Chapter 1 - Adeline Florensia!
Masih berkutat dengan pekerjaan yang bertumpuk, Adel masih fokus dengan laptop dan secangkir cappuccino latte hangat yang dibeli saat break time. Sudah sore menjelang petang, namun matanya tak melirik sedikitpun ke lain arah padahal pikirannya sudah lelah dan ingin segera merebahkan tubuh indahnya ke bed king size kamarnya.
“Duh otakku, fast thinking please! Kau ingin segera istirahat kan? Bersahabatlah!!” Gumamnya sambal meneguk kopi yang hampir dingin.
Sudah jam 6 sore menandakan jam kerja telah usai sejam yang lalu, namun ia enggan menunda pekerjaan karena besok harus segera diserahkan ke atasannya yang super perfeksionis.
“Del? Belum pulang?”
Itu rekan kerja Adeline, Tiara. Mereka rekan setu team di perusahaan kosmetik ternama di New York.
“Belum, Tir. Proposal untuk Pak Boss sudah siapkah? Materi Produknya masih harus direvisi lagi. Semoga aku bisa menyelesaikannya malam ini juga.” Kata Adel memelas.
“Udah, Del. Tapi aku menunggu Tommy meeting dengan client di lantai 14. Aku malas sekali sendirian disana, jadi aku kembali kesini” Ujar Tiara kesal.
Baguslah Adel tak harus dikantor sendirian dan membayangkan hal yang tidak-tidak dipikirannya. Adel sangat insecure dengan tempat sepi apalagi tempat gelap, apa lagi kalau di harus sendirian. Namun ia harus terlihat chill di depan banyak orang karna tak mau diremehkan oleh hal sepele.
Adel dikenal sebagai wanita yang independen, menarik, dan pandai bergaul. pembawaannya yang fun membuat banyak pegawai berteman dengannya. Sikap positif, pengertian dan open minded yang dimilikinya membuat banyak orang yang berbagi keluh kesah dengannya.
Namun dibalik itu semua, sebenarnya ia adalah wanita yang rapuh dan lemah. Wanita yang sebenarnya juga menginginkan sentuhan lembut dan mesra. Ia juga memilikinya fantasi yang liar yang bahkan tak diketahui orang karna dia menutup rapat sifat aslinya. Menurutnya cukuplah orang melihat dia menjadi orang yang disenangi, meskipun kadang ia haus kasih sayang.
Adel tak suka dikasihani. Bahkan hanya dia yang tau sifat aslinya, keluarganya pun tak tau kalau sebenarnya adel punya banyak hal yang ingin dilakukan sebagai wanita, keluarganya menginginkan Adel menjadi wanita yang sukses dalam pendidikan dan pekerjaan. Sebab itulah Adel harus menutup semuanya demi keluarga, ia tak mau kalau dia salah langkah dan membuat keluarganya malu.
“Del, jangan melamun. Tommy sudah menungguku. Aku pergi dulu ya, jangan lupa besok malam datang ke acara pertunanganku. Banyak client kita yang akan datang, siapa tau ada yang tertarik denganmu, hahaha” Ucap Tiara sambal berjalan meninggalkan Adeline sendiri di kantor.
“aku tak tertarik, Tir. Tapi demi sobatku aku pasti datang.” Jawab Adel teduh.
Apa aku ini tidak normal? Apa aku harus ke psikiater lagi? Ah tidak! Pikirannya berkecamuk.
08.00 Malam
Adeline tiba dirumah minimalis yang didiami dengan Orang tuanya. Mobil sedan warna kuning soft terparkir rapi di teras rumahnya bersebelahan dengan mobil ayahnya.
“Ayah dan ibu sudah pulang rupanya. Lelah sekali harus menghadapi mereka” gumam Adel lesu.
Ia membuka pintu dan menemukan orang tuanya tengah menikmati makan malam mereka. Malas sekali karna ia lelah berdebat dengan mereka.
“Hello, dear. Daddy miss you so much.” Ayah Adel menyambut anaknya semata wayangnya dengan pelukan rindu.
Maklum sudah hampir sebulan mereka ke Washington, mengurus butik yang baru mereka kembangkan dan akan bolak balik untuk kedepannya. Adel sudah biasa ditinggal sendiri tanpa pembantu sekalipun, ia mampu mengerjakan pekerjaan rumah tangga meskipun ia anak tunggal. Keluarga kecil itu hanya menggunakan jasa asisten rumah tangga yang pulang pergi di sore hari dan libur saat weekend.
“Jadi sudah ketemu belum sama pria yang….”
“Honey, please! Adel baru pulang! Jangan langsung di introgasi seperti itu” Ujar Mr. Crusse Florensia, ayahnya kepada istri tercintanya.
