Chapter 20 – D’Lion

1555 Words
Bugghh. Suara benturan keras menggema di ruang gelap dengan cahaya minim, pasokan udara tak banyak membuat orang tak betah berada disana. Kini satu pria tengah terikat dikursi besi dikelilingi banyak orang yang menatap seakan ingin menerkamnya hidup-hidup. “Sudah ku bilang untuk memasung anakmu di istana megah kalian. Apa susah sekali melakukan itu?” Rain menatap tawanannya sadis, tak ada ampun sedikitpun untuk orang lalai. Buggghh. Rain kembali kelayangkan balok kayu ke tubuh Jerry yang saat ini tak berdaya. “Kau bisu? Atau aku saja yang menjinakkan anak kesayangmu itu?” Rain menatap tajam ke arah Jerry yang meringis kesakitan. “Ja-jangan, Tuan. Saya akan mengurusnya sendiri.” “Saya.. Saya sendiri yang akan mendisiplinkan dia.” Rain menggenggam keras rahang Jerry, menekan bagian wajah yang sudah membiru. Jerry mengerang kesakitan dengan tindakan Rain. Tentu saja itu disengaja. “Aku jarang berbuat baik dengan klan kecil sepertimu. Bahkan kau yang merangkak meminta bantuan klanku. Apa kau tak tau malu menusukku dari belakang?” “Ma-maaf tuan. saya tidak bermaksud..” Rain menyentakkan wajah Jerry kasar. “Kau menyakiti hatiku, Mr. Harrington.” Jerry tak mampu berkata-kata lagi. Badannya terasa hancur berkeping-keping karna pukulan balok kayu dan tinjuan dari Rain. Namun ia tak bisa berbuat apapun. Kemarahannya kiri tertuju pada anaknya yang sudah bertindak bodoh. Apalagi sasarannya tak sebanding dengan kekuatan mereka saat ini. Klannya masih kecil dan dengan menjadi salah jaringan D’Lion akan membuat kelompokknya makin kuat. D’Lion adalah klan mafia Rain yang sudah dibentuk ayah Rain saat masih muda. Jaringannya sudah sangat luas diberbagai penjuru dunia. Banyak klan-klan kecil yang diangkat menjadi bagian mereka dan mengabdi seumur hidupnya. Tentu saja dengan bergabungnya pada D’Lion akan menambah insight mereka di dunia bawah tanah. “Dengar aku Mr. Harrington. Pastikan besok kau sudah melaporkan anakmu sudah diamankan. Atau…. Boom! Klanmu terkubur hidup-hidup.” “I-iya tuan. Saya sendiri yang menghukumnya.” Rain menatap B-one, memberikan kode untuk melakukan sesuatu kemudian melenggang pergi. B-one segera mengerti dan berjalan menghampiri Jerry yang masih tak berdaya dalam kondisi terikat. Dengan cepat ia mengeluarkan sebuah suntikan dari saku dengan cepat menancapkan tanpa perasaan ke leher Jerry. Jeritan Jerry memekik sebelum kehilangan kesadaran. B-one memberikan perintah hanya dengan tatapan mata pada penjaga disana dan mereka menganggukkan tanda mengerti. *** “Sudah beres?” Rain sedang duduk santai di ruang kerja sambil menyesap kopi hingga B-one masuk ke ruangannya. “Sudah bos. Sebentar lagi akan dikirim ke mansionnya.” Rain tersenyum puas. “Good. Aku mau melihat Adeline di kamar atas. Sebaiknya kau cek keamanan gereja dan ballroom. Aku mau tak ada cecunguk sialan itu. Aku tak bisa percaya seratus persen pada Jerry.” “Siap bos.” B-one menundukkan kepala tanda berpamitan. Rain segera bangkit dan merapikan sedikit penampilannya sebelum bertemu calon istrinya. “Kau pasti kepalaran, Flo. Maafkan aku.” Adeline masih meringkuk tubuhnya dikasur mewah tempat ia dikurung sekarang. Kemarahan menyelimuti dirinya dari pagi hingga saat ini. Turut andil perutnya yang sudah melilit kelaparan. Pagi tadi rencananya ia ingin mengajak brunch orang tuanya namun rencananya gagal karena diculik calon suaminya sendiri. Ting. Pintu