Suara langkah kaki segerombolan pria berpakaian serba hitam menyusuri club malam ternama. Ya, itu Rain dan anak buahnya. Mereka bertemu dengan salah satu pemilik perusahaan yang akan ditanami modal. Sudah biasa baginya untuk meeting di club malam miliknya dan koleganya tak keberatan. Tentu saja karna modal yang akan ditanam Rain cukup besar dan berpengaruh ke perusahaan tersebut setelah menyandang CL’ Company.
“Wellcome Mr. Colline.” Pria yang sedari tadi menunggunya di ruang VVIP bersama anak buahnya yang tak seberapa.
“Sepertinya aku disambut ditempatku sendiri. Kau sudah cocok menjadi bawahanku.” Gelak tawa Rain memenuhi ruangan diiringi seringai sinis.
“Well, sepertinya kau sudah tau apa yang terjadi. Kau tentu mengerti, bukan?” suara Rain kembali membuat keheningan semakin menjadi.
“Emm.. Itulah maksud kedatanganku tuan. Aku sudah membereskan dia. Kau tak akan mengurungkan niatmu untuk menanamkan modal ke perusahaanku bukan?” Pria itu agak takut namun berusaha mengontrol emosinya.
Rain hanya diam. Mengatupkan jari-jarinya dan memainkannya, membuat suasana semakin tegang. “Begitukah?”
“Tentu, tuan. Aku sendiri yang akan menghabisinya kalau bocah itu berulah lagi.”
Rain kembali memunculkan smirk di wajahnya. “Kau tega membunuh anakmu demi karirmu?”
Pria itu semakin gugup. Lawannya saat ini bukan tandingan yang mudah. “Aku akan mengasingkannya tuan. Dia tak berdaya tanpaku dan anak buahku.”
“Kau tau kan akibatnya kalau bermain-main denganku.”
“T-t-tentu tuan.”
“Pastikan kau pasung anakmu sampai hari pernikahanku. Kalau sampai anakmu berani menyentuh kekasihku lagi. Bukan hanya anakmu yang mati ditanganku, kau dan perusahaanmu ke pastikan rata ditelan bumi.”
“Tenang saja tua. Aku urus semua.”
Tanpa ada sepatah kata muncul, Rain langsung beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan ruangan diikuti anak buahnya.
“B-one, awasi pergerakan mereka terutama Jerry dan anaknya.” Ucap Rain tanpa menoleh sedikitpun.
Sedangkan diruangan itu, Jerry masih frustasi. Pertemuannya dengan Rainold Colline masih belum jelas arahnya, jika Rain membatalkan investasi pasti perusahaannya akan rugi besar.
“Kalian semua dengar, perketat penjagaan dirumah. Terutama dikamar Junno. Anak bodoh itu membuatku dalam masalah. Sialan.”
***
Carolline dan Crusse masih memilih-milih dekorasi yang sesuai dengan tema yang mereka pilih. Rain memang menyerahkan semuanya ke calon mertuanya. Bukan ia tak mau mengurusi, kali ini Rain ingin Adeline mewujudkan wedding dreamnya.
“Kalau yang ini bagaimana, Dad?”
“Coba kita tanya Adeline. Kan yang menikah dia bukan kita.”
“Dia pasti ingin yang sederhana. Kan Rain sudah bilang kalau acaranya harus besar. Rekan bisnisnya pasti banyak, Dad.”
“Iya, tapi kan…”
Tiba-tiba Adeline menuruni tangga menuju ke ruang makan. “Adel Adel, sini. Mommy sama Daddy mau bicara.”
Adeline dengan malas-malasan menghampiri ayah dan ibunya. “Ada apa, Mom? Aku sedang buru-buru.”
“Sini dulu. Ini Mommy harus konfirmasi ke vendor tema pernikahan kalian. Kau mau garden party atau di hall saja?”
“Jadi pernikahanku benar-benar terjadi? Bukan bercanda?”
“Adel, jangan seperti itu sayang. Daddy jauh-jauh dari Washington untuk mengantar putri tercintaku ke altar.”
Adeline masih tak tau perasaan apa yang ada didirinya. Ia juga ingin menikah, seperti keinginan orang tuanya. Tapi haruskah dia menikah dengan pria yang dibencinya dimasa lalu, meskipun Rain sekarang sudah banyak berubah dan bersikap baik.
Keraguan masih tumbuh di hatinya, memilih menikahi pria yang sangat mencintainya meskipun caranya berbeda seperti Rain atau menemukan cintanya sendiri. Lebih sulit mana antara menerima cinta atau mencari cinta?
Makin lama waktu berjalan semakin mendekati waktu pernikahan Adeline dan Rain.
Bagaimana ini Tuhan? Apakah aku harus menikahi pria itu? Apa aku akan bahagia dengan sikapnya yang membuatku sesak nafas? Berikan Pertolonganmu.
Adeline memejamkan matanya, menangkupkan kedua tangannya yang saling menyatu. Sudah lama ia tak berdoa. Tapi kali ini ia menyempatkan diri.
Selesai berdoa, ia menemui orangtuanya di meja makan. Orang tuanya pasti menunggu karna jam makan sudah lewat.
“Adel, bajumu sudah selesai di retouch. Kau kabari Rain besok kita fitting baju di butik Daddy.”
“Tidak usah. Dia sedang sibuk mom. Biar dia fitting lain kali.” Bukan hal yang sebenarnya tentu saja. Adeline hanya malas bertemu calon suaminya yang sama sekali tak dicintai.
“Kalian bertengkar?” Carolline mengernyitkan dahi, pasalnya anaknya sangat acuh.
“I wish. Tapi tidak mom. Dia memang tak menghubungiku akhir-akhir ini. Dan aku bahagia sekali tak mendapat gangguan.” Senyum adel merekah sembari membentangkan tangannya.
Jarang sekali ia mendapat kebebasan setelah Rain muncul di hidupnya. Akhirnya ia bisa bernafas lega dan normal seperti dulu.
***
Roma, Italia.
Sudah beberapa hari Rain menghabiskan waktu di kota kelahirannya. Selain mengurusi bisnis yang digelutinya, Rain juga kembali ke rumah orang tuanya saat ini tinggal. Ia mengabari kedua orang tuanya bahwa minggu depan ia akan menikah. Hal yang sangat mengejutkan tentunya.
Selama ini Rain hanya fokus pada bisnis gelap dan beberapa bisnis legal yang lumayan tersohor, ayahnya sudah yakin kalau Rain akan melajang seumur hidup dan hanya bermain dengan wanita di club miliknya. Tapi tiba-tiba berita ini menggemparkan. Ibunya yang biasanya hanya diam, kali ini terlihat sangat bahagia. Akhirnya anaknya menemukan cintanya,
“Mama senang, Rain. Akhirnya kamu hidup normal.” Maria memeluk putranya erat-erat. Kebahagian yang dari dulu ia tunggu.
Rain memang kejam dan sadis. Namun ia sangat mencintai keluarganya dan cenderung posesif. Ia tak suka keluarganya diusik. “Maksud mama aku tidak normal?”
“Bukan begitu sayang. Selama ini kau terlalu fokus dengan pekerjaan yang mempertaruhkan nyawa. Mama khawatir kamu tak sempat mencari wanita yang baik.” Maria melepaskan pelukannya dan kembali duduk disebelah suaminya, Robert.
“Tenang saja. Aku sudah melatih Rain dengan segala ilmu bela diri. Bahkan kemampuan menembaknya sudah melebihi aku sekarang. Hebat sekali.” Robert terkekeh melihat sikap istrinya. Biasanya istrinya sangat lemah lembut, kali ini anaknya datang dan tiba-tiba cerewet sekali.
Caroline mencubit pinggang suaminya. “Kau harus memikirkan masa depan anakmu. Aku kan juga ingin punya cucu seperti teman-temanku. Memamerkan menantu mereka setiap arisan.”
“Jadi istriku hanya butuh pamer. Sejak kapan kau hobi pamer?” Robert benar-benar menggoda istrinya. Romantis sekali.
Rain hanya terkekeh melihat kelakuan orang tuanya. Ia berharap sampai tua nanti akan seperti mereka tetap rukun dan saling mendukung.
“Sejak aku menjadi istrimu.” Maria mengerutkan bibirnya, kesal dengan suaminya.
“Apa dia tau pekerjaanmu Rain? Apa kau yakin dia bisa dipercaya seperti ibumu?” kali ini Robert fokus pada anaknya.
Maria yang mendengar ucapan suaminya benar-benar jengkel. Baru kali ini anaknya membahas wanita dan mau menikahinya, suaminya malah bertanya seperti itu. Sungguh gila.
“Jangan dengarkan papamu, Rain. Kalau kau mencintai wanita itu, maka kejarlah sampai ujung dunia. Meskipun harus meninggalkan bisnis konyol itu. Sungguh membuatku hampir jantungan selama 30 tahun.”
Wajah Rain menampakkan kebimbangan. Jelas saja ia tak akan memberi tahu Adel bagaimana pekerjaannya yang hanya bunuh membunuh antar geng merampas harta dan kekuasaan. Jika Adel tau, ia akan menolak mati-matian.
“Sudah papa duga, dia tak tau pria macam apa dirimu. Tidakkan terlalu berbahaya ji…”
“Stop pa. Mama tidak peduli wanita itu tau atau tidak. Rain?”
“Aku tidak melarang anakku menikah, ma. Aku hanya bertanya apakah wanita itu siap menerima konsekuensi. Kau tau kan rasanya sesak nafas setiap aku sedang menjalani misi atau tertangkap?” Robert menjelaskan dengan tenang.
“Aku tau. Makanya tinggalkan saja pekerjaan kotor itu. Perusahaan kita sudah cukup untuk anak cucu, tak perlu main kotor lagi.”
Suasana di mansion Robert cukup menegangkan. Tak biasanya mereka meributkan masalah kehidupan Rain.
“Ma, Pa. I can handle it. Aku bisa tetap bekerja seperti misi saat ini, dan Adel memang belum tau. Tapi aku akan urus semuanya agar tidak saling menganggu. Bukankah aku memang pandai mengatur segala sesuatu.”
“That’s my son.”