Mio memperhatikan Arsen yang tengah sibuk mengotak-atik tablet di tangan. Bukan tanpa sebab Arsen begitu, dirinya sekarang telah memulai meneruskan pekerjaan papa yang sempat terbengkalai hampir sebulan ini. Para karyawan pun hanya bisa terus bekerja tanpa ada yang mengontrol mereka, membuat beberapa pundi-pundi perusahaan keluarga mereka merosot sedikit demi sedikit. Tapi, untunglah sekarang Arsen sudah mulai mencoba memajukan perusahaan mereka yang sempat mundur kemarin. "K-Kak?" cicit Mio, memanggil kakaknya pelan. Ia khawatir mengganggu konsentrasi Arsen yang tengah asyik berkutat dengan pekerjaannya kini. "Hm?" Arsen mengangkat kepalanya, mengalihkan atensinya sekejap dan kembali menunduk. Kembali menatap jajaran angka yang belum terlihat memusingkannya. "Makan dulu, Kak. Nanti ke