Hati adel lelah harus ditekan depan keinginan orang tuanya yang ingin segera menimang cucu, seperti teman-temannya yang lain. Dan sudah terjadi lebih dari 2 tahun terakhir.
“She’s 25 years old, Honey! She needs Marry” Tegas ibunya, Mrs. Carroline Florensia.
“I’m 24, mom!” Tegas Adeline.
“Berjalan 25, dear. Kamu harus ingat itu. Sudah tidak muda lagi.” Jawab ibunya tegas.
Adel memilih diam tak membantah. Takada habisnya menjawab omongan ibunya itu.
“Mom, please! Jangan menekan Adel. Dia akan bawa kekasihnya di waktu yang tepat. Lagipula, aku belum rela anakku mencintai pria lain selain aku.” Ucap ayahnya sendu.
“Honey, come on..” Caroline melotot mendengar ucapan suaminya.
“Thanks, Dad. Noone can take my heart off you.” Ucap Adel sambil melepas pelukan ayahnya. Meninggalkan mereka diruang makan dan masuk ke kamarnya.
Adeline masuk kamar minimalisnya dan langsung masuk ke kamar mandi. Ia termasuk wanita yang resik, ia tak mau merebahkan tubuhnya yang kotor dan lengket ke Kasur kecintaannya.
Ia melepas seluruh pakaiannya dan melihat tubuhnya yang tak tertempel sehelai benang itu di cermin kamar mandi. Tubuhnya yang tak terlalu tinggi, 165 cm namun sangat kencang dan halus tanpa segores luka itu membuatnya semakin menarik. Diikatnya rambut ke atas karna ia tak ingin keramas malam ini, tubuhnya mulus tanpa bulu karna ia rajin mencukur. Dadanya yang lumayan besar membuat iya terlihat seksi dengan pinggangnya yang sangat kecil dan b****g yang sangat kencang. Ia rajin olahraga memang.
“Sepertinya takada pantas menyentuhmu selain diriku sendiri. Poor me”Ucap adel sambil mengagumi tubuhnya sendiri namun ada nada kesedihan disitu.
Ia mulai menikmati bath up dengan aroma vanilla kesukaannya. Menikmati sensasi relaks disetiap inchi tubuhnya sambil memejamkan mata.
Wise man said, only fools rush in
But I can help falling in love with you
Alunan lagu kesukaannya membuat ia semakin relaks dan terbang jauh. Ia memejamkan mata untuk menikmati suasana sendu yang ia ciptakan sendiri.
Tiba-tiba ia merasakan sentuhan tangan yang sedikit kasar menyentuh rambutnya, melalui pipinya yang halus, menyentuh dagunya yang terbelah dan berakhir di bibirnya yang tebal namun sangat sensual. Tubuh Adel idaman lelaki dari ujung rambut hingga kaki. Tak heran banyak mata yang tak mau melewatkannya.
Sentuhan dibibir itu semakin terasa menjalar ke sekujur tubuh Adel, ia tak menolak bahkan sangat menikmati sentuhan itu. Terasa sekali pemilik tangan itu merindukan bibir sensual Adel yang sekarang sedang dicumbu dengan ganas. Tangan yang lain berusaha memeluk pinggang kecil Adel dan menggerayangi punggung membuat wanita itu mengerang menikmati setiap cumbuan yang datang bertubi-tubi ke bibirnya, menikmati setiap sentuhan dari lelaki yang telah mendekapnya.
Adel malah mengalungkan tangannya ke leher lelaki itu membuat tubuhnya semakin melekat satu sama lain.
“Who are you? Hmmmm” tanya Adel sambil menikmati setiap lumatan bibirnya dan menahan erangan yang keluar dari suaranya.
“S..siapapun kamu, please don’t stop.”Suara adel semakin menjadi karna lihatnya pria bertangan kasar itu.
Tangan itu tergerak menikmati setiap lekuk tubuh Adel.
Adel rindu.
Ia rindu sentuhan lelaki hingga iya menikmati cumbuan pria bertangan kasar yang tak ia ketahui itu.
“God… please…. Hmmmpphhhh…” lumatan pria itu membuat Adel meracau tak karuan dan matanya semakin terpejam menikmati momen indah malam itu.
Pria bertangan kasar itu menciumi setiap titik di wajah adel dari dahi hingga dagunya, berjalan menciumi telinga Adel yang semakin membuat adel tak karuan. Sambil gigitan kecil di teling Adel yang menjadi area sensitifnya itu.
Pria itu berbisik di telinga Adel. I miss you, Flo.
“Ah…..Sial.”
Author say:
this is my first story i wrote. i hope u all enjoy it. please leave comment and vote, or follow me so i can improve more story or episodes. sorry for typo...?