kamar terbuka dan Rain muncul membawa beberapa makanan fast food yang dipesan oleh pegawainya. Rain meletakkan makanan diatas nakas setelah itu berjalan mendekati Adeline. Rain duduk dipinggir kasur tempat Adel berbaring saat ini. “Flo, sayang. Aku bawa makanan. Maafkan aku tadi sedang ada urusan.” Rain mengelus punggung Adel yang tengah tidur membelakanginya. Tidak ada pergerakan sama sekali. Rain tau Adel hanya pura-pura tidur untuk menghindari dirinya. Hal ini membuatnya kesal setengah mati. Ia bukan orang yang sabar menghadapi seseorang apalagi urusan sepele. Rain tertawa sinis. “Tak perlu pura-pura tidur. Instingku sangat tinggi, Flo. Bukannya kau tau kalau aku tak bisa menjaga sikap dikandangku sendiri.” Ini tempatnya dan siapapun tak berani membantahnya. Apalagi seorang wanita. Kini kesabarannya diuji dengan sikap keras kepala Adeline yang masih tak memberikan pergerakan sama sekali. “Flo, aku bukan orang yang sabar. Kau tak tau betapa kejamnya aku jika lepas kendali.” Adeline masih tak bergeming. Satu detik. Dua detik. Srakkkkkk. “Ahhhhhh.” Rain menarik kasar tangan Adeline hingga sekarang tubuh Adeline terbentur d**a kekar Rain. Adel meronta-ronta minta dilepaskan dari pelukan paksa itu. Rain memunculkan smirknya. “Sudah ku bilang jangan menguji kesabaranku.” Rain mencium pucuk kepala Adel dan mengelus rambut panjangnya, sementara tangan satunya masih memeluk erat tubuh Adel. “Lepaskan aku, jerk.” Adeline memukul-mukul d**a bidang Rain, sesekali menggerakkan pundaknya melonggarkan pelukan. “Kau lupa pesanku? Jadilah wanitaku yang penurut. Itu saja kunci kebahagiaanmu, sayang.” “Cih. Aku tak sudi menjadi wanitamu. Apalagi mengikuti perkataanmu?” Gelak tawa Rain terdengar mencekam. “Terserah apa katamu. Sekarang makanlah. Aku bawakan chesse burger kesukaanmu.” Rain melepaskan pelukannya dan mengambil bungkusan makanan diatas nakas. Rain menata beberapa kotak makanan diatas tempat tidur. Ia membukakan sebungkus burger dan mendekatkan ke mulut Adeline. “Aaaaa. Buka mulut.” Adeline membuang muka. “Cepatlah buka mulutmu.” Rain menyenggolkan burger itu ke mulut Adeline hingga beberapa saus menempel disudut bibirnya. Jangan tergoda Adel, jangan. Gadis kuat. Batin Adel. Adeline menepis tangan Rain hingga makanannya jatuh ke kasur. Beruntung masih ada wrap yang membungkus sebagian sehingga tidak berantakan. Sebenarnya Adeline lapar sekali. Perutnya sangat melilit dari pagi belum ada secuil makanan masuk bahkan minum pun tidak. Tapi dia tidak boleh tergoda dengan Rain. Sekali saja menuruti apa yang diinginkan Rain, selanjutnya pasti akan dituntut lebih. “KAU.” Rain mengepalkan tangannya menahan emosi. Berani sekali Adel menolak suapannya padahal diluar sana banyak wanita yang sangat menginginkannya. Rain menarik rahang Adel kuat-kuat, jarak wajah mereka hanya beberapa senti lagi. Mata Rain menahan emosi yang begitu besar, begitu juga Adel yang berani membalas tatapan mata tajam Rain. Dengan cepat Rain mengambil makanan yang jatuh ke kasur tadi, menggigit besar dan mengunyah dengan cepat. Adel masih tak mengerti mengapa Rain melakukan itu. “Hmpphhhhh.” Rain mencium paksa bibir Adel, menggigit bibir bawah Adel hingga terbuka. Pergerakan gesit Rain memindahkan makanan dari mulutnya ke mulut Adel. Sangat menjijikkan memang, tapi cara ini paling cepat dan efektif membuat Adel makan. Rain bahkan tak melepaskan tautannya dan mendorong makanan itu tanpa memperdulikan Adel hampir kehabisan nafas dan akhirnya dengan sangat terpaksa menelan makan itu. Rain menyeringai. Memang tak ada orang yang bisa membantah keinginan manusia satu itu. Adel mendorong d**a Rain dengan tenaga yang tersisa hingga tautan mereka lepas. “Hahhh haaahhh… KAU GILA HA?” Adel berteriak hingga badannya hampir terhuyung dan dengan cepat Rain menangkap tubuh ramping itu, menyandarkan ke kepala kasur. Rain tersenyum geli dengan tingkahnya sendiri. “Sudah ku bilang kau tak bisa berlaku seenaknya di kandang musuh, berkompromi adalah jalan satu-satunya agar kau tetap hidup.” “Kau orang paling gila.” Ucap Adel sinis. “Kau yang membuatku gila. Sekarang makanlah atau kau mau suapi dengan cara tadi? Kalau aku memilih opsi kedua.” Rain berbisik ditelinga Adel. “Sialan.” Adeline merebut paksa burger ditangan Rain dan mengunyahnya kasar. Adel terlihat sangat kelaparan hingga burger itu lenyap dalam hitungan menit saja. “Uhuk uhuk.” Adel tersedak karna mengunyah terlalu cepat. Ia memukul-mukul dadanya. Rain segera mengambilkan air putih kemasan dan menyodorkan ke Adel. Air itu diteguk tanpa ada sisa setetespun bahkan mengalir dikedua sudut bibir Adel. “Apa dagumu bocor? Lihatlah minumannya tumpah kemana-mana.” Adel menyeka mulutnya yang basah kuyup. “Diamlah kalau kau hanya ingin mengomel.” Rain terkekeh. “Kau makan seperti orang kesetanan.” “Aku tidak akan seperti ini kau tak mengurungku ditempat antah berantah ini dan membiarkanku kelaparan seharian penuh.” Rain mendekatkan tubuhnya ke tubuh Adel. Mengusap lembut kepalanya. “Maafkan aku. Ada hal yang harus ku bersihkan sebelum pernikahan kita.” “Aku tak mau menikah dengan penjahat sepertimu.” Rain memberikan smirknya. “Benarkah? Dan membiarkan orang tuamu menjadi tawananku seumur hidup?” Adel terbelalak dengan ucapan Rain. Bisa-bisanya menjadikan orang tua Adel sebagai tameng. “Ini urusanku denganmu. Jangan bawa-bawa orang tuaku.” “Ssssttttt…..” Rain menempelkan telunjuknya ke bibir Adel. “Saat ini orang tuamu tinggal di salah satu hotelku hingga hari pernikahan kita. Dan kalau kau menolak pernikahan ini, itu artinya orang tuamu takkan kembali ke rumah imut kalian.” Ancaman Rain membuat hati Adel sakit. Bagaimana bisa pria ini menurut sertakan orang yang tak tau apapun. “Kau…. Bajingan.” Bulir air mata mengambang di mata Adel, namun ia enggan menteskan air mata berharganya didepan pria jahat ini. “Seperti itulah aku. Maka dari itu jadilah penurut, kau dan orang disekitarmu akan bahagia bahkan berkali lipat dari sebelumnya.” “Kemarin kau menyakiti sahabatku, sekarang aku, dan kini orang tuaku kau seret. Kau tidak waras.” Adel menatap sinis Rain. “Dasar tak tau terima kasih. Aku menyelamatkanmu dari cecunguk tengil itu dan sekarang kau balik menyalahkanku?” “Memang kau yang memutar balikkan semua kan. Seolah kau jadi penolong padahal kaulah penjahatnya.” “Hah… Kau berpikir seperti itu? Baiklah aku kabulkan.” Rain beranjak dari tempat tidur dan melenggang pergi. Ia menarik kartu disakunya dan membuka pintu kamar. Ia menutup kencang pintu hingga terdengar suara gebrakan. Jelas sekarang Rain sedang marah besar dengan ucapan Adel. Adel melihat pintu terbuka segera berlari namun ia kurang cepat. Pintu sudah terkunci kembali. Ia menggedor-gedor pintu minta dibukakan. “Buka pintu sialan ini, jerk.” “HAAAAHHHHHHH.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD