Chapter 18 – Bertemu

1220 Words
Seperti biasa, Adeline hanya berkutat dengan pekerjaannya yang semakin menumpuk karena tak kunjung dikerjakan. Akhir-akhir ini pikirannya tidak bisa fokus. Bayangan Rain selalu menghantuinya padahal ia tak mau diusik pria arogan itu. Ting. Sebuah pesan masuk membuat Adeline berharap. Mungkin saja pesan dari Rain. Senyuman merekah kini muncul membuat lesung pipinya tercetak jelas. Mari bertemu di Lujo Café setelah pulang kerja. Aku menunggumu. Dahi Adel mengernyit, untuk apa bertemu disana? “Sudahlah aku harus bergegas.” Gumam Adel. Menyusuri jalan kota yang cukup padat saat pulang kerja membuat pria kesayangannya menunggu terlalu lama. Namun Adel menunjukkan raut muka tak bersalah. Ia menjalankan mobil dengan kecepatan standar menuju café tujuannya. Mobilnya memasuki parkiran dan ia bergegas masuk. Matanya kesana kemari mencari meja tujuannya. Setelah menemukan arahnya ia segera bergegas. Sepasang mata bahagia menunggu kedatangan wanita idamannya. Senyumnya tersungging indah. “Adel, terimakasih kau sudah mau datang.” “Aku datang untuk meminta penjelasanmu, Junno.” Ya. Junno berhasil keluar dari rumahnya. Ia berhasil mengecoh bodyguard ayahnya. Ia meminta maid untuk memberikan obat tidur di makanan mereka saat makan siang. Saat semua sudah terlelap barulah ia mulai keluar dari rumah. Ia tak peduli apa yang terjadi setelahnya. Yang penting bertemu dengan Adel. Junno tertunduk. “Ak-aku minta maaf Adel.” Adeline masih memasang ekspresi dingin. “Aku butuh penjelasanmu, bukan permintaan maafmu.” “Aku minta maaf karena tak bisa menolongmu. Pria itu memukuliku hingga seperti ini.” Junno menunjukkan kaki dan tangan yang masih terbalut perban. “Cih. Untuk apa menolongku? Bukannya kau yang membuatku mabuk dan akhirnya kau….” Adel menarik nafas tak kuat melanjutkan kalimatnya. “Justru pria itu yang ingin menyerangmu, Del. Saat itu aku lihat pria itu berusaha mendekatimu saat aku sedang menari. Aku hanya memperhatikan saat dia berusaha….” Junno kembali menunduk, memasang muka memelas. “Dia-dia berusaha mencumbumu dengan brutal. Dan saat aku ingin menolongmu pria itu dan anak buahnya memukuliku hingga kaki dan tanganku patah. Lebih dari seminggu aku tak sadarkan diri dan hanya terbaring dikasur. Kau dan aku jadi korban disini, Del.” Adel terbelalak. Tak percaya dengan apa yang didengar. Jadi selama ini Rain memutar balikkan fakta. Tapi apakah benar? “Maksudmu Rain?” “Aku tak tau siapa dia Del. Tapi setelah aku pingsan aku tak tau bagaimana nasibmu. Aku minta maaf.” “Tap-tapi, Rain bilang kalau kau yang menyerangku hingga dia memukulimu habis-habisan.” Adel masih bingung dengan semuanya. Kondisinya yang mabuk membuat dia tak tau fakta malam itu. Sekarang dia dihadapkan dengan 2 pria dengan cerita yang berbeda. Mana yang harus dipercaya? Adeline memijat pelipisnya. Bingung. Junno memanfaatkan kesempatan memegang tangan Adel. “Del, kita bersahabat sudah bertahun-tahun. Mana mungkin aku mau menyakitimu. Bahkan saat itu kau sendiri yang mendatangiku tanpa rencana. Bagaimana bisa aku menyusun strategi semacam itu?” Adel masih tak bergeming. Junno sahabatnya, tak mungkin ia tega menyakiti. Tapi Rain? Adel sudah mulai terbiasa dengan kehadirannya. Apa dia tega mengelabuhi Adel agar mau menikah dengannya. Selicik itukah dia? “Del, please maafkan aku. Aku tak bisa menolongmu waktu itu. Jauhi pria itu Del. Dia berbahaya. Dia hampir membunuhku. Lihat aku? Susah berjalan, makan tak enak.” Benar juga. Junno sahabatnya. Bagaimana bisa dia tak percaya pada Junno yang selalu bersamanya bertahun-tahun. Rain hanya pria yang menyakitinya di masa lalu dan sekarang hadir lagi. Adel tau betul bagaimana Rain melakukan segala cara untuk memiliknya. “Junno, aku yang minta maaf karena sempat membencimu dan percaya pria itu.” Dewi fortuna sepertinya berpihak pada Junno. Mudah sekali menipu sahabat tercintanya ini. “Aku tau hanya kau yang akan percaya padaku, Del. Jangan membenciku lagi. Itu menyakitkan.” “Kau sahabta terbaikku, Junno. Bagaimana bisa aku percaya pada orang lain.” Kena