubungan. Dan Junno tak peduli dengan resikonya. Sayangnya ia tak berpikir saingannya tak sebanding dengan dirinya. Rain sudah bergelut dengan dunia gelap dari kecil, sedangkan Junno tidak.
Masa kecil Junno dihabiskan dengan kehidupan normal, ayahnya sempat beberapa kali menawarkan saat usia remaja namun ditolak. Ia tak mau bergelut dengan dunia seperti itu, namun saat kepergian Adeline yang tiba-tiba membuatnya kacau. Tak ada yang tau keberadaan Adel saat itu. Bahkan dirinya yang selalu bersama tak diberi tau. Kekacauan hatinya kehilangan sahabat dan cinta membuat ia ingin bergabung dengan ayahnya. Untuk menemukan Adeline.
Tak semudah itu, ayahnya mendidiknya sangat keras. Mulai dari belajar beladiri, menembak dan menggunakan senjata tajam lain. Keawamannya dengan kerasnya dunia itu membuat ia kewalahan. Jerry, ayahnya sempat khawatir jika dunia ini tak cocok dengan anak itu tapi Junno tetap memaksa. Hingga saat ini Junno masih menjadi pengamat bisnis ayahnya, belum melakukan aksi sama sekali.
Kepulangannya malam itu membuat terkejut Jerry. Betapa tidak, ia masih belajar dalam dunia gelapnya tapi sudah berurusan dengan Rainold Colline. Jerry tidak bodoh, pastinya Rainold saat ini sudah mengetahui latar belakang Junno. Dan itu akan merugikan bisnis Jerry. Betapa bodohnya anak itu.
“HAHHHHHH BRENGSEK.”
Junno meninju kasurnya dengan kepalan tangannya yang masih terluka. Ketidak berdayaannya sekarang membuat batas ruang gerak. Ia ingin segera pulih dan beraksi.
“b******k kau Rain. Aku tak takut padamu. Beraninya kau mengambil cintaku setelah ia kembali lagi.”
***
“Jadi kau ingin yang mana, sayang?” Suara khas itu mengejutkan lamunan Adeline.
“Eh. Aku? Tidak tau.” Adeline memalingkan pandangannya dari perhiasan didepannya.
Adeline dan Rain mendatangi toko perhiasan setelah berdebat panjang karna Rain mengarang cerita yang membuatnya makin terjebak pada hubungan ini. Hubungan yang awalnya dimainkan Adel, namun sepertinya saat ini dirinyalah yang dipermainkan oleh permainannya sendiri.
“Kau tak suka? Mau pilh ditempat lain?” Adeline masih tak bergeming. Tempat mana lagi yang harus didatangi. Toko ini paling ternama di New York bahkan banyak billionare dari kota lain datang hanya untuk ke toko ini.
“Tidak. Aku tidak selera.” Rain mengamati gelagat Adeline yang tiba-tiba berubah mimik muka.
“Ada apa? Cerita padaku?” Rain melingkarkan tangannya dipinggang Adeline, menarik lebih dekat ke tubuhnya.
Adeline risih sekali dengan tindakan Rain. Apalagi mereka sedang ditempat umum, meskipun tak ada yang berani mencibirnya. “Lepaskan Rain. Kita ditempat umum.”
Adeline berusaha memaksa tersenyum dan mendorong mundur tubuh atletis itu namun tak bergerak.
“Tak ada yang berani mencibir kita, Flo. Tempat ini milikku.” Lirihnya tepat ditelinga Adel, memberikan sensasi panas.
Adel sedikit terkejut. Ia tau Rain sangat kaya, tapi tak tau asset mana saja yang dimiliki calon suaminya. “Aku lapar.” Hanya itu satu-satunya cara melepaskan tindakan Rain, mengalihkan ke kegiatan lain.
“Ayo makan. Ada restoran jepang kesukaanku disini. Kau ingat kan makanan kesukaan kita?” Lagi-lagi Rain menggoda Adeline. Mengingat masala lau kelamnya.
Mereka makan dalam diam, belum ada sepatah katapun yang muncul dari keduanya. B-one, tangan kanan Rain menghampiri mereka.
“Permisi bos.”
“Ada apa?”
“Bisa ikut saya sebentar, ada hal yang harus saya bicarakan.”
Rain melihat gelagat B-one, melirik Adel yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua karna penasaran. “Baiklah.”
“Tunggu sebentar, Flo.”
Adel hanya mengangguk melihat Rain berdiri dan pergi meninggalkannya diikuti anak buahnya. Mereka berdiri tak jauh dari pintu restoran. Adeline masih bisa melihat mereka dengan mata penuh penasaran. Beberapa kali Rain meliriknya, ia yakin ini tentang dirinya. Tak lama setelah itu Rain kembali. Ia hanya tersenyum dan tak mengkhawatirkan apapun.
“Sorry, Flo. Tadi ada urusan sebentar.”
Rain duduk ke tempatnya dan melanjutkan makan. “Ehm.. urusan tentang apa?”
Rain tersenyum menghentikan aksi makannya, meletakkan sendok dan sumpit di mangkuk ramen. “Kau penasaran?”
Adeline seperti terejek dengan pertanyaan Rain. “Ah tidak mungkin. Aku hanya bertanya saja. Tidak kau jawab yasudah.”
Adeline kembali menyeruput ramen miliknya yang mulai dingin. Sementara Rain masih menatap Adel dengan senyuman seribu arti.
“Ini hanya masalah kerjaan. Kau tak perlu terlibat, Flo. Kau hanya perlu menjadi istriku yang penurut dan menikmati fasilitas yang ku berikan nanti.”
Sekarang giliran Adel menghentikan makannya, sedikit membanting alat makan ke mangkuk. “Kau pikir aku matre? Aku tak butuh uangmu. Dan pernikahan ini hanya sepihak. Kau memaksaku.”
Rain tertawa mengejek, membuat Adeline sangat kesal. “Kau tau Flo. Kadang cinta membuat kita melakukan hal bodoh.”
Adeline menarik nafas kasar, menyenderkan badannya ke kursi. Ia melipat kedua tangannya. “Termasuk merusak mentalnya dan memaksakan kehendak?” Suaranya lirih namun terdengar jelas.
“Ya, maybe. Kadang kita harus melumpuhkan mangsa agar tunduk.”
“Binatang.” Suara Adel penuh dengan penekanan membuat Rain kembali menertawakan dia.
“Kau boleh memanggilku seperti itu.”
Adel berdecih. “Suatu saat kau akan mengerti kenpa aku melakukan ini sebagai caraku melindungimu.”
Rain mengelap mulutnya dengan tisu. Makanannya sudah tak lagi nikmat. “It is enough. Sekarang kita pulang karna kondisi sudah tidak kondusif. Cincin kita akan aku atur nanti, kau terima beres.”
“Lihat kan. Sifat aslimu keluar.”
“Jangan disini Adeline.”