Setelah kejadian beberapa hari yang lalu, hubungan Rain dan Adeline mulai membaik. Adel mulai menerima kehadiran Rain di hidupnya meskipun sikapnya kadang terlalu berlebihan dan membuat risih. Rain juga sudah tak menggunakan jurus-jurus paksaan yang selama ini digunakan untuk menaklukkan Adeline.
Sebenarnya Adel masih belum sepenuhnya menerima Rain, ia hanya ingin berterima kasih sudah menyelamatkannya dari terkaman sahabatnya sendiri. Padahal Rain lebih berbahaya dari pria manapun, hingga memberikan trauma masa lalu di hidup Adeline.
Tak ada yang tau cerita di masa depan, dulu Adel dan Junno selalu bersama dan tak terpisahkan. Meskipun begitu mereka selalu menghormati satu sama lain, bahkan saling membela jika salah satu dari mereka mendapat masalah atau bertengkar dengan mahasiswa lain. Sedangkan Rain, pria kurang ajar yang merenggut kegadisannya yang dijaga setengah mati. Kini semua berbalik, kadang Rain kelepasan dan mencumbunya brutal namun ia selalu mengerem untuk tidak meneruskan. Sedangkan Junno malah mengambil kesempatan gila ditengah ketidakberdayaannya saat itu.
“Junno, aku tak tau perasaan apa ini. Rasa benci yang begitu kuat atau kecewa yang berat.” Adel memandangi fotonya bersama sahabatnya. Foto yang sudah ada sejak jaman kuliah itu harus dilungsur ke dalam laci nakas. Kekecewaan menyelimuti hatinya.
Air mata mulai berjatuhan. Sedih bukan main jika orang yang kita percaya bertindak asusila pada kita. “Kenapa harus kamu Junno, kamu satu-satunya pria yang ku percaya. Kenapa Junno.” Suara Adel bergetar.
Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Adeline segera menghapus air matanya. “Masuk.”
Dibalik pintu muncul ibunya, Carolline.
“What’s wrong, Mom?”
“Hey, harusnya Mommy yang tanya itu nak. What’s wrong with you? Akhir-akhir ini kamu murung? Tell me.” Ibunya cemas karena Adeline bersikap tak biasa.
“All is well, Mom. Cuma capek aja sama kerjaan.” Adeline tak suka membagi berita duka ke orang lain apalagi orangtuanya. Biar dia merasakan pahitnya hidupnya seorang diri, orang tuanya hanya akan membuatnya semakin lemah jika terus menerus dibela. Ia harus tumbuh dengan dunianya sendiri.
“Oke kalau begitu. Dibawah ada Rain, kamu temui dia ya.” Meskipun Adel bilang baik-baik saja, ibu tetaplah ibu. Ikatan batin mereka sangat kuat.
Kecemasan itu bertambah setiap hari setelah putrinya pergi ke pesta lajang sahabatnya. Tentu saja ia tak tau apa yang terjadi, namun firasatnya bilang ada sesuatu. Makanya ia menelpon Rain untuk datang hari ini, ia ingin mencari tau sekaligus ingin calon menantunya itu menghibur putrinya.
“Haduuuhh, kenapa sih dia mengganggu hai liburku. Suruh pulang saja, Mom. Aku malas turun.”
“Heh, jangan seperti itu. Dia itu calon suamimu loh. Masa kamu mau jadi istri pemalas.”
“Dia kaya, Mom. Maidnya banyak.” Adel kembali memejamkan matanya. Masih pukul 8 pagi dan harus berurusan dengan pengganggu itu.
“Ok kalau tak mau turun, biar Rain yang naik.”
Panik. Jangan sampai Rain masuk kamarnya. Akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan pastinya. Adel membuka matanya dan segera duduk.”JANGAANN! I’ll taking a bath, suruh tunggu sebentar mom.”
Berhasil. Ibunya memang cerdik. Senyuman kemenangan muncul di kedua sudut bibir Carolline. “Ok, Dear. Dandan yang cantik.”
Carolline segera menutup pintu kamar dan menemui Rain. Ada hal yang harus diketahui tentang anaknya. Mengapa tiba-tiba menjadi pemurung padahal setiap hari selalu membangkang perkataan ibunya, tapi kali ini selalu mengiyakan dan pasrah dengan kemauannya. Disatu sisi senang sekali tak perlu berdebat, di sisi lain itu sangat bukan watak anaknya.
Rain duduk tenang di ruang tamu memakai kemeja kotak-kotak kasual dan celana jeans. Sederhana namun tampan. Carolline segera menemui calon mantu idamannya itu.
“Hallo calon mantu mommy tersayang. Tampannya kau. Kalau mommy masih muda pasti mommy merebutmu dari Adeline.” Carolline langsung memeluk Rain dan merebut paksa buket bunga tulip yang harusnya untuk calon istrinya.
Meskipun Carolline calon ibu mertuanya, Rain masih risih dipeluk wanita selain Adeline dan ibunya. Ia memaksakan senyum agar tak menyakiti hati Carolline. Andai sifat agresif wanita paruh baya itu menurun ke Adeline, pastinya Rain tak perlu susah payah menjinakkannya.
Rain berusaha melepas pelukan Carolline dengan canggung. “I-iya Mom. Kalau saja My Flo seterbuka mommy, aku pasti tak perlu susah payah meluluhkan hatinya.”
Carolline berdecih, mukanya berubah kesal. “Anak itu memang gengsinya besar sekali. Tenang saja, DNA ku sangat dominan nak. Dia pasti langsung pasrah setelah kau berhasil meluluhkan hatinya. Mommy yakin itu.