kau cinta. Setelah ini kau harus jadi milikku. Batin Junno. *** Jet pribadi Rain saat ini telah siap untuk terbang kembali ke New York. Seharusnya urusan masih beberapa hari karena harus memusnahkan tikus-tikus pengerat uangnya. Tapi setelah menemukan kepalanya yang sudah wafat ditangan Rain, sisanya diserahkan pada Nick sepupunya. “Aku tak sabar bertemu My Flo. Ahhh… Rindu sekali.” Gumam Rain. Hatinya kini berbunga-bunga menjelang hari pernikahannya. Ditambah rasa rindu yang sudah tak mampu dibendung. “Semua sudah siap, boss. Silahkan masuk dalam 10 menit jet kita akan berangkat.” Seorang pilot menghampirinya. “Thanks.” Rain dan anak buahnya segera masuk. Interior yang sangat mewah didalamnya memang memperlihatkan betapa kaya Rain dan keluarganya. Sebuah kamar mewah juga didesan dengan apik dan nyaman. “Kamar anda siap tuan. Silahkan beristirahat.” Ucap pramugari cantik yang khusus ditugaskan untuk jet pribadinya. Rain langsung melenggangkan kaki ke dalam kamar. Merebahkan tubuh kekarnya dan masuk ke alam mimpi. “Come to my dream, Flo.” Gumam Rain sebelum akhirnya terlelap. Sementara bosnya memasuki alam mimpi, berbanding terbalik dengan anak buah Rain yang tetap siaga di sofa. Terutama B-one yang tetap memantau perkembangan New York dari orang-orang yang sudah dipercaya. Bersiap jika bosnya ingin mengunjungi salah satu bisnisnya atau wanitanya. B-one mengernyitkan dahi setelah melihat laporan dari orang yang ditugaskan mengawasi Adeline. Orang itu mengirimkan foto Adel bersama dengan sahabatnya disebuah café dan berpegangan tangan. Sepertinya masalah ini tak bisa disepelekan. Hanya dengan foto ini saja bosnya kan membabi buta. Apa aku harus memberi tahu bos sekarang? Tapi beliau sedang istirahat. Tapi kalau bos tau sendiri bisa saja nyawaku yang hilang. Gumam B-one. B-one memijat pelipisnya, menghembuskan nafas kasar. Harusnya urusan nona adeline tak begitu rumit, tapi kalau sudah ada campur tangan Junno atau pria lainnya sudah pasti akan panjang dan bertele-tele. Malas sekali mengurus urusan sepele seperti itu, sedangkan harusnya ia bisa membantu rekannya yang sedang bertugas. “Sungguh menjengkelkan.” Gumam B-one. Ia memutuskan untuk menghampiri bosnya dikamar. Diketuk berkali-kali hingga akhirnya bosnya menyauti. “Masuk.” Lirih namun terdengar. “Kau mengganggu tidurku.” Ucap Rain malas bahkan matanya masih terpejam. “Maaf mengganggu bos. Tapi menurut saya info ini penting untuk bos.” B-one menyerahkan ponselnya pada Rain. Muncullah foto Adeline yang sedang berpegangan tangan dengan pria yang tak lain adalah Junno. Seketika mata Rain menghitam, amarahnya bergejolak. Bisa-bisanya disaat Rain sibuk menyiapkan pernikahan, Adeline malah pergi dengan pria lain. “Kau membangunkanku dan sekarang kau memberikan aku santapan seperti ini. Apa kau ingin iblis muncul dihadapanmu, B-one?” Ucap Rain benar-benar tajam dan menunjukkan amarah. “Ma-maaf bos. Saya tidak bermaksud…” “Cukup.” Suara Rain tiba-tiba tenang, namun matanya tak memberikan isyarat yang baik. “Aku senang kau sangat tanggap dalam hal seperti ini. Dan aku lebih senang kalau kau sudah tau apa yang harus dilakukan hanya dengan melihat foto ini.” Rain berkata dengan tenang, memberikan smirk yang benar-benar menyeramkan. Ia kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata. “Laksanakan, bos.” B-one menundukkan badannya tanda ia meninggalkan Rain. Persis dugaannya ia harus mengurusi hal receh tapi berkepanjangan. “The show must go on, Right?” Gumamnya. Sementara Rain di kamar tak mampu memejamkan matanya. Pikirannya melayang pada kekasihnya yang berduaan dengan pria lain. Padahal harusnya gadis itu sudah jatuh ditangannya dan mulai menerima kehadirannya. Bahkan gelagat Adel yang mulai terbiasa dengannya sangat terlihat. Namun hanya ditinggal beberapa hari dia sudah kembali liar. “Hukuman apa yang pantas untukmu, Flo? Aku tak suka dihianati.” Rain tertawa sinis. Sungguh jiwa iblisnya muncul kembali. “Let’s play the game, Flo.” Tawanya kembali menggelegar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD