Pria tampan bernama Rainold Colline. Orang-orang biasanya memanggilnya Rain. Ia tengah duduk di mansion mewah miliknya benuh dengan bodyguard bertubuh kekar dan menyeramkan.
“Sudah kau temukan apa yang kucari, Bung.” Ucapnya dingin, mata yang tajam seperti elang.
“Sudah bos. Namun sepertinya akan sulit membawanya ke hadapanmu.” Jawab salah satu bawahannya yang memakai segaram serba hitam, di tambah kacamata dan alat-alat detektif lain.
“kalau itu kesulitan bagiku, maka itu kematian bagimu” ucapnya semakin dingin tanpa memandang bawahannya.
Ia masih duduk sambil mengasah pisau lipat yang selalu ia bawa kemanapun. Tak satupun keinginannya didunia ini yang tak bisa ia dapatkan bahkan jika harus mengorbakan nyawa seseorang.
Sikap dingin dan arrogant Rain membuat ia ditakuti oleh semua pegawainya bahkan tak seorangpun bisa membantahnya.
2.00 Siang.
Pintu ruangan CEO diketuk perempuan berambut coklat panjang, dikuncir kuda dengan poni tipis menutupi dahi. Rok mini dengan sedikit belahan dibelakang membuat mata lelaki nakal berimajinasi liar. Postur tubuh yang tinggi membuat kakinya terekspos menambah nilai wanita itu.
“Masuk”
“Excuse me, Mr. Rain. Ini materi untuk meeting besok setelah makan siang. Selanjutnya jadwal anda kosong.” Kata wanita itu yang tak lain sekretaris Rain, Melany.
Bahkan melihat Melany pun tidak. Rain sangat menjaga dirinya untuk tak disentuh wanita manapun. Apalagi disentuh oleh w************n di klub malam itu membuatnya sangat jijik.
Melany berjalan mendekati Rain yang tengah duduk disofa empuk diruangan CEO yang berwarna putih abu-abu itu. Ia duduk disebelah Rain tanpa permisi dan sedikit menggoda dengan baju dengan bentuk leher V yang memperlihatkan belahan dadanya yang berukuran sangat besar.
“Mr. Rain, apakah besok malam kau akan…”Ucap Melany dengan nada sensualnya itu. Namun Rain memotong omongannya.
“Jangan tunjukkan d**a palsumu didepanmu. Kau tak mampu bayar dokter mata jika mataku sakit.” Ujar Rain tanpa melepas pandangannya dari file-file yang sedang diperiksanya.
Merasa direndahkan oleh atasannya itu membuat harga dirinya hancur. Hati Melany sakit sekali mendengar ucapan itu seolah ia hanya kotoran. Disaat pria lain mengincar tubuhnya namun atasannya itu menolak mentah-mentah. Melany yang geram langsung berdiri dan meninggalkan ruangan. “Saya permisi, Mr.”
How dare you, bit*h. senyum menyeringai muncul dari bibir indah Rain.
Rain meraih telpon genggamnya dan menelpon kaki tangannya.
“B-one, antar aku ke gym.” Ucap Rain kepada kaki tangannya.
Siap, bos.
Rain sangat menjaga badannya agar tetap atletis. Perutnya yang sixpacks dengan kulit sedikit kecoklatan menambah sensualitas pria itu. Otot lengannya yang sangat terbentuk menampakkan keindahan khayalan wanita. Mata cokelatnya yang tajam seperti elang, hidungnya yang mancung, bentuk rahangnya yang tegas dengan sedikit balutan jambang tipis membuat ia semakin hot. Apalagi saat menggunakan celana olahraga yang ketat menunjukkan benjolan berukuran tak wajar membuat seluruh wanita di tempat gym salah tingkah.
Rain sangat suka memamerkan bentuk tubuhnya didepan banyak wanita agar mereka mengagumi keindahan Rain, namun tak membiarkan seorangpun menyentuhnya. Ia terlalu berharga untuk disentuh wanita sembarangan. Rain tak membiarkan dirinya digerayangi wanita-wanita liar itu. Harus dia yang memulai, harus!
Hanya ada satu tujuan ia melakukan itu, agar seluruh wanita di New York mengenalnya tak terkecuali. Namun dibalik itu semua siapa yang tau bahwa hatinya sedingin es, atau bahkan tak punya hati.
Bukan berarti Rain mengalami kelainan sensual. Rain sangat haus sentuhan wanita namun ia tak mau sembarang wanita. Hanya wanita yang dicintainyalah yang boleh menyentuhnya. Namun sampai saat ini belum ada yang bisa menggapainya, ia terlalu tinggi untuk wanita sembarangan. Lalu ia hanya menjadi pemain tunggal untuk juniornya selama 3 tahun ini, sejak hubungan terakhirnya dengan wanita yang ia mau.
Aku ingin kau, sayang. Hanya kau. Dulu, sekarang dan nanti. Ku bawa kau kehadapanku, hidup atau mati. Pikirannya berkelut sambil mengelap keringatnya setelah olahraga.
08.00 Malam.
Mangsa sudah dilokasi bos. Sebuah pesan muncul dilayar ponsel Rain.
Ia menekan ponselnya dan tersambung ke orang yang mengirimkan pesan padanya.
“B-one, buat dia gila. Terserah mau kalian apakan w************n itu. Oh ya, kau boleh memakainya sesukamu. Pastikan aku tak bertemu dengannya lagi” Ucap Rain dengan senyum menyeriangai seakan puas dengan tindakannya.
Sudah ku bilang jangan membuatku jijik. Berani sekali bermain api. Hatinya tertawa puas.
Rain tengah menikmati rintik hujan malam yang memberi suasana dingin menusuk tulang namun ia masih saja tak memakai pakain. Hanya celana tipis berwarna hitam yang selalu ia kenakan di malam hari membuat tubuhnya leluasa bernafas. Pikirannya melayang akan angan-angan wanita yang ia inginkan.
Wanita yang 3 tahun lalu mengisi hatinya tanpa ia sadari. Ia kira lambat laun ia berhasil melupakan bunga idamannya itu. Ternyata hanya sepi yang ia rasakan. Tenyata perasaannya saat itu bukan hanya rasa ingin memiliki untuk kesenangan atau hanya untuk memamerkan kecantikan wanita itu. Rupanya hatinya pun telah jatuh karna kepolosannya dan pendirian wanita itu yang tak meliriknya karna harta. Mungin hanya wanita itulah yang tak memandang hartanya. Hal itu membuat ia semakin geram karena ia harus kerja ekstra untuk mendapatkan hati wanita itu.
Sayang sekali karna sifatnya yang arogan, kasar dan egois membuat ia harus kehilangan wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta. Rasa sakit kian terasa karna perlakuannya yang tak pantas dan kasar ke wanita itu membuatnya kehilangan cinta pertamanya.
Rain tumbuh dengan harta bergelimang, ayahnya memiliki perusahaan humas terbesar dan afiliasi yang banyak. Sangat mudah untuknya mendapatkan apa yang ia mau. Hidup dengan segala kemewahan membuatnya arogan dan tak tau cara memperlakukan orang lain dengan baik. Ia hanya memiliki satu sahabat itu pun karena sejak kecil mereka bersama. Ayah mereka jga bersahabat baik. Namun mereka harus terpisah untuk mengurusi bisnis masing-masing.
Rain kesepian dan para bodyguard lah yang mendampinginya selama ini, membuatnya semakin arogan dan seenaknya. Ayahnya pun berperilaku sama dengannya, hanya saja beliau sangat mencintai ibunya sehingga keluarga mereka termasuk tak kurang kasih sayang. Ayahnya membiarkan Rain melakukan apapun yang ia inginkan selama bisa diatasi dengan uang.
Keluarga Rain tak menuntutnya untuk menikah diusianya yang hampir kepala tiga. Mereka pun tak keberatan jika Rain memiliki anak tanpa menikah. Namun Rain tak mau mendapat keturunan dari wanita asal-asal yang menjajakan diri pada pria kaya. Terlebih hatinya sudah terpaut pada wanita masa lalunya itu. Membuat hidupnya rumit.
Sudah saatnya kau kembali sayang. Kalau aku tak bisa mendapatkan cintamu, tak seorangpun bisa mendapatkannya juga. Pikirannya berkecamuk. Sedih harus melakukan hal seperti itu, namun ia harus!
Ia kembali ke ranjang empuk berukuran ekstra king size yang sengaja dibuat khusus oleh artitek ternama kenalan ayahnya diulang tahun perusahaan. Ia berusaha memejamkan matanya sambil tangannya memegangi foto wanita cantik masa lalunya.
“Fotomu dulu, sebentar lagi kamu.” Gumamnya sambil tersenyum manis namun pedih.
Like a river flows
Surely to the sea
Darling, so it goes
Somethings, are meant to be
Take my hand
Take my whole life to
For I can’t help falling in love with you
Alunan lagu kesukaannya memberikan relaksasi membawanya ke alam bawah sadar. Lebih tepatnya lagu kesukaan wanitanya itu, menjadi lagu kesukaannya sekarang.
Flo.