Gelak tawa mengisi pembicaraan dua orang itu. Buah memang jatuh tak jauh dari pohon. Rain juga yakin Adeline akan pasrah sepenuhnya setelah menikah. Itulah tujuannya datang. Mempercepat pernikahannya.
“Rain, Mommy mau tanya. Akhir-akhir ini Adeline terlihat sedih. Kau tau tidak apa penyebanya. Sepertinya dia seperti itu setelah kalian pulang dari pesta lajang.” Raut muka Rain berubah.
“Sebenarnya….” Suara lirih Rain tak terdengar jelas. Ia menunduk.
“Kenapa nak? Cerita sama Mommy.” Rasa penasaran Carolline begitu besar. Ia mengguncang tubuh Rain.
“Ehmmm… it’s okay mommy. Flo hanya cemburu karena ada saudara Tommy yang mendekati Rain.” Berbohong adalah jalan satu-satunya. Tak mau masalah Adeline mabuk terbongkar.
“Cemburu? Anak itu bisa cemburu?” Carolline mengerutkan kening. Cemburu bukan sifat anaknya, kan? Ia tau betul.
“Jadi sepupu Tommy mengira Rain masih single, makanya ia berusaha mendekati Rain. Wanita itu lumayan agresif makanya Flo sangat cemburu. Sepertinya Flo punya saingan.” Rain terkekeh menjelaskan cerita karangannya ke calon ibu mertuanya.
Carolline kesal sekali mendengar ada wanita lain di hubungan anaknya. Tak bisa dibiarkan. Rain dan Adel sangat cocok, jangan sampai ada wanita yang merebut calon mantu idamannya.
“Tidak boleh. Tak ada yang bisa merebutmu dari anakku, Rain. Mommy tak rela. Mommy akan hancur nak. Akan mommy labrak wanita itu.”
“Tenang, mom. Hati Rain hanya untuk Flo. Lagu pula wanita itu tak terlalu cantic dan sangat manja. Tak seperti Flo yang mandiri.”
“Ooooo tentu saja. Adeline memang menuruni semua sifatku, jadilah dia wanita yang cantik dan mandiri.” Carolline tersenyum senang.
“Of course. Kalian berdua sangat cantik. Rain sampai tak bisa memalingkan pandangan.” Gelak tawa kembali diantara mereka.
“Mommy pastikan Adel akan jatuh cinta padamu, nak. Mommy akan bantu kamu.”
Rain menggenggam tangan Carolline. Menyematkan senyum kesenangan. “Thanks, mom.”
Suara langkah kaki menuruni tangga. Adeline muncul dengan kaos dan celana rumahan. Ia menghampiri ibunya dan Rain yang sedang tertawa riang. Sangat menyebalkan melihat mereka tertawa.
“Ehmm Ehmmm.” Deheman Adel membuat tawa kedua orang itu berhenti dan menoleh kearahnya.
“Ya Tuhan, Adeline. Calon suamimu datang dan kau berpakaian seperti ini. Cepat ganti.”
Carolline panik dan memelototi anaknya. Sudah tau ada wanita lain yang mau mengganggu hubungannya, ini malah berdandan seperti ini. Harusnya tampil cantik didepan Rain agar tak berpaling.
“Adel memang seperti ini dirumah. Harus dandan bagaimana mom?” kesal melihat ibunya terlalu over didepan Rain.
“Kau kan sudah tau ada wanita yang ingin merebut Rain sampai uring-uringan belakagan ini. Tapi masih juga tidak peduli dengan penampilanmu. Kau mau Rain diambil orang?” Adel tak paham dengan omongan ibunya.
“Maksud mommy? Apasih? Adel bingung.”
“Masih jual mahal aja. Kamu cemburu kan dengan sepupu Tommy yang mendekati Rain. Makanya pulang dari pesta lajang kau selalu murung. Tapi tenang saja. Rain hanya mencintaimu nak. Iya kan, Rain?” Carolline menyenggol lengan Rain yang dari tadi hanya terkekeh geli melihat Adeline dimarahi ibunya. Sangat menggemaskan.
Adeline melotot setelah mendengar penjelasan ibunya. Bisa-bisanya Rain mengarang cerita seperti itu. Memang dia saipa sampai harus diperebutkan. Ambil saja kalau mau, Adel suka rela memberikan.
“Of course mommy. Hati ini untuk My Flo seorang.” Rain bergaya memegangi dadanya.
“Menjijikkan.” Gumam Adeline.
“Adeline. Jangan seperti itu. Kasar sekali. Maafkan anak mommy Rain. Dia tak tau cara menyatakan perasaan pada orang. Kasian sekali.” Carolline mengelus rambut Adel.
“Anak mommy aku atau dia? Mommy selalu membela dia.” Adeline melipat tangannya didada, mukanya berubah masam.
“Makanya kamu yang kalem gitu loh. Anak gadis kok brutal sekali.”
“Rain suka yang brutal Mom. Jadinya asik kalo dikamar. Seperti saat…”
“Rain kau sangat berisik sekali.” Adeline memotong kalimat Rain. Tak mau Rain keceplosan.
“Hih. Kau ini yang berisik Adel. Bisa-bisanya kau berteriak diruangan sekecil ini. Telinga mommy sakit.”
Adel memang sengaja. Bisa hancur kalau Rain membeberkan semuanya. “Sorry mom. Adel kesal sekali harus bangun pagi-pagi.”
“Jadi apa yang membuatmu menganggu tidur pagiku, Mr. Rainold Colline.”
“Jadi setelah mempertimbangkan beberapa hal dan kejadian sebelumnya. Rain ingin mempercepat pernikahan kita, mom.”
“APA?”