Chapter 11 – Jangan Sentuh Milikku
“AHHHHHHHHH”
Rain menggebrak setir, mengacak-acak rambutnya. Ia marah sekali Adel berani kabur darinya. Ia merasa direndahkan tingkah wanita itu.
“Dasar Jalang. Berani kau bangunkan macan tidur.” Rain geram, ia meremas kuat-kuat setir mobilnya.
Bukan Rain kalau membiarkan Adel kabur begitu saja. Ia memerintahkan semua bodyguardnya untuk mencari Adel dimanapun. Beberap dari mereka sudah melapor Adel tidak ada di rumah, kantor, bahkan ditempat sahabatnya, Tiara. Ia berusaha melacak lokasi Adel dengan nomer telpon, tapi hpnya tidak aktif. Hal itu makin membuat Rain murka.
Rain berusaha meretas cctv disetiap sudut kota dan akhirnya menemukan dimana taksi yang dinaiki Adel berhenti. Ternyata dunia sesempit itu. Adel malah berakhir di sebuah club miliknya.
Rain memberikan smirknya. “Ternyata kau tak sepolos itu, Honey. Tapi kau salah sudah bermain denganku.”
Rain berpikir Adel biasa pergi ke tempat malam seperti itu. Ternyata ia tak sekuno yang dipikirkan. Berarti harusnya dunia malam dan kawan-kawannya itu sudah bukan hal yang tabu lagi untuknya.
Selama perjalanan, Rain menelpon orang tua Adel memberi tahu bahwa Adel dan dia akan ada dipesta lajang Tiara dan Tommy. Ponsel Adel habis baterai dan tak bawa charger, terpaksa meminta bantuan Rain untuk menelpon mereka.
“Baiklah, nak. Bersenang-senanglah.” Kata Carolline melalui telepon.
“Tentu saja, bu.” Rain mengucapkan dengan lantang dan smirknya.
Telpon ditutup, ia menambah kecepatan mobilnya. “Tentu saja, aku akan bersenang-senang.
***
“Berani k-kau, baj- ji- ng-an.” Ucap Adel dalam kondisi yang sudah mabuk berat, namun iya masih berusaha melepaskan tubuhnya dari pria itu.
“Kau tak bisa menghindar, nikmati saja.” Bisik pria itu.
Tubuh Adel terkunci dipelukan pria itu, Adel dengan sisa tenaga yang Ada meremat wajah pria itu dengan kedua tangannya hingga meninggalkan beberapa bekas cakaran.
“b******k kau jalang. Rasakan!” Pria itu marah, melepaskan pelukannya dan membanting tubuh Adel ke dinding dengan keras.
“Ahhhhh…..” Adel berteriak sekuat-kuatnya.
BRAKKKKK!
Sebuah tendangan keras mendarat di pipi pria itu, membuat darah mengalir disudut bibirnya. “Jangan sentuh milikku.” Ucap Rain yang tengah emosi melihat tunangannya berada dipelukan pria lain.
“Hhhhmmm, aku duluan Tuan. Kau antrilah.” Pria itu terkekeh dengan tindakan Rain dan menyeka lupa disudut bibirnya. Kini ia menatap Rain dengan sinis.
Tak suka dengan tingkah pria b******k yang menyentuh tunangannya, Rain langsung menghajar habis pria itu hingga tangan dan kakinya patah. Adel yang sudah mabuk berat hanya tersungkur ditembok menyaksikan aksi Rain yang hampir membunuh pria itu.
Rain mendekati pria itu, berbisik ke telinganya. “Ini baru permulaan, setelah ini akan lebih menyakitkan. Bersiaplah. Hahah.” Rain memberi kode ke bodyguardnya untuk mengurus kelanjutan aksi untuk pria itu.
“HAHAHA. Best, best! Cyuuuu cyuuu.” Adel meracau sambil memperagakan pukulan-pulukan seperti yang dilihatnya barusan. Ia benar-benar mabuk berat.
Tak rela calon istrinya menjadi tontonan di clubnya sendiri, Rain langsung membopongnya seperti karung beras membawanya ke ruang VVIP dilantai paling atas club. Rain memang punya ruang khusus disana, namun jarang sekali ia pakai. Ia tak pernah membawa jalang masuk kesana.
Ruangan itu terlihat sangat mewah, dengan lampu yang sedikit redup berwarna kemerahan menambah kesan erotis. Ruang itu di desain khusus dengan finger print, jadi hanya Rain yang bisa membukanya. Rain dengan cepat meleparkan kasar tubuh Adel ke kasur king size bersuansa serba putih.
Rain geram dengan kelakuan Adel. Ia tak rela Adel bersenang-senang dengan pria lain selain dirinya. Bahkan sampai dipeluk didepan banyak orang. Pikiran itu memicu amarah Rain pada Adel. Sedangkan Adel yang sudah mabuk berat sepertinya tak sadar bahwa dirinya sudah berada diujung maut.
Rain menindih Adel, memaksa bibirnya menyatu dengan bibir Adel. Ia melumat kasar dan menggigit bibir Adel hingga sedikit dasar keluar. Tangan Rain memegang rahang Adel kuat-kuat agar tak bisa bergerak, memberinya kekuasaan untuk bertindak brutal dengan bibir Adel. Ia marah, sangat marah.
“Hmmmphhh hmmphhhhh, lep-as.” Adel mulai kehabisan nafas karna lumatan Rain benar-benar tak memberi jeda.
Rain tak peduli. Ia ingin memberi Adel pelajaran karna berani kabur darinya dan malah bersenang-senang dengan pria lain di club miliknya sendiri.
Rain melepaskan ciuman itu dengan mata tajamnya yang berai-api. “Kau berani menolakku dan bermain dengan pria lain. Sekarang rasakan akibatnya.”
Rain kembali melumat kasar bibir Adel. Ia memperdalam ciumannya, lidahnya menyusup paksa kedalam, menari dengan liar menyesapi lidah Adel. Runtuh rasanya tubuh Adel dengan perlakuan kasar itu, ia jatuh tak sadarkan diri.
Rain menepuk pipi Adel, namun tak ada pergerakan sama sekali. “HAHHH SIAL.”
Ia memukulkan genggaman tangannya tepat disebelah tubuh Adel. Ia belum puas menghukum wanita itu namun harus terhenti. Ia pastikan akan memberi pelajaran lebih menyakitkan dari apa yang ada dipikiran.
Rain segera mengganti pakaian Adel yang sudah compang camping ulah pria b***t di club, lebih tepatnya ulahnya sendiri karna mencumbu Adel dengan brutal. Ia tak mau melihat Adel bangun dengan kondisi mengenaskan. Ia juga membasuh badan Adel dengan lembut. Matanya menyiratkan cinta, kecewa dan amarah.
Rain membenarkan posisi tidur Adel, menyelimutinya. Sedikit eluhan menandakan Adel telah menemukan posisi nyamannya. Rain mencium dahi lembutnya dan pergi meninggalkan kamar itu. Ia berjalan cepat diikuti black teamnya.
“Dimana pria sialan itu?” tatapan mata dingin itu mengerikan.
“Tadi ada beberapa orang datang membawanya bos. Bukan orang kita.” Jawab salah satunya.
Langkah Rain terhenti, begitu juga dengan yang lain. “BODOHHHHH….” Rain memukul semua pegawainya itu. Ia kesal kenapa bisa kelepasan masalah sepele seperti itu. Harusnya mereka langsung membawanya ke ruang eksekusi dan membunuhnya.
“Kalau dia berani sampai menyentuh Floku lagi, ku penggal kepala kalian semua. Mengerti?” ucap Rain dingin dan tegas.
“M-mengerti bos.”
“Siapkan transaksiku. Aku mau semua berjalan cepat.” Ucap Rain pada B-one, asisten pribadinya.
***
Pagi harinya.
Adel terbangun dengan kepala yang sangat pusing. Ia tak pernah merasa seperti ini. Pengar sekali rasanya hingga sulit memfokuskan pandangannya. Tapi iya yakin ini bukan tempat yang familiar untuknya.
ADEL POV
Rasanya pusing sekali, tapi aroma ini sangat asing untukku. Ahhhh, pusing sekali rasanya. Tapi sebaiknya aku segera pergi dari sini daripada mendapat kesialan lagi. Aku ingat sekali tadi malam aku minum dan hampir dilecehkan, kalau ingat itu sungguh malu sekali. Sahabatku sendiri berusaha melecehkanku, padahal aku datang untuk melupakan sejenak masalah yang ada, namun Junno malah mengambil kesempatan untuk menjamahku.
Tapi kenapa aku berakhir disini? Apakah Junno sudah berhasil meniduriku? Sial. Pusing sekali.
“Sudah bangun?” Suara pria menarik perhatianku.
Aku segera menutup seluruh badanku dengan selimut. Aku takut sekali pria akan menyerangku dengan kondisiku yang masih lemah. “Rain?”
“Yeah, My Flo. Kau membuatku khawatir karena mabuk bukan main. Sepertinya kau suka dunia malam. Hahaha” pria itu terkekeh sinis.
“Apa yang kau lakukan padaku? Dan aku baru sekali ini pergi ke club. T-t-tapi…”
“Tapi kau sudah berani berselingkuh dan b******u dengan pria lain? Seperti itu?” tatapan Rain mulai sinis dan mengintimidasiku.
“S-seling-kuh? Jangan menuduh sembarangan. Aku tak pernah berbuat sehina itu.”
“Tapi yang kulihat seperti itu Flo. Kau tau akibatnya jika bermain denganku kan?” Rain sangat dingin dan menakutkan.
“Sungguh, aku tak berselingkuh. Aku dijebak. Aku..” sungguh tak kuasa aku menahanair mata. Meskipun aku tak mencintai Rain, tapi aku tak suka dituduh seperti itu. Aku dijebak.
Aku menangis sejadinya tak peduli apa yang akan dilakukan Rain padaku setelah itu.